Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
2. Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Reader pov


Sial, pasti aku disuruh bersih-bersih nanti.' Aku berucap dalam hati.


Daripada itu, aku masih sibuk memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini sekarang.


Komputerku rusak.


Tapi, yang menjadi masalah adalah kenapa Levi bisa ada disini. Dia keluar melalui komputerku. Bagaimana bisa?


Aku memandangi komputerku yang telah hancur berkeping-keping, berfikir bagaimana kemungkinan hal itu bisa terjadi di komputerku. Apakah hanya aku yang mengalami ini? Bagaimana dengan yang lain?


"ARGH! Tau, ah. Pusing." Aku mengacak rambutku kesal.


Ketika itu Levi kembali ke kamarku dan berhasil menemukan alat kebersihan hasil 'penjelajahan'nya di rumahku.


"Lev—"


Aku hendak ingin menanyakan apa yang sebenarnya yang terjadi, tetapi cepat-cepat dipotong olehnya. Dan ia menyodorkan beberapa alat kebersihan.


"Diamlah, bocah. Lebih baik kau membersihkan 'kandang'mu dulu. Aku bisa mati walaupun aku menginjakkan kaki di tempat ini kalau begini keadaannya. Lihat, bungkusan di mana-mana, debu berterbangan, sarang laba-laba bergelantungan. Sudah berapa lama kau tidak membersihkan tempat ini, bocah? Tikus dan kecoa saja tidak akan pernah mau mengunjungi tempat ini."


Levi menceramahiku panjang lebar dengan wajah datarnya dan memberikanku alat kebersihan yang ia dapatkan dari rumahku yang bahkan jarang sekali kugunakan. Aku baru tau kalau benda itu masih ada.


"Bersihkan seluruh tempat ini. Semua bagian, sudut, dan benda-benda yang tertutup oleh debu. Pastikan tempatmu tinggal bersih dari kotoran, bocah," suruh levi sambil melipat tangannya.


Huh! Kenapa dia selalu memanggilku bocah? apa aku terlalu muda di depannya? Dasar.


Kalau dia bukan husbandoku, dia sudah kuhajar daritadi. Dan ingat saja, aku ini bukan orang yang sabar, aku bisa meledak kapan saja.


Lalu ia menunjuk tempat-tempat yang menurutnya 'sangat' kotor. Mungkin, memang kotor sebenarnya.


"Hei, bocah. Bersihkan itu."


"Bocah, ini juga jangan terlewat."


"Lap ini juga, bocah."


"Ulangi sekali lagi, bocah. Ini kurang bersih."


"Kau ini sebenarnya bisa bersih-bersih apa tidak? Dasar bocah."


Kata demi kata yang menyakitkan melayang keluar dari mulutnya, dan Levi selalu memanggilku bocah. Levi selalu kurang puas dengan apa yang sedang kubersihkan. Dia menginginkan yang lebih bersih lagi, sampai-sampai aku di suruh untuk mengulang berkali-kali untuk mengelap debu yang ada. Kesabaranku perlahan mulai habis.

__ADS_1


"Bocah—"


Belum sempat Levi mengomentari hasil kerjaku, aku segera memotongnya, "Apa lagi?! Aku sudah mengulangi sepersekian kalinya. Apa yang kurang lagi? Kenapa bukan kau saja yang mengulangnya, hah? Aku lelah!" Aku melemparkan kemoceng dan kain lap yang kugunakan untuk membersihkan debu ke arahnya karena aku sudah tidak tahan lagi dengan komentarnya.


Kenapa bukan dia saja yang membersihkannya, sih? Aku sangat kesal! Rasanya darah mengalir cepat seiring aku menahan emosiku.


Levi pov


"Apa lagi?! Aku sudah mengulangi sepersekian kalinya. Apa yang kurang lagi? Kenapa bukan kau saja yang mengulangnya, hah? Aku lelah!" teriak bocah itu lalu melemparkan kemoceng dan kain lap ke arahku.


Aku tersentak. Apakah aku terlalu menyebalkan baginya? Kurasa tidak. Dia saja yang tidak terbiasa beres-beres, sudah terbaca dengan keadaan rumahnya yang kotor.


Padahal aku tadi terakhir memanggilnya karena aku hanya ingin bilang bahwa ia kerjanya sangat bagus, aku ingin berniat memujinya.


Tetapi, ia malah berteriak kepadaku, dasar bocah aneh. Kulihat nafasnya tidak beraturan karena menahan emosinya. Kurasa bocah ini bisa meledak juga.


Kurasa .... Aku sudah benar-benar kelewatan sebelumnya.


"Maaf," kataku sambil meletakkan tangan kananku di atas kepalanya dan mengusapnya perlahan.


Ia mengangkat wajahnya dan menatapku, kulihat matanya berbinar-binar dan wajahnya agak memerah.


Kenapa lagi bocah ini?


Senang? Padahal aku hanya meminta maaf dan mengusap kepalanya sedikit hanya untuk meredakan emosinya, kenapa dia menjadi gugup dan senang?


