Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
12. Rasanya?


__ADS_3

Author pov


"(Y/n), hei? Ayo keluar dulu, kau belum makan," kata Yuu sambil mengetuk pelan pintu kamar (Y/n).


Kini wajahnya memperlihatkan perasaan khawatirnya pada (Y/n). Sudah sejak kemarin (Y/n) belum keluar dari kamarnya. Sekarang Yuu sangat khawatir padanya. Begitu juga dengan Levi.


Ya, karena kejadian kemarin.


Flashback


"Bisakah kau mengembalikanku ke dunia asalku?"


"Sepertinya bi--


Brak!


(Y/n) bangkit dari duduknya dan menggebrak meja di depannya. Kini wajahnya memerah karena menahan luapan emosinya.


"BAKA!" teriak (Y/n) sambil berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Yuu menoleh kaget. "(Y/n)??!"


Yuu juga bangkit dari duduknya dan mengejar (Y/n) yang sudah ada di lantai dua. Namun saat Yuu sudah sampai di lantai dua, terdengar suara bantingan pintu yang keras menandakan (Y/n) sudah berada di dalam kamar.


Yuu berlari lagi menghampiri pintu kamar (Y/n) yang terkunci dan mengetuknya dengan keras. "Hei, (Y/n)!! Kau kenapa??"


Seberapa banyak Yuu memanggil nama (Y/n), Yuu tidak mendapatkan balasan dari dalam. Sedangkan, Levi kini baru sampai di lantai atas. Sama dengan Yuu, Levi juga khawatir.


Saat Levi sampai di depan kamar (Y/n), Yuu segera menarik kerah baju Levi. "Bego tau gak!! Gara-gara kau (Y/n) jadi seperti ini!!! Sekarang kau mau mengkhawatirkannya? Yang benar saja!"


Levi menghela nafas kasar mendengar perkataan Yuu. "Aku tau. Kau juga tak mengerti situasiku. Aku tak bisa lepas tanggung jawab begitu saja setelah aku mengetahui cara untuk kembali. Tetapi aku juga tak mau meninggalkannya seperti ini."


Yuu menatap Levi tajam. Lalu beberapa saat kemudian, Yuu melonggarkan cengkraman tangannya dari kerah baju Levi.


"Rumit sekali sih hidupmu! Kalau kau masih memikul berat tugasmu, ya jangan jatuh cinta!" ucap Yuu kesal, "Lalu bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?"


"Ya, kau jadi menggunakan alat itu dan kembali?"


Levi menghela nafas lagi. "Aku.. Masih mau berfikir lagi."


Yuu tak menjawab. Kini Yuu kembali mengetuk pintu kamar (Y/n) dan memanggilnya agar keluar dari kamar.


"(Y/n).. Keluarlah, ada.. Levi disini."


Namum hasilnya tetap nihil. (Y/n) tetap tak menjawab panggilan Yuu.


"Hei, bocah. Maafkan aku, aku disini. Keluarlah." Sekarang giliran Levi yang memanggil (Y/n). Dan hasilnya juga sama. (Y/n) tak menjawabnya. (Y/n) benar-benar marah.


"Ck!" Yuu mendecak kasar dan segera turun menghampiri Ichiro yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"Heh. Ngapain sih disitu? Adikmu sedang mengunci diri di kamarnya dan kau malah duduk disini? Kakak macam apa kau?"


Ichiro terkekeh. "hehe.. (Y/n) sudah biasa seperti itu kok. Nanti juga baik sendiri."


"Bego!"


"Baiklah..baiklah... Aku akan ke atas. Aku sekalian mau pulang juga.."


Yuu dan Ichiro pun melangkahkan kaki ke depan kamar (Y/n). Sesampainya disana, Ichiro mengetuk pintu kamar (Y/n) pelan dan kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.


"(Y/n).. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Kurasa keputusan yang akan dibuat Levi nanti tidak membuatmu sedih. Kau bisa main ke rumahku kalau kau mau. Atau aku akan mengunjungimu lagi besok. Nah, jaa nee!"


"H-hanya itu?" celetuk Yuu.


Ichiro mengangguk. "Ya. Perkataanku itu ajaib. Nanti juga (Y/n) baik sendiri," kata ichiro yakin. Ichiro pun berbalik meninggalkan kamar (Y/n). Hingga beberapa langkah, dirinya kembali berbalik.


