Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
10. Persimpangan (2)


__ADS_3

Author pov


Semenjak kejadian malam itu, Yuu belum mengunjungi rumah (Y/n) lagi. Sepertinya Yuu masih belum mau menemui (Y/n) karena malam itu.


"Yuu kok belum menginap di rumahku ya, Levi?" tanya (Y/n) sambil tiduran di paha Levi yang sedang duduk di sofa.


Levi hanya menggeleng dan memainkan sedikit rambut (Y/n). "Mungkin dia marah karena aku bersamamu waktu itu?"


Wajah (Y/n) menjadi merah semerah tomat karena Levi kembali berbicara tentang hal itu. "Ih, Levi! Aku serius!!!"


Levi hanya terkekeh pelan melihat (Y/n) tersipu. Levi sangat senang jika menggoda (Y/n) seperti itu. Lucu.


"Kau kan bisa pergi ke rumahnya, bocah. Kau tanyakan saja kenapa dia tidak menginap di sini."


(Y/n) mengangguk pelan. "Oke! Nanti malam aku akan pergi ke rumah Yuu." kata (Y/n) berapi-api.


"Tapi, (Y/n). Kurasa dia memang marah padamu."


Semangat (Y/n) langsung down, dirinya merasa tidak semangat untuk ke rumah Yuu.


"Sudahlah. Biarkan saja, mungkin dia hanya ngambek sebentar, " hibur Levi.


"Tapi.." kata (Y/n) khawatir. Levi hanya tersenyum menanggapinya agar (Y/n) tak terlalu khawatir.


"Baiklah..." jawab (Y/n) akhirnya.


Sebenarnya (Y/n) bisa saja membuatkan milkshake untuk Yuu sebagai permintaan maaf. Tapi (Y/n) ragu, apakah Yuu benar-benar semarah itu padanya?


Tentu saja hal ini membuat (Y/n) semakin pusing. Ternyata, perasaan (Y/n) dinotice Levi tidak semudah itu. (Y/n) tak mengira jika Levi juga menyukainya, ini tidak akan baik untuk (Y/n) dan Yuu. Ya, itu semua karena Yuu adalah sahabat (Y/n).


Dan jika apa yang dikatakan Levi itu benar, ini semua akan benar-benar memusingkan (Y/n).


Yuu juga sepertinya benar-benar kesal malam itu. (Y/n) tidak pernah melihat Yuu menatap Levi seperti itu. Benar-benar bukan Yuu.


Besok sekolah sudah dimulai, (Y/n) akan berbicara pada Yuu di sekolah besok. Siapa tau Yuu itu tidak benar-benar marah pada Levi dan (Y/n).


"Besok kau sekolah, bocah?" tanya Levi sambil meraih teh buatan (Y/n) dan meniup uapnya perlahan.


"Iya! Tetapi, aku masih mau libur dan menghabiskan waktuku denganmu di rumah, Levi.." sahut (Y/n) murung.


"Hm? Begitu, ya?" tanya Levi.


Levi pun meletakkan cangkir berisi tehnya dan kembali menunduk untuk melihat wajah (Y/n) yang masih tiduran di paha Levi.


Melihat Levi melakukan itu, (Y/n) mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menetralkan wajahnya yang mulai memerah lagi.


"Kenapa?" goda Levi. "kalau begitu, kau libur saja seminggu lagi, bocah."


"Tidak bisa, Levi! Bisa-bisa nilaiku jelek nantinya!"


"Ya. Terserah kau sajalah," balas Levi sambil mencubit pelan pipi (Y/n).


(Y/n) sangat senang Levi ada di sisinya. Tetapi, jauh di lubuk hati (Y/n), (Y/n) menginginkan Yuu ada di sini juga.


***


"Mau kuantar kau ke sekolah?" tanya Levi sambil menyiapkan bekal untuk (Y/n).


"Tidak usah, Levi. Aku bisa berangkat bareng Yuu." jawab (Y/n) yang sedang melahap sarapannya.


Levi hanya mengangguk dan tangannya tetap bergerak untuk menyiapkan makanan untuk dibawa (Y/n) ke sekolah.


Beberapa menit, (Y/n) sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Dirinya pun membenahi rambutnya sedikit dan segera menuju pintu depan untuk segera berangkat.


