Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
15. Kembali


__ADS_3

Author pov


"Yuu-chan!"


Merasa namanya terpanggil, lelaki jangkung itu menoleh, dan kemudian terkekeh pelan. "Sejak kapan kau memanggilku dengan embel-embel 'chan'?"


Setelah mengunci pintu, (Y/n) berlari menghampiri Yuu yang sedang menunggu di halaman rumah.


"Jangan lari, pelan-pelan saja. Aku tak akan kemana-mana. Hahaha."


"Ih! Siapa juga yang mau kau menunggu aku?" balas (Y/n) malas.


Yuu mengangkat sebelah alisnya. "Tidak mau ditunggu? Baiklah, aku jalan duluan, bye." Yuu berniat menjahili (Y/n) dengan meninggalkannya sendirian. Melihat itu, (Y/n) jadi kesal sendiri.


Tetapi Yuu malah tertawa puas dalam hatinya.


"Yuu! Kok ninggalin aku?!" kata (Y/n) akhirnya setelah berhasil mengejar Yuu.


"Loh katanya kau tidak mau ditunggu?" celetuk Yuu.


(Y/n) mendengus kesal. "Terserah!" ambek (Y/n).


"Jangan ngambek dong. Aku kan cuma bercanda, habisnya kau lucu kalau aku gangguin hehe."


"Yasudah, ayo kita berangkat! Nanti kita telat, aku tidak mau hukumanku bertambah hanya karena telat," ujar (Y/n) sembari membenahi baju seragamnya.


"Oh iya, ya! Kau sudah tidak masuk kurang lebih satu minggu. Tapi tenang saja, aku sudah bilang ke wali kelas kita kalau kau demam. Hanya saja kau mungkin akan kena semprot sama ketua kelas."


(Y/n) mengangguk pelan. Kemudian dirinya berjalan mendahului Yuu. "Yah. Terimakasih kau sudah mengizinkan aku. Aku sudah tau sih kalau sebenarnya kau akan mengizinkan aku, makanya aku tidak menghubungi sensei. Ehehe."


"Huh, dasar. Kau memanfaatkan aku, ya? Yasudah, kita berangkat." Yuu berjalan menghampiri (Y/n) dan menggenggam tangannya.


Baru beberapa langkah, terdengar suara ledakan yang lumayan keras. Suara itu cukup mengagetkan mereka berdua. Karena takut ada apa-apa, Yuu menarik tangan (Y/n).


"A-apa itu?" tanya (Y/n) sedikit panik. Dirinya mencengkeram erat jas seragam Yuu.


"Aku tidak tau. Kurasa ledakannya searah dengan rumahmu?"duga Yuu.


"Apakah ada bom? Aku takut, Yuu.."


Yuu memperhatikan keadaan sekitar. Berjaga-jaga siapa sangka ada kejadian yang mencurigakan. Tetapi hasilnya nihil, pagi itu suasana komplek perumahannya sangat damai.


"Hm.. Mungkin tidak ada apa-apa, (y/n). Lebih baik kita pergi ke sekolah sekarang," kata Yuu sambil melepaskan tangannya dan memegang pundak (Y/n) dengan kedua tangannya.


"Ah, tapi sepertinya suara itu ada di sekitar rumahku, Yuu."


"Tidak apa-apa. Tenang saja, ya." Yuu menatap (Y/n) dan tersenyum untuk menenangkannya.


Ketika melihat senyuman Yuu, (Y/n) merasa sedikit tenang.


"Oh, kalian di sini."


Yuu dan (Y/n) menoleh ke arah orang yang baru saja datang. Kaget.


"Kenapa menatapku seperti itu? Dan kau Yuu, sedang apa kamu?" selidik Aichi.


"Anu," Yuu melepaskan kedua tangannya dari pundak (Y/n). "Tadi ada bunyi yang keras di sini, dan aku hanya menenangkan (Y/n)."


"Bunyi?" tanya Aichi heran. "Aku tak mendengar apapun selama perjalananku dari rumah kau, Yuu."


"Entahlah, tapi bunyi itu sangat keras, Aichi," jelas (Y/n).


