
Reader pov
Jujur saja aku masih merasa risih saat Sakura menanyakan Levi. Bukan apa-apa. Sakura melihat Levi sebagai orang yang keren. Memang keren, sih..
Belakangan ini, Sakura selalu mencari-cari perhatian Levi dengan alasan sedang membicarakan persiapan untuk liburan di pantai nanti. Kalau memang benar seperti itu tidak masalah. Tetapi... Obrolan mereka yang membuatku panas.
"Jadi, Levi!"
Aku memperhatikan mereka dari kursiku. Suasana di kelas sedang sepi. Hanya ada aku, dua atau tiga orang murid, termasuk Sakura dan Levi tentu saja.
"Hn?" jawab Levi singkat. Seperti biasa. Aku masih bisa mendengarnya, aku hanya memasang earphone tanpa menyalakan musiknya. Aku pura-pura tak peduli dengan obrolan mereka.
"Kita akan berangkat besok. Kau sudah mempersiapkan segalanya?"
Levi menggeleng. "Belum semua."
"Souka... Aku sudah mempersiapkan beberapa permainan selama di sana! Ada yang mengharuskan kita berpasangan! Aku sudah mengurusnya."
"Lalu?"
"Lihat. Aku berpasangan denganmu!"
Aku refleks menengok ke arah mereka. Tanpa sadar aku menyeplos. "Lalu aku dengan siapa?" untung kelas sedang sangat sepi.
Sakura tampak terkejut dengan ucapanku yang tiba-tiba. "Biar ku lihat... Oh! Kau dengan Hoshi!"
Aku memutar bola mataku. Malas. Seraya menghampiri tempat obrolan mereka. "Kenapa harus dengannya? Aku ingin dengan Levi."
"Maaf, ya, (Y/n). Aku ingin dengan Levi juga.. Kali ini saja ya! Kumohon..." Kulihat Sakura memelas kepadaku.
Ya ampun. Kenapa begini? Padahal kan Sakura baru saja kenal dengan Levi. Dan kenapa Levi diam saja? Dasar.
"Tapi kenapa aku harus denganmu?" ceplos Levi datar.
Sakura terlihat sedang berfikir. "kenapa, ya? Karena aku tertarik denganmu?" Sakura mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
Karena aku malas dengan situasi ini, aku pun mengalah. Lagipula aku masih satu kelompok dengan Levi. Jadi itu tidak masalah.
Oh! Tapi aku kesal dengan Sakura. Kalian harus tau itu!
"Baiklah. Terserah kau saja, Sakura."
Sakura melompat kegirangan setelah aku menyetujui permintaannya yang membuatku sangat kesal. Kurasa aku akan bad mood seharian.
Aku segera menuju kantin dengan berat hati. Meninggalkan Levi yang masih ditahan oleh Sakura-san. Oh astaga. Aku ingin menariknya sekarang juga dari perempuan itu.
Aku berjalan dengan perasaan kesal menuju kantin. Aku mengeluarkan sumpah serapah karena aku sendirian sekarang. Kalau aku ajak Yuu juga percuma. Pasti dia sedang bersama Aichi sekarang.
Argh! Bikin sebal saja! Ini menjadi rumit.
Ketika aku sedang asik mengeluarkan sumpah serapahku, seseorang menabrak tubuhku. Aku yang tidak siap pun kehilangan keseimbangan.
Sebelum aku jatuh menimpa lantai, seseorang itu sigap menahan tubuhku agar tidak jatuh.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang itu. Oh ternyata dia Hoshi.
"U-uhm, iya aku tidak apa-apa." Aduh. Kenapa aku canggung begini? Dengan segera aku melepaskan pegangan Hoshi di tubuhku.
Hoshi menyadari kecanggunganku lalu berbicara, "oh, maaf. Aku hanya menahanmu agar tidak jatuh. Maaf aku menabrakmu. Aku tidak sengaja. Aku buru-buru."
"Tidak masalah," kataku sambil tersenyum. "kau buru-buru kemana, Hoshi?"
"Aku ingin ke perpustakaan. Aku mencari ketenangan sambil membaca buku di sana. Kenapa?"
