
Author pov
Terdengar sorakan samar dari kelompok yang berhasil memenangkan pertandingan volly dari kejauhan. Seharusnya permainan sudah selesai sekarang. (Y/n) melirik ke arah Levi yang masih terpejam. Tangannya terulur untuk membenahi rambut Levi yang sedikit berantakan.
Ketika hendak menyentuh rambutnya, tiba-tiba saja Levi membuka matanya segera menegakkan tubuhnya.
"Sedang apa kau?" tanya Levi.
"Kau yang sedang apa?! Seenaknya saja tidur di pundakku. Aku pegal," cibir (Y/n) karena kesal mendengar perkataan Levi. Namun, setelah itu (Y/n) betulan merapikan rambut Levi yang tertiup angin. "Rambutmu berantakan."
"Oh, aku benar-benar mengantuk."
"Tidak apa-apa, kau pasti lelah."
Levi mengangguk dan kembali menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Tak lama Levi bangkit dari duduknya dan membersihkan pasir yang ada di celananya.
"Kau mau ke villa?" tanya (Y/n)
"Menurutmu? Mau ke mana lagi memangnya?" balas Levi.
(Y/n) merengut sebentar sebelum ia bangkit juga dan menyipratkan air laut ke wajah Levi. "Yang benar saja! Kau tidak mau melihat matahari terbenam dulu?"
"Untuk apa?" Levi berdecak pelan sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Ayolah." (Y/n) menarik pergelangan tangan Levi dan hal ini membuat Levi sedikit terkejut. "Aku yakin kau tak pernah melihat matahari di sana, kan?"
"Tch, apa pedulimu kalau aku melihatnya atau tidak?"
(Y/n) hanya bisa mengelus dadanya dengan sabar menanggapi perkataan Levi yang sangat dingin ini.
"Pokoknya, kau harus melihat matahari terbenam saat ada di pantai!"
Levi menatap (Y/n). (Y/n) terlihat sangat senang melihat pemandangan yang sangat indah ini. Wajah (Y/n) memancarkan aura kegembiraan dengan senyum hangatnya yang merekah.
Karena merasakan sensasi yang aneh, Levi segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Levi ikut melihat ke arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam bersamaan dengan pemandangan yang indah.
"Indah," ucap Levi pelan ketika melihat pemandangan itu.
"Ah! Benar, kan? Sangat indah. Aku sangat menyukainya."
"Kenapa?" tanya Levi.
(Y/n) tersenyum sambil memandangi ombak yang datang.
"Dulu saat orangtuaku masih hidup, mereka sering membawaku ke pantai. Mereka sangat menyukai pemandangan seperti itu. Orangtuaku bilang, matahari yang terbenam akan kembali lagi keesokan harinya. Apa kau tau apa maksudnya?"
Levi menggeleng dan menantikan jawabannya.
Kemudian (Y/n) tersenyum. "Sesuatu yang pergi akan datang lagi. Kebahagiaan yang hilang tak akan selamanya hilang. Semuanya akan kembali saat waktunya tiba, seperti matahari yang terbit keesokan harinya."
Sekejap, Levi teringat akan pamannya. Saat ia tinggal di kota. bawah tanah. Apakah Levi sudah mendapatkan kebahagiaannya?
"Kau berpikir seperti itu?"
"Apa kau tau? Kenapa kau ada di sini?"
"Bukannya kakakmu sudah memberitahu semua hal itu padaku? Walaupun sangat tidak masuk akal, semua itu telah terjadi." Levi menjawab. "Aku menjadi pasukan pengintai, kemudian aku menjalani misi di luar tembok dan tiba-tiba aku terlempar ke duniamu? Bukankah seperti itu?"
"Ya, Levi. dirimu yang 'itu' adalah Levi yang sangat kucintai."
Levi mengerutkan dahinya. "Bukankah kami adalah orang yang sama?"
(Y/n) menggeleng. Gadis itu kembali mengingat kenangan bersama Levi yang dulu. Sudah beberapa waktu lamanya ia berpisah dengan Levi yang dulu. Memang benar jika sekarang Levi telah kembali, tapi mereka sangat berbeda.
