
"Kau itu .... Akan menghilang."
Seketika, badan orang itu membeku. Matanya tak berkedip. Lidahnya kelu. Ini semua akan berakhir.
Author pov
"Cukup!" (Y/n) berteriak.
Gadis itu melempar sisa es krim ke arah Yuu yang untungnya dapat ditangkap sebelum mendarat di wajahnya. (Y/n) berjalan ke arah meja Levi dan Sakura dengan penuh emosi.
Tangan (Y/n) menarik rambut pirang panjang Sakura yang mengenai es krim di tangan kanannya.
"Rambutmu kena es krim. Kau harus jauh-jauh dari Levi."
Karena menyadari hal itu, Sakura langsung mengubah ekspresinya dari serius menjadi senyuman.
"Ah, iya. Terimakasih, (Y/n)."
"Levi, aku mau ke villa duluan. Ikut denganku. Apa kau masih ingat jalannya?" tanya (Y/n) pada Levi.
Sebelum Levi menjawab, Sakura langsung menyambar, "Kita bareng saja, dengan Yuu dan Hoshi juga."
Ketika Sakura ingin bangkit dan menggapai tangan Levi, dengan sigap Hoshi menahan tangan Sakura. Hoshi menggeleng pelan dengan arti sebagai larangan untuk Sakura.
Melihat larangan Hoshi, gadis itu langsung menunduk.
Setelah itu (Y/n) kembali bertanya kepada Levi. Untung saja Levi masih mengingat jalan untuk kembali ke villa. Dengan senter di tangan kanannya, (Y/n) menarik tangan Levi dan segera meninggalkan ketiga orang itu di depan minimarket.
"Hei, (Y/n)!" Yuu memanggil (Y/n) karena ia tidak mengerti apa yang terjadi.
"Biarkan saja." Hoshi bersuara.
Kemudian Hoshi melepas jaketnya dan memakaikannya di badan Sakura. Sementara itu Sakura hanya memandangi Hoshi karena bingung.
"Pakai. Banyak nyamuk."
Reader pov
Kami menyusuri jalan setapak di dekat minimarket. Untung saja Levi juga membawa senter. Walaupun terdapat lampu jalan, tetap saja jalan ini gelap.
Levi memimpin perjalanan di depan. Aku hanya bisa memperhatikan punggungnya dari belakang. Sejujurnya aku ingin mengajaknya berbicara. Namun, aku bingung mau bicara apa.
"Aku merinding. Jangan memperhatikan punggungku." Levi berkata tiba-tiba.
"B-bagaimana kau tau?!"
Aku sangat kaget ketika Levi tau bahwa aku sedang memperhatikannya dari belakang sembari berjalan. Apakah makhluk ini memiliki mata di punggungnya?
"Lupakan. Oh, sepertinya aku lupa jalan. Aku lupa harus ke kanan atau kiri."
Oh, sial. Siapa suruh tadi mengangguk saat aku bertanya padanya tau jalan atau tidak?
"Lalu bagaimana? Hatiku bilang kalau kita harus ke kiri."
Jangan menertawakanku. Aku memang merasa harus ke kiri.
"Tch, sejak kapan hati bisa bicara? Aku akan ke kanan," balas Levi setengah mencibirku.
"Bagaimana kalau kita tersesat?"
"Kalau begitu apa bedanya dengan ke kiri? Bagaimana kalau ada jurang?"
Aku cemberut. Menakutkan sekali gaya bicaranya. Bagaimana kalau benar-benar ada jurang di kiri?
Setelah berpikir beberapa saat, Levi kembali melirik ke arah kiri. "Apa kau ingat jalan menuju ke kiri?" tanya Levi.
Aku menggeleng. Kalau aku ingat untuk apa bertanya padanya sebelum ini?
"Tidak, lah. Untuk itu aku bertanya padamu tadi."
Tiba-tiba Levi mengulurkan tangan kanannya yang tidak memegang senter. Ia seperti menungguku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kita berpegangan tangan. Siapa tau benar-benar ada jurang di sana. Kalau kau jatuh, aku bisa menarikmu."
"Astaga menyeramkan! Kau benar-benar berpikir kalau ada jurang di sana?!"
Levi mengangkat bahunya. "Hanya mengira saja. Cepatlah."
Aku pun menghela napas dan mulai menggapai tangan kanan Levi dan menggandengnya. Hangat sekali.
Kami pun mengambil jalan ke arah kiri. Kami merasa sudah sangat jauh berjalan meninggalkan minimarket. Namun, kami sama sekali belum melihat bangunan villa daritadi.