Apa aku melakukan sesuatu yang aneh?


Tidak.


Ternyata ia memang bocah yang aneh.


Author pov


Setelah (Y/n) dan Levi beres-beres, (Y/n) kembali ke kamarnya dan diikuti oleh Levi. Lalu (Y/n) menjatuhkan dirinya ke kasur empuknya dan berbaring dengan nyaman, lalu memejamkan matanya.


Sedangkan Levi melihat-lihat isi kamar (Y/n) karena tidak tau apa yang akan dia lakukan. Levi melihat ada beberapa poster yang bergambarkan dirinya yang tertempel pada dinding kamar (Y/n) dan beberapa figure berbentuk dirinya sendiri.


"Apa kau mengenalku, bocah? Kenapa di kamarmu ada gambar diriku dan ada beberapa yang semacam patung itu yang berbentuk sepertiku?" tanya levi sambil menunjuk barang-barang yang dimaksudnya.


(Y/n) yang sedang memejamkan matanya pun terpaksa membuka kembali matanya lalu menjawab keingintahuan husbandonya itu.


"Karena kau husbandoku, makanya aku rela memakai uangku demi membeli barang-barang yang berkaitan denganmu," jelas (Y/n).

__ADS_1


"Husbando? Apa itu?" tanya Levi lagi sembari duduk di pinggir tempat tidur (Y/n).


"Intinya sih, kau itu suamiku hehehe," jawab (Y/n) seadanya sambil membentuk jarinya menjadi bentuk peace.


"Suami? Yang benar saja, apa kau bercanda? Bercandamu sama sekali tidak lucu. Aku serius," balas Levi.


Levi terlihat menaikkan alisnya karena menganggap yang dikatakan (Y/n) itu hanyalah bercanda semata.


"Kalau tidak percaya yasudah. Kau itu dari anime 'Shingeki no kyojin', Levi Heichou."


"Tau dari mana kau, bocah?" tanya Levi lagi karena ingin tau darimana (Y/n) tau tentang pangkatnya.


"Aku akan menunjukannya nanti setelah aku kembali membeli komputer baru. Kau lihat sendiri kan tadi, aku membereskan komputerku yang hancur karenamu," kata (Y/n) sambil menunjukkan ke arah dimana seharusnya komputernya berada, yang sekarang telah kosong karena komputernya sudah rusak.


"Karenaku? Aku melakukan apa?" Levi kelihatan berpikir. "Seingatku, aku sedang mengejar female titan dan ingin membawa Eren yang ditangkapnya, lalu aku melihat sebuah lubang hitam berasap dan singkat saja aku terhisap olehnya, dan aku masuk ke sebuah benda sempit dan akhirnya benda tersebut hancur dan jadilah aku di sini."


(Y/n) meletakkan tangan di dagunya, seolah-olah sedang berusaha berfikir, dan menemukan hasil pemikirannya.


"Jadi ...." (Y/n) menjeda omongannya, lalu menatap Levi. "Lubang hitam itulah yang membawamu ke komputerku dan komputerku tidak sanggup untuk memuatmu, maka hancurlah komputerku. Dan, apakah kau tau apa dan darimana sebenarnya lubang hitam itu?" tanya (Y/n) sambil menunjuk ke arah Levi.


"Aku ... tidak tau."


#meanwhile di dunia anime#


"LEVI-HEICHOU!"


Mikasa yang terkejut melihat Levi masuk ke dalam lubang hitam itu pun berusaha ingin menolongnya.


Tetapi ketika hendak mendekati lubang tersebut, lubang tersebut sudah hilang entah kemana membawa sang prajurit terkuat.


Walaupun tidak bersama Levi, Mikasa untungnya dapat membawa kembali Eren dengan selamat dan berhasil melumpuhkan female titan.


Setelah menyelamatkan Eren, Mikasa bertemu dengan Hanji yang sedang mengisi gasnya dan segera menceritakan yang terjadi pada Levi tadi.


"APA?! Dengar, Mikasa. Jangan beritahu kepada Erwin dulu, kita akan mencarinya terlebih dahulu walaupun kemungkinannya bisa saja sangat kecil. Pokoknya, jangan sampai Erwin tau ini. Setidaknya untuk sementara, jangan biarkan yang lain tau ini. Mengerti Mikasa?" jelas Hanji yang cepat memahami situasi sehingga mengambil kesimpulan ini.


Hanji tau, kalau sampai yang lain sampai tau hal ini, pasti tidak akan bisa fokus dengan ekspedisi, apalagi jika Erwin yang mengetahuinya, bisa kacau.


"Mengerti!" Mikasa memberi hormat lalu pergi meninggalkan Hanji dan segera berusaha mencari Levi.


Sepeninggal Mikasa, Hanji segera melanjutkan aktivitasnya mengisi gasnya, dam bersiap untuk membantu Mikasa mencari Levi.


"Lubang hitam ...."

__ADS_1


__ADS_2