
Author pov
Kini (Y/n) berdiri di depan cermin. Mencoba mencocokkan semua baju yang ada di lemarinya.
Semua baju yang dimilikinya dikeluarkan dan disebar begitu saja di atas kasurnya. Padahal semua baju sangatlah cocok untuk dipakainya.
Ya, hari yang ditunggunya pun tiba.
"Ah!! Aku harus pakai yang mana?!" gerutu (Y/n) sambil melemparkan salah satu bajunya asal.
Lalu (Y/n) memungut salah satu baju yang sempat dilemparnya tadi dan segera memakainya.
"Hm. Ini cocok juga."
(Y/n) akhirnya memilih salah satu sweater berwarna (f/c) dan celana jeans. Dan tidak lupa menguncir rambutnya ala ponytail demi memberi kesan imutnya.
Setelah siap, (Y/n) meraih tas selempangnya dan bergegas keluar kamar untuk turun menghampiri Levi yang sedang menunggu.
"Sudah selesai, bocah?" tanya Levi sambil mengamati (Y/n) dari kepala sampai ujung kaki.
(Y/n) tersipu. "A-apa penampilanku aneh?"
Levi menatap (Y/n) sejenak, dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak. Kau terlihat manis," jawab Levi pelan tetapi cukup didengar oleh (Y/n).
"Benarkah?"
"Hn," sahut Levi singkat.
"Baiklah! Ayo kita berangkat!!"
(Y/n) dan Levi melangkahkan kaki untuk menuju ke Festival. Dengan semangat yang berapi-api, (Y/n) menarik tangan Levi agar segera sampai di tempat itu.
Tak lama, mereka telah sampai di Festival malam yang sangat dinantikan (Y/n). Tempat ini sangat ramai oleh orang-orang yang sudah datang lebih dulu.
(Y/n) segera memberikan sepasang tiket yang sudah disiapkan sejak lama ke penjaga. Dan mereka pun diperbolehkan masuk.
"UUWAH!! Ramai sekali!!" teriak (Y/n). "Kita mau naik wahana apa dulu nih?"
"Terserah asal kau senang, bocah."
"Hm. Bagaimana jika kita naik ayunan putar itu?" tunjuk (Y/n) ke arah wahana ayunan besar itu.
Levi mengangguk. "Baiklah."
Mereka pun segera pergi ke wahana itu dan segera mengambil satu tempat untuk mereka berdua.
Satu ayunan cukup untuk menampung dua orang dewasa. Cara kerja wahana ini mudah, hanya tinggal duduk di ayunannya dan tunggu saja sampai wahananya bergerak memutar naik turun.
Levi dan (Y/n) duduk di satu tempat, dan melepas alas kaki mereka sebelum wahana itu mulai berputar.
Tidak lama kemudian, ayunan raksasa itu perlahan mulai berputar. Perlahan tapi pasti, ayunan itu berputar semakin cepat dan menghasilkan udara yang sejuk.
"WAHH!!! KITA BERPUTAR, LEVI!!!"
(Y/n) sangat menikmati wahana ini sampai-sampai dia tidak tau kalau tangannya digenggam oleh Levi yang kini sedang menikmati wahana yang baru pertama kali dinaikinya itu.
Beberapa saat kemudian ayunan itu mulai berhenti berputar. Dan pegangannya otomatis tertarik ke atas menandakan wahana sudah berhenti.
(Y/n) yang baru tersadar jika tangannya digenggam oleh Levi mendadak tersipu.
"Apakah aku yang memegang tanganmu tadi?" tunjuk (Y/n) ke arah tangannya.
"Ya," sahut Levi asal. Padahal dirinyalah yang menggenggam tangan (Y/n) duluan.
"Souka .... Maafkan aku!!" kata (Y/n) sambil menarik tangannya dari genggaman Levi.
"Tidak apa-apa, bocah."
Dan mereka melanjutkan untuk bermain wahana yang lainnya yang lebih seru dan menantang.
Mereka memulai ke wahana rumah hantu. Tetapi sepanjang perjalanan di dalamnya, (Y/n) hanya memeluk tangan Levi dan menenggelamkan wajahnya agar tidak melihat apa-apa.
Tetapi, Levi hanya tenang-tenang saja. Bahkan, hantunya lah yang sebenarnya takut dengan tatapan Levi yang datar dan lebih horror dibandingkan dengannya..
