
Ini sesak. Aku berada di suatu tempat yang gelap dan aku tak bisa melihat apapun. Tidak ada apapun di sini, tidak ada seseorang, tidak ada ....
Sedetik kemudian, aku membuka mataku. Kini berada di dalam kamar, ini adalah kamarnya. Aku tertohok, tidak ada siapa-siapa lagi. Aku berlari mengelilingi semua tempat ini untuk mencarinya.
Namun, tidak ada.
Aku bahkan belum sempat memeluknya lagi.
Bagaimana ... ini?
Author pov
Kicauan burung mulai terdengar di dalam kepala (Y/n) yang sedang terlelap. Sementara itu matahari telah menampakkan diri dengan indahnya. (Y/n) tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Levi yang memanggilnya.
"Argh!" (Y/n) mengerang karena kepalanya terasa sakit.
"Hei, bangun," kata Levi sembari menepuk pundak (Y/n). "Apa itu di sakumu? Benda itu berisik sekali."
Seketika (Y/n) langsung membuka matanya, ia merasa sedikit pusing dan kepalanya terasa berat. Kemudian (Y/n) merogoh sakunya dan matanya langsung melotot dan terkejut ketika melihatnya. Ini adalah ponselnya.
(Y/n) merasa kaget bukan karena lantunan alarm yang berbunyi sedaritadi hingga Levi mengoceh karena berisik, melainkan di ponselnya sudah terpampang jelas sebuah ancaman yang lebih mengerikan lagi.
1000 missed calls from Yuu Jelek
"Astaga, mati aku." (Y/n) langsung mematikan layar ponselnya.
"Ada apa? Apa benda itu akan meledak?" tanya Levi yang kebingungan.
(Y/n) segera menggeleng dan tertawa. "Ini ponselku. Aku lupa kalau aku membawa ponsel hahaha ...."
Levi menaikkan alisnya bingung.
"Kalau aku bawa ini, seharusnya kita bisa menelepon Sakura atau yang lain, jadi kita bisa cepat pulang." (Y/n) menjelaskan. "Tapi, aku lupa kalau aku membawa ponsel dan sekarang Yuu telah menerorku hahaha ...."
"Dasar bodoh," jawab Levi. "Semalam kau malah bercerita banyak."
Mendengar itu (Y/n) cemberut. Siapa yang menyuruhnya untuk bercerita banyak?
"Tapi kau yang menyuruhku!" kata (Y/n) sambil memukuli pundak Levi.
Levi tak menghindari pukulan di pundaknya. Ia malah tersenyum tipis menanggapi itu. Karena itu pula (Y/n) langsung tertawa senang. Gadis itu suka kalau Levi sedang tersenyum.
"Lalu bagaimana?" tanya Levi.
Masih dengan mengotak-atik ponselnya, (Y/n) mengoceh, "Aku akan mati jika sampai di villa nanti, mari kita berdoa terlebih dahulu."
"Sebentar," kata Levi sambil berjalan mendekati pinggir jurang. (Y/n) yang melihat itu langsung berteriak memanggilnya dengan nyaring sekali, membuat telinga Levi sampai berdenging. "Astaga, telingaku."
"Jangan dekat-dekat jurang! Kau nanti jatuh!" (Y/n) meneriakinya lagi.
Levi tak menjawab teriakan (Y/n) dan tetap berjalan mendekatinya. Kemudian Levi memetik bunga yang memiliki warna indah dengan tangan kanannya. Setelah itu ia kembali berjalan menjauhi jurang dan memberikan bunga hasil 'panen'nya kepada (Y/n).
"Indah, kan?" tanya Levi sambil memberikan bunganya, tetapi matanya melirik ke arah lain dan tak melihat wajah (Y/n).
"Indah!" balas (Y/n) setelah menerima bunga itu.
"Tch, kau senang sekali." Levi berbicara pelan.
"Tentu saja! Kau sampai memberiku bunga seperti ini."
Levi mengetuk kepala (Y/n) dengan tatapannya yang seperti biasa. "Oh, begitu. Kalau begitu apa kita bisa melanjutkan perjalanan?"
(Y/n) mengangguk. "Tapi sebelum itu aku akan menelepon Yuu dulu."