Awalnya kami hanya saling diam dan hanya menyorot lampu senter ke jalan. Hingga senterku habis baterainya, kami hanya diam. Namun, Levi membuka obrolan kami.
"Aku bisa pakai manuver."
Astaga. Kenapa dia?
"Tapi kau tidak membawa itu kemari. Dan siapa juga yang mau memakai alat itu di duniaku?" Aku membalas dengan jengah.
"Tidak, bukan itu maksudku."
"Lalu apa?" tanyaku.
Levi sedikit tersenyum. Hanya sedikit. "Aku bisa turun pakai itu kalau kau jatuh ke jurang."
__ADS_1
Aku pun memukul kepalanya dengan senter yang kupegang. Namun, bukannya kesakitan, Levi malah makin menggenggam erat tanganku dan menarikku dengan cepat.
Aku yang kaget pun langsung bertanya dengan panik, "A-ada apa?"
"Benar kataku. Tidak curam, tapi bisa membuat kakimu patah." Levi berbisik. "Kita mengambil jalan ke arah hutan. Tenang saja, kita tidak berada persis di tengah hutan."
"Ya ampun! Aku hampir saja jatuh!" Aku memekik karena panik.
"Tenang saja dan terus ikuti kata hatimu itu. Dasar." Levi meledek.
"Kita harus menjauhi jurang ini dan kembali ke jalan utama tadi!" ucapku.
"Tidak bisa. Senterku sudah mulai habis baterainya. Sedangkan punyamu juga sudah mati daritadi."
"Jadi, kita harus apa sekarang?"
Levi menarik tanganku lagi. Ia mengajakku menjauhi jurang dan mendekati salah satu pohon di sana untuk duduk beristirahat. Kami lelah karena memang kami sudah berjalan cukup jauh.
"Kita bermalam di sini. Besok kita bisa kembali, mungkin kau akan ingat jalan menuju villa." Levi menunjuk wajahku dengan jarinya.
"Kenapa harus aku yang ingat? Dasar." Aku protes pada Levi sambil merengut.
Levi hanya diam saja. Kegelapan makin menggerogoti tubuhku. Aku tidak suka gelap. Ini terlalu gelap maksudku, dan lebih parahnya lagi senter kami mati. Aku bisa merasakan Levi yang masih setia duduk di samping kiriku. Aku juga masih bisa merasakan tangannya di tangan
kiriku.
Tentu saja aku meremas tangannya dengan kencang. Tidak ada jaminan kalau dia tidak akan meninggalkan aku di sini sendiri, bukan?
Bisa saja dia meninggalkan aku di sini dan aku akan mati digigiti oleh nyamuk sampai besok. Siapa yang tau.
"Tenang saja. Aku tidak akan tiba-tiba mendorongmu ke dalam jurang."
Setelah berkata seperti itu, Levi seperti menggerutu pelan. Sepertinya dia merasakan ngilu di tangannya karena aku memeganginya dengan sangat kencang.
"Itu sangat melegakan. Daripada itu, aku akan mati karena bosan daripada mati karena patah tulang, Levi," jawabku sambil bercanda dengannya.
Levi sedikit melonggarkan genggaman tangannya karena aku yang tidak lagi meremasi tangannya. Kemudian aku bisa melihat wajahnya dalam kegelapan malam. Dia sangat tampan. Tentu saja, bukan?
"Pemandangannya sangat indah. Langit sedang cerah." Levi menunjuk salah satu bintang di langit.
Aku pun mengikuti arah pandangnya dan mengaguminya.
"Kau suka?" tanyaku.
Levi mengangguk. "Ya. Kurasa aku mulai merasa nyaman tinggal di dunia ini. Aku bisa bebas melakukan apa saja. Duniaku sangat berantakan."
"Kalau begitu jangan pernah pergi lagi. Kalau kau pergi, kau akan menyesal."
"Aku akan tetap di sini. Lagipula untuk apa aku kembali ke sana? Aku bukan prajurit." Levi menjawab. Suaranya sedikit lebih menghangat daripada sebelumnya.
Aku lega mendengarnya. Inilah yang aku ingin dengar darinya. Aku tak lagi akan mendengar kewajiban Levi yang bisa saja merengutnya dariku. Aku tau kalau memang sudah seperti itu tugasnya. Setidaknya, memang seperti itulah jalan ceritanya.
Benar, semua ini sudah gila.
