
Author pov
(Y/n) merasakan pelukan Levi semakin erat. (Y/n) bingung kenapa Levi bisa memeluk dirinya sampai seperti ini.
"Hei, Levi. Kau kenapa?" tanya (Y/n) yang kebingungan.
Levi tetap diam dan semakin mengeratkan pelukannya, namun akhirnya Levi bicara juga. "Aku khawatir bodoh!"
Mata (Y/n) melebar sempurna mendengar perkataan Levi barusan, (Y/n) tak menyangka jika levi akan berbicara seperti itu.
"Kau basah kuyup, Levi," kata (Y/n) khawatir."nanti kau sakit."
"Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa menemukanmu di sini, bocah, " jawab Levi sambil melepaskan pelukannya, Levi menjauhkan pundak (Y/n) dengan kedua tangannya dan kemudian menatap matanya.
"Maaf, (Y/n). Aku tidak tau kenapa Petra ada di sini. Aku tidak menyukainya, (Y/n). Aku lebih memilih mengejar orang yang kusukai daripada bersamanya," jelas Levi sambil menatap mata (Y/n). "dan kau pasti sudah tau siapa orang itu, bocah."
(Y/n) terkejut, tak disangkanya Levi mempunyai perasaan padanya. Jantung (Y/n) berdegup sangat kencang, rasanya ingin copot saat itu juga. Dan dengan wajah yang tersipu, (Y/n) menundukkan wajahnya dan berusaha menutupi rasa malunya.
"Lihat. Permen kapasmu sudah rusak terkena air hujan," tunjuk Levi ke arah dua permen kapas yang kini tergeletak di tanah dengan keadaan yang sudah hancur lebur.
(Y/n) masih merasa malu. Jadi dia tidak sanggup mengangkat wajahnya menatap Levi. Melihat itu, Levi menyentil dahi (Y/n) pelan.
"Bodoh! Jangan tersipu begitu! Aku juga bisa tersipu."
(Y/n) terkekeh pelan sembari mengusap dahinya dan mulai mengangkat wajahnya. Kini tidak ada lagi beban di hatinya tentang Levi dan Petra. Dirinya lega sekaligus senang sekarang.
"Maafkan aku, Levi. Aku meninggalkanmu begitu saja. Kukira kau benar-benar menyukainya. Aku sangat senang Levi, karena kau juga menyukaiku."
Levi tersenyum tipis, dan tangannya bergerak ke puncak kepala (Y/n) dan mengacaknya pelan.
Hujan telah berhenti, langit yang tadinya meneteskan air hujan kembali cerah seperti sebelumnya. Secerah perasaan (Y/n) sekarang.
"Apakah kau kehujanan tadi, (Y/n)? Setelah kau lari tadi, hujan langsung turun begitu saja." tanya Levi sambil mengibaskan rambutnya yang basah.
"Aku sempat kehujanan tadi. Lalu aku bertemu dengan Yuu dan aku pulang untuk mengganti bajuku. Dan aku langsung mencarimu," jawab (Y/n) sambil melipat payungnya karena hujan tidak lagi turun.
"Souka. Ayo kita pulang, bocah. Kau bisa kedinginan nanti," ajak Levi.
(Y/n) menggeleng kuat-kuat. "Tidak! Justru aku takut kau sakit, Levi. Bajumu sangat basah!"
"Aku tidak akan sakit hanya karena kehujanan. Aku sudah sering menghadapi cuaca seperti ini, tenang saja."
"Iya, ya. Kau kan sudah sering melewati berbagai macam rintangan untuk melawan titan. Masa kehujanan saja kau bisa sakit." ujar (Y/n) sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Levi hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil mendengar perkataan (Y/n). Levi sangat senang jika berbicara berdua dengan (Y/n). Hanya saja Levi tidak terlalu memperlihatkannya di depan (Y/n).
Intinya, Levi itu sayang (Y/n). Titik.
Setelah sekian lama Levi dan (Y/n) berjalan dengan didampingi obrolan dan candaan, tinggal beberapa blok lagi tiba di rumah (Y/n). Sambil menikmati langit malam yang cerah setelah diguyur oleh hujan yang lumayan deras.
"Levi, lihat ke langit!" suruh (Y/n) sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah langit malam.
Levi menuruti perkataan (Y/n). Kini matanya tertuju ke indahnya langit malam yang cerah. Dirinya terkagum-kagum oleh pemandangan bintang-bintang yang kembali menghiasi langit.
"Indah sekali, ya." ucap (Y/n) kagum.
Levi mengangguk, meng-iyakan perkataan (Y/n).
"Hei, lihat, ada bintang jatuh!! Ayo kita buat permohonan, Levi!" seru (Y/n) karena melihat sebuah bintang melesat di langit. "permohonan kita akan terkabul nanti!"