Kemudian (Y/n) menelepon Yuu dengan ponselnya. Nada dering terdengar dari seberang telepon sampai terdengar suara teriakan Yuu.
"HEI, ADA DI MANA KAU?!"
(Y/n) menatap Levi dengan maksud untuk meminta bantuannya, tetapi Levi malah diam saja.
'Dasar! Setidaknya tolong aku!' gerutu (Y/n) dalam hatinya.
"Ah, hahaha .... A-anu, aku tersesat dengan Levi, apa kau bisa meminta Sakura untuk menjemput kami?" tanya (Y/n) sambil menggaruk pipi dengan telunjuknya. "Kami ada di sekitar hutan dekat jurang, aku harap Sakura tau tempat ini dan segera menjemput kami."
Setelah itu tak ada jawaban dari seberang. Yuu belum memberikan jawabannya. Namun, ketika (Y/n) ingin memanggil Yuu untuk memastikan, dengan cepat gadis itu menjauhkan ponsel dari telinganya.
"APA?! JURANG?! KAU BERCANDA! AKU AKAN KE SANA DENGAN SAKURA. JANGAN KEMANA-MANA!"
Lalu sambungan telepon terputus begitu saja.
"Yah, hahaha. Kau bahkan bisa mendengar suaranya, kan?" tanya (Y/n) kepada Levi karena telinganya begitu sakit karena mendengar Yuu berteriak.
"Tch, kalian itu berisik sekali. Aku tidak heran juga." Levi menjawab sambil menaikkan kedua bahunya.
"Bukan itu yang lebih parah! Yang lebih parah adalah Yuu pasti akan mengomel padamu!" (Y/n) menunjuk Levi tepat di depan wajahnya, lalu sedetik kemudian gadis itu langsung tersadar dan menurunkan jarinya. "Ah, benar, aku pasti kena omel juga ...."
"Biarkan saja. Kau takut?" tanya Levi.
(Y/n) mengangguk berkali-kali.
"Dia galak dan menyeramkan kalau sedang marah dan khawatir. Aku takut, hahaha."
Levi hanya menganggap remeh akan hal itu. Apa yang menyeramkan dari bocah itu?
"Terserah kau saja," balas Levi.
Setelah berkata seperti itu, Levi kembali duduk bersandar pada pohon. Sedangkan, (Y/n) tetap berdiri sambil menunggu Yuu dan Sakura datang. Terasa waktu sudah lama berlalu, Yuu dan Sakura muncul di pandangan (Y/n).
Yuu berlari menghampiri ketika matanya melihat (Y/n) yang melambaikan tangannya, lalu Sakura berlari mengikuti.
"HOI! KAU KENAPA, HAH?!" teriak Yuu dengan keras—lagi—di depan wajah (Y/n) sambil tak lupa menjitak keras kepala (Y/n).
"Kenapa kau ini?" Levi bertanya sinis sambil mengusap pelan kepala (Y/n) karena bunyi jitakan dari Yuu lumayan keras. Sepertinya sakit.
__ADS_1
Mendengar perkataan Levi, pandangan Yuu beralih kepada Levi. Yuu menatap Levi yang lebih pendek darinya. "Kau—"
"Apa?" balas Levi.
"Aish," ucap Yuu lelah sambil memijat keningnya karena kepalanya hampir saja terasa ingin pecah. "Kalian berdua membuatku sangat khawatir! Kalian bisa bertanya pada Hoshi nanti, aku hampir saja keluar malam-malam dan mengacak-acak daerah ini untuk menemukan kalian berdua! Mungkin aku akan berakhir di jurang ini kalau aku tetap memaksa ingin mencari kalian."
(Y/n) hanya melongo dan memperhatikan Yuu dengan wajah seperti anak kecil yang sedang dimarahi orangtuanya. Kalau dilihat dari ekspresi Yuu, lelaki ini betul-betul sangat mengkhawatirkan (Y/n).
"Maafkan aku, Yuu," kata (Y/n).
Yuu menghela napasnya ketika mendengar suara (Y/n). "Hah, baiklah. Sekarang kau harus pulang dan makan yang banyak. Kau pasti kelaparan."
"Sebaiknya kita pulang sekarang, karena hari ini adalah hari terakhir kita bisa main-main di sini, karena besok pagi-pagi sekali kita sudah harus kembali." Sakura akhirnya angkat suara setelah diam mendengar omelan Yuu.
