Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
6. Dia


__ADS_3

Author pov


Sudah beberapa bulan semenjak kejadian aneh yang menimpa Levi. Kini (Y/n) dan Yuu sudah terbiasa dengan adanya Levi di kehidupan mereka.


Yuu, yang masih merasa khawatir jika (Y/n) tinggal bersama Levi pun masih tetap menginap. Walaupun pada hari tertentu dia pulang ke rumahnya sebentar.


Kini matahari telah memancarkan sinarnya dan menembus masuk dari sela-sela tirai kamar (Y/n), menandakan hari sudah pagi.


"Hoahm ...." (Y/n) bangun dari tidurnya dan mengucek matanya perlahan, berusaha mengumpulkan kesadarannya.


Taptaptap.


Terdengar suara langkah kaki sedang menuju ke kamarnya. Dan kemudian terlihat sosok yang sedang berdiri di depan pintu.


"Hei, bocah. Sudah bangun?"


(Y/n) menoleh ke sumber suara, mendapati Levi sedang berdiri—bersender tepatnya—di depan pintu kamar (Y/n).


"Sudah," sahut (Y/n). "Yuu mana, Levi?" tanya (Y/n) yang mendapati hanya dirinya yang kini berada di kasur.


"Oh, bocah itu? Dia sudah mandi daritadi dan sedang membuat sarapan. Dan apa dia sakit? Wajahnya sangat merah sejak dia bangun tidur tadi."


"Sakit?!!"


(Y/n) yang mendengar itu dari Levi langsung loncat dari kasurnya menuju tempat Yuu berada. Dengan setengah berlari (Y/n) menuruni anak tangga.


"Hei, bocah! Mau kemana kau?!" Levi mengejar (Y/n) dari belakang.


"YUU!!!" teriak (Y/n) ketika sampai di lantai bawah dan berlari menuju dapur.


(Y/n) tau pasti dirinya akan mendapat ceramah dari Yuu karena dirinya berlari-lari di tangga. Pasti Yuu mendengarnya karena tangga rumah (Y/n) terbuat dari kayu.


Dan benar saja, kini Yuu sedang bertolak pinggang dan hendak menceramahi sahabatnya ini.


"(Y/n), sudah kubilang, kan? Jangan berlari di tangga, nanti kau bisa jatuh," ingat Yuu kepada (Y/n).


(Y/n) tak menghiraukan ceramah dari Yuu. (Y/n) tetap berlari ke arah Yuu dan meletakkan tangannya ke dahi Yuu.


"Hei, kenapa (Y/n)?" tanya Yuu yang kebingungan melihat tingkah (Y/n).


(Y/n) menarik tangannya kembali dari dahi Yuu karena tidak merasakan panas di sana, Yuu tidak sakit.


"Kata Levi, kau sakit. Makanya aku langsung menemuimu, Yuu," jawab (Y/n) sambil menunjukkan kekhawatirannya.


Yuu melirik ke arah Levi yang kini ada di belakang (Y/n).


'Sial. Cerita apa om-om ini pada (Y/n),' ucap Yuu dalam hati.


"Aku hanya bilang, kalau wajahmu merah. Jadi kukira kau sakit," balas Levi karena melihat Yuu yang melirik ke arahnya.


Karena mengingat hal itu, Yuu memalingkan wajah merahnya yang mengingat kejadian semalam.


Flashback.


Yuu tidak bisa tidur karena gelisah. Bagaimana tidak? Kini di sampimgnya terdapat seorang wanita yang tengah tertidur dengan lelap.


Berkali-kali Yuu mengganti posisi tidurnya, demi mencari kenyamanan untuk tidur.


Namun, di saat dirinya sudah mendapatkan posisi nyamannya, (Y/n) berganti posisi menjadi menghadap ke arah Yuu.


Yuu yang masih terpejam merasakan bibirnya menyentuh sesuatu.


Yuu membuka matanya, mendapati (Y/n) yang menghadap ke arahnya dan dengan ....


.


.


Dahinya yang menyentuh bibir Yuu.


Alhasil, Yuu bangkit dari tidur, dan menutupi wajahnya yang sudah merah dengan kedua tangannya.


Dan setelah kejadian itu, Yuu lebih memilih untuk tidur di lantai ....