"Ah, (Y/n). Kau yakin akan sendirian di dalam? Kalau butuh laptop, di kamar orangtua kita ada kok~"


"Laptop? Maksudmu benda yang bercahaya itu? Yang bisa dilipat?" tanya Levi.


Ichiro mengangguk.


"Aku menemukannya di lemari kamar yang kutempati sekarang. Itu benda berharga? Aku menjadikannya sebagai pengganjal kakiku saat tidur," sahut Levi datar, seakan benda itu bukan benda yang penting.


Ichiro menatap Levi tak percaya. "Seriously? Hei! Kau tak menginjaknya kan??!"


"Aku tak tau. Semoga saja tidak."


"Hah.. Dasar bodoh," komentar Yuu sambil memijit dahinya.


"Sudahlah. Aku pergi dulu."


Sementara itu, (Y/n) yang berada di dalam hanya terduduk di balik pintu dan mendengar percakapan mereka yang ada di luar kamar. Saat dirinya masuk ke kamar, air matanya langsung tumpah begitu saja.


Kecewa?


Ya. Sangat kecewa. Itulah yang dirasakannya sekarang. Hatinya begitu sakit. Tapi, dirinya juga tak berhak melarang Levi seperti itu.


Namun, saat (Y/n) mendengar percakapan di luar, (Y/n) menghapus air matanya dan bertekad untuk tetap mengurung diri di kamarnya agar Levi tetap ada disini.


Egois memang. Tetapi (Y/n) tak akan sanggup jika Levi pergi dari hidup (Y/n).


Sepeninggal Ichiro, Levi, dan Yuu, (Y/n) bangkit dari duduknya dan segera melompat ke kasur empuknya. Dan berbaring sambil menenggelamkan wajahnya yang merah ke bantal.


Lalu, (Y/n) berbalik ke posisi telentang dan melempar bantalnya sembarang arah. "Payah nih. Aku bisa bosan kalau di kamar terus."


(Y/n) meletakkan jari telunjuknya ke dagunya seraya berfikir. Dirinya berfikir untuk melakukan sesuatu agar tak mati kebosanan di dalam kamarnya sendiri.


"Ah! Nanti malam, aku akan mengambil laptop di kamar orangtuaku seperti kata Nii-chan tadi dan mengambil beberapa makanan yang ada di kulkas. Bodoamat deh!"


Dan sampai malam pun tiba, di saat Levi sedang tidur, (Y/n) menyelinap masuk ke kamar orangtuanya dan mengambil laptop yang ada di bawah kaki Levi.


Awalnya berjalan mulus. Tapi, disaat Levi menggeliat dan membuka matanya, (Y/n) dengan laptop di tangannya langsung berlari ke arah pintu dan mengambil kuncinya.


"Hei, bocah! Sedang apa kau?" tanya Levi sambil turun dari kasur dan berlari ke arahmu.


Dengan cepat, (Y/n) menutup pintu dan menguncinya dari luar, dan meletakkan kuncinya di depan pintu.


Sementara Levi menggedor-gedor pintu dan berteriak agar pintunya segera dibuka. Tetapi (Y/n) malah berlari menuju dapur dan mengambil makanan dari kulkas lalu segera ke kamarnya.


"Fyuh.. Tidak semudah itu," keluh (Y/n) sambil mengelap keringatnya.


Dan sejak malam itu, (Y/n) berada di dalam kamar dengan aman, nyaman, dan tentram.


Flashback end


"Minggir. Biar kubuka secara paksa pintu ini," ucap Levi sambil mengambil kuda-kuda untuk menendang pintu kamar (Y/n).


"Oi! Yang benar saja! Jangan ditendang pin—"


Brak!!!


"—tunya ...."


Yuu hanya bisa menggeleng pasrah dan menutup wajah dengan satu tangannya melihat pintu kamar (Y/n) tumbang karena ditendang Levi.


"Kau ini makhluk apa sih?!" ucap Yuu frustasi.


Levi yang sudah berdiri di depan pintu kamar (Y/n)--eh maksudnya kamar tanpa pintu (Y/n)-- segera masuk ke dalam. Matanya menangkap sesosok perempuan yang dari semalam Levi khawatirkan itu sedang tertidur pulas di depan laptopnya.


Dengan hati-hati, Levi menghampiri kasur (Y/n) dan duduk di pinggir kasur. Jemari Levi bergerak membenahi rambut yang menutupi sebagian wajah cantik (Y/n).