"Oh. Dan kau Yuu, kenapa kau tidak menungguku di rumahmu? Aku ingin pergi ke sekolah bersamamu."


Yuu kaget. "Hah? Kukira kau tidak mau bareng denganku."


"Aku sudah mengirim pesan padamu. Kau tidak membacanya? Hah..."


Yuu merogoh saku celananya. "Sebentar, aku cek dulu."


"Tidak perlu," ucap Aichi dingin.


"Ahaha... Lebih baik kita berangkat sekarang? Sebelum terlambat?" sambar (Y/n) untuk menghilangkan situasi yang tidak baik ini.


"Terserah. Ayo."


"Kau jalan di sampingnya, Yuu. Aku akan mengikutimu dari belakang. Suasana hatinya sedang tidak baik. Jangan khawatirkan aku," bisik (Y/n) ketika Aichi sudah mengambil langkah duluan di depan mereka.


"Bagaimana denganmu?" balas Yuu.


"Sudah kubilang tidak apa-apa! Cepatlah!"


Yuu menuruti apa kata (Y/n) setelah mendapat paksaan darinya. Yuu menyamakan langkahnya dengan Aichi dan terlihat Aichi tersenyum karenanya.


Melihat kedua sahabatnya bahagia, (Y/n) hanya bisa tersenyum. Sedikit sakit. Tapi tidak masalah asalkan hubungan mereka baik-baik saja.


Setekah beberapa langkah, (Y/n) berbalik menatap rumahnya hampa sambil berbisik pelan.


"Waktu itu Levi berdiri di depan pintu. Sekarang tidak akan ada lagi yang mengantar keberangkatanku," ucapnya pelan. "Aku merindukanmu."


...***...


Reader pov


"DOR! Haha, melamun terus kau!"


Aku tersentak. Dengan cepat aku segera menoleh ke arah seseorang yang telah mengejutkanku.


"Apa sih, Sakura? Aku kaget tau!"


Aku mengomel setelah tau bahwa sang pelaku adalah Sakura. Ah dia memang dari dulu seperti ini. Selalu bersemangat.


"Ah! Kau ini gak suka ya sekelas lagi sama aku di kelas 3 ini?" ambeknya sambil memajukan bibirnya.


Ah iya. Aku sekelas lagi dengannya. Aku kagum sih dengannya. Dibalik sifatnya yang ceroboh dan berisik, dia ternyata adalah pemimpin yang baik. Buktinya dia kembali terpilih menjadi ketua kelas lagi di kelas barunya.


"Eh! Aduh! Aku lupa membawa buku catatan matematika! Bagaimana ini (Y/n)!!!"


Tuh kan.


"Yasudah ... Kalau kau ditunjuk maju ke depan untuk mengerjakan soal, pinjam saja catatanku, Sakura" tawarku sambil tersenyum padanya.


Matanya langsung berbinar, "Ah! Terimakasih banyak!!! Aku sayang kau (Y/n)!!" katanya sambil mencubit pipiku dan kembali berbalik ke depan dan membenarkan posisi duduknya.


"Haha, dasar."


Ngomong-ngomong Yuu kemana ya? Bel berbunyi sebentar lagi. Apa dia belum sampai? Kok lama ya? Padahal kan tadi bareng.


Ah, sudahlah! Lagipula dia kan bersama Aichi. Oh iya. Semenjak Yuu pacaran dengan Aichi, aku kesepian... Aku merasa, Aichi terus saja mengurung Yuu agar tidak dekat denganku.


Plak!


Tidak boleh!


Aku tidak boleh berfikir seperti itu. Mereka kan sahabatku. Lagipula Aichi tidak seperti itu..kan?


Tap.


"Halo, (Y/n). Maaf ya kami lama, tadi Aichi katanya belum sarapan, jadi aku menemaninya sarapan dulu di kantin. Tidak apa-apa kan?" sapa Yuu sambil menaruh tasnya di meja yang berada tepat di belakangku.


"Ah, iya. Tidak apa-apa, Yuu."


Yuu tersenyum mendengar jawabanku. Ah senyumnya, manis sekali.


"Oh iya Sakura!" panggil Yuu.