Flashback end.


"Sudah. Lupakan saja! Aku tidak sakit, (Y/n). Jangan khawatir."


(Y/n) mengangguk, dan kemudian dirinya menuju ke kamar mandi. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, (Y/n) menuju ke meja makan yang sudah di tempati oleh Yuu dan Levi.


Yuu mengambil sepotong roti panggang dan meletakkannya ke piring (Y/n). (Y/n) segera makan dengan lahap dan meminum susu yang telah dibuatkan oleh Yuu.


"Aah! Susunya enak!! Terimakasih Yuu!!!" kata (Y/n) sambil terus meneguk susu buatan Yuu.


Yuu hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya ini. Dan Yuu kemudian bangkit dari kursinya dan meletakkan piring bekas roti tadi di wastafel.


"Hei, bocah," panggil Levi.


(Y/n) yang sedang asyik meminum susu pun menoleh ke arah Levi dan menghentikan aksi minumnya.


"Minumnya pelan-pelan. Lihat, ada bekas susu di sini," kata Levi sambil mengelap bekas susu di atas bibir (Y/n) dengan menggunakan tangannya.


"Ah. Eh .... Iya ...."


Wajah (Y/n) memerah. Dia salah tingkah karena Levi mengelap bibirnya yang terkena susu tadi. Dan seperti biasa, Yuu yang melihat itu langsung saja datang dan menggebrak meja depan Levi.


"Hei! Apa-apaan kau mengelap bibir (Y/n)?! Hanya aku yang boleh!" bentak Yuu sambil mengeluarkan saputangan hitam dari kantong sekolahnya dan segera mengelap kembali bibir (Y/n).

__ADS_1


"Hmph, Yuu. Sudah!" kata (Y/n) sambil berusaha menepis saputangan Yuu.


"Hei, berangkatlah bocah. Kalian akan terlambat nanti," ucap Levi sambil bangkit dari kursinya.


Yuu seketika menghentikan aksinya tadi dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah, dan disusul oleh (Y/n) yang sedang memakai sepatunya.


"Baiklah, Levi. Kami berangkat dulu, ya. Kau hati-hati di rumah. Kalau butuh apa-apa, minimarket ada di blok C, aku sudah menyiapkan beberapa uang di kamar jika butuh. Hati-hati ya!" kata (Y/n) sambil memakai sebelah lagi sepatunya.


"Ya. Hati-hati di jalan, bocah," sahut Levi.


"Ayo, Yuu!" ajak (Y/n) sambil menarik tangan Yuu.


***


Bel sudah berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat telah tiba.


(Y/n) melangkahkan kaki keluar kelas. Kini seseorang telah berdiri di depan kelas untuk menunggunya.


"AICHIII!!!" seru (Y/n) sambil menghampiri orang yang kini telah menunggunya.


Dia adalah Ai Chinatsu, teman dekat (Y/n) setelah Yuu. (Y/n) biasa memanggilnya dengan panggilan Aichi.


Aichi mempunyai rambut hitam pendek dengan mata berwarna coklat terang. Tubuhnya sangat mungil untuk seumurannya.


"Yuu dimana?" tanya (Y/n) karena matanya tidak menangkap sosok Yuu.


"Tadi kelas kami sedang olahraga, dan Yuu masih bertanding basket dengan temannya," jelas Aichi.


"Oh begitu, ya. Kalau gitu, kita beli minum di kantin dulu, terus kita ke lapangan gimana? Aku juga mau beli minum untuk Yuu," tawar (Y/n) sambil tersenyum.


"Baiklah!" jawab Aichi.


kini lorong-lorong sekolah telah dipenuhi oleh para murid yang ingin ke kantin. Setelah sampai di kantin, (Y/n) dan Aichi membeli susu kotak, dan tidak lupa (Y/n) membeli sebotol air mineral untuk Yuu.


Mereka pun segera menuju ke lapangan di tempat Yuu sedang bermain basket.


Terlihat Yuu sedang berusaha mendribble bola menuju ring basket lawan. Dan setelah melakukan beberapa gerakan untuk mempertahankan bolanya, Yuu segera menekuk lututnya, dan segera melakukan shoot.


Bola melambung, berputar sebentar di sekitar ring, dan masuk!


PRIT!!!