"Ah, berarti hari ini kita bebas untuk melakukan apa saja?" tanya (Y/n).
"Ya! Tentu saja!" Sakura tersenyum.
Setelah itu, mereka bertiga segera menuju ke villa dengan Sakura yang berjalan memimpin. Ternyata tempat ini tak begitu jauh dari villa, hanya terasa jauh karena (Y/n) dan Levi tak mengenal jalan di sekitar hutan ini. Untungnya juga mereka tidak tersesat sampai hutan yang dalam.
Mereka menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri mereka seperti biasa. Sekarang adalah pukul 8 pagi ketika para murid sudah bersiap dengan urusannya masing-masing.
Para murid bebas untuk bermain di pantai, membeli oleh-oleh di sekitar minimarket, atau mengambil gambar di sekitar pantai. Karena hari ini adalah hari terakhir mereka menikmati semua ini. Untuk acara permainan sudah tuntas dilakukan sampai tengah malam kemarin.
(Y/n) berdiri di pinggir pantai dengan celana panjangnya yang dilipat di bawah lutut sembari mengotak-atik ponselnya. Ia menggeser foto yang ada di galerinya, sebagian besar adalah foto Yuu dengan dirinya sendiri. Ya, hampir semuanya adalah foto Yuu.
"Kemari kau, Yuu!!!" (Y/n) berlari mengejar Yuu yang sudah melarikan diri menjauhi pantai sambil berteriak. "Kau mau meledakkan ponselku dengan fotomu??!"
"Ah, maaf! Habisnya kamera ponselmu lebih bagus dari punyaku!" balas Yuu.
Karena sebal dan malas, (Y/n) memilih untuk duduk di kain yang berada di atas pasir daripada mengejar Yuu. Di sana sudah ada Levi yang sedang meneguk air mineral dingin sambil bersantai.
"Hei~" sapa (Y/n) ketika sudah duduk di samping Levi.
"Sedang apa kau?" tanya Levi yang melihat (Y/n) sibuk melihat ponselnya.
Tanpa menoleh ke arah Levi, (Y/n) menjawab, "Aku sedang melihat foto."
Levi menaikkan alisnya. Kebiasaan Levi ketika ia tidak mengetahui sesuatu. "Foto?"
"Iya, sini biar kufoto kau, Levi."
Kemudian (Y/n) memperlihatkan hasil jepretannya kepada Levi.
"Apa ini? Bagaimana mungkin aku bisa ada di benda itu?"
(Y/n) tertawa keras mendengar respon dari Levi yang terlihat norak itu. Sedangkan Levi hanya mengerutkan dahinya.
"Yah, anggap saja ini benda ajaib, Levi. Hahaha! Kau ini norak sekali."
"Tch, ternyata duniamu ini sudah sangat maju."
(Y/n) tak mempedulikan apa kata Levi. Ia langsung menarik Levi untuk mendekat dan langsung mengambil gambar mereka berdua.
"Kau senyum sedikit dong!" protes (Y/n) sambil melihat hasil foto barusan. "Tidak apa-apa, aku tidak akan menghapus ini, tapi kau harus senyum dulu! Kalau tidak aku akan menyiram kepalamu dengan air ini!"
Setelah hasil foto kedua, Levi benar-benar tersenyum walau hanya senyuman yang tipis.
T-tampan! Batin (Y/n) senang.
"Kau ingin melihatnya?" tawar (Y/n).
Levi mengangguk. "Boleh."
(Y/n) memberikan ponselnya kepada Levi dan membiarkan lelaki itu mengagumi benda persegi panjang itu. Kemudian gadis itu pun terkekeh pelan karena melihat Levi yang terkejut ketika layar ponselnya tiba-tiba meredup dan mati.
"Sini kubantu," ucap (Y/n). "Dan, mari kita ambil foto yang banyak sebelum pulang!!!"
Dan Levi mengangguk ....
"Sepertinya kau lelah," kata Levi. "Sudah makan?"
"Ah, iya .... Badanku pegal sekali karena semalaman berada di pinggir hutan." (Y/n) menjawab sambil meregangkan badannya. Kemudian ia menggeleng.
"Kau bisa memakai bahuku."