"Hei! Sedang apa kau?!" bentak Yuu yang sudah ada di dalam kamar (Y/n).


Levi mendecih pelan. "urusai. Suaramu hanya akan membangunkannya."


Yuu mengangkat sebelah alisnya dan berjalan menuju kasur (Y/n). Yuu mengambil laptop yang ada di depan (Y/n) dan segera mematikannya.


"Haah.. Pasti (Y/n) menonton anime sampai larut," desah Yuu. "dan kau, minggirlah. Aku mau duduk di sebelah (Y/n) juga!"


Mendengar perkataan Yuu, Levi hanya berdehem pelan dan tangannya bergerak mengelus rambut (Y/n). Dan menyaksikan itu, Yuu semakin geram dengan Levi.


"Kau ini. Mau ribut denganku??!"


"Bocah ini. Kau tak punya sopan santun?" balas Levi sambil melipat tangannya di dada.

__ADS_1


Aura tak menyenangkan keluar dari mereka berdua. Mereka benar-benar ingin ribut saat ini juga.


Hingga suara (Y/n) mengejutkan mereka berdua. Dengan mata yang masih terpejam (Y/n) bergumam dalam tidurnya.


"L-levi.. Kumohon jangan pergi.."


Levi menoleh. Matanya menatap lurus ke arah gadis yang tengah terlelap itu.


Sorot matanya melembut, dan Levi pun menundukkan kepalanya untuk mengecup pelan puncak kepala (Y/n). Disaat Yuu mau berkicau lagi karena melihat kelakuan Levi, (Y/n) sudah membuka matanya.


"Ah! Kenapa kalian bisa ada di kamarku? Dan kenapa pintuku... Seperti itu?" tanya (Y/n) yang sudah sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Om ini yang melakukannya,"sahut Yuu sambil menunjuk ke arah Levi.


"Nanti perbaiki saja pintunya," jawab Levi datar.


(Y/n) menatap Levi yang sedang duduk di sampingnya. Dan kemudian dirinya bergerak untuk memeluk Levi erat.


"Huaa! Kau masih disini, Levi!! Aku takut kau pergi!" tangis (Y/n) seiring dengan pelukannya yang semakin erat.


Levi hanya tersenyum tipis menanggapinya..


Reader pov


Sebenarnya, aku sudah tidak terlalu sedih. Aku hanya belum siap jika Levi pergi begitu saja. Aku tau, aku tau Levi pergi bukan sepenuhnya keinginannya. Itu karena Levi masih bertanggung jawab dengan tugas yang tengah ditanggungnya.


Aku tak tau akan sanggup atau tidak jika Levi tak ada di dekatku. Aku takut. Aku takut jika Levi tak akan kembali lagi kesini.


Aku takut. Aku takut jika Levi mati di sana. Tugasnya berbahaya. Aku juga takut kalau Levi berakhir di dalam mulut titan yang menjijikkan itu.


Tetapi, aku tak punya hak untuk melarangnya pergi. Levi datang kesini juga bukan kemauannya. Itu hanyalah ulah Nii-chan. Dan aku tau itu.


Aku tak sebanding dengan ribuan bahkan jutaan nyawa umat manusia yang ada di dunianya.


Pasukan penyelidik, umat manusia disana, membutuhkan Levi. Kehilangan prajurit seperti Levi adalah bencana yang besar. Umat manusia akan kalah.


Aku pun berfikir. Aku akan merelakannya, mungkin.. Dengan tekad yang kuat, Levi dan pasukan penyelidik bisa menang jika terus berjuang, sampai akhir.


Hingga akhirnya, aku merelakan agar Levi bisa pergi ke dunia asalnya. Aku sadar, bahwa tempatnya bukanlah disini.


Levi hanyalah karakter dari anime Shingeki no Kyojin. Dan tugasnya adalah memberi kebebasan untuk umat manusia, bukan untuk mencintaiku...


...***...


"Di sini?" tanyaku kepada Yuu yang sedang memegang ponsel di tangan kanannya, matanya sibuk melihat isi pesan yang baru masuk.


Yuu mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatapku. "Ya, (Y/n). Ichiro yang memberikan alamat rumahnya. Hei, om. Ketuklah pintunya, aku sibuk," kata Yuu sambil kembali melihat ponselnya.


Levi yang berdiri di sampingku pun mendecih mendengar suruhan Yuu. "Astaga. Aku ingin menghajarmu. Sungguh."