Bunyi peluit ditiup sang guru olahraga, tanda pertandingan sudah berakhir. Yuu dan timnya bersorak karena mereka memperoleh kemenangan.


Yuu menoleh ke arah pinggir lapangan tempat (Y/n) dan Aichi berdiri untuk melihat dirinya.


(Y/n) dan Aichi melambaikan tangannya ke arah Yuu untuk memberikan selamatnya, dan mendapatkan senyuman dan lambaian balik dari Yuu.


"Yuu k-keren ya, (Y/n)," kata Aichi sambil melihat ke arah Yuu yang sedang merayakan pertandingannya di lapangan.


"E-eh, (Y/n)! Aku tidak menyukainya," jawab Aichi sambil menerima botol pemberian (Y/n).


"Suka tuh," ledek (Y/n).


"Apanya yang suka, (Y/n)?" tanya Yuu yang kini sudah berada di sampingnya sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecil.


(Y/n) kaget, begitu juga dengan Aichi. Melihat itu, Yuu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung.


"Siapa yang suka, Yuu. Aichi cuma mau memberikan minum untukmu," tunjuk (Y/n).


Aichi menyodorkan minuman untuk Yuu, dan di sambut oleh senyuman Yuu.


"Terimakasih," jawab Yuu sambil membuka botol minum dan segera meneguknya.


***


Papan tulis yang semulanya bersih, telah ditulisi berbagai macam rumus matematika yang rumit.


"Silahkan di catat rumusnya. Sensei keluar sebentar."


"Baik, sensei."


(Y/n) yang melihatnya sudah malas duluan, dan memilih untuk meletakkan kepalanya di atas meja.


"Uh! Aku malas kalau sudah begini, nanti aku minjem buku catatan sama Yuu saja!" gerutu (Y/n).


(J:maaf bagi reader-chan yang suka matematika. Disini anggep aja reader-chan gak suka matematika, ya!!)


Pikiran (Y/n) sekarang sudah tertuju dengan Levi. Dia mengingat kejadian tadi pagi saat Levi mengelap bibirnya.


Membayangkannya saja sudah membuat pipinya memanas.


'Levi lagi ngapain, ya?'


***


16.00


Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, menandakan seluruh pelajaran hari ini sudah berakhir. (Y/n) segera membereskan peralatannya dan segera pergi keluar kelas.


"Yuu!" panggil (Y/n) karena dirinya melihat Yuu sedang berdiri di depan kelas (Y/n) bersama Aichi.


"(Y/n), hari ini aku ada ekskul basket. Kau mau menungguku atau mau pulang duluan bersama Chinatsu-san?"


(Y/n) menaruh jari telunjuk di dagunya sambil berfikir. "Aku tidak mau menunggumu, Yuu! Aku mau sama Levi saja di rumah," jawab (Y/n), "mungkin Aichi mau menunggumu latihan." (Y/n) tersenyum sambil menyenggol lengan Aichi.


"Cih. Om-om itu saja terus yang kau pikirkan." Yuu mendecih sambil melipat tangannya. "Chinatsu-san. Apa benar kau mau menungguku latihan?" tanya Yuu sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Aichi.

__ADS_1


"Um ... I-iya, aku mau," jawab Aichi gugup.


(Y/n) yang melihat itu pun langsung bersiul. "Ya sudah kalau gitu, bersenang-senanglah~~" ledek (Y/n) sambil berlari secepat kilat meninggalkan mereka berdua.


Yuu dan Aichi hanya bisa menatap aneh karena melihat kelakuan (Y/n).


Setelah merasa sudah jauh berlari, (Y/n) mulai memperlambat langkahnya.


(Y/n) keluar dari gedung sekolah dan berniat mampir sebentar ke minimarket dekat rumahnya untuk membeli minuman demi menghilangan dahaganya.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya (Y/n) sampai di sebuah minimarket dekat rumahnya.


Ketika (Y/n) melangkahkan kaki masuk ke minimarket, matanya menangkap sosok perempuan berambut pendek coklat lengkap dengan menggunakan bando berwarna hitam sedang memilih beberapa snack.


(Y/n) merasa familiar dengan model rambut dan wajahnya. Tetapi (Y/n) lebih memilih untuk tidak mempedulikannya dan tetap menuju ke arah kulkas berisi minuman kesukaannya.


