
Author pov
"Ya, benar seperti itu."
(Y/n) mulai menggerakkan tangan dan kakinya seperti yang diperagakan oleh Hoshi. Dan ajaibnya, (Y/n) langsung menguasai cara berenang yang baik dan benar. Ya, walaupun terkadang masih kesusahan karena ini pertama kalinya (Y/n) berenang dengan cara yang benar.
Dan juga karena saat ini situasinya adalah berenang di pantai. Bukan di kolam renang.
"Ah! Aku lelah!" Setelah berapa lama (Y/n) mengeluh sambil memegangi lengan Hoshi karena sudah mulai lelah untuk berlatih berenang.
Dengan sigap Hoshi memegangi tubuh (Y/n) dan membawanya ke tepi pantai. "Kita duduk di sana, yuk."
"Kau hebat, ya, Hoshi."
Hoshi menoleh ke arah (Y/n) yang baru saja duduk di sebelahnya. "Hebat? Hebat apa maksudmu?"
"Kau hebat dalam berenang. Aku yakin kamu tidak hanya hebat di renang saja, bukan?"
"Kurasa begitu? Aku tak yakin." Hoshi menjawab tak yakin.
(Y/n) terkekeh pelan melihat reaksi Hoshi seakan dirinya tidak sehebat yang (Y/n) pikirkan. "Jangan begitu. Selama pelajaran olahraga aku selalu memperhatikanmu. Kau hebat di segalanya."
Hoshi berdehem. "Terimakasih."
Puk!
"Sialan."
"Hahaha! Rasakan kau, dasar papan!"
Levi mulai mengomel, dia berkata dengan dingin, "Apa maksudmu papan, hah?"
"Wajahmu selalu datar~ Macam papan saja," sahut Yuu bersemangat, tepatnya gembira karena dapat mengejek Levi sepenuh hati dan jiwa raganya.
"Hei ... hei ... Ada apa ini?" tanya (Y/n) yang mulai menghampiri Levi dan Yuu yang sedang ribut, Hoshi pun ikut bersama (Y/n) menghampiri dua remaja yang sedang beradu mulut itu. "Dan Levi, kenapa wajahmu dipenuhi pasir begitu?"
Levi mendecak pelan. "Tch. Tanyakan saja pada sahabatmu itu," jawab Levi sembari menyingkirkan pasir yang mengotori wajahnya.
Karena mendengar kekesalan Levi, (Y/n) langsung menatap Yuu dengan tatapan lelahnya. Yuu ini memang selalu iseng. Tidak heran kalau ada orang yang kesal melihat tingkah Yuu. Memang Yuu anaknya seperti ini dari dulu.
"Kau tidak pernah berubah, Yuu. Selalu saja suka menggoda orang lain," ucap (Y/n) sambil memijit keningnya.
"Hei, aku kan hanya ingin bermain dengan Levi-kun," balas Yuu dengan nada yang sok imut dan dibuat memelas.
Levi menatap Yuu dengan tatapan jijik. Levi berucap dengan penekanan, "Hentikan. Aku akan menghajarmu, sungguh." Tidak hanya Levi yang jijik. Hoshi dan (Y/n) pun begitu.
"Kenapa kalian lama sekali di kamar?" tanya Hoshi yang sedaritadi hanya diam mengamati perdebatan mereka.
"Kalian mulai akrab, ya? " (Y/n) menambahkan.
"T-tidak!" protes Yuu dan Levi sambil menyilangkan tangan masing-masing di dada.
"Astaga." Hoshi memijit pelan keningnya. Mereka salah memahami pertanyaan (Y/n). "Kalian habis melakukan apa?"
Yuu langsung salah tingkah. "Oh. Kami baru saja makan. Iya, kan, papan?" sahut Yuu sambil menyenggol lengan Levi sambil menaikan sebelah alisnya.
