Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
24. Kejelasan


__ADS_3

Author pov


Levi meneguk teh sekali lagi. Kini mereka berdua telah berada di halaman belakang milik (Y/n). (Y/n) sengaja mengajak Levi untuk menghabiskan waktu untuk bersantai di halaman belakangnya setelah kejadian tadi.


"Kau sudah merasa baikan?" tanya (Y/n).


Levi mengangguk. Kedua matanya menatap langit malam yang dihiasi beberapa bintang. "Terimakasih tehnya."


"Tidak masalah, Levi. Aku bisa membuatkannya lagi untukmu kapan saja."


Dengan perasaan yang lega, Levi tersenyum ketika melihat wajah (Y/n) lagi setelah sekian lamanya. Jeda waktu saat berada di dunia Levi sangat berbeda jika dibandingkan dengan waktu di sini.


"Bagaimana harimu?" tanya Levi.


"Selama kau pergi? Tentu saja aku tidak baik-baik saja," balas (Y/n) sambil menghembuskan napasnya.


"Maafkan aku. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu saat itu."


(Y/n) menggeleng. "Tidak. Kau mengambil keputusan yang benar, Levi. Lagipula, sebelum kau kembali lagi, tubuh inilah yang menemaniku."


"Tubuh ini?" Levi bertanya karena bingung.


"Benar! Setelah kau pergi, Nii-chan membuat kau yang masih berada di bawah tanah datang ke duniaku. Dia yang menemaniku di saat kau tidak ada. Tapi, dia sangat berbeda denganmu. Dia tidak memiliki ingatan atau kenangan saat bersama denganku. Walau begitu, kau tetaplah kau. Kau tetap Levi Ackerman yang selalu kutunggu."


Levi hanya mendengarkan penjelasan (Y/n). Walaupun bingung, Levi tetap menyimak sambil sesekali tersenyum tipis.


"Aku tidak mengerti, tapi kau selalu menungguku? Walaupun diriku yang lain tidak memiliki semua ingatan itu?"


"Tentu saja!" (Y/n) mengangguk senang. "Aku selalu menunggumu. Bahkan, saat kau memanggilku tadi dengan sebutan itu, aku merasa bingung sekaligus bahagia. Kau sudah kembali."


"Terimakasih ...."


Setelah Levi mengatakan itu, tak ada lagi percakapan di antara mereka berdua selama beberapa menit. Udara malam yang dingin di halaman belakang memaksa (Y/n) untuk meniup telapak tangannya agar terasa hangat.


Kemudian gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie yang sedang dipakainya.


"Sepertinya, hanya ingatanmu saja yang kembali, bukan?" ucap (Y/n) untuk membuka obrolan mereka. "Kalau begitu, apa yang terjadi dengan tubuhmu di sana?"


"Aku tidak tahu .... Seingatku, aku sedang melaksanakan tugasku di sana." Levi menunduk sembari mengatur ekspresinya. "Kenapa kau tidak bertanya saja pada kakakmu?"


(Y/n) menjeda sesaat, kemudian ia menepuk keningnya. "Oh, kau benar!" serunya. "Tapi, sebelum itu aku ingin bilang kalau—"


Karena (Y/n) tidak meneruskan ucapannya, Levi langsung bertanya, "Kalau apa, bocah?"


Kemudian, (Y/n) tersenyum sebelum ia mengecup pipi kanan Levi yang mengakibatkan wajah lelaki itu sedikit memerah karena terkejut. Setelah itu (Y/n) kembali tersenyum lebar untuk meledek Levi.


"Kalau aku sangat merindukanmu!" (Y/n) berseru. "Wajahmu merah!"


Karena gemas, Levi langsung menarik tubuh (Y/n) ke dalam dekapannya dan mengelus kepala gadis itu.


"Tch. Aku ... juga merindukanmu."


...***...


Reader pov


Keesokan harinya setelah pulang sekolah, aku dan Levi mengunjungi rumah Nii-chan untuk bertanya padanya. Kami membawa beberapa makanan ringan untuk Petra dan Nii-chan sebagai oleh-oleh.

