Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
22. Yang Sebenarnya


__ADS_3

Author pov


Ketika bangun, (Y/n) merasakan pusing di kepalanya. Entah gadis itu masih setengah sadar atau tidak, tetapi ia tak melihat ada orang lain di kamarnya. Namun, saat sudah sepenuhnya sadar, (Y/n) melihat Yuu yang sedang duduk di lantai.


"Yuu? Kenapa kau duduk di lantai?" tanya (Y/n) yang sudah duduk.


Yuu terkejut melihat (Y/n) yang sudah sadar. Kemudian lelaki itu langsung bangun menubruk (Y/n).


"Bodoh!!!" katanya. "Kau itu telat makan! Makanya kau bisa pingsan!"


Karena sesak, (Y/n) langsung mendorong Yuu dengan sangat kuat sampai-sampai Yuu hampir terjungkal ke lantai.


"Ah, maaf. Habisnya jatah untuk makanku tidak tau ada di mana, dan cemilanku habis ...." (Y/n) menggaruk pipinya.


Yuu hanya bisa menggeram kesal.


"Sudahlah! Aku sedang kesal, lebih baik kau makan saja, aku dan Hoshi membeli bahan makanan tadi, lalu aku membuatnya untukmu." Yuu mengambil makanan yang memang sedaritadi sudah tersedia di atas nakas.


"Wah! Kau membuatkanku sup? Terimakasih, Yuu."


Dengan lahap (Y/n) menyantap sup buatan Yuu sampai habis tak tersisa. Kemudian ia mengambil air dan meneguknya, lagi-lagi habis dengan cepat. Tampaknya ia sangat kelaparan.


Setelah beberapa saat, wajah (Y/n) sudah tak sepucat sebelumnya. Memang benar, (Y/n) belum makan yang benar selama semalaman, bahkan dari kemarin dan sejak permainan di mulai. Ia hanya meminum susu hangat sedikit ketika acara api unggun dan es krim setelahnya.


"Kau sudah terlihat baik," ucap Yuu sambil membereskan peralatan makan.


"Ya!" sahut (Y/n) senang. "Omong-omong, di mana Levi?"


"Oh? Si pendek itu? Dia sedang melabrak Sakura bersama Aoi dan Yami." Yuu membesar-besarkan kata 'labrak' sambil mendengus sebal.


Mata (Y/n) melebar. "Lho? Ada apa dengannya?"


"Kau tak sadar? Dialah yang membuang jatah makananmu! Itulah alasanku sangat kesal tadi!"


(Y/n) berpikir, apakah benar? Ia kira makanannya memang sudah habis dan tak tersisa untuk (Y/n). Apakah benar Sakura seperti itu? Kenapa Sakura melakukan hal itu?


"Jangan," larang Yuu yang menghentikan langkah (Y/n), karena gadis itu ingin kabur dan menghampiri Sakura.


"T-tapi, Yuu ... aku ingin menghampiri Levi, tidak baik membentak anak perempuan seperti itu," bela (Y/n). "Walaupun sebenarnya aku juga sedikit kesal padanya."


Sedetik kemudian, suara berat seperti suara khas laki-laki terdengar dari depan pintu kamar yang terbuka.


"Tch, kau pikir aku akan melakukan hal merepotkan seperti itu?" tanya suara lelaki itu yang kemudian berdiri di depan pintu kamar, ternyata ia Levi.


"Kau dari mana, Levi?"


Levi menyilangkan tangannya di depan dada. "Dari luar."


(Y/n) hanya meringis karena mendengar jawaban Levi.


"Kukira kau akan membentak Sakura." Yuu berkata sambil menghampiri Levi. "Bawa alat makan ini ke dapur, kau hanya diam saja daritadi."


"Tch, kau saja." Levi membalas sambil menjauhkan langkahnya dari Yuu, kemudian menghampiri (Y/n). "Kau mau ke luar villa?"