__ADS_1


Sontak saja yang di panggil langsung menoleh. "Apa sih, Yuu? Kalau mau bicara, datangi ke tempatnya, dong!"


Yuu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ah iya," balas Yuu sambil berjalan menghampiri meja Sakura-san yang ada tepat di depanku.


"Apa?" tanyanya ketika Yuu sampai.


"Eum... Apa kau tak akan mengomeli (Y/n) karena tak masuk seminggu?"


Kening Sakura berkerut bingung. "Hah? (Y/n) kan sakit, untuk apa marah padanya? Yang penting sekarang dia sudah masuk kan?"


"I-iya Yuu!" timpalku.


"Baiklah!"


Tak lama bel masuk berbunyi. Sakura memberi murid aba-aba untuk segera duduk dan tertib.


Beberapa waktu kemudian, sensei masuk ke kelas dengan seorang murid laki-laki.


Siapa dia? Murid baru?


Dan yah, semuanya pada sibuk berbisik membicarakan murid itu. Selama situasi ini, ketua kelas angkat bicara.


"Diam! Berdiri semua! Beri hormat!"


Wah, tegas seperti biasa. Aku kagum. Setelah memberi salam, semua kembali duduk.


"Psst, (Y/n). Apakah dia murid baru?" bisik Yuu dari belakang.


"Mana aku tau, Yuu."


Ketika suasana kelas senyap, sensei angkat bicara tentang seseorang yang berdiri di sebelahnya itu.


"Perhatian semuanya! Kalian mendapat teman baru. Nah, kau silahkan perkenalkan diri."


"Aku Hoshi. Salam kenal semua," kata murid bernama Hoshi itu sambil sedikit membungkukkan badannya.


Anak ini tampan sekali. Dengan rambut hitamnya, bahunya yang lebar, oh bahkan dia tinggi! Mungkin sedikit lebih tinggi daripada Yuu.


"Ya, sudah selesai perkenalannya. Hoshi, silahkan pilih tenpat dudukmu."


Di kelas ini ada dua bangku kosong. Yang satu di pojok belakang, dan satu lagi ada di sebelahku. Kira-kira dia akan memilih yang mana?


"Baik. Terimakasih, sensei," ucapnya singkat.


Hoshi mulai melangkah menuju ke tempat duduk, dia melewati mejaku. Aku memperhatikan langkahnya.


"Apa?" tanyanya tiba-tiba ketika dirinya tau aku sedang memperhatikannya.


"A-ah! Tidak! Aku hanya penasaran kau akan duduk dimana.. Haha," jawabku sambil menggaruk kepalaku.


Hoshi tidak menjawab. Dia hanya mengabaikanku dan menaruh tasnya di bangku sebelahku.


"Psst. (Y/n). Sepertinya dia menyebalkan. Jangan dekati dia!" bisik Yuu tiba-tiba sambil melirik ke arah Hoshi yang sedang mengeluarkan alat tulisnya.


"Apa? Kau tau darimana Hoshi menyebalkan?"


Yuu mendecih. "Ck. Kau tidak lihat? Tadi saat kau memperhatikannya, dia terlihat tidak suka. Menyebalkan bukan?"


"Mungkin dia memang tidak suka diperhatikan begitu, Yuu. Sudahlah, nanti kita kena marah sensei kalau ngobrol begini."


"Ah, baiklah."


...***...


Author pov


"Haii, anak baru! Namamu Hoshi kan?"


"Kenapa?" tanyanya datar.


"Namaku Hoshi. Dan sisanya apa itu perlu didata?"


Sakura menghela nafas. "Wah. Susah ya kau ini .... " keluhnya. "Ah! (Y/n)!"


(Y/n) yang sedang menghapus papan tulis pun menoleh karena mendengar Sakura memanggilnya. "Ada apa, Sakura?"


"Kemari! Tolong aku menjelaskan pada Hoshi. Aku tak sanggup," pintanya kepada (Y/n).


"Baiklah. Apa yang perlu kujelaskan?" tanya (Y/n) ketika sampai di meja Hoshi.


"Tolong katakan padanya betapa pentingnya data kelas."


"H-hah? Oke."