__ADS_1


Sesampainya di sana, kami disambut oleh senyuman hangat Petra. Petra kemudian mengajak kami untuk masuk ke dalam dan menunggu Nii-chan. Petra bilang, kalau Nii-chan sedang bekerja dan kami harus menunggu sampai selesai.


"H-heichou, bagaimana kabarmu?" tanya Petra.


Semalam, Petra dan Nii-chan sudah kuberitahu tentang keadaan Levi yang sekarang. Maka dari itu, Nii-chan memintaku untuk datang hari ini dan akan menjelaskan semuanya padaku. Tidak heran jika sekarang Petra bertanya tentang kabar Levi.


"Aku baik-baik saja." Levi menjawab.


"Yang ... lain? Bagaimana kabar yang lain?" Petra kembali bertanya. Suaranya bergetar.


Levi tidak menjawab selama lebih dari lima menit. Aku juga mengikutinya, aku juga diam dan tidak mengatakan apa-apa. Memang, banyak yang terjadi. Banyak yang ... sudahlah, tidak usah dipikirkan. Levi sudah memilih jalannya sendiri.


Setelah lama dilanda keheningan, akhirnya Nii-chan muncul dari ujung tangga. Tangannya melambai ke arahku dan tersenyum lebar. Sudah berapa lama aku tidak mengecek keadaannya?


"(Y/n)! Aku merindukanmu! Bagaimana kabarmu?" tanyanya ketika telah memelukku dengan erat hingga aku merasa sesak.


Aku terkekeh. "Yah, aku baik-baik saja."


"Baguslah. Aku senang mendengarnya."


Setelah itu Nii-chan dan kami berbincang-bincang sebentar mengenai kehidupanku. Sementara Petra mengerjakan urusan dapurnya, kemudian ia kembali dan membawakan minuman untuk kami.


Nii-chan terlihat sangat lelah jika dilihat dari kantung matanya. Pasti dirinya bekerja dengan sangat keras di dalam ruang kerjanya. Entah apa yang dilakukannya, aku tidak tahu. Pasti itu sangat rumit dan—aneh.


Levi terlihat lega dan nyaman saat berbicara dengan Nii-chan walaupun wajahnya masih tampak datar. Aku senang melihatnya. Semoga Levi selalu bahagia.


"Jadi, pasti kalian bingung kenapa Levi mendapatkan ingatan Levi yang sudah lama kembali ke dunianya bukan?" Nii-chan membuka topik yang ingin kuketahui tanpa diminta. Ia menjelaskan, "Aku bekerja keras setelah Levi yang lama kembali. Kau ingat saat aku memberikan sebuah jam atau semacam gelang di tangan Levi? Aku membuatnya untuk menampung ingatan Levi di sana dan kusimpan ke komputerku. Setelah semuanya kurasa telah cukup, aku menghapus ingatannya di sana dan memasukkannya ke dalam Levi yang sedang duduk di sebelahmu sekarang. Dan kurasa, ingatan itu baru muncul di otaknya sekarang."


Aku melongo sementara sebelum mendapat secercah ide untuk bertanya, "Kapan Nii-chan memasukkan ingatannya kepada Levi?"


"Sebelum dia menginjakkan kakinya di dunia kita," ujar Nii-chan, telunjuknya mengarah ke Levi. "Aku sudah memasukkannya bersamaan. Setelah itu, dia baru muncul lewat komputermu–sama seperti dulu."


"Masalah itu sudah beres!" Nii-chan mengacungkan jempolnya seolah ia baru saja mengerjakan pekerjaan dengan sempurna. "Aku menghapus ingatannya, kau tahu? Aku tidak menghapusnya begitu saja, ingatan itu sudah pindah ke dalam otakmu sebelum aku menghapusnya. Itu berarti Levi yang ada di sana tidak akan mengingat satu memori pun tentang semua ini. Dia akan terus melanjutkan hidup dan tugasnya sampai tuntas. Itu tidak akan mengganggu jalan ceritanya. Akhir yang bagus, bukan?"


Aku sangat sangat sangat tertegun. Tidak ada satupun yang dapat mengalahkan ekspresiku saat ini. Aku sendiri tidak dapat mengetahui ekspresi yang kubuat sekarang.