"Hei! Jangan mengajaknya, dia pasti masih pusing." Yuu protes.


(Y/n) tertawa. "Tidak apa-apa, Yuu. Aku sudah baik-baik saja."


Setelah memandangi wajah (Y/n) cukup lama, Yuu langsung pergi ke luar tanpa mengucapkan apa-apa. Sepertinya mereka sudah mendapatkan izin darinya.


"Ya, kau memang bodoh," kata Levi tiba-tiba sambil mendorong kening (Y/n).


"Aduh! Kenapa kau mengataiku bodoh?!"


Levi hanya menatap (Y/n) dengan sorotan mata dinginnya seperti biasa. "Tidak, lupakan."


Levi berbalik dan berjalan menuju pintu. Kemudian ia menoleh. "Kau mau ikut atau tidak?"


"Mau!"


...***...


"Kau tidak kesal?" tanya Levi.


(Y/n) menoleh karena Levi yang tiba-tiba bicara padanya saat ia sedang memungut daun di tanah.


"Kesal dengan siapa? denganmu?" canda (Y/n)


Levi hanya memandangi wajah (Y/n) dengan wajahnya yang terlihat dingin. (Y/n) menelan salivanya dengan kasar. Sepertinya Levi sedang serius dan tidak mau diajak bercanda untuk saat ini.


"A-Ah, dengan Sakura, ya?" kata (Y/n). "Aku kesal dengannya. Kau tau kenapa? Karena dia selalu dekat-dekat denganmu!"


Setelah berkata seperti itu, (Y/n) cemberut.


"Dia yang membuang makananmu, kau tau itu?" Levi menjawab dan langsung duduk di samping (Y/n) sambal menyilangkan tangan di depan dada.


"Ya, aku tau," balas gadis itu. "Mungkin, dia juga kesal denganku, tapi aku khawatir Yuu akan melakukan sesuatu padanya."


Levi menaikkan sebelah alisnya. "Melakukan apa maksudmu?"


"Seperti menghajar Sakura? Hahaha."


"Kau tau itu tidak lucu," sinis Levi.

__ADS_1


(Y/) hanya tertawa menanggapinya.


"Sakura menyatakannya padamu, bukan?" tanya (Y/n). "Tentang perasaannya."


"Ya," jawab Levi.


"Lalu? Kau bagaimana?"


Levi mengangkat kedua bahunya. "Tentu saja aku menolaknya."


"Kau, sih, menolak Sakura. Aku jadi kena imbasnya dan pertemananku dengan Sakura sudah retak sekarang," canda (Y/n) sambil memukuli pundak Levi sembari tertawa.


"Memangnya kau mau kalau aku menerimanya?"


Gadis itu terdiam sebentar. Levi tidak serius kan?


"Tidak seperti itu juga, Levi."


"Tch."


Kemudian (Y/n) menyandarkan tubuhnya di bangku taman. Hanya berdua saja dengan Levi memang membuat dirinya merasa bahagia. Gadis itu juga sempat berpikir bahwa Levi sedang menghiburnya sekarang. Cara apapun yang dilakukan Levi memang mampu membuat dirinya merasa senang dan melupakan apa yang terjadi di antara dirinya dengan Sakura.


"Sakura itu anak yang baik," ujar (Y/n). "Mungkin, ia tidak sengaja melakukan itu."


"Baik? Kau gila, ya? Dia itu sengaja." Yuu tiba-tiba datang sambil mengomel.


"Eh, Yuu. Kenapa kau datang?! Kau menggangguku dengan Levi!"


"Kau jahat sekali, (Y/n). Aku padahal mau memberikanmu ini," kata Yuu sambil menyerahkan beberapa cemilan.


"T-terimakasih, Yuu."


(Y/n) menerima cemilan pemberian Yuu dan kemudian langsung membuka bungkusnya dan memakannya. Yuu tetap berdiri memandangi (Y/n) yang sedang makan dan tidak beranjak dari tempatnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuu.


Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap mata Yuu. Kemudian ia mengangguk. "Iya. Aku sudah sehat sekarang."


"Bukan itu maksudku. Kau baik-baik saja dengan Sakura? Kalau tidak biar aku yang bicara padanya."


"Tidak perlu. Kalau dia mau bicara padaku silahkan saja." (Y/n) menjawab dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Kau yakin? Tapi aku akan tetap bicara padanya, dadah!" Yuu langsung kabur setelah bicara begitu dan hal ini membuat (Y/n) merengut dan heran dengan sikap sahabatnya itu.


"Tidak apa-apa," ucap (Y/n) ketika ia melihat Levi yang terus-terusan melihat ke arah Yuu pergi.


"Apa?"


"Tetap saja aku juga tak selalu ada di sampingmu." Levi menjawab dengan pelan.


"Aku tidak peduli. Aku akan membuatmu tetap ada di sini."


"Kalau ada masalah, kau bisa bilang padaku." Kali ini suaranya semakin pelan.


(Y/n) tersenyum. Mungkinkah Levi peduli padanya? Sementara itu (Y/n) menyodorkan cemilan kepada Levi dan lelaki itu ikut memakannya.


"Apa ini?" tanya Levi yang menyomot satu keripik kentang dari bungkusan yang disodorkan (Y/n).


"Coba saja makan."


Kemudian Levi langsung memakannya sekali suapan. Kedua matanya melebar. Sepertinya ini adalah kekuatan dari cemilan kesukaan (Y/n).


"Enak." Levi berkomentar.


"Kau mau lagi?" (Y/n) menawarkan keripik kentang itu lagi pada Levi. Namun, bedanya adalah sekarang (Y/n) bertingkah seperti ingin menyuapi Levi.


Levi hanya mengerutkan kedua alisnya bingung. "Sedang apa kau?"


"Buka saja mulutmu cepat." (Y/n) memerintah.


Lelaki itu menurut, ia pun membuka mulutnya dan (Y/n) segera menyuapi Levi dengan keripik kentang itu.


Di sela kunyahannya, Levi merasakan bahwa ada sesuatu yang salah. Levi berpikir kenapa dirinya mau saja menurut pada perintah gadis yang saat ini sedang asyik menikmati makanannya dengan senang.


"Tch." Levi memalingkan wajahnya.


...***...


"M-maaf!" seru gadis yang sekarang ini sedang menundukkan kepalanya. Ia merasa takut untuk menatap wajah laki-laki yang saat ini sedang melayangkan tatapan yang mengintimidasi.


"Jadi, benar kau yang melakukannya? Kau yang membuatnya jadi seperti itu?" Lelaki itu menekankan setiap kata-katanya. "Kenapa kau melakukan hal yang bodoh seperti itu, hm?"


"Maafkan, aku," ucap gadis itu lagi. Mungkin, hanya kata-kata itulah yang bisa dikatakannya sekarang.


Selang beberapa menit keadaan senyap, akhirnya lelaki itu menetralkan ekspesinya. Sambil menghela napas, ia menepuk kepala gadis yang sedang menunduk di hadapannya.


"Sudahlah," Lelaki itu tersenyum. Sedangkan gadis itu hanya terkejut dengan perlakuannya. "Tapi, tidakkah kau mengingatku, Sakura?"


"Aku tidak tau kenapa kau bersikap seperti ini padaku, Hoshi. Padahal kau hanya murid baru di kelas kami."


Hoshi memejamkan matanya. "Ternyata kau melupakanku."


"Aku bukannya melupakanmu. Hanya saja kita ini memang baru saling mengenal semenjak kau pindah ke sekolah kami. Ada apa denganmu? Apa kau salah orang?" Sakura bertanya-tanya.