"Hati-hati di jalan, bocah," kata Levi sambil menepuk perlahan puncak kepala (Y/n).


(Y/n) mengangguk. Dan (Y/n) bergerak secepat kilat untuk mencium pipi Levi.


"Hei! Hanya aku yang boleh melakukannya duluan. Kau tidak boleh!" omel Levi sambil memegangi pipinya yang dicium barusan. Perlahan terlihat rona merah di pipinya.


"Hehehe.. Aku berangkat dulu!" teriak (Y/n) dan segera pergi meninggalkan Levi di depan pintu.


(Y/n) berjalan menuju blok rumah Yuu untuk mengajaknya berangkat bareng.


Sesampainya di sana, (Y/n) hanya disambut oleh Kaa-san, Yuu sudah pergi duluan katanya. Dan alhasil, berangkatlah (Y/n) sendirian ke sekolah. Dirinya menyesal telah menolak tawaran Levi tadi. Namun, apa daya. (Y/n) tidak mungkin kembali lagi ke rumah.


Dengan malas (Y/n) menuju ke sekolah. (Y/n) masih merasa tidak enak hati sama Yuu karena kejadian malam itu.


Sesampainya di sekolah, (Y/n) menaruh tasnya di kelas dan segera menuju kelas Yuu. Tetapi (Y/n) tidak melihat keberadaan Yuu di kelas. Dan kebetulan di depan kelas Yuu ada Shigeo, jadi (Y/n) bisa bertanya padanya.


"Ano, senpai?" panggil (Y/n) pelan.


Yang dipanggil menoleh ke sumber suara. "Oh, (Y/n), ya? Ada apa?"


"Apa senpai melihat Yuu? Dia tidak ada di kelasnya."


"Yuu? Tadi aku melihatnya ke belakang gedung olahraga, kenapa?"


"Tidak apa-apa. Arigatou, senpai!"


Shigeo tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. "Ha'i. Santai saja padaku."


(Y/n) lalu tersenyum dan segera bergegas menuju ke belakang gedung olahraga untuk bertemu Yuu. Ketika hanya tinggal beberapa langkah lagi (Y/n) sampai ke belakang gedung, dirinya menangkap suara di balik tembok.


"Aww! Pipiku sakit, Yuu!"


Reader pov


"Aww! Pipiku sakit, Yuu!"


Aku segera merapatkan diriku ke tembok. Aku berniat menguping pembicaraan mereka. Yuu berbicara pada siapa?


"Pipimu lembut seperti mochi, Chinatsu-san. Aku mulai suka mencubit pipimu, kalau bisa aku akan melahapnya!" suara Yuu mulai terdengar.


Yuu sedang bersama Aichi?


Lalu suara Aichi kembali terdengar. "Ah! Tidak mau!!!"


"Hahaha! Aku hanya bercanda, Chinatsu-san. Tapi kau memang imut dan cantik..."


Ih, apa-apaan mereka itu? Sebenarnya sedang apa mereka di sini? Di belakang gedung olahraga? Kenapa aku terdiam di sini? Bukankah aku bisa saja menghampiri mereka berdua seperti biasa? Kenapa seakan ada yang menahanku di balik tembok ini?


Dan kenapa hatiku ini serasa berlubang?


Krek


S-sial. Terkutuklah batang kayu yang kuinjak ini. Kenapa aku bisa menginjaknya? Semoga saja mereka tidak menyadari kalau aku ada di sini.


"Siapa?" tanya Yuu.


Ah sial. Aku harus kabur!


Aku pun berbalik dan segera berlari meninggalkan tempat itu. Meninggalkan mereka berdua.


***


Sewaktu istirahat, aku berniat menghampiri kelas Yuu dan Aichi. Seperti biasa, aku ke kantin bareng mereka.


Ketika aku melangkahkan kaki keluar kelas, suara teman sekelasku memanggil, "(Y/n)!"

__ADS_1


"Ada apa Sakura?" tanyaku kepada Sakura, sang ketua kelas di kelasku.


"Mau ke kantin bareng?" ajaknya ramah dan halus. Ah, gadis ini, kalau sedang berbicara selalu saja ramah.