"Hah? Apa? Aku tidak mendengarnya," jawab (Y/n) sembari menoleh karena suara Levi yang sangat pelan.
"Tch, lupakan saja, dasar."
(Thor : Awwww tsun sekaliiii)
"Kenapa sih?" tanya (Y/n) dengan heran. Kemudian gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Levi.
"Jauh-jauh dariku," kata Levi. "Kau berat."
(Y/n) hanya bisa mendengus sebal. "Aku hanya meminjam bahumu!"
"Terserah." Levi memalingkan wajahnya.
(Y/n) memejamkan matanya dan tersenyum senang.
...***...
"Sedang apa kau?" tanya Hoshi.
Lelaki berambut hitam itu menghampiri Yuu yang sedang mengamati (Y/n) dan Levi dari pantai. (Y/n) meletakkan kepalanya di bahu Levi sambil memejamkan matanya.
Oh, aku kesal sekali! Gerutu Yuu dalam hatinya.
"Sepertinya kau kesal." Hoshi berbicara lagi sambil menyipratkan air laut ke wajah Yuu.
"Siapa yang—" sahut Yuu, kemudian terputus karena matanya melihat perlakuan Levi kepada (Y/n). Levi mengelus rambut (Y/n) dan membenahi rambutnya yang tertiup angin. "Astaga! Tangannya! Sejak kapan mereka sangat dekat?!"
__ADS_1
Hoshi hanya terkekeh pelan melihat respon Yuu. "Kenapa? Jangan-jangan kau cemburu. Padahal sudah punya pacar."
Wajah Yuu memerah seketika. Kemudian ia duduk di pinggir pantai yang tidak terkena air laut. "Dia itu, mungkin seperti adikku."
"Makanya kau sangat galak padanya?"
"Siapa yang kau maksud galak?! Aku hanya ingin memperhatikannya." Yuu memalingkan wajahnya dari (Y/n) dan Levi.
Kemudian Hoshi ikut duduk di samping (Y/n). Ia terus-terusan menyiram air laut di wajah Yuu karena bosan.
"Yah, kukira kau menyukainya. Jadi, kau akan cemburu jika ia dekat dengan Levi," ucap Hoshi. "Oh iya, dan lagipula Levi itu mirip karakter—"
"I-itu karena (Y/n) menyukai lelaki yang seperti itu! Jadi, ia membuat penampilan Levi menjadi seperti itu. Y-ya, begitu kira-kira." Yuu menyambar perkataan Hoshi yang mulai mengira tentang identitas Levi. "Lagipula (Y/n) sudah memberitahukan tentang Levi bukan? Ia kerabat jauh (Y/n)."
Hoshi hanya mengangguk-angguk menyetujui. "Iya juga, mana mungkin ada karakter seperti itu di sini, kan?"
Yuu mengelus dadanya. Hampir saja.
"Ah, Sakura." Hoshi menunjuk Sakura yang tiba-tiba muncul dan ingin menghampiri Levi dan (Y/n).
"Hm? Kenapa?" tanya Yuu.
Hoshi menggeleng. "Tidak."
Yuu mengangkat alisnya dan berniat menggoda Hoshi.
"Aaaah, kau menyukai Sakura?" Yuu menyenggol lengan Hoshi berkali-kali sembari tersenyum jahil.
Kemudian Hoshi melempari wajah Yuu dengan pasir karena kesal. Sementara itu, Yuu sudah bersiap mengomel sambil membalas melempari pasir juga.
"Kau ini kenapa sih? Wajahku jadi kotor." Yuu protes.
Hoshi menghentikan aktivitasnya itu dan menjawab, "Mana bisa aku melakukan itu."
"Lho? Kenapa?" tanya Yuu bingung. Kalau memang benar Hoshi menyukai Sakura itu bukan masalah bukan?
"Karena aku dan Sakura itu—" Perkataan Hoshi terpotong karena (Y/n) dan Levi datang bersamaan. Ternyata mereka juga memperhatikan Yuu dan Hoshi dari jauh. Sedangkan Sakura entah pergi ke mana.
"Hei, kalian mengobrol bersama di sini?" tanya (Y/n).
"Menurutmu?" balas Hoshi sambil menatap (Y/n). "Omong-omong kenapa wajahmu pucat?"