"Apa lihat-lihat bocah?! Mau kubuat kau mati dua kali?" sinis Levi sambil mengarahkan tatapan kematiannya kepada salah satu orang yang berkostum seperti hantu anak kecil.
Akhirnya hantu tersebut tertunduk ngeri dan segera berlari meninggalkan mereka berdua.
Dan alhasil, tidak ada yang berani lagi untuk mendekati (Y/n) dan Levi sampai keluar dari wahana itu.
Setelah menaiki cukup banyak wahana, perut mereka mulai merasa lapar. Jadi mereka memutuskan untuk mampir ke gerai makanan yang ada di sana, dan membeli beberapa cemilan untuk menghilangkan rasa lapar mereka.
"Hei. Kau makan seperti anak kecil saja," kata Levi sambil mengelap bibir (Y/n) menggunakan tangannya.
"A ... aaa .... B-biarin! Kau kan selalu panggil aku bocah. Jadi wajar kan aku kayak anak kecil!" ketus (Y/n) sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya. Kau memang bocah. Bocah imut," sahut Levi yang lagi-lagi pelan, namun kali ini (Y/n) tidak cukup untuk mendengarnya.
"Kau bilang sesuatu, Levi?"
Levi hanya menatap (Y/n). "Tidak."
(Y/n) hanya mengedikkan bahunya dan melanjutkan aktivitas makannya yang sempat terhenti tadi.
"Habis ini kita mau kemana, ya?" tanya (Y/n) yang baru saja menghabiskan makanannya.
"Kita sudah menaiki banyak wahana. Apa kau tidak lelah?"
"Tentu saja tidak! Aku selalu bersemangat jika ada Festival ini!" jawab (Y/n) bersemangat. Tetapi sebenarnya (Y/n) sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Kau sudah lelah. Ayo kita pulang," ajak Levi sambil sedikit membenahi rambut (Y/n) yang agak berantakan akibat salah satu wahana yang mereka naiki.
"Tidak! Aku mau naik satu wahana lagi! Kita belum menaikinya!!!"
Levi menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?"
"Bianglala. Aku sangat ingin menaikinya, bersamamu."
"Baiklah, hanya satu wahana lagi dan pulang."
(Y/n) hanya mengangguk semangat, dan kini semangatnya kembali membara. Mereka pun segera membayar makanannya dan menuju ke tempat bianglala yang ingin dinaiki mereka berdua.
Kini dihadapan mereka berdiri kokoh kincir angin raksas, bianglala. (Y/n) dan Levi segera mengambil antrian yang lumayan panjang dan menunggu giliran mereka menaiki salah satunya.
Dan giliran mereka pun tiba, penjaga segera membukakan pagar pembatasnya dan mempersilahkan (Y/n) dan Levi menaiki salah satu gondola.
Kini mereka perlahan mulai naik ke atas dan menunggu beberapa tempat terisi penuh.
Dan tak berapa lama, bianglala itu memutar perlahan. Mereka yang sedang berada di atas, menyaksikan pemandangan indah pada malam hari dengan langit berhiaskan bintang-bintang kecil.
"Wah .... Indah sekali, ya, malam ini," kata (Y/n) sambil memandang keluar gondola, menikmati indahnya langit malam ini.
"Ya. Indah. Sangat indah sampai aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melihat ini," keluh Levi sambil menatap ke arah langit.
"Kau tau, Levi. Biasanya aku ke Festival ini bersama Yuu. Tapi aku sangat senang karena bisa ke sini bersamamu."
Levi menatap (Y/n). "Aku juga."
(Y/n) tersenyum bahagia, karena melihat Levi bahagia.
"Kau tau, bocah? Aku sedang menyukai seseorang—"
__ADS_1
Belum sempat Levi meneruskan kata-katanya, bianglala berhenti berputar dan giliran mereka turun dari gondola.
"Kau bilang apa Levi?" tanya (Y/n) setelah keluar dari gondola.
"Tidak."
(Y/n) hanya ber-oh ria dan berniat untuk pulang bersama Levi. Namun langkahnya terhenti saat dirinya melihat penjual permen kapas.
"Levi. Aku mau permen kapas~" rengek (Y/n) sambil menarik-narik lengan baju Levi dan menunjuk ke arah penjual permen kapas di salah satu gerai makanan.
"Dasar bocah," kata Levi sambil menyentil pelan kening (Y/n). "Kau duduk dulu di situ, aku akan segera kembali," suruh Levi sambil menunjuk salah satu kursi taman di dekat pohon.