"Boleh saja. Tapi aku mau ke kelas Yuu sebentar, ya! Kau juga bisa ke kantin bareng Yuu dan Aichi kok!"


Gadis itu hanya mengangguk pelan dan tersenyum manis dan segera mengikuti langkahku menuju kelas Yuu dan Aichi.


Sesampainya di sana, aku tidak melihat keberadaan kedua sahabatku ini. Ah! Yang benar saja!


"Aduh, mereka berdua kemana, ya?" tanyaku frustasi.


"Mungkin mereka sudah duluan ke kantin?" duga Sakura.


Aku hanya mengacak rambutku kesal. Yang benar saja! Ini sudah dua kali Yuu meninggalkan aku! Tadi pagi dan sekarang. Dia itu kenapa sih? Sumpah.


Dan akhirnya aku hanya menarik tangan Sakura dengan sedikit kasar menuju ke kantin. Gadis itu hanya mengikuti langkahku dari belakang.


Ketika di kantin, aku hanya membeli minuman kotak dan Sakura membeli sepotong sandwich rasa ayam.


Karena kantin penuh, kami akan makan di kelas saja. Dan ketika aku dan Sakura hendak meninggalkan kantin, aku melihat kedua sosok sahabat yang sedang kucari sedaritadi sedang berjalan bersama sambil bersenda gurau.


Asyik sekali, ya. Sampai-sampai aku ditinggalkan seperti ini.


"Sakura, aku mau menghampiri sahabatku dulu, ya. Mau ikut?"


"Boleh saja, (Y/n)."


Aku pun bergerak untuk menghampiri mereka berdua. Dan ketika sampai di hadapan mereka, aku langsung mengocehi mereka.


"Hei, kemana saja kalian?! Aku sudah mencari kalian, taunya kalian meninggalkanku!"


"(Y/n)! Maafkan aku! Tetapi Yuu yang mengajakku buru-buru ke kantin. Aku minta maaf!!!" balas Aichi sambil menyatukan kedua tangannya memohon maaf padaku.


"Maaf, (Y/n). Aku mau ke perpustakaan bareng Chinatsu-san. Kau ke kelas saja," kata Yuu sambil menarik tangan Aichi untuk pergi.


"Hei!" teriakku.


"Yuu! Kenapa kau meninggalkan (Y/n)" Sakura membelaku.


"Sudahlah. Biarkan saja, kita lebih baik ke kelas."


Dan Sakura hanya mengangguk menurutiku.


Kenapa dengan Yuu? Bukankah dia juga bisa mengajakku? Jangan-jangan apa yang dikatakan Levi itu benar.


Ah, sudahlah! Pusing!


SKIP


Kini sudah saatnya pulang. Para murid sudah berlalu pulang ke rumah masing-masing. Aku menoleh ke kiri dan kanan meneliti setiap orang yang lewat untuk mencari Yuu.


Aku melangkahkan kaki ke depan gerbang. Sadar bahwa Yuu belum ketemu, aku berhenti di depan gerbang untuk menunggunya dan pulang bareng.


Sumpah. Daritadi pagi sampai pulang sekarang, aku belum sempat menemuinya. Aku tidak tau. Aku merasa tidak enak.


Ini tidak seperti biasanya. Dan, kenapa seharian ini Yuu hanya berdua saja dengan Aichi? Tidak bisakah aku diajaknya juga? Dia kira aku ini apa?


Aku sih tidak masalah, karena aku masih memiliki cukup teman di kelasku. Hanya saja jika tidak ada Yuu dan Aichi... Ah sudahlah!


Dan kemana sih Yuu ini! Setahuku sekarang Yuu tidak ada jadwal latihan basket, seharusnya Yuu sudah bisa pulang sekarang.


Dan hingga akhirnya Yuu muncul juga. Dan dia bersama.. Aichi??! Oh Tuhan! Daritadi dia lama sekali karena mereka berduaan?


"Hei, Yuu! Aku sudah menunggumu daritadi. Kenapa lama sekali?" tanyaku sambil berjalan ke arah Yuu dan Aichi.


"Hai, (Y/n)! Maafkan kami, ya! Yuk kita bareng!" ajak Aichi sambil tersenyum.