(Y/n) memegang wajahnya dengan tangan kanan. "Ah, pucat? Aku rasa aku tidak apa-apa."
"Tch, aku mau bersantai di sana, kenapa kau membawaku ke sini?" Levi angkat suara karena Hoshi terus-terusan menatap (Y/n) karena khawatir.
"Kau harus banyak bergerak, biar tinggi." Yuu mencibir sambil menahan tawanya. Sedangkan Levi mengeluarkan tatapan mautnya.
"Lain kali kau harus berada di dekatku," balas Levi. "Biar sesekali kutinju wajahmu itu."
Yuu menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil berpura-pura ketakutan karena ancaman Levi. Hal ini membuat Levi semakin sebal dan ingin meninju wajah Yuu.
Sementara itu (Y/n) hanya memperhatikan pertengkaran mereka berdua sambil sesekali tertawa, begitu pula dengan Hoshi.
Karena lelah bertengkar dan adu ejekan, akhirnya Levi dan Yuu duduk di pasir berdampingan. Kini mereka hanya berdua. Levi dan Yuu kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari (Y/n) dam Hoshi.
"Di mana mereka?" tanya Yuu.
"Mana aku tau," jawab Levi.
Hasrat untuk mencibir Levi kembali muncul. Namun, karena malas ia mengurungkan niatnya.
"Hoi." Yuu memanggil Levi. "Kau mulai suka dengan (Y/n), kan? Mengaku sajalah!"
Levi melirik Yuu dengan sinis. "Apa pedulimu?"
"Tentu saja aku peduli! Kau pikir kenapa aku harus repot-repot menjauh darinya dan memiliki pacar? Ini untuk kebaikannya."
Levi terdiam.
"Karena gadis bodoh itu menyukaimu! Ya, dia terlalu bodoh untuk menyukai orang sepertimu. Oh, bukan, dia terlalu bodoh untuk menyukai orang yang bahkan tidak nyata sepertimu," ujar Yuu sambil mendengus kesal.
"Aku ... memang tidak nyata."
"Ya! Harusnya kau sadar diri! Kalau aku jahat padanya, aku akan mencuri alat merepotkan milik Ichiro dan menghancurkannya saja sebelum kau yang sekarang ini muncul. Setidaknya setelah kejadian itu, (Y/n) sudah perlahan dapat melupakanmu." Yuu menjelaskan dengan panjang lebar.
Levi belum beranjak dari diamnya dan tetap mendengarkan perkataan Yuu.
"Tapi, aku tidak seperti Ichiro yang tega pada (Y/n). Aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiannya. Maka dari itu, kau jangan membuatnya tambah sedih!"
Sebenarnya, Levi juga tidak yakin akan perasaan apa yang ia rasakan belakangan ini. Bukankah ini terlalu cepat? Memang benar jika Levi sering mendapat perasaan yang begitu aneh jika berada di dekat (Y/n), tapi Levi sendiri tidak yakin akan perasaannya.
Apakah itu perasaan suka?
"Levi! Yuu!"
Yang mempunyai nama langsung menoleh ketika namanya dipanggil. Ternyata Hoshi sudah berdiri di belakang mereka berdua dengan wajah yang panik.
"Ada apa?" tanya Levi.
Masih dengan suara yang terdengar panik, Hoshi menjawab, "(Y/n), d-dia pingsan ketika bermain di air denganku."
"Apa?!" ucap Yuu panik.
Mata Levi melebar mendengarnya. Dengan satu gerakan, ia menarik kerah baju Hoshi. "Di mana dia?"
"Aku sudah membawanya ke pinggir pantai. Dia bersama teman-temannya."
Dengan cepat, Levi berlari menuju ke tempat yang dimaksud Hoshi. Sedangkan mereka berdua menyusul dari belakang.
Setelah sampai, Levi langsung mendekat dan mengusir orang-orang yang ada di sekitar (Y/n). "Minggir."
Ketika (Y/n) sudah tak dikelilingi oleh orang-orang, Levi menggendong (Y/n) dan membawanya ke dalam villa. Sementara itu, Sakura mengikutinya.
__ADS_1
Levi melangkahkan kakinya menuju kamar (Y/n) dan meletakkannya di kasur.
"Kau ... kenapa?"