Levi pun segera menuju ke penjual permen kapas, sementara (Y/n) duduk manis sambil menunggu Levi kembali.
Levi pov
Aku sebenarnya sangat senang. Aku sangat menikmati wahana di Festival ini.
Apalagi karena bersama bocah itu. Entah kenapa aku sangat bahagia bersamanya.
Sialan. Kenapa juga aku bisa sesenang ini?
Masa bodolah.
Bocah ini meminta permen kapas. Lucu sekali dia ketika memintanya kepadaku. Seperti anak kecil saja.
Aku pun menyuruhnya untuk duduk dan menungguku kembali. Aku tidak tega karena dia kelihatan sudah lelah, jadi aku menyuruhnya untuk duduk dan menungguku kembali.
"Tolong permen kapasnya dua," mintaku sambil menunjuk ke arah permen kapas yang dijualnya.
"Oh, iya. Silahkan." Penjual tersebut menyerahkan dua permen kapas kepadaku dan aku segera menerima dan menyerahkan beberapa lembar uang kepadanya.
Entah kenapa aku tersenyum kecil menerima ini, membayangkan betapa senangnya bocah itu ketika makan permen kapas ini.
"H-heichou??"
Aku mendengar diriku dipanggil. Tunggu. Dia memanggilku dengan menyebut pangkatku. Dia juga mengenaliku?
Aku pun segera menoleh ke arah sumber suara. Mataku terbuka lebar, betapa terkejutnya aku melihat dia sedang berdiri di sampingku sambil membawa dua permen kapas.
Gadis berambut coklat, memakai sebuah hiasan kepala berwarna hitam, tidak salah lagi. Dia ....
"Petra?!"
Tidak salah lagi. Aku juga pernah melihatnya di minimarket waktu itu.
"H-heichou," panggilnya. "Aku .... Berhasil bertemu denganmu lagi."
Aku terdiam. Melihat kini di depanku berdiri sesosok gadis yang sudah kukira telah mati.
Bagaimana bisa?!
"Kau. Bagaimana bisa?" ucapku sambil tetap memastikan wajahnya adalah benar-benar wajah Petra.
"Heichou, kau tidak senang kalau aku masih hidup?" tanyanya sambil menggenggam tangan kananku. "Gunther, Eld, dan Oluo telah mati. Kini yang tersisa tinggal kita berdua. Ayo kita pulang ke dunia kita, Heichou."
Apa yang terjadi sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa aku bisa ada di sini juga aku tidak tau. Tapi kenapa petraa juga ada di sini? Bukankah dia sudah—
—mati?
Bruk.
Aku menoleh. Mataku melihat bocah itu menjatuhkan tasnya karena melihatku sedang bersama Petra.
Sial.
Dia pasti salah paham padaku.
"Levi? P-petra?" Bocah itu menatap tidak percaya. (Y/n) menunduk untuk mengambil tasnya yang terjatuh, kemudian berpaling dan berlari meninggalkanku.
"Tch. Sial!" gerutuku sambil melepaskan genggaman tangan Petra.
Petra terkejut. "H-heichou?"
Aku menggelengkan kepala, dan hendak pergi meninggalkannya lalu mengejar (Y/n).
"Tidak. Aku akan mengejar bocah itu."
Aku akhirnya berlari demi mengejar bocah itu. Yang benar saja, ini sudah malam dan dia tidak bisa pulang sendirian.
"Tch. Cepat sekali bocah itu pergi."
Aku menghentikan aksi lariku, dan menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari bocah itu di kerumunan orang-orang. Apakah dia sudah keluar dari sini? Kalau begitu, aku juga akan keluar dari sini.
Aku mulai berlari lagi untuk keluar dari Festival ini. Berlari secepat mungkin agar bisa menemukan bocah itu.
Blok demi blok aku telusuri, tidak ada satu tempatpun yang kulewatkan, meneliti lebih teliti lagi untuk menemukan bocah itu. Tetapi, aku tak kunjung melihatnya.
Hingga aku merasakan tetesan air mulai jatuh dari langit yang sempat cerah tadi.
Hujan?
Yang benar saja, sekarang kan musim panas.
Untung saja aku memakai hoddie, jadi aku bisa menutupi kepalaku dengan itu. Tetapi, seberapa keras aku menutupi kepalaku, hujan tetap membasahi sekujur tubuhku.
Walaupun hujan turun, nyaliku tidak akan ciut. Aku tetap berlari agar segera menemukan bocah itu. Aku khawatir jika dia kehujanan.