Hingga, aku menyadari—kalau Nii-chan sangat menyayangiku. Di saat aku mati-matian membencinya saat dirinya mengembalikan Levi, Nii-chan sedang mengusahakan akhir yang baik untukku. Aku membenci Nii-chan karena mengira kalau dia membenciku juga. Kenyataannya adalah Nii-chan sangat menyayangiku melebihi rasa sayangku padanya.


Aku mau menangis saat melihat wajah lelahnya. Wajahnya menampilkan kerutan halus di sekitar matanya yang terlihat sayu dan lelah. Tangannya terlihat gemetaran saat hendak menggapai cangkir teh di meja, menandakan kalau ia sangat kelelahan. Nii-chan rela bekerja sekeras ini hanya untukku–untuk kehidupanku. Nii-chan juga bekerja keras untuk menghidupi adik satu-satunya yang bahkan tidak tahu terima kasih ini.


Aku malah ... membenci diriku sekarang. Aku malu jika harus menatap Nii-chan. Aku kekanak-kanakan sekali.


"(Y/n) ..." panggil Nii-chan lembut. "Aku sangat menyayangimu. Aku tidak benar-benar membencimu, (Y/n). Maafkan aku."


Kemudian air mata yang mati-matian kutahan agar tidak jatuh akhirnya membanjiri kedua mataku, lantaran Nii-chan menghampiriku dan mengelus kepalaku.


"Nii-chan, maafkan aku. Aku yang salah. Aku tidak mengerti perasaanmu. Kau berjuang sendiri sedangkan aku hanya bisa membencimu dari jauh."


"Tidak ... tidak ... kau tidak salah. Kau melakukan hal yang benar." Nii-chan memelukku. "Sudah ... jangan menangis, ya? Levi sudah kembali masa kau hanya mau menangis? Ayo, peluk dia."


Aku hanya memukul pelan dada bidangnya hingga ia tertawa pelan. Aku memandangi Levi yang duduk di sebelahku. Levi tersenyum tipis melihat interaksiku dengan Nii-chan, seakan dirinya ikut merasa bahagia.


Kurasa inilah akhir yang baik bagi semua orang. Bagiku, dan juga Nii-chan.  Kami dapat menyelesaikan kesalahpahaman di antara kami, aku sangat bersyukur sekali.


Aku sangat bahagia sekarang. Setelah beberapa masa sulit yang telah kulewati, akhirnya aku memetik akhir yang bahagia. Aku menginginkan ini sejak lama. Alasan aku selalu membenci Nii-chan adalah agar aku masih dapat merasakan ikatannya. Aku memang membencinya, tapi tidak dapat dipungkiri kalau aku masih menyayanginya dan menginginkannya untuk menjemputku.


Kami bercerita banyak setelahnya. Merekatkan hubungan kami yang agak merenggang di waktu sebelumnya.

__ADS_1


"Omong-omong, apa Yuu baik-baik saja?" tanya Nii-chan.


Aku mengangguk. "Hari ini dia pergi bersama Aichi ke taman hiburan setelah pulang sekolah. Mereka pacaran, Nii-chan." Aku terkikik.


Nii-chan tersenyum. "Dia sudah berubah. Dia sudah melepaskanmu, ya .... Itu bagus, aku kasihan padanya."


"Ah ... itu benar." Aku hanya bisa menyetujuinya karena mengetahui arah pembicaraan ini.


Aku memang tahu kalau Yuu menyimpan rasa padaku sejak lama. Namun, aku tidak mau menerimanya. Aku tidak mau menerima rasa dari sahabat yang selalu ada di sampingku. Aku memang menyayanginya, dan rasa sayangku padanyalah yang membuatku ingjn menjaga hubungan kami agar tetap seperti ini dan tidak merenggang.


Aku ingin Yuu mendapatkan kebahagiaannya. Aku tidak mau merusak hubungan yang telah kami bangun sejak lama. Hubungan yang aku hargai. Hubungan yang selalu menenangkan hatiku. Aku tidak mau merusaknya hanya karena perasaan egoisnya semata. Aku tidak bisa mencintainya melebihi hubungan persahabatan ini. Hubungan persahabatan lebih melekat pada kami. Aku tidak mau memutusnya begitu saja.