Tak terasa air mata (Y/n) mengalir. "T-tapi kau berbeda! Kau melupakanku. Kau sangat dingin. Kau tidak seperti dirinya." (Y/n) menjawab sambil meneteskan air matanya. Meluapkan semua kesedihan dan kekecewaannya.
Levi hanya mematung melihat semua itu. Rahangnya mengeras. Tak tau harus apa, tapi hatinya sangat sakit melihat (Y/n) yang menangis di hadapannya.
Perasaan apa ini? Pikir Levi.
"Sudah lama aku memikirkan 'Levi'. Aku sangat berharap 'kau' kembali. Tapi apa? Kau kembali dan melupakanku. Aku tau ini bukan salahmu," ucap (Y/n) terisak. "Bahkan aku tidak tau 'Levi' yang dulu masih hidup atau tidak, atau bagaimana nasib dirimu yang lain di dunia itu. Apa kau hanya sebagian dari 'mereka' yang tak nyata? Semua ini membingungkan."
"Aku ... Bahkan aku tidak tau kenapa alat yang katamu dibuat kakakmu bisa membawaku ke sini. Dunia ini sangat asing." Levi membalas. "Hanya saja, saat aku muncul di ledakan benda itu, aku merasa seperti harus menyambut seseorang yang bahkan aku tidak tau siapa dia."
(Y/n) mengangkat wajahnya, sedikit bingung akan pernyataan Levi.
"Apa maksudmu menyambut?"
"Sudah pulang?" tanya Levi. Tetapi, setelah mengatakan itu, Levi tersenyum tipis. "Aku baru menyadari itu setelah waktu yang sangat lama. Orang itu mungkin adalah kau."
(Y/n) melebarkan matanya. (Y/n) sangat ingat hari di mana Levi yang ini muncul di rumahnya. "Kalian—"
"Sudah kubilang, bukankah kami orang yang sama?"
Tangis (Y/n) kembali pecah. "Kenapa kau hanya diam saja?! Apa kau memang berniat ingin melupakanku?"
"Aku hanya tak bisa memahami semua ini. Aku tak paham dan tidak ingat situasi apa ini. Bahkan aku tidak tau, makhluk apa aku sebenarnya?" jawab Levi sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kau tidak perlu memahaminya. Bukankah kau bahagia tinggal di dunia ini?" ucap (Y/n).
Levi hanya diam. Apakah dirinya benar-benar bahagia? Apakah dirinya pantas bahagia?
"Aku tidak mengerti apa itu kebahagiaan." Levi menjawab dengan singkat. "Jangan menangis."
Setelah berkata seperti itu Levi menghapus air mata (Y/n) di pipinya. Levi memandangi (Y/n) cukup lama. Lelaki itu merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Jadi, bisakah kita seperti dulu lagi? Kau adalah orang yang sama. Kenapa kau menjadi seperti ini?" balas (Y/n). "Apa kau masih menyukaiku?"
"Aku—"
Perkataan Levi terpotong bersamaan dengan Sakura yang baru saja datang dan memanggil nama (Y/n). Sontak saja Levi melepaskan tangannya dari pipi (Y/n).
(Y/n) langsung mengusap wajahnya dan tersenyum menanggapi. "Ada apa, Sakura?"
"Kalian sedang bersama? Apa yang kalian lakukan di sini? Tadi aku mencari-cari kalian untuk mengikuti permainan. Terpaksa kelompok kita tidak ikut." Sakura berujar.
"Yah, aku sudah bilang, bukan? Aku ingin melihat pemandangan di pantai. Itu saja."
Sakura hanya mengangguk. "Baiklah, tidak apa-apa."
"Sedang apa kau di sini?" tanya Levi pada Sakura dengan nada yang dingin.
"Ah, aku mencari (Y/n). Dan aku harus melakukan sesuatu, kebetulan sekali kau ada di sini, Levi."
__ADS_1
Levi menaikkan sebelah alisnya. Sementara (Y/n) sudah tau apa yang akan dilakukan Sakura dengan Levi.