(Y/n) menghela nafas sebelum menjelaskan. "Jadi, Hoshi. Data kelas itu berguna untukmu. Ketua kelas, maksudku Sakura-san bisa mengetahui dan mengawasimu kalau kau mengikuti kegiatan klub apa di sekolah." (Y/n) bingung sedang menjelasan apa, semoga anak ini bisa mengerti.


"Hanya klub yang akan aku ikuti? Baiklah," jawab Hoshi akhirnya. "Aku suka basket. Apa ada basket di sini?"


"Basket, hmm. Tentu saja ada! Kurasa sang ketua basket membutuhkan anggota baru. Benar begitu, (Y/n)?" ujar Sakura sambil menyenggol lengan (Y/n) dan mengangkat-angkat kedua alisnya.


"Ah, ya.... Kurasa Yuu sedang kekurangan anggota. Kalau begitu kau tanyakan saja padanya!"


"Siapa Yuu?"


...***...


"Hah? Kau menawarkan padanya? Padanya? Si anak baru ini?" protes Yuu sambil menunjuk-nunjuk Hoshi yang sedang duduk di hadapannya.


"Tapi Hoshi sendiri yang ingin ikut klubmu, Yuu," balas (Y/n) jengkel


Yuu memalingkan wajah. "Aku belum melihat kemampuannya."


"Haruskah? Kurasa aku hanya perlu meminta dan kau akan menerimaku," balas Hoshi enteng.


"Kau harus menunjukkan kemampuanmu, baru pacarku akan menerimanya." sambung Aichi.


"Hah? Siapa pacarmu?" tanya Hoshi.


"Aku." jawab Yuu tegas, "kenapa?"


"Ya ya... Aku tak peduli dia pacarmu atau bukan. Kalau kau tak mau menerimaku itu bukan masalah besar." Hoshi membenarkan tata rambutnya. "aku akan ikut klub dengannya. Hei, kau ikut klub apa?" tanya Hoshi kepada (Y/n) yang sedang duduk tepat di sampingnya.


(Y/n) terkejut. "Hah? Aku? Aku ikut klub memasak."


Yuu menggembungkan pipinya, berusaha menahan tawa.


"BWAHAHAHAHA!"


Tapi tak bisa...


"Ikut gih sana. Hahaha!!!" ledek Yuu di sela tawanya yang menggelegar.


"Sialan," umpat Hoshi.


"Aduh, perutku sakit." Yuu memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. "Jadi kau mau serius masuk atau tidak?"


Hoshi diam. Dia meraih minuman kaleng yang ada di hadapannya. Tidak tau itu minuman siapa.


"Hei! Mau apa kau?!"tanya Yuu yang baru sadar minuman kalengnya di teguk habis oleh Hoshi.


Hoshi melemparkan kaleng minumannya setelah puas meminum airnya ke arah tempat sampah yang jaraknya lebih dariĀ  9 meter.


"Heh. Tidak akan masuk."Yuu menumpukan kepalanya pada tangan kirinya dengan malas sambil meremehkan aksi Hoshi.


Tetapi takdir berkata lain, Yuu.

__ADS_1


Klang!


Kaleng bekas minuman itu masuk dengan sempurna ke dalam tong sampah.


Yuu tercengang.


"Oh. Yasudah. Kau kuterima."


***


"Menunggu apa?"


(Y/n) menoleh. Matanya melihat seorang lelaki berambut hitam sedang berdiri di sampingnya. Sepertinya baru datang.


"Oh, Hai, Hoshi! Aku sedang menunggu Yuu untuk pulang bersama."jawab (Y/n) sambil tersenyum.


Kening Hoshi berkerut, "Yuu? Si rambut merah itu? Dia sedang bersama pacarnya. Sepertinya mau pulang bareng."


"Mereka gak ngajak aku? Tidak mungkin, aku akan menunggu mereka."


"Terserah."


"Dan kau kenapa tidak pulang?"tanya (Y/n) yang melihat Hoshi menyenderkan tubuhnya ke tembok sebelah dirinya berdiri.


Hoshi melipat kedua tangannya di depan dada, "kenapa tiba-tiba kau ingin tau?"


"Ah, yasudah kalau kau tidak mau memberitahuku."keluh (Y/n), "pokoknya aku akan menunggunya."