Aku menarik seragam Hoshi. "Aku ikut, ya?"
Melihat aku yang menahannya seperti itu, Hoshi memalingkan wajahnya. "Boleh."
Karena Hoshi mengizinkan aku untuk ikut dengannya, aku langsung mengikuti langkahnya dari belakang. Kalau dilihat-lihat Hoshi sepertinya lebih tinggi dari Yuu, ya. Berapa tinggi badannya ya kira-kira?
Hoshi menoleh. "Hei, kenapa kau mengikutiku dari belakang? Sini."
"Huh?" aku bingung.
"Jalan di sebelahku. Kenapa Kau tidak mau jalan di sebelahku?" Hoshi berkata sambil menghentikan langkahnya.
Aku terkejut dan segera menyamakan langkahku dengannya dan berjalan di sebelahnya. "Ah, maaf!"
Kami pun lanjut berjalan menuju ke perpustakaan. Selama perjalanan Hoshi tidak berbicara apa-apa. Aku pun langsung membuka pembicaraan agar suasana tidak terlalu hening.
"Uhm... Hoshi, tinggimu berapa?"
Hoshi menoleh sekilas. "182."
"Wah, tinggi sekali!"
Kami segera masuk ketika sampai di perpustakaan. Kami memilih tempat duduk yang ada di belakang. Karena aku tidak tau akan membaca buku apa, aku hanya duduk saja ketika Hoshi menelusuri rak-rak buku untuk memilih bacaan.
Tak lama, Hoshi membawa setumpuk buku hasil penjelajahaannya.
"Kau suka baca buku, Hoshi?"
"Ya."
Dan kemudian hening. Aku hanya memperhatikan dirinya yang sedang serius membaca buku.
Hm.. Rambutnya yang hitam mengingatkanku kepada Levi. Tapi, Hoshi memiliki auranya sendiri. Kuakui Hoshi memang sangat tampan, dan jika di tambah dengan tubuhnya yang tinggi, itu sangat sempurna.
Karena merasa diperhatikan, Hoshi menghentikan aksinya. "Kenapa?"
Aku terkekeh pelan. "Kau kalau serius begitu tampan, ya." kataku sambil tersenyum.
Semburat merah menghiasi wajahnya. Lalu kemudian aku melihat dia berusaha menetralkannya. Hoshi memejamkan matanya, lalu membukanya dan berbicara, "Benarkah?"
"Hahaha, kau sempat tersipu, ya?"
Hoshi kembali meraih bukunya, dan kembali membaca. "Tidak juga."
"Baiklah..baiklah.. Ngomong-ngomong, apa kau tidak mau berteman dengan anak lelaki yang lain?"
"Bukannya aku tidak mau. Tapi, mereka semua sama saja. Merepotkan. Kurasa tidak perlu." jawab Hoshi datar tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku bacaan.
"kalau begitu biar aku saja yang jadi temanmu. Bagaimana?" tawarku sambil tersenyum.
Hoshi menatapku. "Coba saja."
"Kau tau Yuu?"
"Ya. Aku satu klub dengannya. Aku juga melihat kau selalu bersamanya. Oh, dengan satu lagi. Laki-laki pendek berambut hitam. Siapa namanya? Aku lupa."
"Maksudmu Levi?"
"Ya."
Aku sedikit terbahak-bahak saat Hoshi menyebut levi sebagai laki-laki pendek. Kalau saja penjaga perpustakaan tidak menegurku, sudah dipastikan tawaku akan semakin meledak dan membahana sampai semua penjuru sekolah.
"Hahaha, kau juga bisa berteman dengan Yuu dan Levi. Karena mereka juga sahabatku. Mereka orang baik, tenang saja." kataku meyakinkan.
"Terimakasih."
Aku teringat kalau aku berpasangan dengan Hoshi untuk salah satu permainan untuk liburan nanti. Aku pun segera memberitahukan hal itu padanya.
"Hoshi, kau tau? Kita akan berpasangan di salah satu permainan di liburan nanti!"