Levi tidak menjawab. Dia hanya mendengus kesal. "Hei. Tadi Sakura baru saja memberitahu kami sesuatu," ucap Levi sambil berusaha duduk dengan tenang dari ocehan Yuu.
"Ya. Katanya permainan akan dimulai 5 menit lagi," sambung Yuu sekaligus melirik (Y/n).
"Sudahlah. Sepertinya permainan akan segera dimulai," ucap Levi datar sembari menunjuk Sakura yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.
Sakura mengambil pengeras suara. "Teman-teman! Bisa berkumpul sebentar? Permainan segera dimulai!"
Remaja-remaja yang tadinya hanya fokus pada kegiatan masing-masing segera menghampiri sumber suara. Ada yang antusias menyambut permainan apa yang akan dilakukan di hari yang cerah ini. Ada pula yang merasa tak bersemangat untuk melakukan kegiatan. Levi contohnya?
Perempuan berambut cokelat terang itu merapikan sedikit rambut panjangnya yang sedikit berantakan. "Kita akan memulai permainannya!! Apakah semua sudah bersama pasangannya?"
"Sudah!"
"Permainan apa, ya, kira-kira? Apakah kita akan menang?" ucap Hoshi yang sedang memperhatikan sosok Sakura yang sedang memberikan instruksinya.
(Y/n) tertawa kecil. "Kita akan menang, Hoshi. Aku yakin!"
"Kau bersemangat sekali."
"Pastinya! Aku mau membuktikan bahwa aku ini hebat!" seru (Y/n) berapi-api sambil melirik ke arah Levi dan Sakura yang sedang bersama, mereka tampak berbisik-bisik.
Mendengar itu, Hoshi mengerutkan dahinya bingung. "Membuktikan pada siapa?" tanya Hoshi.
"Ada seseorang. Yang penting kita harus menang!"
Setelah itu Sakura menjelaskan permainan yang pertama. Sakura sudah menyiapkan lima keranjang dan beberapa bola kecil berwarna. Mungkin terlihat seperti permainan anak kecil. Namun, para lelaki harus menggendong pasangannya untuk berlari dan yang digendong akan memasukkan bola ke dalam keranjang.
Hal ini sukses membuat (Y/n) geram. Karena tentu saja Levi akan menggendong Sakura di punggungnya. Hati (Y/n) semakin panas karena Sakura yang terus-terusan tersenyun sambil memandangi Levi.
Permainan ini dibagi beberapa sesi. (Y/n) dan Hoshi mendapat giliran di sesi kedua. Begitu juga dengan Sakura dan Levi. Sungguh sangat kebetulan, (Y/n) akan berusaha keras untuk mengalahkan Sakura.
Beberapa murid yang tidak mendapatkan giliran dipersilahkan untuk menjadi juri yang mencatat siapa pemenang di setiap sesi. Ketika peluit ditiup, para lelaki dengan sigap berlari sambil menggendong pasangannya dan yang digendong akan turun lalu mengambil bola. Begitu juga seterusnya.
"Hoshi, turunkan aku cepat! Tinggal beberapa bola lagi dan kita akan menang!"
Hoshi hanya geleng-geleng kepala melihat (Y/n) yang begitu bersemangat. Sementara ia berlari sambil menggendong (Y/n), Hoshi melihat kecepatan Levi dalam berlari dan menyusulnya. Hal ini pun semakin membuat Hoshi merasa tertantang juga.
Hasil akhir permainan dimenangkan oleh Hoshi dan (Y/n). Hanya beda sepersekian detik dengan Levi. Dengan puas, (Y/n) meledek Levi dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Melihat itu, Levi menghampiri (Y/n) dan Hoshi yang sedang minum. "Tch, tadi aku sempat tergelincir. Aku akan mengalahkanmu nanti."
"Setelah ini kita akan bermain secara kelompok." Hoshi membalas perkataan Levi.
"Kau ada di kelompok mana, Hoshi?" tanya (Y/n) sembari memberikan sebotol air mineral kepada Levi. Walaupun ia sedang kesal dengan Levi karena berpasangan dengan Sakura, (Y/n) tetap mempedulikan Levi.