"Hm."


Tak berapa lama, Yuu keluar dari gedung sekolah bersama Aichi. (Y/n) yang melihat mereka pun segera memanggil nama mereka.


"Yuu! Aichi!"


"Oh, halo, (Y/n)."sapa Yuu ketika sampai di depan (Y/n).


"Hai, (Y/n). Oh, halo juga Hoshi."Aichi juga ikut menyapa.


"Kalian lama sekali! Aku menunggu tau!"omel (Y/n).


"Maaf. Kami sedang belajar bersama di perpustakaan."jawab Aichi sambil menunjukkan beberapa buku yang ada di tangannya.


"Iya, (Y/n). Aku membantu Chinatsu-san mengerjakan tugas. Aku ingin mengajakmu, tetapi kamu tidak ada. Maaf ya.."


Sebenarnya (Y/n) merasa sedih karena dirinya merasa ditinggalkan. Tetapi rasa itu cepat-cepat dibuang jauh."Sudahlah, tidak apa-apa. Kita pulang sekarang?"


"Ah... Aku, aku mau membantu Chinatsu-san mencari peralatan untuk tugasnya yang tadi, (Y/n). Chinatsu-san meminta hanya kita berdua saja.."jelas Yuu.


"Kenapa?"


"Karena kami ingin berdua saja, (Y/n). Kau pasti paham."timpal Aichi.


"Ah, ya baiklah. Aku mengerti."jawab (Y/n) akhirnya. Pasrah.


"Baiklah, ayo Yuu."ajak Aichi sambil menarik tangan kanan Yuu, "bye, (Y/n)!"


Yuu yang sedang ditarik-tarik hanya bisa pasrah sembari melambaikan tangan ke arah (Y/n). Dan kemudan keduanya hilang di tengah kerumunan.


"Jadi,"sela Hoshi, "mau bareng denganku?"


***


Reader pov


"Aku pulang..."


Ah. Biasanya ada orang yang menyambutku.. Beda sekali rasanya ketika orang itu tak ada.


"Oh. Sudah pulang?" suara berat khas laki-laki menyambutku dari dapur.


Aku segera meletakkan tas di ruang tamu dan bergegas ke dapur.


"Ah iya, sudah." jawabku sambil menyomot roti yang ada di meja makan.


Akhirnya ada yang menyambutku juga.


Senangnya...


Eh. Tunggu.


Apa ini?


"SIAPA KAU?"teriakku sambil berbalik. Menghadap ke seseorang yang tidak ku ketahui sama sekali.


Dia masuk ke rumahku!!!


Seseorang itu sedang mencuci piring. Rambutnya warna hitam. Tidak terlalu tinggi..


Oh my...


"K-kau?"ucapku terbata.


Seseorang itu berbalik. Oh ya, aku bisa melihat wajahnya.


"Levi??!"


Aku refleks berlari mendekat. Ya ampun. Dia sudah kembali?


Tetapi.. Dia... Berbeda.


Tatapannya dingin. Tidak seperti terakhir kali aku melihatnya. Dan Levi sedikit lebih muda dari sebelumnya. Ada apa ini?


Tapi aku tetap berlari.


Ketika aku sudah ada di hadapannya, aku menatap matanya sebentar. Kemudian aku memeluknya.


"Kau kembali, Levi."


Levi tak menjawab.


Karena tak mendapat respon, aku mengangat kepalaku untuk menatapnya, bingung.


"Kau siapa?"


Hah?


Levi tak mengenaliku?


"Halo~"


Aku menoleh ke arah suara. Ternyata Nii-chan mau apa dia?


"Kejutan. Apa kau senang?"tanyanya sambil tersenyum


"Kejutan?"


"Levimu aku kembalikan."


Aku tak mengerti.


Mengapa jadi begini? Apa yang membuat Nii-chan membawa Levi ke sini lagi?


Apa.. Tugasnya sudah selesai?


"Kau pasti akan bertanya."ujarnya, "tetapi, ini bukan Levi mu yang dulu. Dia ku tukar dengan levi yang belum menjadi kapten. Kau tau? Dia sedikit kasar."

__ADS_1


__ADS_2