Aku menghela nafas melihat kelakuan Levi dan Yuu. Dari awal bertemu juga sudah seperti ini. Heran aku tuh.


Oh iya. Tujuan kami ke rumah Nii-chan adalah, untuk membuat Levi kembali ke dunianya.


Kenapa begitu? Mudah saja, aku tak mau mementingkan kemauanku sendiri. Di sana masih ada yang lebih membutuhkan Levi dibanding diriku.


Dan oh tentu saja! Awalnya aku juga tak mau melakukan ini. Sebelum memutuskannya, malamnya aku menangis seember di kamarku.


Gak rela... Tapi aku juga tak mau melihat Levi tak bertanggung jawab seperti ini.


Dan alhasil, aku meminta Yuu untuk menghubungi Nii-chan. Yuu meminta alamat rumahnya dan sampailah kami disini.


Levi pun bergerak mengetuk pintu rumah Nii-chan dan menunggu jawaban dari dalam.


Tak lama, seseorang membukakan pintu rumah dari dalam. Kini telah berdiri sesosok gadis yang sedang berdiri di depan pintu yang sudah terbuka.


Gadis itu tersenyum hangat. "Oh, hai! Akhirnya kalian sampai juga. Ayo masuk."


"Ah, terimakasih Petra.." balasku ramah.


Kami pun segera masuk ke dalam. Kami dipersilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu Nii-chan.


Dan tak lama, Nii-chan muncul dari lantai atas lalu segera turun ke bawah dan duduk di antara kami.


Seperti biasa, Nii-chan selalu ceria ketika bertemu dengan kami. Seulas senyum selalu terukir di bibirnya.


Aku merengut kesal mendengarnya. "Yang benar saja, Nii-chan! Nii-chan pikir mudah untuk merelakan ini?"


"Yasudah... Nii-chan akan menunggu, kok~"


Aku melirik ke arah Levi yang sedang kelihatan berfikir. Ah, pasti pikiran Levi sedang kacau.


Aku harus mengatakan apa padanya? Aku tak tau.. Bisa saja ini kata-kata terakhirku padanya...


Ini cukup..rumit...


"AH! SUDAHLAH! AYO KITA LANGSUNG MULAI SAJA!!"


Levi, Yuu, Nii-chan, dan Petra menoleh ke arahku dengan wajah yang terkejut.


"Hei? Katanya kau sulit merelakannya?" komentar Yuu kaget.


"Ada apa, (Y/n)? Apa ada masalah?" kata Petra khawatir.


"Kau menginginkan aku cepat kembali?" tanya Levi datar.


Aku tergugup mendengar komentar Levi barusan. Gak gitu maksudnya..


"Ano.. Semakin aku mengatakan kata perpisahan untukmu, aku seperti sedang jatuh ke dalam lubang yang dalam, dan aku takut tak bisa bertemu denganmu lagi, Levi."


Levi menatapku dengan matanya yang indah itu sendu.


"Dan aku ingin cepat melewati ini semua. Dan berdoa agar aku tetap bisa bertemu--bukan, agar bisa bersama denganmu lagi..." lanjutku dengan suara yang agak sedikit tertahan.


Tuh kan mau nangis lagi...


Levi menundukkan kepalanya. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Levi diam sebentar lalu dirinya berbicara.


"Baiklah. Cepat lakukan sekarang. Dan aku hanya ingin (Y/n) yang melihatku pergi."


Mataku melebar. Inilah saatnya. Aku benar-benar harus merelakan sosok yang selama ini aku sayangi. Berat rasanya..


"Ah, baiklah... Mari ikut aku ke lantai atas, alatnya ada di ruang kerjaku." ajak Nii-chan sambil bangkit dari duduknya.


Kurasa Nii-chan sedikit merasa sedih. Karena dirinyalah yang membuat situasi seperti ini, terlihat dari air mukanya yang berubah.


Dimulai dari Nii-chan yang berjalan duluan menuju tangga dan disusul olehku. Levi yang baru bangkit dari duduknya langsung mengikuti jejak kami dari belakang.


"Ah, Heichou. Mungkin aku akan menyampaikan sesuatu.." hingga suara Petra membuat langkah Levi terhenti, begitu juga denganku dan Nii-chan. Levi berbalik menghadap ke arah Petra yang sedang duduk.


"Sampaikan salam rinduku untuk semua pasukan pengintai. Katakan bahwa aku di sini baik-baik saja. Berjuanglah, Heichou."