Sakura akan menyatakan perasaannya pada levi. Sesuai dengan permainan jujur atau tantangan tadi.
"Levi," panggil Sakura.
"Hn?"
Sakura meremas ujung bajunya cemas. Kemudian ia melirik ke arah (Y/n) dan mengisyaratkannya untuk memberi waktunya dengan Levi.
"Maaf, (Y/n)." Sakura berkata pelan ketika (Y/n) mulai berbalik dan meninggalkan mereka berdua.
Ketika Levi ingin menahan (Y/n) agar tidak pergi, Sakura malah menarik lengan baju Levi. Hal itu membuat Levi terdiam sebentar dan melirik ke arah Sakura.
"Sedang apa kau?"
"Maaf, bisakah kita bicara?"
Levi hanya diam dan memberi kesempatan untuk Sakura berbicara padanya. Tentunya tanpa menoleh ke arahnya.
"Aku ... Aku menyukaimu!"
...***...
Levi pov
Sudah beberapa waktu sejak aku menginjakkan kakiku di dunia ini. Aku sama sekali tidak memahami bagaimana bisa aku terdampar di sini.
Ketika itu aku sedang bersembunyi dari pasukan yang ingin menangkapku. Kemudian aku melihat sesuatu yang gelap dan tiba-tiba saja aku terlempar ke dunia ini. Aku benar-benar tidak mengerti ketika aku keluar dari benda berbentuk seperti kotak itu.
Setelah itu, ada seorang lelaki yang menjelaskan hal yang tak masuk akal. Dia mengatakan bahwa dialah yang membuatku terlempar ke dunia ini dengan sebuah alat. Sungguh tak masuk akal.
Ditambah saat aku merasakan sesuatu sensasi aneh di saat aku melihat seorang gadis yang baru saja memasuki tempat ini. Tiba-tiba saja aku ingin menyambutnya. Bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya, tetapi kenapa seolah aku telah mengenalnya lama?
Gadis itu sangat perhatian, kurasa? Aku merasakan hal yang berbeda saat berada di dekatnya. Aku berpikir mungkin ini hanya sekedar perasaan saja, mengingat aku tak mengenali siapapun di dunia ini.
Biar kujelaskan, di sini aku tak perlu repot-repot mencuri untuk bertahan hidup. Aku merasa hidupku sangat terjamin. Dan aku, aku tak perlu meminum teh hitam setiap hari. Aku juga bisa melihat matahari sesuka hati tanpa harus melewati penjaga.
Gadis bernama (Y/n) itu benar-benar menjagaku dengan baik. Aku tak paham kenapa ia harus repot-repot untuk memasukanku ke sekolah—katanya—agar orang-orang tidak curiga dan harus berbaur sebisa mungkin. Dan tidak ada orang yang boleh mengenaliku.
Aku harus menjaga identitasku dari siapa? Apakah di sini ada pasukan yang ingin menangkapku lagi?
Ia pernah bercerita, bahwa aku ini adalah karakter di sebuah cerita yang tidak nyata. Apa ia sedang bercanda? Duniaku benar-benar ada dan nyata. Aku benar-benar tidak mengerti.
(Y/n) juga mengatakan aku yang ketika sudah menjadi pasukan pengintai, aku yang itu datang juga ke dunia ini. Aku sungguh tidak mengerti, bahkan aku tidak pernah menjadi kapten pasukan pengintai.
Kalau boleh jujur. Aku merasa berbeda di saat ada di dekat gadis ini.
Kira-kira sudah beberapa lama aku tinggal di dunia aneh ini dan sudah seminggu penuh aku pergi ke sekolah karena terpaksa. Dan sekarang, kelas kami sedang mengadakan liburan ke pantai, katanya.
Ah, pantai, laut. Aku penasaran seperti apa kelihatannya. Aku ingin melihatnya. Bukannya aku tertarik atau apa, aku hanya penasaran saja. Dan ketika aku sampai di pantai, ternyata tidak ada titan di sini. Oh, tentu saja mungkin, ini bukan duniaku.