__ADS_1


Hoshi menggeleng. "Tidak. Aku bukannya tidak mempunyai alasan untuk melakukan ini. Aku mencarimu dan keberuntungan berpihak padaku, aku menemukanmu di sekolah baruku."


Kepala Sakura semakin sakit dibuatnya. Gadis itu sangat bingung akan perlakuan Hoshi. Memang semenjak Hoshi menjadi anak pindahan di kelasnya, lelaki itu sudah sangat aneh. Ia terus-terusan memperhatikan Sakura. Puncaknya adalah saat kebetulan sedang berlibur di pantai sekarang ini.


"Kenapa kau tidak menjelaskannya saja padaku? Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu, Hoshi."


Hoshi menatap Sakura cukup lama sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Sakura. Sebelum benar-benar hilang dari pandangan Sakura, Hoshi mengatakan, "Kau mulai menyukai laki-laki pendek itu, ya? Jangan melakukan hal yang tidak baik pada (Y/n). Sebaiknya lupakan saja soal dia, tidakkah kau sadar? Dia tak menyukaimu, tapi aku. Cobalah mengingat."


...***...


Sakura pov


Aku hanyalah gadis yang sederhana. Aku tak membutuhkan sesuatu yang lebih, aku juga merasa cukup dengan semua yang ada padaku. Dikelilingi orang yang baik saja aku sudah sangat senang.


Tak perlu bersedih, aku masih bisa berteman dengan siapapun di sekolahku. Aku mempunyai teman yang kukenal saat berada di kelas dua, namanya (Y/n).


Dia adalah gadis yang baik. Dia selalu tersenyum dan selalu mengajakku untuk ke kantin bersama. Ia juga mempunyai dua sahabat, kadang aku iri padanya karena mempunyai sahabat yang selalu ada untuknya kapanpun.


Selagi aku berbicara dengannya bahwa aku iri padanya, (Y/n) mengatakan, "Jangan khawatir, aku kan masih bisa berteman denganmu!"


Seolah dia mengatakan seperti itu untuk menyemangatiku, tapi aku senang dan merasa sangat beruntung memiliki teman sepertinya.


Omong-omong soal teman, sebenarnya aku mempunyai teman dekat saat aku masih kecil. Mungkin, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Bahkan saat kedua orang tuaku berpisah pun ia selalu menyemangati dan menghiburku. Hanya itu yang kuingat. Namun, saat aku mencoba mengingat seperti apa rupanya, kepalaku sakit sekali. Jadi, kuputuskan untuk tidak mengingatnya lagi.


Aku dan (Y/n) tetap sekelas ketika naik ke kelas tiga. Aku sangat senang karena bisa sekelas dengannya lagi. Walaupun aku masih memiliki teman yang lain, tetapi (Y/n) berbeda.


Semua itu dimulai saat anak pindahan bernama Hoshi datang. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tetapi lama-lama Hoshi mulai mengobrol denganku dan selalu menyinggung soal sesuatu yang membuat kepalaku sakit.


Ia terus-terusan menanyakan apakah aku mengingatnya atau tidak. Mana aku tau? Padahal ia adalah murid baru dan tentu saja aku tak mengenalnya. Lupakan soal Hoshi sebentar. Beberapa hari kemudian datanglah salah satu murid baru lagi, namanya Levi, katanya. Kenapa banyak sekali murid baru yang datang?


Oh, dia tampan .... Aku suka saat dia menyuruh seisi kelas diam dan memperhatikan aku yang sedang menjelaskan tentang liburan ke pantai dekat villa milik keluargaku.


Aku jadi lebih sering memperhatikan Levi. Aku ingat bahwa Levi dan (Y/n) sering datang bersama ke sekolah, jadi kusimpulkan jika mereka berdua adalah teman dekat. Aku jadi lebih mudah untuk mendekati Levi.


Masalahnya, saat aku bertanya pada (Y/n) tentang Levi, ia seakan tak menyukainya. Apa (Y/n) menyukai Levi juga? Sejujurnya, aku juga iri saat Levi berbicara cukup banyak padanya, sedangkan Levi tak suka jika aku yang mengajaknya bicara. Aku sedih.