"Aku? Aku di kelompok D. Tak ada yang kukenal di sana."
"Tidak apa-apa, kau akan bersenang-senang setelah ini."
Setelah semua pasangan menyelesaikan permainannya, para murid dipersilahkan untuk melakukan aktivitas lain sesuka mereka. Rencananya permainan kelompok akan dilaksakanan saat menjelang sore.
Ketika selesai, Sakura terlihat sibuk dengan alat-alat permainan tadi. Kedua tangannya penuh karena membawa keranjang dan bola. Melihat itu (Y/n) menghampiri Sakura dan membantunya.
Walaupun kesal, (Y/n) tetap membantu Sakura. Setidaknya ia berusaha menjadi orang yang baik.
"Aku bantu, ya, Sakura."
Sakura menoleh ke arah (Y/n) yang sedang meraih keranjang dari tangannya. "Ah, (Y/n)! Terimakasih banyak."
(Y/n) mengangguk.
"Aku haus, apakah ada minimarket di dekat sini, Sakura-san?"
Sakura tampak berpikir sejenak. "Ada! Kurasa kita harus berjalan sekitar 100 meter, dan ada minimarket di sana. Mereka menjual es krim yang enak."
"Ah, benarkah? Aku ingin kesana!"
"Kurasa lebih baik kalau kita ke sana saat malam hari, udaranya sangat sejuk."
"Baiklah!"
Sakura hanya tersenyum menanggapinya. Tak lama mereka sampai di villa dan meletakkan alat-alat permainan tadi. Mereka menuju ke kamar untuk berganti pakaian renang menjadi pakaian olahraga dan beristirahat sejenak.
Saat itu sudah ada Aoi dan Yami yang telah berganti pakaian. Dan sedang memakan snack di atas lantai kamar mereka.
"Hai, (Y/n)! Sakura juga!" seru Yami.
"Sini! Gabung dengan kami. Aku membawa snack banyak." Kini Aoi mengajak mereka untuk duduk dan makan bersama.
Karena telah berganti pakaian, (Y/n) dan Sakura segera menghampiri dan duduk melingkar di lantai. (Y/n) yang memang sedang ingin makan langsung saja meraup snack yang ditawarkan Aoi dan langsung memakannya.
"Kau yang terbaik, Aoi!"
Aoi tersenyum. Sementara itu Yami mengusulkan untuk bermain game jujur atau tantangan untuk mengisi kekosongan mereka. Ajakan Yami langsung saja disetujui oleh ketiga temannya.
"Aku akan memutar botolnya!" seru Sakura.
Sakura mengambil botol bekas minuman jus apel yang diminum Yami dan memutarnya di lantai. Hal ini dilakukan untuk menentukan giliran untuk permainan ini. Tak lama botol berputar dan berhenti mengarah ke Aoi.
Aoi tertawa pelan karena tak menyangka ia akan mendapat giliran pertama. "Aku pilih jujur."
"Baiklah, kali ini siapa yang mau bertanya?" tanya (Y/n) lagi sambil melirik temannya yang lain.
Kemudian Yami mengangkat tangannya. "Aku yang bertanya," katanya.
"Jangan bertanya yang aneh-aneh, Yami."
"Tidak aneh, kok," ucap Yami. "Apa kamu pernah melakukan hal yang memalukan? Beritahu kami!"
"Tentu saja pernah. Aku pernah salah memeluk orang saat berada kelas satu. Aku kira orang itu adalah pacarku, tetapi ternyata orang yang kupeluk merupakan guru bahasa .... "
Ketiganya terkejut sekaligus tertawa mendengar pengakuan Aoi. Apakah matanya sudah tidak berfungsi? Bagaimana bisa mengira bahwa guru bahasa adalah pacarnya? Aneh-aneh saja Aoi ini.