Levi pun menanggapinya dengan tidak percaya. "itu hanya mitos, bocah. Aku tidak percaya kau dengan mudah untuk mempercayainya."
"Tidak!! Kau belum pernah mencobanya, Levi!" protes (Y/n), "ayolah! Aku sudah menyebutkan permohonanku. Kamu juga, dong!!"
"Baiklah kalau begitu," turut Levi akhirnya yang mau membuat permohonan.
Namun, bukannya membuat permohonan, Levi malah menarik salah satu tangan (Y/n) agar memperkecil jarak di antara mereka, dan membiarkan (Y/n) berada tepat di hadapannya.
"L-levi??"(Y/n) kebingungan akan apa yang akan Levi lakukan.
"Aku ingin selalu disini dan selalu ada bersamamu. Selamanya."
Dan kemudian, bintang jatuh tersebut hilang melesat di atas langit malam.
"Aku harap. Permohonanku terkabul, (Y/n)."
.
__ADS_1
Yuu pov
Argh!
(Y/n), baka!
Kenapa dia pergi keluar lagi? Dia bisa sakit karena udara di luar cukup dingin.
Lama sekali (Y/n). Kenapa dia belum kembali juga! Oke! Aku mulai khawatir lagi kalau begini caranya, (Y/n)!.
Aku segera bangkit dari kursi ruang tamu dan pergi keluar untuk mencari (Y/n). Aku melangkahkan kakiku ke jalan aspal yang tergenang air. Dan mulai berlari agar segera menemukan (Y/n).
Setelah sampai di blok yang tak jauh dari rumah (Y/n). Aku melihat ada sebuah bintang yang melesat dengan indahnya di langit.
Bintang jatuh! Aku harus membuat permohonan.
Aku pun menatap ke arah bintang tersebut dan mulai mengajukan permohonanku. Aku berharap, aku bisa terus bersama (Y/n) selamanya. Terus melindunginya. Menemaninya. Dan selalu mendukungnya.
Biasanya aku membuat permohonan bersama (Y/n). Tapi sudahlah.
Aku sangat mencintainya. Aku ingin sekali mengungkapkan ini kepadanya. Agar dia dapat mengerti akan perasaanku. Namun, apa yang bisa seorang sahabat lakukan? Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku hanya karena takut hubungan kami retak. Aku hanya bisa memberi perhatianku sebagai sahabatnya. Tidak lebih dari itu. Karena aku tidak memikirkan keegoisanku. Sekarang yang lebih penting adalah, aku bisa bersama dengannya, selamanya... Itu sudah cukup buatku. Sangat cukup.
Setelah aku membuat permohonan, aku kembali berlari mencari (Y/n). Dan sampai aku melihatnya dengan Levi..
Oh my.
Ketika aku akan menghampiri mereka, aku melihat (Y/n) sangat bahagia karena bersama Levi.
Cih!
Aku pun melangkahkan kakiku menghampiri mereka berdua. Berniat memberi pelajaran untuk om itu.
"Hei, (Y/n)! Apa yang kau lakukan?!" teriakku sambil menarik tangannya.
(Y/n) tampak terkejut.
"Apa kau tidak lihat? Aku sedang bersama (Y/n). Dia milikku."
Sialan om ini. Ngajak ribut rupanya?
"L-levi! A-aku malu!"
"T-tapi Yuu. Aku ingin bersama Levi... Lebih baik kau pulang duluan saja," tolak (Y/n).
Mataku melebar. Kau lebih memilih dirinya, (Y/n)?
"Yang benar saja, (Y/n)!! Tidak bisa! Kau harus pulang denganku, sekarang!"
Kulihat om itu menatap datar ke arahku. "hei, bocah. Kau tidak dengar apa kata (Y/n)? Pulanglah!"
Ingin sekali aku menghajarnya. Sungguh. Tetapi aku tidak bisa. Bagaimana jika (Y/n) membenciku? Aku tidak bisa.
Dan pada akhirnya aku pasrah. Aku hanya menuruti apa yang (Y/n) inginkan. Ini demi kebahagiaannya. Dan, agar aku bisa terus melihatnya tersenyum.
"Baiklah," kataku seadanya. "tapi, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti (Y/n). Ingat itu."
Aku pun segera membalikkan badanku dan segera pergi meninggalkan mereka. Hatiku sakit. Tetapi, mungkin ini keputusanku yang terbaik.
Mungkin kau bahagia jika bersama Levi, (Y/n). Aku bisa apa? Ya. Aku hanya bisa mendukungmu. Sebagai sahabat yang baik.
Aku melangkahkan kaki untuk kembali pulang. Ke rumahku. Mungkin aku akan menginap di rumahnya lagi besok...