Ketika tangannya hendak meraih salah satu botol minuman, tak disengaja tangannya menyentuh tangan lain yang hendak mengambil minuman itu juga.


(Y/n) menarik tangannya kembali, lalu menoleh ke arah sang pemilik tangan tersebut.


"Levi?!"


***


Levi pov


Tch. Kemana bocah ini?


Aku melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 16.30. Aku mondar-mandir di depan pintu rumah (Y/n) sambil menunggu kehadirannya.


Peduli amat aku khawatir padanya, jam segini harusnya bocah itu sudah sampai di rumah. Aku harus mencarinya kalau sudah begini.


Aku pun menuju kamar dan mengganti baju kaos hitamku dengan hoddie berwarna hijau untuk menutupi kepalaku dan mengambil beberapa uang pemberian (Y/n).


Aku segera mengunci pintu rumah dan memasukan kuncinya ke dalam kantong celanaku, lalu berlari kecil untuk mencari bocah itu.


Disaat aku berlari, aku berniat untuk mampir ke minimarket sebentar untuk membeli minuman untuknya, barangkali kalau dia haus.


Minimarket di mana, ya? Aku memejamkan mataku untuk mengingat perkataan (Y/n) tentang dimana minimarket itu berada.


Oh, iya, Di Blok C ....


Aku pun mengarahkan tujuanku ke arah Blok C. Seharusnya tidak terlalu jauh, karena rumah (Y/n) ada di Blok D.


Akhirnya aku pun sampai di minimarket, aku meletakkan tanganku ke saku celananaku dan melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam.


Dan ketika aku masuk, aku berbarengan dengan seorang gadis berambut pendek coklat dengan menggunakan seperti hiasan kepala berwarna hitam. Ketika dirinya mendahuluiku masuk, aku merasakan bahwa sepertinya aku  mengenalnya.


'Gadis itu. Mirip dia ....'


Masa, sih? Bukannya dia sudah—


Ah sudahlah! Aku tidak peduli. Aku pun segera mencari letak minuman. Setelah aku menemukannya, aku segera meraihnya, dan kurasakan tanganku disentuh seseorang. Sepertinya orang ini juga akan membelinya.


"Levi?!"


Aku menoleh ke sumber suara, dan bocah yang kucari-cari kini berdiri tepat di sebelahku.


"Hei! Kemana saja kau, bocah? Aku mencarimu!" kataku sambil menyentil pelan dahinya.


Dia pun meringis dan kemudian tersenyum lebar. "Hehe .... Kau mengkhawatirkan aku, kan?" tanyanya sambil menatap ke arah wajahku dengan wajah imutnya.


S-sial. Kenapa bocah ini imut sekali?


Kurasa sekarang pipiku memanas, lalu aku segera memalingkan wajahku. (Y/n) terlihat memiringkan kepalanya. "Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"


Aku pun menatapnya kembali, dan mengacak surai (h/c)nya dengan lembut.


"Ya, aku mengkhawatirkanmu, " jawabku akhirnya. Mendengar jawabanku, giliran dirinya yang tersipu.


"B-benarkah?"


Aku mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Dan kemudian kami menuju ke kasir untuk membayar minuman.


"Levi!! Kita duduk di taman dulu, yuk!" kata (Y/n) sambil menarik tanganku. Dan aku hanya mengikuti langkahnya, sambil menyembunyikan  semburat merah di pipiku.


Dan, mungkin aku menyukai bocah ini ....


***


#sementara itu#


Someone's pov


"Terimakasih," kataku sambil tersenyum kepada penjaga minimarket.


Aku segera melangkah keluar dan berjalan pulang.


Pemandangan di sore hari begitu indah, ditambah dengan beberapa pohon sakura yang bermekaran, menambah keindahan di sore hari ini.


Mungkin pilihanku untuk membeli beberapa snack adalah pilihan yang bagus. Setelah melewati beberapa blok, aku sampai di sebuah rumah, dan segera memencet bellnya.


Ting tong!


Seseorang membukakan pintu, dia adalah Ichiro-kun. Orang yang selama ini menerimaku, di rumahnya.


"Sudah pulang, petra?" tanyanya sambil tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2