Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
25. Akhir


__ADS_3

Author pov


Seorang gadis sedang termenung di bawah pohon bunga sakura. Kelopak bunga yang gugur seringkali menempel di rambutnya yang dibiarkan tergerai. Sudah berkali-kali ia menyingkirkannya, tetapi kelopaknya terus saja menjadikan rambutnya sasaran untuk singgah.


(Y/n) menghela napasnya pelan seraya membenarkan tatanan rambutnya. Diusapnya wajahnya yang memerah karena terpaan angin yang lumayan dingin. Ia termenung sebentar sebelum suara berat khas laki-laki membuyarkannya.


"Lama, ya?" tanya Levi yang baru saja datang. Di kedua tangannya sedang membawa dua gelas kopi hangat dari kedai yang baru saja dibuka hari ini. Kopi di tangan kanannya ia beri ke (Y/n).


(Y/n) lantas menggeleng lalu menerina kopinya. "Tidak masalah. Aku sedang memperhatikan bunga sakura yang berguguran."


Levi tersenyum tipis. Tangannya bergerak untuk mengacak rambut (Y/n) yang dipenuhi kelopak bunga.


"Levi!" seru (Y/n) sambil tersungut-sungut. "Rambutku jadi berantakan."


Levi terkekeh, kemudian ia duduk di sebelah (Y/n). Ia berbicara pelan, "Habisnya, hari ini kau terlihat ...." Levi semakin memelankan suaranya, "Cantik."


(Y/n) hampir saja menyemburkan kopi yang baru ia teguk barusan lantaran Levi yang memujinya seperti itu. (Y/n) tersenyum senang pada akhirnya.


Meluluhkan Levi menjadi seperti ini memang sangat sulit. (Y/n) jadi ingat bagaimana sikap Levi pada saat pertama kali bertemu dengannya di rumah. Berbagai macam rintangan dan tantangan pun berhasil dilewati (Y/n) demi tetap bersama Levi.


Levi memang tetap bersekolah di sini, tetapi tidak mudah bagi hubungan keduanya. Dimulai dari banyaknya saingan gadis-gadis yang menyukai Levi atau orang-orang yang ingin tahu kenapa Levi bisa mirip dengan karakter di anime. Banyak sekali.


Namun, seiring waktu berjalan, hal ini sudah seperti keseharian bagi mereka berdua. Masa sekolah mereka telah selesai, kuliah, dan bahkan mereka berdua telah menggeluti minat mereka masing-masing.


Mereka mulai terbiasa dan ikatan di antara keduanya semakin kuat, walau hubungan Levi dan (Y/n) tidak ada kejelasan.


Yang dimaksud tidak ada kejelasan dalam hal ini adalah, (Y/n) dan Levi tidak terikat dalam hubungan apapun. Satu patah kata ajakan untuk menjalin hubungan tidak pernah terucap dari mulut Levi. Yang (Y/n) dan Levi tahu yaitu mereka berdua saling mencintai satu sama lain dan tidak akan berpisah.


"Saat malam festival itu, kau pernah bilang kalau aku adalah milikmu. Tetapi, aku penasaran apakah yang kau katakan saat itu benar-benar sebuah ajakan atau bukan?" tanya (Y/n).


Levi terdiam. Benar juga. "Menurutmu?"


(Y/n) memainkan jemarinya sambil mencuri pandang. "Yah ... kau tahu kalau biasanya ... ada sebuah pernyataan. Dan malam itu, aku benar-benar tidak yakin. Maksudku, itu sudah lewat lima tahun, tetapi aku masih tidak yakin."


"Aku belum menyatakannya dengan benar?"


(Y/n) menggeleng. "Kurasa begitu?"


Levi hanya diam saja. Kemudian ia mengalihkan topik. "Bagaimana pekerjaanmu?"


"Biasa saja," jawab (Y/n) seadanya. Suasana kantor yang membuatnya jenuh telah dirasakannya tiap hari.


Memang, beberapa tahun telah berlalu. Dimulai dari Levi yang telah terbiasa dengan kehidupannya di sini dan perlahan mulai mengejar ketertinggalan kehidupan saat di dunianya. Hingga keduanya telah lulus dari jenjang pendidikan. Mereka berdua kini telah bekerja di bidang masing-masing.