Lalu kenapa lagi ini? Kenapa Yuu seperti ini? Bukankah Yuu bisa mengajakku juga??!


Tiga kali Yuu meninggalkanku lagi.


"Yuu? Kenapa kita tidak pergi dengan (Y/n) saja? Kukira kau akan mengajaknya juga.." jawab Aichi pelan. Sepertinya Aichi merasa tidak enak denganku.


"Pulanglah, (Y/n). Aku pergi dulu," jawab Yuu singkat sambil menarik tangan Aichi untuk pergi. Aichi pun hanya diam dan melambaikan tangan ke arahku.


Sedangkan aku? Terdiam. Tidak tau harus apa.


Kenapa? Kenapa Yuu seperti ini? Apa dia benar-benar marah padaku? Aku tidak akan menyangka seperti ini jadinya.


Aku pun melangkahkan kakiku meninggalkan gedung sekolah. Sendirian..


Langit tampak mendung hari ini sepertinya tak lama lagi akan turun hujan. Aku tidak membawa payung. Ah, mungkin Yuu membawanya!


Oh, ya. Aku pulang sendirian.


Ketika aku melewati taman, aku berniat untuk duduk di kursi taman sebentar.


Aku menyandarkan tubuhku di kursi taman berwarna putih itu, menghela nafas kasar dan mengacak rambutku frustasi.


Kenapa Yuu menghindariku? Apa dia benar-benar semarah itu kalau aku berdua saja dengan Levi? Tapi, Yuu tau kalau aku menyukai--mencintai--Levi, kenapa harus marah?


Yuu sudah tau sejak lama, kenapa dia baru marah sekarang? Kenapa harus menghindariku? Apakah Yuu tidak tau kalau dirinya sudah menghindariku sebanyak tiga kali?


Dia pikir aku ini apa? Setidaknya bicaralah. Bicara padaku. Jangan berbicara untuk menghindariku, Yuu.


Ini lebih sakit daripada yang kamu kira, Yuu. Karena Yuu yang selalu ada di sisiku sekarang telah mencoba untuk menghindariku.


Apa yang kamu mau, Yuu?


Tes


Air mataku mengalir perlahan, bersamaan dengan rintik hujan yang jatuh dari langit yang mendung.


Tidak apa-apa. Tidak apa-apa aku kehujanan. Tidak apa-apa aku sakit. Tidak apa-apa..


Aku hanya ingin di sini sebentar. Taman ini, kursi taman ini, mengingatkanku pada Yuu. Kami selalu duduk berdua di sini. Menikmati langit senja, ataupun bunga yang sedang mekar.


Flashback


"Yuu! Jangan cabut bunganya! Mereka baru saja mekar. Kau jahat!" teriakku karena melihat Yuu yang mencabuti bunga pink yang baru saja mekar.


Yuu tidak menjawab. Yuu hanya diam dan tetap mencabut beberapa bunga pink itu dan mengumpulkannya jadi satu.


Kulihat Yuu mengeluarkan seutas tali dan mulai membuat sesuatu dengan bunga pink yang dia cabut tadi.


Tangannya sangat terampil merangkai bunga pink itu menjadi satu dengan menggunakan seutas tali yang dia bawa.


Tak lama, hasilnya mulai terlihat. Kini Yuu bangkit dari rumput dan mulai berjalan menghampiriku yang sedang duduk di kursi taman dengan mahkota bunga pink buatannya.


"Nih, lihat! Keren, kan?" tanya Yuu sambil menunjukkan hasil kerja kerasnya.


Mataku berbinar-binar melihat bunga pink yang Yuu rangkai menjadi mahkota itu dan mengangguk semangat. "Iya-iya!!! Keren sekali!!"


"Hoho. Sudah kuduga," balas Yuu sambil membanggakan dirinya. "nih, pakailah."


Yuu memakaikan mahkota bunga itu di atas kepalaku. Dirinya merapikan rambutku yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


"Nah, kau terlihat cantik, (Y/n)."

__ADS_1


Tanganku bergerak menyentuh mahkota pink buatan Yuu yang ada di kepalaku. "Apakah terlihat cocok denganku?"


"Cocok sekali, (Y/n)."


Flashback end


"Hahaha! Aku mengingat hal itu lagi...."