Betapa aman kehidupan di dunia ini tanpa titan. Sedangkan kami? Harus bertahan hidup berlindung di balik tembok. Sejak awal aku menginjakkan kaki di dunia ini, aku merasa seperti akan mendapat serangan jantung karena melihat keadaan di sini. Sangat berbeda.
Omong-omong soal liburan, kami sebentar lagi akan memulai permainan. Aku tidak mengerti manfaat dari permainan ini. Aku harus menggendong perempuan ini sambil berlari? Yang benar saja.
Aku melirik (Y/n) yang sedang bicara dengan satu anak laki-laki berambut hitam yang menjadi pasangannya. Kurasa namanya Hoshi, aku lupa.
"Sedang memperhatikan apa?" tanya Sakura.
"Ah, tentu saja aku peduli. Kita kan berpasangan."
"Sudahlah, kita fokus pada permainan saja." Aku membalas sambil bersiap.
Permainan ini sungguh membosankan. Dan sepanjang permainan ini, aku melihat (Y/n) sangat bersemangat sekali. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Kurasa aku harus menang juga.
"Tidak apa-apa. Kita hanya beda tipis dengan Hoshi dan (Y/n). Kau sudah berusaha!" kata Sakura setelah mengetahui fakta bahwa kami kalah dari Hoshi dan (Y/n).
"Yah, aku tidak peduli juga."
"Apa kau mau bermain di pantai denganku setelah ini?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku mau sendiri." Aku menjawab. Sedangkan gadis itu hanya menunduk tak mengucapkan apa-apa.
Setelah selesai dengan permainan ini, (Y/n) memberikanku minuman dan segera pergi membenahi alat-alat yang ada. Aku hanya memperhatikannya dari jauh bersama si 'kutu merah' menyebalkan yang baru saja datang.
"Kau sedang melihat siapa, om?"
Sialan. Siapa yang dia panggil 'om'?
"Berisik sekali kau. Aku masih muda."
"Oh, ya? Kalau dilihat-lihat kau ini sama saja." Yuu membalas. "Kau memperhatikan (Y/n), kan? Mengaku sajalah!"
"Tch, bisakah kau diam sebentar saja?" jawabku.
"Tidak bisa, kau harus jawab pertanyaanku dulu. Siapa yang kau perhatikan?"
"Aku memperhatikan (Y/n). Puas kau?"
Yuu menggelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. "Sudah kuduga kau memang menyukainya."
"Apa kau bilang?"
"Kau." Dia menunjukku tepat di depan wajahku. "Kau menyukai (Y/n)"
"Apa maksudmu?"
Aku tidak mengerti mengapa dia bisa mengatakan hal seperti itu. Aku menyukai (Y/n)? Aku tidak yakin akan hal itu.
Memang aku merasakan hal yang berbeda ketika melihatnya, namun aku tidak yakin apa itu. Mungkin, itu tidak seperti apa yang dipikirkannya.
"Jangan sampai kau menyesal kalau aku akan merebutnya lagi seperti dulu," ucapnya lagi.
Aku tak menjawab. Hingga akhirnya aku dan Yuu pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Sebenarnya masih ada sekitar satu permainan lagi, tetapi aku tidak berminat sama sekali.
Setelah berganti pakaian, aku pergi ke pantai untuk mencari kesenangan. Sekaligus menikmati pemandangan yang baru saja kulihat sekali di dalam hidupku. Aku berdiri di pinggir pantai dan merasakan semilir angin yang berhembus.
Aku memejamkan mata sejenak, dan terbesit bayangan seseorang yang sedang tersenyum. Rasanya tak asing. Aku tidak ingat jika aku memiliki ingatan seperti ini. Di mana aku pernah melihatnya?
Setelah lama aku memperhatikan keadaan pantai dan melihat kegiatan orang lain, aku berjalan menyusuri pantai. Aku mencari tempat yang sepi untuk menghindar dari permainan selanjutnya. Aku malas.
"Di mana dia?" ucapku pelan karena tak melihat (Y/n) semenjak permainan terakhir.