"Bagaimana kau tidak bisa membedakannya, Aoi? Aku yakin mereka adalah orang yang berbeda." (Y/n) bertanya dengan diselingi oleh tawa.
"Mereka memang berbeda, (Y/n)," sahut Yami. "Tapi, kau tau kalau guru bahasa kita itu lebih muda dibanding guru yang lain. Kalian tau? Bahkan guru bahasa lumayan tampan menurutku." Yami melanjutkan.
"Pantas saja! Kau memang sengaja mau memeluk guru bahasa, kan? Hahaha," ledek Sakura sambil tertawa.
Aoi hanya bisa menahan malu, pipinya sudah semerah tomat sekarang. Memang benar Aoi pernah berpikir seperti itu juga, tetapi kejadian itu memang tidak disengaja. Tetap saja hal itu sangat memalukan setampan apapun guru itu.
"Sudahlah! Ayo putar lagi botolnya!" seru Aoi.
(Y/n) pun mengangguk dan segera memutarnya. Tak lama botol itu berhenti dan menunjuk Sakuran
"Nah! Sekarang giliran Sakura." (Y/n) berucap senang. "Jujur atau tantangan?"
"Aku pilih tantangan saja."
"Nah! Aku ingin memberi tantangan," kata Aoi. "Kau pasti punya orang yang disukai di kelas ini. Aku tantang kau untuk menyatakannya saat matahari terbenam setelah kita selesai bermain permainan terakhir hari ini. Bagaimana?"
"Eh? Sakura ada orang yang disukai?" tanya Yami.
Sakura hanya mengangguk sambil tersenyum malu, tanda ia menyetujuinya. Sementara itu tubuh (Y/n) menegang karena melihat respon Sakura. Dirinya sudah tau siapa orang itu. Siapa lagi kalau bukan Levi?
Setelah itu, (Y/n) langsung tidak bersemangat untuk melanjutkan permainan. Untungnya ia tak mendapat giliran setelah Sakura.
"Aku berhenti bermain." (Y/n) berbicara sembari bangkit dan memungut air mineral dari meja. "Aku sesak, mau menghirup udara segar. Bye semua."
Aoi dan Yami menatap (Y/n) dengan khawatir. Sedangkan Sakura berusaha mengejar (Y/n) ke luar kamar.
"(Y/n)! Kau tidak apa-apa?" tanya Sakura ketika berhasil menyusul (Y/n) ke depan pintu villa.
(Y/n) menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin ke pantai lagi sendiri. Kenapa?"
__ADS_1
"Oh ... Apa tidak masalah kalau kau pergi sendiri?"
"Iya, aku ingin melihat ombak di pantai. Itu sangat melegakan pikiran."
Setelah berkata begitu, (Y/n) segera pergi meninggalkan Sakura yang sedang menatapnya. (Y/n) berjalan dengan perasaan yang sedih. Beberapa murid yang menyapanya hanya diabaikan. Begitu juga ketika Yuu dan Hoshi menegurnya.
Tujuan (Y/n) hanyalah pantai. Mau menikmati waktu sendiri dan melupakan kesedihannya. Lagipula Levi sudah merupakan orang yang berbeda. Bukan Levi yang dulu menyukainya.
Reader pov
Aku sangat sedih. Oh, mungkin aku kesal dengan semua ini. Mengapa Levi harus semudah itu melupakanku?
Saat ini aku sedang duduk di pinggir pantai, tetapi jauh dari murid yang lain. Mungkin tak ada seorangpun di sini selain aku. Aku hanya menatap desiran ombak yang bergulung di depanku. Ombak tidak sampai mengenai badanku, hanya sampai pada pergelangan kakiku saja.
"Kenapa juga Levi hanya diam saja ketika dipasangkan dengan Sakura." Aku berbicara pelan.
Oh, mungkin masalahnya bukan itu. Masalahnya adalah ketika Levi yang dulu kembali ke dunia asalnya, dan sekarang telah muncul Levi dengan umur yang berbeda.