"Begitu? Kenapa aku?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Awalnya aku ingin berpasangan dengan Levi... Tapi begitu aku mengenalmu seperri sekarang ini, kurasa akan menyenangkan." jelasku sambil menatapnya.
"Begitu... Terimakasih sudah mau jadi pasanganku." balasnya tetap datar. Tapi bisa kulihat sekilas, bahwa Hoshi telah tersenyum, mesti sedikit.
Aku hanya tersenyum.
Kurasa tidak masalah kalau aku tidak berpasangan dengan Levi. Tapi bukan berarti rasa sukaku berkurang pada Levi. Aku masih tetap dan akan terus mencintainya.
...***...
Aku merebahkan diri ke kasur setelah mengganti seragam sekolahku. Kuambil ponselku yang tergeletak di kasur.
Kulihat ada pesan masuk. Hm, nomor tidak dikenal.
From : unknown
Hei, ini Hoshi. Simpan nomorku.
Aku terkekeh ketika mengetahui bahwa yang mengirim pesan adalah Hoshi. Kami sempat bertukar nomor telepon tadi. Tak kusangka dia benar-benar akan menghubungiku duluan.
Aku segera membalasnya dan kembali terkekeh.
"Sedang apa?"
Aku menoleh. Kulihat Levi sedang bersandar di tembok dekat pintu kamarku sembari menyilangkan tangan di depan dada.
"Oh? Aku sedang membalas pesan dari Hoshi." jawabku seadanya sambil meletakkan ponselku ke tempat semula. "Memangnya kenapa?"
Levi menggeleng. "Tidak. Hoshi yang akan jadi pasanganmu nanti?"
Aku mengangguk.
"Sebenarnya aku ingin menjadi pasanganmu." kata Levi pelan.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Kau bercanda?" tanyaku memastikan ucapan Levi yang menurutku agak ngelantur itu.
"Untuk apa aku bercanda, bodoh."
Ah, Levi, main-main ini namanya.
"Ah, masa? Jadi kau mau jadi pasanganku? Iya~? Benarkah~?" aku bangkit dari kasur untuk menghampirinya dan berniat untuk sedikit menggodanya.
Kutatap Levi. Namun tatapan Levi lebih menusukku.
"Kau menggodaku, hm?" tanya Levi datar sambil sedikit tersenyum.
Astaga. Aku salah telah menggodanya. Levi malah balas untuk menggodaku. Levi mendekatkan wajahnya dan kembali menatap kedua mataku.
Sial. Kurasa wajahku sudah memerah. Memalukan.
Aku pun refleks mendorong tubuh Levi agar segera menjauh dariku. Ini terlalu cepat!
"Bodoh," sahut Levi setelah dirinya menjauh dariku. "kau tersipu."
Astaga. Sejak kapan Levi jadi seperti itu? Apa pulang sekolah tadi dia kesambet?
"S-siapa juga yang tersipu?!" protesku sambil memalingkan wajah.
Dengan wajahnya yang datar, Levi mengangkat tangannya ke atas rambutku dan mengacaknya.
"Ah!! Rambutku berantakan, Levi!" ucapku setelah Levi selesai mengacak-acak rambutku.
"Biar saja." balas Levi santai sembari keluar dari kamarku.
"Hei!!!"
Author pov
"Kau sudah makan?" Levi kembali masuk ke kamar (Y/n) sambil bertanya.
Levi menatap (Y/n). "Mau kubelikan?"
"Kau memangnya sudah hafal daerah sini? Bagaimana kalau aku ikut?"
Levi menggaruk pipinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku sudah lumayan lama di sini, mungkin? Kau sering mengajakku keliling sini. Kurasa aku tau."
(Y/n) hanya meng-oh kan perkataan Levi kemudian mengambil dompet dari tasnya dan mengambil beberapa uang untuk diberikan kepada Levi.
"Kau yakin kalau aku tidak ikut bersamamu?" (Y/n) bertanya sekali lagi sambil memberikan uang yang telah diambil kepada Levi.
Levi menggeleng sembari menerima uang pemberian (Y/n). Dan dengan tangan yang lain Levi mengacak rambut (Y/n) lagi. Tapi kali ini lebih lembut daripada yang tadi.