Suatu hari yang telah lalu, (Y/n) pernah menyinggung tentang kecintaan Levi terhadap teh serta keinginannya untuk membuka kedai teh. Hal tersebut membuat Levi kembali mengingat-ingat, apakah benar ia pernah memiliki keinginan yang seperti itu? Maka, setelahnya pun Ichiro langsung mengabulkannya. Dalam sekejap, toko teh milik Levi tahu-tahu sudah dibuka.


Sejak saat itu, Levi bukanlah seseorang yang pengangguran dan hanya bergantung pada penghasilan (Y/n).

__ADS_1


Saat itu juga, Levi memilih untuk tinggal di toko tehnya di lantai dua itu dan berpisah rumah dengan (Y/n).


Mereka memang saling berkunjung satu sama lain di sela kegiatan mereka. Seringkali (Y/n) mampir ke toko Levi untuk bersantai saat pulang kerja. Atau Levi yang mengunjungi kantor (Y/n) saat jam istirahat untuk mengantar makanan, lalu pada sore hari Levi menjemput (Y/n).


Seperti sekarang ini, mereka sedang bertemu di taman untuk saling melepas rindu. Sudah hampir sepekan (Y/n) sibuk dengan pekerjaannya di luar kota sehingga tidak ada waktu untuk mereka bertemu.


"Bagaimana dengan tokomu?"


"Biasa saja," jawab Levi, berniat untuk membalas pada (Y/n). Lalu Levi tertawa karena melihat reaksi (Y/n) yang menggemaskan. Kemudian Levi mencubit kedua pipi (Y/n). "Aku hanya merindukanmu."


Seraya mengerucutkan bibir, (Y/n) menggerutu, "Kau menyebalkan! Tapi, aku juga merindukanmu ...."


Levi melepaskan cubitannya pada pipi (Y/n) dan kembali mengacak rambutnya. Levi bertanya sambil menatap wajah (Y/n), "Wajahmu merah. Apa di sini dingin?"


"Iya, dingin." (Y/n) mengangguk-angguk. Tangannya ia gosok-gosok agar hangat.


Dengan satu gerakan, Levi meletakkan gelas kopi miliknya dan milik (Y/n) di samping, lalu melepas jaket tebalnya dan menyampirkannya di pundak (Y/n). Kemudian, direngkuhnya tubuh mungil itu dari samping agar merasa hangat.


"Bagaimana? Masih dingin?" tanya Levi lagi.


"Tidak! Terima kasih, Levi!" (Y/n) tersenyum senang sambil merengkuh tubuhnya sendiri. (Y/n) mengambil kopinya lagi dan menyeruputnya perlahan.


"Baguslah, kau tidak kedinginan lagi." Levi mengelus rambut (Y/n) dan tidak lagi mengacaknya.


"Kau sekarang mulai perhatian sekali padaku," ujar (Y/n). "Jangan-jangan kau mau mengajakku menikah, ya?"


Levi terbatuk tepat setelah ia menelan kopinya. (Y/n) yang tadinya berniat hanya bercanda pun kaget dan hanya bisa menepuk pundak Levi.


"Seharusnya aku yang bilang begitu," protes Levi. Ia menyeka kopi yang mengalir di sekitar sudut bibirnya. Wajahnya bersemu merah walau sedikit.


Diletakkannya telunjuk di dagunya, (Y/n) kemudian tertawa. "Tapi benar, kan? Dulu kau sangat dingin padaku. Kau selalu menekuk wajahmu dan jarang tertawa."


Memang benar adanya sikap Levi setelah mendapatkan ingatannya kembali saat itu berangsur berubah. Walaupun masih suka berbicara seadanya, Levi lebih menghangat dan perhatiannya lebih ditunjukkan secara langsung.


Hal ini membuat (Y/n) seringkali menggoda Levi. Seperti tadi.


Seru, bukan? Bisa meledek mantan prajurit terkuat di pasukan pengintai?


"Menurutmu bagaimana?" tantang Levi. Matanya menatap lurus pada manik (Y/n). (Y/n) hanya membalas tatapannya sebentar sebelum mengalihkannya pada gelas kopi di tangannya.


"Apanya yang bagaimana?"


Levi memperpendek jarak mereka. Hingga beberapa balon kecil berisi air pecah di wajah dan kepala Levi hingga membasahi rambutnya lalu menetes ke baju.


Levi baru ingin mengumpat sebelum balon lain menyerbu dahinya lagi.