Terlebih, aku sudah mempunyai orang yang memang sudah kupilih untuk ikatan yang tidak bisa kulakukan dengan Yuu. Aku mencintai Levi.


Jangan berpikir kalau aku memang tidak peka dan hanya tidak mempedulikan Yuu. Aku bahkan sempat memiliki rasa padanya! Namun, kutelan rasa itu karena aku bukan menginginkan hubungan yang seperti itu. Aku hanya menjaga perasaan Yuu. Aku hanya menjaga ikatan persahabatan kami.


Aku senang sekarang. Yuu telah menemukan Aichi. Walaupun awalnya Yuu tidak menyukainya, tapi akhirnya Yuu menyadari betapa tulusnya Aichi padanya. Yuu menerimanya dengan tulus juga. Berusaha menjaga Aichi tanpa merusak persahabatan kami. Kesalahpahamanku dengan Aichi juga perlahan telah kami selesaikan.


Setelah puas aku menyenangi hidupku bersama Nii-chan, aku dan Levi pamit untuk pergi. Nii-chan sangat sedih karena aku akan pulang dan meninggalkannya. Bahkan, Nii-chan memaksaku untuk menginap di rumahku. Tetapi, Petra menarik Nii-chan yang mendekapku erat agar aku tidak kemana-mana.


"Sudahlah Ichiro, kita akan mengunjunginya di lain waktu," kata Petra, tangan kirinya menjitak kepala Nii-chan yang merepotkanku. Kemudian ia menoleh ke arahku. "Ya, kan, (Y/n)?"


Aku hanya mengangguk. Hingga akhirnya aku dan Levi dapat keluar dari rumah Nii-chan.


"Mau ke taman?" tanyaku pada Levi yang sedang mengamit tanganku.


"Iya." Levi menjawab, "Ayo kita ke sana."


Aku tersenyum. Levi menggenggam tanganku erat sekali di sepanjang perjalanan. Sesekali aku memandangi wajahnya dari samping. Matanya yang menatap tajam ke depan, rambut undercutnya yang selalu membuatku ingin menyentuhnya, dan raut wajah datarnya yang selalu kurindukan. Aku menyukai semua hal yang dimilikinya.


Aku merasa beruntung bisa bersamanya hingga saat ini. Walau terasa sulit dan sangat tidak mungkin pada awalnya, tapi akhirnya kami dapat hidup bersama dan bahkan Levi sangat menyukaiku. Aku sangat bersyukur.


"Mau beli es krim dulu?" tawarku ketika melewati minimarket.


Levi mengangguk.


Kubeli dua es krim rasa cokelat dan kuberikan kepada Levi satunya. Kami menyantap es krim dalam perjalanan menuju ke taman.


Cuaca yang sedikit terik membuatku mengeluhkan betapa merepotkannya jika aku berkeringat pada Levi. "Panas sekali! Seharusnya aku tidak memakai baju luaran. Lagipula baju ini tidak cocok dengan seragamku."


"Tidak. Kau ... cantik dengan itu," bisik Levi.


Aku yang mendengarnya langsung terlonjak senang dan langsung mendekap lengannya.


"Benarkah? Aku cantik?"


"Ya, sangat cantik."


"Hehehe, kau juga tampan Levi! Entah apa yang dilakukan para penggemarmu jika mengetahui bahwa kau adalah Levi sungguhan." Aku mengeluh, "Mungkin, orang-orang yang menonton ceritamu akan menganggap kalau kau sangat mirip dengan karakter di dalamnya tanpa menyadari kalau kau adalah orang yang asli. Hahaha!"


"Mungkin, mereka semua tidak akan berpikir sejauh itu. Tenang saja."


Aku mengangguk bersemangat, kemudian aku langsung cemberut karena mengingat sesuatu. "Iya! Tapi, tetap saja orang yang menganggapnu tampan dan ingin mendekatimu banyak! Sakura adalah salah satunya yang kuketahui tetap mengejarmu walau dia tahu kalau kau tidak menyukainya!"


Kemudian, saat aku mengoceh panjang lebar padanya, Levi menghentikan langkahnya.


Dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipiku.

__ADS_1


Levi berbisik, "Aku hanya mencintaimu, (Y/n)."


__ADS_2