"Dan kenapa kau tak ikut denganku kembali?"


Petra menghela nafas sedih. "Tidak bisa, Heichou. Kurasa aneh kalau aku disana. Dan aku akan tetap disini bersama orang yang sangat kusayangi."


Ah iya, Nii-chan...


"Lalu kau melepas tanggung jawabmu?" jawab Levi lagi.


Petra tersenyum. "kurasa aku pantas bahagia, Heichou."


Kulihat mata Levi membesar mendengar perkataan Petra.


Kemudian dirinya kembali berbalik dan menghentikan langkahnya.


"Baiklah. Akan kusampaikan pesanmu," balas Levi singkat.


"Hei. Aku malas mengakui ini, tapi, berjuanglah. Jangan mati," ucap Yuu.


Levi pun mengangguk pelan dan tersenyum sebentar. "Heh. Aku tak akan mati, bocah."


Lalu Yuu membalas anggukan Levi dan melambaikan tangannya. "yo!"


Dan untuk pertama kalinya, Yuu dan Levi damai...


Dan kemudian Levi kembali meneruskan langkahnya menuju lantai atas ke ruang kerja Nii-chan.

__ADS_1


Sesampainya disana, banyak sekali bekas-bekas barang penelitian Nii-chan yang masih berantakan.


Namun, ada satu benda yang cukup besar berbentuk layar kotak yang menyala. Kurasa itu alatnya..


Biar kujelaskan, alat ini berbentuk kotak dan berwarna putih. Benda ini sebagian besar terdiri dari berbagai macam kabel yang ada di belakangnya. Dan di bagian layarnya, terdapat berbagai macam tombol yang tak kumengerti fungsinya.


"Nah.. Ini adalah alatnya. Katakan kapan aku bisa memulainya," kata Nii-chan sambil menunjukkan alatnya yang kumaksud tadi.


Kulihat Levi hanya terdiam sedaritadi. Aku juga hanya diam. Lidahku kaku setelah melihat alat itu. Benda inikah yang membuat Levi menjadi seperti ini?


Hingga Levi menatap ke arahku. "Apa kau..sudah siap?"


Aku ragu.


"Aku akan menunggu saat kamu sudah siap, (Y/n)," kata Levi.


Kau tau bahwa sebenarnya aku tak akan pernah siap.


"Aku akan selalu menunggumu," kata Levi lagi.


Jangan menungguku. Aku tak akan pernah siap.


Hanya..lakukan saja.


Cepat lakukan. Agar aku bisa segera siap. Siap menerima kenyataan bahwa kamu akan pergi dariku.


"Baiklah. Kukira kau sudah siap, (Y/n)." kata Nii-chan sambil mengelus puncak kepalaku.


Aku hanya mengangguk lemah.


"Anak pintar. Kau selalu kuat, (Y/n)," puji Nii-chan sambil tersenyum.


Bohong. Aku tak sekuat yang Nii-chan kira. Kalian tau? Aku ingin sekali menarik Levi kembali ke rumahku. Tapi mungkin tidak.


"Baiklah, Levi~ Letakkan tanganmu di scanner ini. Aku akan menyetting kemana kamu akan sampai nanti," jelas Nii-chan sambil menunjuk ke salah satu scanner yang ada di sebelah alat penemuannya.


Lalu Nii-chan mengambil sesuatu dari kantongnya. "sebelum itu, pakailah jam ini. Jika kau menekan tombol yang ada di dalam jam tangan ini, kau akan mengirim sinyal padaku."


Levi menerima jam tangan darinya dan segera memakainya dengan bantuanku. "Tapi kau tau dimana aku akan sampai?"tanya Levi ragu.


Nii-chan tersenyum. "Tenang saja. Tidak usah khawatir, percaya saja padaku."


"Baiklah," jawab Levi.


Kemudian Levi menoleh ke arahku. Tangannya bergerak untuk meggenggam tangan kananku.


"K-kenapa?" tanyaku sambil tersipu malu.


"Aku ingin kau yang meletakkan tanganku disana."


"B-baiklah.."


Akhirnya aku memegang tangannya, dan menuntun tangannya untuk diletakkan disana.


Setelah tangan Levi sudah menempel dengan benda tadi, Nii-chan segera menekan beberapa tombol di layarnya untuk membuat Levi bisa kembali ke dunianya.