"Tenang saja." ucap Levi meyakinkan. "Aku pergi."
(Y/n) mengangguk senang melihat perlakuan Levi padanya. Dirinya merasa kalau Levi itu..sedikit romantis. Seukir senyuman terlihat di bibirnya sambil melihat punggung Levi yang perlahan mulai menjauh.
Levi segera menuruni anak tangga dengan perlahan tapi pasti. Terdengar suara ketukan pintu ketika Levi sudah sampai di lantai bawah.
"Oh, kau. Ada urusan apa?" tanya Levi datar ketika mengetahui bahwa itu adalah Yuu.
Mata Levi melirik bungkusan yang ada di tangan Yuu.
"Aku membawakan beberapa roti, snack dan susu cokelat untuk (Y/n)." Yuu menyodorkan bungkusan itu pada Levi.
Ketika Levi hendak menerimanya, dengan satu gerakan Yuu menariknya kembali. Hal ini pun membuat Levi kesal.
"Kau bercanda?"
Yuu menyunggingkan senyum, senyum meledek tepatnya. "Tak kusangka sekarang kita seumuran, ya? Ah~ aku tidak bisa memanggilmu 'om' lagi~ om yang dicintai oleh (Y/n) dulu~"
"Tch. Maksudmu apa? Aku ingin menghajarmu, sungguh." Levi menatap Yuu dingin
Levi pernah diceritakan oleh (Y/n) bahwa ada Levi yang telah menjadi kapten pernah datang di kehidupannya. Tapi itu semua telah hilang. Semua kenangannya. Dan Levi yang sekarang benci jika harus membahas ini, itu membuat Levi muda pun sedikit kesal.
"Kau kesal? Oh, kau cemburu, kan?"
Levi memutar bola matanya. "Cemburu? Apa itu?"
"Astaga." Yuu menepuk dahinya. "Kau bercanda?"
"Jelaskan padaku."
Yuu menghela nafasnya panjang. Ini akan merepotkan, pikir Yuu. "Intinya kau tidak suka (Y/n) menyukai yang lain."
"Sejauh itu? Aku baru kenal dengannya beberapa minggu lalu. Kurasa itu mustahil."balas Levi sambil melipat tangannya di depan dada.
"Oh, ya? Lihat saja nanti, kawan." Yuu meninju pelan bahu kanan Levi sambil tersenyum miring. " (Y/n) ada di dalam?"
Levi mengangguk.
"Syukurlah. Aku ingin menemuinya, tapi aku sedang buru-buru. Aku baru selesai bersiap untuk besok, setelah ini aku harus menemui Aichi dulu."
"Terserah."
Sesaat Yuu mengamati Levi dengan tatapan tajam. Sangat tajam sampai membuat Levi agak mengalihkan pandangannya dari Yuu.
Merasa risih, Levi menghela nafas. "Aku merasa geli ditatap seperti itu."
"Berisik," sahut Yuu tajam. "Apa yang kau lakukan belakangan ini, bodoh?"
"Siapa yang melakukan apa?"
"Ya ampun." Yuu mulai tak sabar. "Apa kau tidak sadar? Kau terlalu dekat dengan ketua kelas, Sakura."
"Lalu apa masalahnya?"
__ADS_1
"Kau masih bertanya apa masalahnya?"
Levi memijat keningnya. "Dengar, ya, bocah-"
"Hei! Kita seumuran. Kenapa kau memanggilku bocah?" Yuu memotong perkataan Levi dengan cepat sambil menarik kerah baju Levi ketika mendengar dirinya mendapat panggilan bocah darinya.
"Aku tidak tau. Panggilan itu keluar begitu saja dari mulutku, maaf." Levi mengangkat kedua bahunya. "Tapi kau harus tau ini."
"Apa itu?"
"Aku tidak dekat dengan Sakura, ataupun perempuan yang lainnya. Salah satu perempuan yang ada di dekatku adalah (Y/n)" Levi berusaha melepaskan tangan Yuu dari kerahnya. "Sakura saja yang selalu mendekatiku."