Aku pun menunduk, berusaha menghapus air mataku. Hujan perlahan mulai turun dengan deras.


Tapi kenapa aku tidak basah, ya? Apa hujan tidak mau jatuh membasahiku?


Aku pun mengangkat kepalaku, berusaha melihat apa yang ada di atasku sehingga aku tidak basah kuyup oleh air hujan.


"Apa yang kau lakukan?!! Kau bisa sakit kalau kehujanan, (Y/n)!"


Wah. Ternyata ada yang memayungiku dari belakang. Pantas saja aku tidak basah kuyup. Aku pun tersenyum lebar karena mendengar ocehannya.


"Hehehe. Maafkan aku, Levi. Aku ingin sekali ada di sini sebentar."


Levi pun berpindah duduk di sebelahku dengan tetap memastikan dirinya masih berusaha memayungiku.


"Bodoh! Kau bisa sakit nanti!" omel Levi lagi sambil menyentil dahiku yang malang. "kau, menangis?"


Aku meringis pelan sambil memegangi dahiku. "Maaf, Levi. Aku sedang sedih.."


"Kenapa? Ada yang menyakitimu? Katakan siapa orang itu. Aku akan menebasnya sekarang juga."


Aku tertawa dengan keras mendengar Levi berbicara seperti itu. "Tidak, hanya saja... Kau benar Levi, Yuu marah padaku. Dia sudah menghindariku sebanyak tiga kali. Aku tidak tau harus apa lagi."


Levi terdengar menghela nafas pelan. Lalu tangannya bergerak meraih tanganku dan menggenggamnya erat.


"Kenapa? Karena aku mencintaimu? Hanya karena itu? Aku merasa bersalah," jawab Levi pelan dan tetap menggenggam tanganku.


Aku menggeleng cepat dan menjawab perkataan Levi, "Tidak! Yuu sudah tau kalau aku mencintaimu sejak lama, Levi. Selama ini Yuu menerimanya. Tapi sekarang dia menghindariku. Dan itu bukan salahmu, Levi."


"Huh? Jadi bocahku ini mencintaiku sejak lama, ya?" tanya Levi sambil menggodaku dengan senyumnya yang tipis sekaligus jahil. Dan Levi menarik tanganku agar bisa mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Aku pun memalingkan wajahku yang perlahan memerah. Aku tersipu hanya karena tatapan matanya yang menusuk hatiku~ membuat aku berkhayal yang macam-macam.


"Kenapa? Berkhayal yang aneh-aneh? "


Aku refleks menutup wajah dengan kedua tanganku dan berteriak, "TIDAK!!!"


Levi pun terkekeh pelan melihat tingkahku ini. Aku jadi salah tingkah karena Levi terus saja menggodaku.


Tak terasa kami sudah cukup lama duduk di kursi taman ini. Udara mulai terasa dingin memaksa untuk memeluk diriku sendiri.


"Levi~"panggilku.


"Ya?"


"Dingin~~~"


"Aku tidak bawa jaket, bocah. Kita pulang saja, udara mulai dingin, bocah sepertimu bisa sakit."


Aku pun cemberut karena Levi tak mengerti maksudku. Aku itu minta dipeluk tau!


"Hmmph!" aku melipat tanganku dan pura-pura marah pada Levi.


Levi pun terkekeh pelan melihatku. "Inilah yang membuat aku memanggilmu bocah."


Setelah Levi berkata seperti itu, tangan yang tidak dipakai untuk memegangi payung bergerak mendekatkan pundakku ke tubuhnya yang hangat. Aku pun memeluknya juga dan menyandarkan kepalaku di dadanya.


Kurasa, aku sangat beruntung. Aku beruntung Levi sangat menyayangiku. Biarkan seperti ini dulu. Biarkan aku terus merasakan hangatnya berada di pelukan Levi..


"Aku benar-benar menyukaimu, bocah," samar-samar aku mendengar Levi berkata seperti itu di tengah-tengah turunnya air hujan.


"Apa? Aku tidak mendengarnya, kau ngomong apa, Levi?" tanyaku pura-pura tak mendengar.


"Tidak."


"Ah yang benar?"


"Iya."