"Tch. Bocah, kau dimana?"
Reader pov
Levi lama sekali! Aku sudah menunggu manis di sini menantikan permen kapasku, kenapa dia belum tiba juga?
Aku pun memutuskan untuk menghampirinya, siapa tau dia tersesat.
Nah, itu Levi! Dia sudah beli rupanya. Tetapi mataku melihatnya sedang bersama seorang gadis.
Gadis yang pernah kulihat di minimarket waktu itu.
Jangan-jangan dia.
Petra?
Kenapa dia bisa sampai disini? Bukankah dia sudah mati? Tidak mungkin.
Dan lagi, kenapa Petra memegang tangan Levi?
Eh, jangan sampai mereka.
Bersama lagi.
Dia menyebalkan!
Bruk.
"Levi? P-petra?"
Sial. Aku menjatuhkan tasku. Aku segera memungut tasku kembali dan pergi berlari meninggalkan mereka.
Hatiku sakit sekali.
Dengan sekuat tenaga aku berlari meninggalkan Levi dan Petra. Sepertinya Levi memanggilku dan mengejarku. Tetapi aku tetap berlari sampai keluar jauh dari festival.
__ADS_1
Peduli amat! Kini aku didominasi oleh rasa kesal dan sedih.
Ingin berteriak?
Ya.
Aku ingin sekali berteriak. Menumpaskan rasa kesal dan sedihku.
Tetapi, apa pentingku untuknya?
Apakah Levi pernah sesekali menoleh ke arahku? Ataukah, hanya aku yang berlebihan menyukainya?
Mungkin benar. Levi hanya menyukai Petra.
Entah sudah berapa jauh aku berlari, kini aku sudah di perempatan blok rumahku. Namun, kepalaku merasakan tetesan air.
Eh? Hujan?
Bukankah ini musim panas?
Bagus deh! Langit pun tau aku sedang bersedih!
Aku tidak peduli hujan membasahi tubuhku, toh itu untuk menyamarkan tetesan air mata di pipiku.
Eh? Aku menangis?
Ah. Sakit sekali ya .... Ya, mungkin dia ada di sini, tetap hanya aku yang menyukainya, dia tidak.
Andai saja aku sedang bersama Yuu, aku bisa mengadukan keluhku padanya.
Aku sangat ingin ada Yuu di sini.
Tetapi, aku tidak bisa merepotkan Yuu terus, kami sudah besar. Kami bukan anak kecil lagi yang kalau ada masalah langsung menangis dan mengadu.
Tetapi aku sudah terlanjur sedih. Maaf Yuu, aku tidak bisa lagi menahannya.
"YUU!!!" Akhirnya aku memanggilnya. Aku memang membutuhkannya untuk ada di sampingku. Namun, aku tidak menerima jawaban.
Yuu sedang tidak di sini. Mungkin dia sedang ada di rumahnya.
Aku pun menumpukan kedua tanganku di lutut, membiarkan air mataku jatuh bersamaan dengan tetes air hujan.
"(Y/n)!!!" Ada yang berteriak memanggilku. Siapa?
Aku segera menaikkan wajahku, berusaha melihat orang itu.
Yuu? Dia di sini?
Yuu berlari ke arahku dengan memegang payung yang lumayan besar dan segera memayungiku juga. "Astaga, (Y/n)! Kenapa kau hujan-hujanan begini?" tanyanya dengan nada yang khawatir.
Yuu kemudian melepaskan jaket hitamnya, dan memakaikannya ke tubuhku yang basah kuyup karena hujan.
"Kenapa kau di sini? Dimana om itu? Wajahmu memerah, kau menangis? (Y/n)! Kau kenapa!? Beritahu aku!"
Melihat dia memburuku dengan pertanyaan kekhawatirannya, aku terkekeh pelan. Yuu ini kalau sudah khawatir pasti cerewetnya ngalahin ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya yang nakal.
Melihat aku terkekeh, Yuu tersenyum kecut, dan tangannya menyentil dahiku yang malang.
"Bodoh! Kau bisa sakit!" omelnya sambil menjauhkan tangannya dari dahiku.
"Aww." Erangku karena sentilannya lumayan terasa sakit di dahiku. "Tidak apa-apa, Yuu." Bohong. Aku sedang tidak apa-apa sekarang.
"Payah, kau bohong. Sekarang kita pulang dulu. Cerita padaku nanti."