Ayolah! Bahkan ia bukan Levi-ku!
Sejumlah kenangan yang telah kulewati saat dulu kembali terbesit di pikiranku. Aku menangkup wajah dengan kedua tanganku. Mungkin aku hanya akan di sini sampai matahari tenggelam dan melupakan permainan kelompok. Aku tidak butuh semua itu.
Bahkan kalau aku tetap mengikuti permainan itu, Sakura akan tetap menempeli Levi.
Sejak kapan Sakura, orang yang aku kagumi semenyebalkan itu? Aku bertanya dalam hati.
Haruskah aku melupakan Levi juga?
Dia tidak menyukaiku. Bahkan melupakan aku. Haruskah aku bertahan?
"Sedang apa?"
Sebuah tangan menyentuh pundakku. Dengan terpaksa aku mengangkat kepalaku dan melihat siapa pemilik tangan itu.
Mataku terbuka lebar saat aku melihat Levi dengan wajah datarnya sedang duduk di sampingku.
"Bagus sekali, bahkan aku berkhayal kalau Levi ada di sini menghampiriku. Aku sudah gila."
Aku pun kembali menutupi wajahku dengan tangan. Tak peduli dengan pikiranku yang terisi oleh Levi.
"Kau memang gila. Aku memang ada di sini," sahutnya sinis.
"Oh, astaga! Kau benar-benar Levi ternyata."
Aku pun menjaga jarakku dengan Levi karena malu. Bisa-bisanya aku terlihat sangat bodoh di hadapannya. Mau diletakkan di mana wajahku ini?
"Sudahlah. Kenapa kau di sini? Tak ada orang, carilah tempat yang ramai."
Aku menggeleng. "Tidak. Aku suka di sini. Tempat yang sangat tenang."
"Terserah." Levi menjawab dan kemudian ikut menatap air laut.
"Kalau kau sedang apa di sini?"
Levi menoleh sebentar sebelum kembali mengalihkan pandangannya. Mata abu-abu itu, sangat indah.
"Aku mencarimu."
Mendengar jawaban Levi aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Apa aku tak salah dengar?
"Mencariku? Untuk apa?"
"Tidak tau. Tiba-tiba saja."
Setelah itu hening. Aku terlalu bingung untuk menebak apa yang ada di pikiran Levi. Laki-laki ini terlalu dingin dan sulit ditebak.
Karena tak tahan dengan keheningan ini, aku membuka suara akhirnya. "Sebentar lagi permainan akan dimulai. Kau tidak mau kembali?"
Levi menggeleng. "Aku malas."
"Kenapa?"
"Membosankan."
Aku mengerutkan dahiku bingung. "Tapi di sini lebih membosankan. Hanya duduk saja dan melihat laut. Dan juga kau harus ada di sampingku saja."
"Memangnya kenapa? Kenapa kalau harus ada di sampingmu?" tanya Levi pelan.
Aku bingung harus menjawab apa. Apa maksudnya? Apa dia suka duduk di sampingku? Atau malah tidak nyaman?
"Tidak apa-apa. Bukankah Sakura lebih menyenangkan?" Aku menjawab dengan suara yang bergetar.
"Kenapa tiba-tiba Sakura?" tanya Levi dengan penekanan. "Ah, sudahlah. Aku lelah. Aku mau pinjam bahumu."
"Hah? Untuk apa?" jawabku dengan bingung.
"Untuk tidur. Aku mengantuk," sahutnya singkat dan segera menyenderkan kepalanya di bahuku.
Sedangkan aku yang melihat perlakuan Levi secara tiba-tiba itu hanya bisa gugup. Apa maksud Levi berbuat seperti ini?
"Kau benar-benar mengantuk, ya ...." Aku berbicara ketika merasakan bahwa Levi telah tertidur karena nafasnya yang teratur.
Aku menghela nafas. Kemudian aku tersenyum bahagia.
Bagaimana aku bisa melupakanmu?
__ADS_1