Ketika sampai di rumahku, aku berniat untuk masuk ke kamarku dan merebahkan diri di kasurku.
"Yuu, katanya kau mau menginap di rumah (Y/n)? Kasian dia sendirian..." sapa kaa-san ketika aku melewati dapur.
"Besok aku akan menginap di rumahnya, kaa-san. Aku sangat lelah, aku ke kamar, ya." jawabku seadanya.
"Ha'i. Oyasumi."
-SKIP-
Blugh.
Aku merebahkan diri ke kasur empukku. Melepas beban lelah dan pikiranku.
Aku masih memikirkan (Y/n) sekarang.
__ADS_1
Baka! Kenapa juga aku meninggalkannya tadi!!
Tetapi, (Y/n) sudah aman karena dia bersama Levi. Jadi kurasa aku tidak perlu terlalu memikirkannya..
Aku pun meraih ponselku. Mengotak-atik galeri fotoku bersama (Y/n). Dulu sebelum Levi muncul di kehidupan kami, kami selalu mengabiskan waktu bersama.
Dan sekarang Festival itu sedang berlangsung. Biasanya (Y/n) selalu mengajakku bermain di sana. Mungkin dirinya pergi bersama Levi..
Dan.. Melupakanku.
Drrrrtt!
Sebuah pesan di terima ponselku. Aku segera melihatnya.
_
From : BakaShigeo.
Hoi. Aku di balkonmu. Bukain, dong! Dingin nih, tega sekali kau!
_
Hah? Ngapain dia di balkonku? Sudah gila, ya?
Aku pun segera membuka pintu balkonku dan melihat dirinya sedang bersandar di tembok.
"Bego. Ngapain ke sini? Apa kau sudah tidak waras?"
"Hidoi... Kau sangat sopan denganku di sekolah, tetapi ketika sedang tidak di sekolah kau tidak sopan! Aku ini senpaimu, bego!"
Aku pun tertawa keras, melupakan rasa sedihku tadi. "Kau gak pantes dipanggil senpai, sumpah."
"Kau terlihat banyak pikiran," katanya sambil melipat tangannya di dada.
"Tidak," jawabku singkat.
Shigeo terkekeh pelan. "Kau pikir aku sudah berapa lama jadi temanmu, hah? Aku tau saat kau ada masalah."
"Baru dua tahun, tuh."
"Bego! Aku serius. Cerita saja, aku akan mendengarkan."
Aku menghela napas pelan. Yah, mau tidak mau aku akan cerita padanya.
Shigeo ini adalah teman dekatku setelah (Y/n). Kami saling kenal saat aku sedang bertanding basket dengan sekolahnya. Dan ketika aku SMA, aku satu sekolah dengannya. Ternyata dia adalah senpai. Dan dekatlah kami sampai sekarang karena kami selalu bermain basket bersama, bahkan satu tim.
Walaupun orangnya agak gesrek, tapi dia sangat baik padaku.
"Kenapa sih? (Y/n) lagi?" tanyanya.
Aku mengangguk pelan. Memang benar karena (Y/n).
"Lho. Kan aku sudah memberinya tiket ke Festival itu. Kau pergi dengannya kan? Kukira ku akan senang pergi bersamanya."
Aku terkejut. Aku? Pergi bersama (Y/n)? Bukannya (Y/n) mengajak Levi?
"Hah? Yang benar?" tanyaku memastikan.
"Iya lah. Masa aku bohong. Waktu dia menemanimu latihan, aku memberikan dua tiket padanya, dan aku menyuruhnya pergi denganmu."
"Yang benar saja! Dia mengajak Levi bukannya aku!"
"Yah... Kau tidak beruntung, " katanya, "dan kurasa, dia tidak menyukaimu, Yuu. Dan itulah yang menjadi masalahmu, kan?"
Aku hanya bisa mengangguk. Dan terdiam cukup lama. Tak kusangka (Y/n) hanya mementingkan Levi dibanding diriku.
Keterlaluan...
"Yah... Singkatnya, kau harus berhenti memikirkannya. Dan kau harus memikirkan seseorang yang lain."
Aku menaikkan sebelah alisku. "maksudmu?"
"Chinatsu-san. Dia menyukaimu. Cobalah untuk menyukainya, ini demi dirimu, Yuu."
"Yang benar saja! Dia menyukaiku?"
Shigeo mengangguk. "yep. Jaa nee! Aku pulang dulu, sudah lumayan larut. Kukira saranku akan membantumu." pamitnya sambil melambaikan tangannya dan turun melalui saluran air yang ada di tembok rumahku.
__ADS_1
Kurasa dia benar. Aku akan berhenti memikirkan (Y/n) dan ini akan sangat baik untukku. Dan tentu saja demi kebaikan (Y/n) juga.
Maaf, (Y/n). Aku akan melakukan ini...