__ADS_1
Omong-omong aku tidak tau kenapa aku mencarinya sekarang. Aku hanya ingin melihat pantai dengannya.
Levi pov end
...***...
Ketika hari telah gelap, semua siswa dipersilahkan untuk membersihkan diri mereka setelah melakukan kegiatan di pantai tadi sore.
Acara setelah ini adalah api unggun di halaman depan villa. Namun, para siswa bebas untuk melakukan kegiatan apapun selama acara api unggun berlangsung.
Setelah api unggun dinyalakan, semua siswa duduk di sekeliling, ada yang bernyanyi, menari, dan saling bercanda. Sementara itu, (Y/n) dan Levi sedang duduk bersama di bangku taman cukup jauh dari api unggun.
"Soal tadi sore," kata (Y/n) memulai percakapan. "Aku minta maaf."
"Untuk apa?" jawab Levi.
"Aku telah menangis di depanmu. Kau pasti bingung, kan?"
Levi terdiam sebentar dan kemudian menjawab, "Tidak masalah. Jika kau memang merasakan hal seperti itu, kau berhak memberitahuku."
"Mungkin, dulu kita pernah bersama. Dan sekarang bisakah kita memulainya lagi dari awal? Sampai mungkin kau akan mengingat semua."
Levi menoleh dan memandangi (Y/n). Levi tak tau harus menjawab apa. Hingga (Y/n) menunjuk hoodie berwarna hijau yang dipakai Levi sekarang.
"Aku yang membelikan ini untukmu dulu saat pertama kali 'Levi' sampai ke sini."
"Aku?" tanya Levi sambil menunjuk dirinya.
"Entahlah, lagipula seperti katamu tadi sore, kalian adalah orang yang sama. Dia adalah kau dan kau adalah dia."
"Aku tidak mengingat apa-apa."
(Y/n) tersenyum. "Bukankah aku selalu menunggumu?"
Kemudian Levi terdiam. Sebuah ingatan. Lagi-lagi senyum ini, pikirnya.
Dan tak lama Yuu datang dengan membawa susu hangat. "Aku cuma jadi nyamuk ya di sini," ucap Yuu tiba-tiba sambil menyodorkan susu itu untuk (Y/n).
(Y/n) yang mendengar itu hanya menghela napasnya sebal. "Menurutmu bagaimana?"
"Iya deh," jawab Yuu, kemudian ia berseru saat ia kebetulan melihat Hoshi yang lewat bersama Sakura. "Aku akan pergi dengan Hoshi saja kalau begitu."
"Baguslah! Hoshi, bawa Yuu yang jauh, ya!" seru (Y/n)
"Memangnya dia kenapa?" tanya Hoshi.
"Aku diusir." Yuu menyahut sambil mencibir.
"Halo, Levi." Sakura menyapa sambil tersenyum tipis. Ia membuang wajahnya ketika tak sengaja menatap mata (Y/n).
Apa yang dikatakan Levi tadi sore? Kenapa sakura melihatku seperti itu? tanya (Y/n) dalam hati.
"Apa kalian mau ke minimarket?" tanya Sakura.
"Untuk apa? Aku malas pergi dari sini." Setelah lama terdiam, Levi pun angkat bicara.
"Ayo! Aku mau beli es krim!!!" sahut (Y/n) bersemangat, melupakan pikirannya tentang Sakura dan levi sekejap.
"Oh, aku ikut juga kalau begitu." Levi menjawab lagi saat tau (Y/n) akan pergi juga.
"Tidak perlu repot-repot, om. Kau tinggal di sini saja, kau bakal merepotkanku." Yuu meledek Levi.
Sedangkan Levi hanya berdecak pelan. (Y/n) tertawa karena Yuu yang terus-terusan meledek Levi.
Setelah itu mereka pergi bersama ke minimarket yang berjarak 100 meter dari villa. Mereka melewati jalan yang tak begitu ramai oleh penduduk sekitar. Karena memang tempat ini tak begitu padat seperti di ibukota. Jadi, mereka bisa menikmati waktu untuk bersantai.