"YO!" seru sang pelaku. Sang pelaku mengibaskan rambut merahnya dengan bangga sambil menaikkan kacamatanya hingga ke dahi. Jarinya membentuk tanda peace.

__ADS_1


(Y/n) yang terkesiap hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Yuu, kau sialan." Levi baru dapat mengumpat setelah mengerjapkan matanya berkali-kali dan mengelap wajahnya dengan lengan baju.


"Apa yang kau lakukan di sini, Yuu?" (Y/n) mendengus lantaran Yuu hanya tertawa puas melihat Levi yang menderita.


"Apa lagi? Tentu saja berkencan sama seperti kalian," sahut Yuu santai. Kemudian, seorang gadis dengan pakaian serba merah muda yang mencolok mengamit tangannya dari belakang. "Oh, kau sudah datang Ai-chan?"


Aichi tersenyum dan menyapa (Y/n) dan Levi, "Halo, (Y/n)! Levi juga! Apa kabar?"


"Kami baik-baik saja," jawab Levi seadanya.


"Aichi!!!" (Y/n) memekik dan menghambur ke pelukan Aichi. (Y/n) juga sudah lama tidak bertemu dengan Aichi karena gadis ini merupakan seorang model sekarang.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?" tanya (Y/n) setelah melepaskan pelukannya. "Pekerjaanmu lancar?"


Aichi mengangguk senang. "Menyenangkan. Tetapi aku juga sering merasa lelah. Jadi, hari ini aku mau kencan dengan Yuu. Hari ini aku sedang tidak ada jadwal. Dan kebetulan kami bertemu dengan kalian, aku jadi tambah senang!"


"Begitu, ya. Menjadi model memang melelahkan!"


"Makanya, kami akan berkencan di sini dan kebetulan kami bertemu dengan kalian." Yuu menyahut. Tangannya mulai berniat melemparkan balon air lagi sebelum Levi memukul kepala Yuu dengan kepalan tangannya. "Aduh!"


"Senangnya bisa bertemu lagi," ucap (Y/n). "Tetapi, aku sudah lama tidak mendengar kabar Sakura dan Hoshi."


Yuu mengangkat kedua bahunya. "Saat kami semua hendak masuk universitas, Hoshi dan Sakura memutuskan untuk bersama. Sepertinya mereka memiliki masa lalu yang harus mereka selesaikan. Terakhir kali, Hoshi memberitahu kalau ia harus pergi keluar negeri. Semoga mereka baik-baik saja. Walaupun Sakura menyebalkan, tetapi dia menjadi sedikit lebiu baik jika bersama dengan Hoshi."


"Ah, aku mengerti. Hoshi juga pernah pamit denganku dan Levi. Tapi, Sakura tidak. Yah, semoga mereka baik-baik saja." Mata (Y/n) menerawang ke langit.


"Aku harap juga begitu," sahut Aichi.


Mereka semua berbincang cukup lama dan menghabiskan banyak waktu di taman. Bernostalgia saat masih satu sekolah dan hal-hal yang terjadi saat masa kuliah.


Tak terasa bagi mereka, matahari perlahan mulai turun dan langit mulai menjingga. Yuu dan Aichi lantas pamit untuk melanjutkan kencan mereka yang tertunda di mall.


"Sampai jumpa lagi, (Y/n), Levi!" pamit Aichi sambil melambaikan tangannya.


"Hei, Om, tolong jaga anak ceroboh ini." Yuu menyentil kening (Y/n) dan tertawa. "Aku tahu kau mau menyampaikan sesuatu padanya. Semoga sukses! Sampai jumpa lagi!"


Setelah saling pamit, akhirnya Yuu dan Aichi pergi meninggalkan mereka berdua di taman.


"Kau mau menyampaikan apa?" tanya (Y/n) yang penasaran.


Levi menatap (Y/n). Wajahnya sedikit memerah ketika mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.


Sebelum menunjukkannya pada (Y/n), Levi menempelkan bibirnya pada pipi (Y/n), kemudian berbisik, "Aku belum pernah menyatakannya dengan benar, kan?"


Karena terkejut, (Y/n) hanya diam saja seraya membalas tatapan Levi.

__ADS_1


Air mata dari pelupuk matanya berhasil lolos lantaran Levi berlutut di hadapannya seraya mengucapkan kalimat yang membuat ribuan kupu-kupu indah di perutnya naik ke atas.


"Aku mencintaimu, (Y/n). Maukah kau melengkapi sebagian hatiku?"


__ADS_2