Semua berawal dari Nii-chan. Apa yang sudah ia lakukan selama ini? Nii-chan benar-benar gila sampai ia bisa membuat Levi menjadi begini. Apakah ada karakter lain selain Levi dan Petra di sini?
Itu buruk. Apa aku harus menghancurkan alat penemuan itu? Apa yang akan terjadi kalau alat itu hancur? Apakah karakter yang pernah kembali ke dunianya akan muncul lagi? Bagaimana kalau ada dua Levi di sini?
Ah, aku pusing!
Nii-chan benar-benar mau membuatku jadi gila juga.
Levi terlihat sedang memperhatikanku. Mungkin, ia kebingungan karena aku yang terus-terusan memegangi kepalaku yang terasa berat memikirkan semua ini.
"Ada apa?" tanya Levi.
"Aku takut." Aku menjawab seadanya.
"Takut pada apa? Apa yang kau takutkan?"
Aku hanya bisa menggeleng. "Aku hanya takut. Kau di sini, tapi bagaimana dengan Levi yang lain?"
"Kau memikirkan dia lagi? Diriku yang ... itu?" Levi sedikit memelankan suaranya.
"Begitulah. Semua ini hanya tidak masuk akal. Jadi, aku tidak bisa berhenti memikirkannya."
"Biar saja. Kau hanya bisa menunggu. Tidak usah terlalu banyak berpikir."
Mungkin, Levi benar. Belakangan ini aku selalu saja memikirkan itu semua. Aku jadi tidak dapat menjalani hidupku dengan tenang lagi.
Aku sampai melupakan bahwa apa yang terjadi sudah ada takdir yang menyertai.
Selama masih ada Levi di sini, aku akan berusaha menikmati hidup ini dengannya. Aku tidak perlu khawatir saat itu.
"Baiklah, karena kau masih ada di sini, Levi," jawabku sambil tersenyum.
Mata Levi sedikit melembut. Kemudian ia memukul pelan kepalaku dengan senternya. Oh? Balas dendam rupanya.
"Bagus. Aku tidak suka melihat orang yang seperti itu. Hiduplah dengan tenang dan bahagia."
Aku tersenyum lagi. Kata-katanya sangat manis walaupun Levi mengatakannya dengan wajah dinginnya. Biarpun begitu, aku akan bahagia.
"Kau mau tau tentang kakakku?" tanyaku pada Levi.
Kupikir, masalahku selama ini adalah tentang aku dan Nii-chan. Aku harus menceritakannya pada Levi untuk mengurangi sedikit bebanku. Tidak ada yang mengetahui tentang ini selain Yuu, kekuarganya, dan aku sendiri.
"Kenapa harus kakakmu? Ceritakan saja tentang hidupmu." Levi melipat tangannya di depan dada setelah melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Aku terkekeh. "Tentangku? Kurasa kau mulai menyukaiku lagi, ya?"
"Aku tidak tau." Levi mengangkat kedua bahunya. "Ceritakan saja."
"Hahaha, baiklah." Aku menyenggol lengannya dan mulai memejamkan mataku sebentar. "Apa yang mau kau tau?"
"Apa saja. Apa yang kau sukai."
Hal yang kusukai? Tentu saja itu kau.
"Kau sudah tau jawabannya. Aku suka kau."
"O-oh."
Ah, sial, kenapa ucapannya terbata seperti itu? Karena tidak ada penerangan yang cukup, aku jadi tidak bisa melihat ekspresinya.
"Kenapa terkejut? Apa kau tidak pernah disukai oleh seseorang?" tanyaku. "Hei, kuberitahu kau, ya. Kurasa tidak ada satu orang pun yang tidak menyukaimu di dunia ini."
"Itu berlebihan." Levi menjawab.
"Kenapa? Makanya, aku dan Nii-chan bersusah payah untuk menutupi identitasmu. Aku memberimu kacamata, dan mengubah rambutmu sedikit. Ya, walaupun penampilanmu tidak begitu berubah, tapi siapa yang akan percaya kalau kau Levi Ackerman sesungguhnya?"
"Begitu, ya. Hidupku tak begitu menyenangkan, tetapi mereka menyukaiku."
"Siapa bilang?!" protesku. "Kau itu keren dan hebat! Kalau kau dan alat penemuan Nii-chan diketahui banyak orang, aku yakin kita tak akan bisa hidup dengan tenang."
Levi hanya mengangguk pelan. "Ceritakan lagi."
"Aku lebih suka menceritakan tentang kau, Levi. Aku akan memberikan gambaran kalau kau akan tetap ada di duniamu."