Nii-chan terdiam sebentar setelah menekan semua tombol yang diperlukan. Kemudian dirinya menatap kami berdua.


"Apa aku sudah boleh menekan tombol 'OK'? setelah aku menekannya, otomatis Levi akan menghilang dan kembali ke dunianya. Ah iya, kau boleh melepas tanganmu, Levi."


Dan Levi pun menjauhkan tangannya dari benda itu dan menghadap ke arahku.


Ah... Kenapa jadi gak ikhlas gini?


"Ah, Levi!!! Aku ikut ya kesana?!!" teriakku histeris, dan tak terasa air mata mulai menetes.


Levi terkejut melihatku. Dan kemudian dirinya terkekeh pelan sembari menyentil pelan dahiku dengan tangan satunya.


Aku meringis pelan sambil terisak. "aduh, sakit tau!"


"Tidak boleh, bocah. Sudah jangan nangis. Kau tetap disini, ya?" jawab Levi, "hei, kau. Cepat tekan tombolnya," suruh Levi pada Nii-chan.


Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Aku hanya bisa menangis melihatnya akan pergi dariku.


Pip!


Hingga akhirnya tombol itu ditekan Nii-chan. Tak lama, terdapat sekumpulan asap yang muncul di sekeliling tubuh Levi. Aku tak dapat melihat tubuhnya karena tertutup oleh asap.


Lalu terdengar sebuah ledakan yang lumayan keras di dalamnya. Perlahan, asap yang mengelilingi tubuh Levi pun menghilang.


Tetapi anehnya, seiring asap itu menghilang, tubuh Levi masih jelas terlihat disini. Dirinya tidak menghilang.


Kok bisa?


"Ah. Ternyata alatku sedang tak berfungsi, ya?" ucap Nii-chan.


Mataku melebar. Jadi? Levi tak akan pergi dan tetap disini? Oh aku senang sekali!


Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya erat.


Tidak. Aku tak mau kehilangannya. Aku bodoh memutuskan untuk membiarkan Levi pergi dariku.


Levi membalas pelukanku dengan erat. Seolah tak mau lepas dariku. Aku menangis lagi.


"Ah... Jangan pergi.."


Levi tersenyum tipis.


Namun, kebahagiaanku hanya sebatas sampai situ. Hingga aku melihat kembali asap dari belakang tubuh Levi.


Karena terkejut, aku melepaskan pelukanku. Aku melihat kini bagian bawah tubuh Levi sudah menjadi asap dan menghilang.


"Ah! Tidak! Jangan!" seruku.


Dengan bagian tubuh atas yang masih tersisa, Levi meraih kedua tanganku dengan tangannya dan menatapku dalam.


"Sepertinya sudah saatnya. Aku ingin kau mengingat ini. Aku akan kembali, tunggulah aku. Dan, tetaplah tersenyum."


Rasanya aku ingin berteriak.


"Levi!!!!"


Aku pun melepas genggaman tangannya dan segera memeluknya kembali. Aku memeluk dirinya sangat erat. Erat sekali. Levi pun bergerak untuk membalas pelukan eratku.


Dengan berat hati dan air mata yang berjatuhan, aku tetap tersenyum dalam pelukannya. Hingga aku melihat gumpalan asap semakin banyak di sekeliling tubuh Levi.


Nafasku sesak karena asap yang sangat banyak. Tapi hatiku lebih sesak karena orang yang kucintai akan segera hilang.


"Sayonara..." bisik Levi sambil tersenyum.


Pyash!


Kilatan cahaya muncul dan aku terjatuh terduduk di lantai... dengan memeluk asap dan udara yang hampa...


Isakan tangisku semakin menjadi-jadi saat Levi sudah tak ada lagi di pelukanku.


Aku menempelkan dahiku ke lantai dan menenggelamkan wajahku di sana sambil memanggil nama Levi. Air mataku kini sudah jatuh membasahi lantai ruang kerja Nii-chan.


"HUWAAAA!!!!"


Kini aku sudah tak sanggup menahan isakan tangisku. Aku menangis sepuasnya di lantai sambil tetap memeluk sisa-sisa udara yang hampa.


Sudah pergi..


Levi sudah tak bersamaku lagi..


Apakah aku bisa merelakannya?


Dan, apakah Levi akan kembali bersamaku dan tetap hidup?


Bagaimana kalau Levi.. Mati?


Ah...


Lantainya...

__ADS_1


Dingin...


__ADS_2