Aku juga membuat Levi berpasangan denganku saat liburan di pantai, dan aku memasangkan Hoshi dengan (Y/n) saja agar lelaki itu tidak menggangguku lagi. Aku sangat bingung ketika Hoshi terus saja bertanya hal yang tak kumengerti. Lagipula aku ingin lebih dekat dengan Levi.


Dan mungkin aku akan menyatakan perasaanku pada Levi!


Tapi ....


"Aku ... Aku menyukaimu!"


Levi hanya diam pada awalnya, tapi kemudian Levi menjawab, "Untuk apa?"


Aku menatapnya bingung. "Kau juga menyukaiku, bukan? Karena kau merasa senang saat berpasangan denganku."


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Levi bertanya lagi.


"Jadi, bisakah kita mulai ... menjadi pasangan yang sebenarnya? Karena aku ... menyukaimu."


Kemudian Levi membuang wajahnya ke arah lain sebelum meninggalkanku. Sebelum itu ia menjawab, "Tidak, aku sudah menyukai orang lain."


Aku hanya bisa menunduk sedalam-dalamnya. Sebentar lagi langit mulai gelap. Malam akan tiba dan aku harus pergi dari pantai, tapi kenapa aku tidak mau beranjak?


Tak terasa air mataku jatuh. Aku menangis di saat tak ada orang di sampingku. Apakah Levi membenciku?


Setelah menenangkan diri, aku kembali ke villa dan membersihkan diri. Saat persiapan acara api unggun, aku duduk di dekat api unggun yang sedang dinyalakan oleh anak laki-laki. Setelah api unggun menyala, Hoshi duduk di sebelahku.


"Kau habis menangis?" tanyanya.


Aku menggeleng lemah.


"Mau kubuatkan minuman hangat?" Hoshi bertanya lagi.


"Tidak perlu. Terimakasih Hoshi."


Hoshi menatapku. Kemudian ia bangkit dan pergi tanpa mengatakan apa-apa. Aku hanya memperhatikan punggungnya, Hoshi pergi ke arah tempat makanan dan minuman yang sedang dipersiapkan oleh teman-teman yang lain.


Setelah itu Hoshi menunjukkan dua buah gelas di tangannya dari sana. Aku bisa melihat samar-samar ia mengatakan, "Susu atau teh?"


Aku tersenyum dan menjawab, "Teh."


Tak lama, Hoshi telah kembali dan membawa dua gelas teh di tangannya. Ia memberikan gelas satunya padaku dan meminum teh di gelas yang lain. Aku pun menerima teh pemberiannya dan meminumnya.


"Kenapa kau menangis? Kau habis ditolak?"


Aku tersentak. "Apa pedulimu?"


Hoshi menyeruput tehnya lagi. "Tentu saja aku peduli."


Aku hanya diam. Lagi-lagi Hoshi mengatakan hal yang aneh lagi, tetapi aku tak menjawabnya. Aku hanya diam dan tatapan mataku beralih ke arah Levi dan (Y/n) yang sedang berjalan bersama menuju ke kursi yang agak jauh dari api unggun. Mereka sedang mengobrol. Bahagia sekali mereka.


Tiba-tiba Hoshi meghela bapas panjang. "Memikirkan apa?"


Aku tak menjawab. Aku hanya sibuk dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Tadi sore saat aku melaksanakan tantangan itu, aku melihat Levi sedang memegag pipi (Y/n) di pantai. Levi juga sangat nyaman saat berbicara dengan (Y/n), berbeda ketika saat bersama denganku.


Mungkinkah orang yang disukai Levi adalah (Y/n)?


Aku semakin menunduk dan meremas kuat-kuat gelas yang kupegang.


Sepertinya ... aku membencinya.

__ADS_1


__ADS_2