Aku akhirnya menurut, dan melangkahkan kaki ke rumahku bersama Yuu. Ketika sampai di rumah, Yuu membuatkanku cokelat panas agar aku merasa hangat sementara aku mengganti bajuku.
"Nah, kau kenapa (Y/n)?" tanya Yuu ketika aku sudah duduk di sampingnya.
Aku menyempatkan diri meraih cokelat panas buatannya dan menyeruputnya perlahan. "Aku melihat dia bersama Petra, aku bingung kenapa bisa ada Petra di sini. Apa mungkin Levi menyukainya?"
Yuu terlihat berfikir. "Petra? Karakter yang kau bilang sudah mati?"
Aku mengangguk pelan, dan kemudian menyeruput kembali cokelat panas tadi.
"Mungkin kau hanya salah paham, (Y/n). Mungkin dia bisa menjelaskannya padamu nanti, kenapa kau tidak bertanya saja padanya? Jangan langsung lari begitu dong, untung saja aku langsung menemukanmu," kata Yuu panjang lebar. "Oh, iya. Om itu sekarang dimana? Kalau dia tersesat bagaimana, (Y/n)."
Oh astaga! Aku lupa!
Aku meninggalkan Levi begitu saja di sana. Bagaimana kalau dia tersesat nanti?
"Yuu. Aku akan mencarinya."
Yuu berusaha mencegah. "Tidak! Masih hujan, nanti kau sakit!"
"Tenang saja, Yuu. Aku akan pakai payung. Tunggu ya."
Aku pun berlari secepat kilat untuk mencari Levi. Hampir saja aku melupakannya!
Dan setelah kupikir-pikir, sebaiknya aku akan bertanya soal Petra dengan Levi nanti. Aku menyesal telah berfikiran buruk padanya.
Setelah lama aku mencarinya, aku melihat Levi berada di ujung taman blok rumahku.
Syukurlah!
Aku pun berlari untuk menghampirinya, mencoba menggapai dirinya yang sedang menikmati tetesan air hujan.
Oh tidak! Dia bisa sakit nanti.
"LEVI!" panggilku setelah berada di dekatnya. "Kau basah kuyup. Kau bisa sakit!" teriakku sambil berusaha memayungi dirinya juga.
Levi menoleh ke arahku, wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Apa hanya perasaanku saja?
Tak kusangka, Levi menarik tubuhku ke dalam pelukannya, membiarkan bajuku ikut basah terkena bajunya yang basah terkena air hujan.
"Syukurlah kau ketemu, bocah."
Dan aku merasa, bahwa—
Pelukannya semakin erat..
#Di dunia anime#
Author pov
"Bagaimana bisa?!" serunya pada Hanji.
Perempuan itu hanya menunduk, bingung menjawab apa pada komandannya.
"Aku tidak tau, Erwin. Aku hanya mendapat laporan dari Mikasa, selebihnya aku benar-benar tidak tau. Sumpah!" Hanji menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Erwin.
Ya. Kini seluruh pasukan pun tau bahwa Heichounya telah hilang entah kemana. Pasukan menjadi gusar dan panik.
"Sebaiknya semua tenang dulu," lerai Armin ditengah hiruk pikuk yang terjadi.
"Bagaimana bisa tenang, Armin! Bagaimana kalau Levi-heichou tidak akan pernah kembali lagi?" protes Jean.
Armin terlihat berfikir keras. "Menurutku, Heichou pasti kini berada di suatu tempat. Dia pasti akan kembali, aku yakin."
"Yang benar saja! Kau berlagak seperti tau segalanya, Armin!" cibir Jean.
Armin tersenyum kecut memandang Jean. "Aku juga tidak tau, Jean. Untuk sementara ini kurasa kita harus menunggu dan tetap fokus pada tujuan utama kita, yaitu fokus pada kejayaan umat manusia. Aku yakin walau kita berjuang tanpa Heichou, kita akan meraih kemenangan." jelas Armin.
"Ya. Kau benar Armin. Aku terlalu bingung tentang hilangnya Levi. Lebih baik kita tetap fokus," kata Komandan Erwin membenarkan, "Shinzou wo sasageyo!" Pada akhirnya Erwin hanya memberi keputusan itu, dan tetap memperjuangkan keadilan umat manusia.
__ADS_1
Dan pidato singkat itu disambut dengan semangat menggebu-gebu dari seluruh pasukan, mereka akan terus berjuang walau nyawa mereka taruhannya.
Dan sambil menunggu jika Levi akan benar-benar kembali dan berjuang lagi bersama mereka semua.