Yuu mengangkat sebelah alisnya, merasa tidak yakin. "Apa kau bisa dipercaya, Ackerman?"
"Huh?" Levi sedikit kaget ketika Yuu memanggil dirinya sebagai Ackerman. Itu tidak masalah. Tapi ini membuat Levi bersemangat. "Aku tak tau kenapa kau memanggilku Ackerman sekarang. Tapi karena aku ini Ackerman, kau bisa percaya padaku."
"Kalau kau membuat (Y/n) sedih, aku akan menghajarmu. Aku telah berjanji akan melindunginya dari siapapun. Maupun itu kau atau bahkan kakaknya sendiri. Aku tidak akan membiarkan dia yang sudah kuanggap sebagai adik perempuan kecilku itu terluka." setelah berkata begitu Yuu semakin mengeratkan cengkeramannya dari kerah Levi.
Levi menatap Yuu dingin. "Lepaskan."
"Ingat itu." Yuu melepaskan tangannya dari kerah Yuu, dengan sekejap ekspresi seriusnya berubah menjadi wajah yang berseri-seri. "Nih, tolong kasih ini ke (Y/n), ya~ sampaikan salamku padanya. Yo!"
Levi segera menutup pintu dan memandangi bungkusan yang di ambil dari tangan Yuu. Kedua kakinya melangkah ke tangga untuk menghampiri (Y/n).
"Oh, kau sudah kembali. Cepat sekali?" tanya (Y/n) ketika dirinya melihat Levi membawa bungkusan.
"Bukan aku yang membelinya." balas Levi.
"Lalu dari siapa?"
Levi menghampiri (Y/n) dan memberikan bungkusan itu kepadanya. "Yuu."
(Y/n) meraihnya dan segera mengintip isinya. Roti, snack, dan kemudian susu cokelat. Dan semua itu tidak hanya masing-masing satu.
Di salah satu kotak susu cokelat, tertempel secarik kertas dari Yuu. (Y/n) segera mengambilnya dan membacanya.
(Y/n)~~~ aku tau kau sedang iseng, kan? Aku membawakan beberapa makanan untukmu. Maaf aku tidak bisa lama di rumahmu. Besok kita harus berangkat, istirahatlah! *Yuu-chan :) (kamu pasti geli, hahahaha!!!)
(Y/n) tersenyum melihat perhatian Yuu kepadanya. "Yuu sangat perhatian denganku. Dia tau sekali kalau aku sedang ingin cemilan. Hahaha."
Levi menatap (Y/n) yang sedang sibuk memandangi surat dari Yuu. Levi berkata datar namun pelan. "Apa kau...suka diperhatikan seperti ini?"
(Y/n) tersenyum. "Cobalah!"
...***...
Setelah hari berlalu. Hari yang ditunggu pun tiba. Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan dengan menggunakan bus pariwisata.
"Yak semua!" Sakura berteriak dengan menggunakan kertas yang digulung. "Kita sudah sampai di villa! Pantai tidak jauh dari villa, hanya berjalan selama 3 menit. Jadi sebelum itu, kita akan menentukan kamar kalian dan beristirahat dulu."
Setelah berkata seperti itu, Sakura menuntun teman-temannya untuk memasuki villa. Villa ini milik keluarga Sakura pribadi. Villa yang berlantai dua ini sangat luas dan memiliki banyak kamar. Bahkan cukup untuk menampung murid satu kelas.
Untuk kamar anak perempuan terletak di lantai atas, dan yang laki-laki di bawah.
Di pintu masing-masing kamar, telah tertulis nama-nama murid yang akan tinggal di dalamnya.
"Hei, (Y/n)!"
(Y/n) yang sedang bingung mencari kamarnya di mana pun segera menoleh. "Ya?"
Sakura menghampiri (Y/n) dengan menyeret gembolannya yang lumayan banyak dengan susah payah.
"Kita sekamar kok! Ayo bareng."
(Y/n) menangguk. "Ayo!"
Sesampainya di kamar, telah ada dua anak perempuan lainnya.
"Hai, Aoi! Hei, Yami!"