"Bohong. Aku juga, Levi."


Dan aku melihat, Levi tersipu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Mulai sekarang, Levi menjadi milikku... Dan aku akan tetap menjadi bocah kesayangannya.


Yuu pov


Apakah aku jahat? Aku menghindari (Y/n) seharian ini. Aku hanya bersama Chinatsu-san saja hari ini.


Aku merasa sangat bersalah pada (Y/n), tidak seharusnya aku menghindarinya seperti ini.


Ini semua gara-gara Shigeo. Dia mengatakan bahwa aku harus menghindari (Y/n) dan mendekati Chinatsu-san yang menyukaiku.


Argh! Tidak seharusnya aku mengikuti sarannya yang aneh itu! Pasti ini membuat (Y/n) sakit dan kesepian.


Aku membatalkan niatku untuk pergi ke toko buku bersama Chinatsu-san karena sepertinya akan turun hujan. Dan aku pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah. Dan mungkin aku akan mengunjungi rumah (Y/n) malam nanti sekalian menginap.


Apa (Y/n) membawa payung? Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Dia itu ceroboh, selalu saja lupa membawa payungnya. Dan di saat hujan turun, pasti dirinya memohon agar aku memayunginya juga. Dasar.


Ketika aku sampai di taman, aku melihat (Y/n) sedang duduk di sana. Dia seperti sedang melamunkan sesuatu. Ini semua salahku. Pasti (Y/n) sedang sedih.


Sementara aku berdiri di balik pohon yang ada di taman, mengamati (Y/n) dari sini. Dan tak lama, hujan pun turun.


Aku pun mengambil payung yang ada di tasku dan membukanya. Saat aku berniat menghampiri (Y/n) dan memayunginya, ternyata sudah ada orang yang lebih dulu memayunginya.


Ya, Levi.


Apa aku pantas dikatakan sahabatnya? Aku pengecut. Hanya karena dia tidak menyukaiku, aku menghindarinya seperti ini. (Y/n) punya kebahagiaannya sendiri. Aku hanyalah sahabat yang menemaninya di saat sedih, bukannya malah membuatnya sedih.


Bahkan aku sudah dianggap kakak kandungnya sendiri. Kenapa aku malah membuatnya sedih seperti ini? Seharusnya aku yang menghiburnya, karena akulah yang membuatnya sedih.


Tetapi, jika Levi lebih bisa membuatmu senang, terserah padamu. Aku akan tetap ada di sisimu. Kapanpun yang kamu mau, (Y/n). Aku akan terus di sisimu, datanglah selagi kamu membutuhkanku. Aku akan selalu di sini.


Akhirnya aku berbalik meninggalkan taman dan segera pulang. Aku harus minta maaf pada (Y/n). Ini salahku. Tidak seharusnya begini.


Aku ini egois. Aku egois, karena aku mencintaimu, (Y/n). Lebih dari sekedar sahabat..


Aku menyusuri jalan dengan hati yang berat. Udara mulai dingin, apa (Y/n) membawa jaket? Argh! Aku sangat khawatir padanya. Kalau saja om-om itu tidak ada di sana, aku akan ada bersama (Y/n) di sana.


BRUK


"Hei! Kalau jalan lihat-lihat, dong!" bentakku karena ada seorang lelaki yang menabrakku dari depan. Orang itu terjatuh di jalanan karena menabrakku.


Orang itu tampak tergesa-gesa. Dengan perjuangan orang itu bangkit dan memperlihatkan wajahnya.


Betapa terkejutnya aku melihat wajah orang yang menabrakku ini. Dia? Kukira orang ini sudah hilang ditelan bumi. Tapi nyatanya orang ini kembali lagi ke sini.


"Mau apa kau kembali lagi?" aku menatapnya dengan dingin. Aku sudah muak dengan dirinya.


Lelaki itu hanya menatap wajahku dengan tatapan tak percaya. "Yuu! Kau masih di sini? Dimana (Y/n)??! Aku harus menemuinya!"


Aku mendecih pelan. Menemui (Y/n)? Yang benar saja! Setelah apa yang kau lakukan padanya?

__ADS_1


"Menemuinya? Apa kau sudah lupa perbuatanmu pada (Y/n)?"


__ADS_2