Aku berniat untuk memberitahukan sedikit gambaran tentang kehidupan Levi beberapa saat ke depan sesuai dengan jalan ceritanya. Mungkin, Levi juga penasaran kenapa ia bisa se-populer ini. Mungkin, jika aku memberitahunya, Levi akan tetap selamat dan mengerti apa yang harus dilakukannya.
Sehingga, Levi akan cepat kembali lagi padaku ....
Levi hanya diam saja dan mendengarkan. Tampaknya ia sedikit tertarik tentang hal ini.
"Kau akan mempunyai dua orang teman di bawah tanah, kemudian kau akan ditangkap oleh komandan pasukan pengintai dan masuk menjadi anggota. Dan kemudian kau akan kehilangan mereka setelah menjadi prajurit. Kau akan menjadi kapten di pasukan pengintai, kau menjadi prajurit terkuat di pasukan pengintai—"
Aku memberitahukan semua itu padanya. Namun, Levi sepertinya terus saja mengguncangkan tubuhku.
"Hei, kenapa kau tidak bersuara?" tanya Levi.
Aku? Tidak bersuara? Aku sedang berbicara tentang kisahnya. Kenapa suaraku tidak muncul?
"Aku bicara tentang kau!"
"Aku baru bisa mendengarmu sekarang. Kupikir telingaku tuli atau kau yang bisu." Levi berucap tajam sambil kembali ke posisinya semula sebelum mengguncang tubuhku.
"Kurasa ... aku tidak bisa seenaknya memberitahu kisahmu di masa depan."
Levi mendecih pelan. Ia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya.
"Aku juga tidak peduli kisahku. Simpan saja, biarkan semua berjalan semestinya." Levi menjawab. "Apapun kisahku setelah ini, aku juga tak bisa mengubahnya."
Levi benar. Walaupun ... ada sesuatu hal yang terjadi pada Levi yang dulu di dunianya, Levi yang sekarang ada bersamaku juga tak akan bisa berbuat apa-apa. Semua percuma, itu tak akan mengubah apapun.
Aku kembali merutuki niatku. Aku benar-benar tidak bisa diandalkan. Aku sampai melupakan bahwa orang yang bersamaku sekarang juga Levi. Aku jahat sekali.
"Kau benar, Levi."
Kemudian Levi memandangiku. Ia sedikit mengangkat bibirnya untuk tersenyum tipis.
"Apakah hubungan dengan keluargamu baik?" tanya Levi
Aku menggeleng. "Tidak, setidaknya aku lebih suka hidupku yang dulu."
"Setidaknya kau masih mempunyai kakak."
"Aku tau, dia adalah kakak yang baik di mataku. Walaupun dia selalu membuatku kecewa."
"Semua orang memang akan pergi meninggalkanmu kapanpun suatu saat nanti. Aku juga pernah ditinggalkan." Levi mengetuk kepalaku dengan senter lagi. "Tapi, hal itulah yang akan membuatmu jadi kuat."
Aku mengangguk. "Benar! Aku rasa kalau diriku sudah lebih kuat dari dulu! Kau juga sama, kan?"
"Anak pintar," balas Levi dengan lagi-lagi melayangkan senternya ke kepalaku.
Tidak apa-apa. Aku sangat menyukainya.
"Aku ingin kau akan selalu di sini, Levi. Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak pergi? Aku tidak mau ada orang yang meninggalkanku lagi," kataku. "Lagipula, aku sudah cukup kuat."
"Apa yang harus kau lakukan, hm?" tanya Levi. "Aku suka teh hitam."
Aku tertawa cukup keras sampai-sampai air mataku mengalir. Aku tak tau apakah aku bahagia atau sedih.
"Tentu saja, aku akan menyediakannya untukmu," jawabku sambil tersenyum.
"Ya, kau harus selalu menyediakannya untukku."
Reader pov end
Percuma. Pintu ini tidak bisa dibuka tanpa kunci. Omong kosong apa ini. Dia memegang kunci, tetapi tidak bisa dipakai.
"Minggir." Dengan senang hati aku menghancurkan pintu itu dengan kakiku. Ini mudah.
Kami pun masuk ke dalam ruang bawah tanah bocah itu. Seperti ruang kerja jika dilihat. Banyak sekali obat-obatan.
Aku kembali memikirkan bagaimana nasib kami setelah ini. Dengan semua pengorbanan pasukan kami, termasuk Erwin, apakah umat manusia akan menemukan jawaban semua ini?
__ADS_1
Ini baru saja akan dimulai, tetapi aku sudah sangat merindukannya.