Setibanya di minimarket, mereka langsung memasukinya. Ternyata pemilik minimarket ini membuat toko es krim mereka sendiri tepat di sebelahnya. Jadi, mereka bisa menikmati perisa es krim khas toko mereka sendiri.
"Levi, aku mau es krim rasa cokelat! Kau mau rasa apa?" tanya (Y/n) yang berdiri di samping Levi.
"Aku—"
"Ah, Levi, aku menyarankan agar kau memakan es krim rasa vanilla! Tak ada yang menandingi rasa es krim vanilla mereka." Sakura memotong pembicaraan Levi dan (Y/n).
Tadinya Sakura berdiri berdampingan dengan Yuu dan Hoshi di depan. Namun, Sakura tiba-tiba menyamakan posisinya dengan Levi dan (Y/n) yang ada di belakang.
Karena melihat tingkah laku Sakura yang menjengkelkan, (Y/n) hanya bisa mendengus pelan lalu bergabung dengan Yuu dan Hoshi.
"Kenapa kau?" tanya Yuu yang melihat perubahan sikap (Y/n).
"Tidak apa-apa." (Y/n) menyahut dengan ketus.
Kemudian Yuu melihat ke arah belakang lalu melihat Levi dan Sakura. "Oh, sebentar."
Dengan satu gerakan, Yuu menarik tangan Sakura dan berkata, "Kudengar kau menyarankan rasa vanilla, hm? Aku suka itu, tolong pesankan aku dan Hoshi juga sekalian."
Karena kesal niatnya untuk dekat dengan Levi batal, Sakura hanya menghentakkan kakinya kesal dan menatap (Y/n) dengan pandangan tidak suka. Kemudian ia memesan es krim dengan 3 rasa vanilla dan 2 rasa cokelat.
Reader pov
Apa-apaan Sakura ini. Ia semakin menyebalkan saat melakukan permainan jujur atau tantangan tadi sore. Aku bahkan tak menyangka kalau Sakura bisa melakukan ini.
Sakura benar-benar berusaha untuk menempeli Levi selama perjalanan ke minimarket. Aku kesal sekali. Apalagi saat tadi Sakura menyatakan perasaannya pada Levi. Aku mungkin tidak melihatnya langsung, tapi aku juga tidak mau mendengarnya.
Telingaku sangat panas. Tentu saja hatiku juga.
"Ah, Levi, aku menyarankan agar kau memakan es krim rasa vanilla! Tak ada yang menandingi rasa es krim vanilla mereka."
Oh, lihat itu. Sakura sangat menyebalkan sekali.
Aku pun langsung memisahkan diri dari mereka berdua dan mendekat pada Yuu dan Hoshi. Dan untungnya Yuu mengerti akan keadaanku.
Kurasa Sakura akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan Levi. Aku tidak akan rela! Tetapi, Sakura malah memandangiku dengan sinis. Aku salah apa padanya? Bukankah dia yang salah? Kenapa juga Sakura menyukai Levi?
"Hei, kenapa kau tidak mengobrol dengan Levi sembari memakan es krim?" Yuu bertanya sambil duduk di sebelahku.
"Untuk apa?" balasku.
Saat ini kami sedang duduk di kursi depan toko es krim ini. Aku dan Yuu duduk berdua, sedangkan Sakura memaksa Levi untuk duduk bersamanya. Sedangkan Hoshi hanya berdiri di samping Sakura duduk.
Oh, lihat itu! Sakura benar-benar menempeli Levi.
Terakhir kali, aku melihat Sakura yang mendekatkan tubuhnya ke arah Levi dan membisikkan sesuatu. Dan yang membuatku kesal adalah Levi yang tidak beranjak sama sekali dari tempatnya. Levi hanya diam dengan wajah dinginnya.
__ADS_1
Tidak bisa. Aku tidak tahan lagi. Sangat sakit. Aku telah menunggunya sangat lama dan kenapa Levi berbuat seperti ini padaku?
Setelah itu, Sakura melirik ke arahku dengan wajah sinisnya.