"Hai! Sakura! (Y/n) juga!" sapa mereka bersamaan.
"Tak kusangka. Ternyata villa yang kau maksud besar ya! Oh, bukan," ucap Aoi sambil berseri-seri, "tapi sangat besar!"
"Benar!" jawab Yami dan (Y/n).
Sakura terkekeh. "Hahaha, ya.. Begitulah... Makanya aku sangat antusias sekali menawarkan villaku ini."
"Aoi dan Yami kelompok E, ya?" tanya (Y/n).
"Iya! Dan kelompok kami sudah menunggu di halaman depan untuk bersiap, duluan ya!" ujar Yami sambil membawa perlengkapan mereka.
"Sampai nanti!"
Setelah Aoi dan Yami keluar kamar. (Y/n) dan Sakura meletakkan barang bawaan mereka. Setelah (Y/n) selesai dengan barang bawaannya, dengan cepat ia merebahkan dirinya di atas kasur.
Satu kamar terdapat dua kasur yang lumayan besar. Cukup untuk menampung satu sampai dua orang di setiap kasur.
"Aku senang sekali bisa berlibur ke pantai, Sakura!" kata (Y/n) sambil memejamkan matanya. "Sudah lama aku tidak berlibur seperti ini."
"Hahaha! Kau sangat senang, ya? Syukurlah." jawab Sakura sembari duduk di samping (Y/n).
(Y/n) tersenyum. Kemudian dirinya terduduk secara tiba-tiba karena teringat Levi. (Y/n) agak sedikit khawatir dengannya. Sakura yang kaget melihat tingkahnya pun bertanya.
"Ada apa?" tanya Sakura sambil memegang tangan (Y/n) khawatir.
"Tadi kau lihat Levi tidak?"
Sakura terkekeh. "Oh? Tadi aku bertemu dengannya. Dia sekamar dengan Yuu dan Hoshi."
"Oh, begitu."
"Kita harus segera merapikan barang bawaan kita. Karena setelah ini acara akan dimulai!" jelas Sakura bersemangat.
"Oke!"
Setelah semuanya telah rapi, mereka segera menuju halaman villa. Semua murid telah berkumpul.
Sakura mengambil pengeras suara dan memulai acara. "Teman-teman! Karena sekarang sudah jam 2 sore, mari kita mulai. Sekarang kalian berbaris sesuai kelompok masing-masing."
Tak butuh waktu lama untuk mengatur barisan. Semuanya telah mengatur barisan dengan rapi.
"Untuk acara yang pertama kalian boleh berenang bebas di pantai terlebih dahulu. Setelah puas, kita akan melakukan permainan! Okay??" jelas Sakura.
"Okay!!!" teriak yang lainnya.
"Ya! Kalian boleh bubar untuk mengganti pakaian kalian dengan pakaian renang!" sakura menutup dengan menepuk tangannya tiga kali.
Para siswa pun bubar untuk mengganti pakaian mereka di dalam kamar masing-masing. Ada yang bersantai di bawah terik matahari, dan ada juga yang langsung menceburkan diri ke dalam air laut.
Tetapi (Y/n) hanya bermain-main air di pinggir laut karena teman-temannya belum selesai berganti baju.
"(Y/n)!"
(Y/n) menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah Hoshi. Tidak ada orang lain yang bersamanya. Dia sendiri.
"Hai! Kemana Yuu dan Levi? Mereka sekamar denganmu, kan?" tanya (Y/n) sambil mencari keberadaan mereka berdua.
"Mereka bilang mau makan sebentar di kamar." Hoshi mengampiri (Y/n) dengan berlari. "Kenapa hanya bermain di pinggir? Tidak mau berenang?" tanya Hoshi ketika telah sampai di dekat (Y/n).
Mendengar pertanyaan Hoshi, (Y/n) mendadak malu. "I-itu..walaupun aku suka pantai. Tapi, aku tidak bisa berenang. Memangnya di pantai harus berenang?" tanyanya polos.
Hoshi tersenyum singkat, kemudian mengulurkan tangannya pada (Y/n).
"Izinkan aku mengajarimu."
__ADS_1