
Petra pov
Aku dipercayakan oleh Heichou untuk melindungi Eren, maka aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk patuh pada perintahnya.
Aku cukup melindunginya dari tangkapan female titan ini bukan? Seharusnya aku tidak perlu khawatir.
Tetapi .... Kenapa aku sangat ragu?
A-aku tidak mau berakhir seperti Gunther.
Tidak! Aku tidak tahan lagi, aku akan melawannya! Demi mematuhi perintah Levi-heichou. Walaupun nyawaku taruhannya, aku tetap akan mematuhinya.
Karena dialah seseorang yang sangat kukagumi...
Dengan sigap aku, Oluo, dan Eld segera melawannya dan menyuruh Eren untuk menjauh. Dan kuharap kami bisa menang.
Dengan segala kekuatan kami kerahkan untuk mengalahkan titan ini, dimulai dengan melumpuhkan kedua matanya, dan segera menyayat kulit titan ini.
Tetapi, kulihat Eld sudah berada di mulut titan itu dan dilemparkan kembali ke rumput.
T-tidak .... Eld. Kau tidak boleh ....
Aku terpaku, melihat titan itu. Kini salah satu matanya telah berfungsi kembali. Aku bergerak mundur, mataku tetap terarah kepadanya. Dan dengan berlari ia menghampiriku.
Oh .... Mungkin ini adalah akhirku...
DUAK!
Yah. Sudah berakhir ....
Aku sangat lemah, tetapi aku masih bernafas .... Aku tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Sepertinya Oluo tidak terima aku dikalahkan seperti ini. Dia sedang melawan titan itu. Berusaha memotong tengkuknya. Namun usahanya sia-sia.
Kini dia berakhir seperti Gunther dan Eld.
Apakah perjuangan kami sia-sia?
Eren telah kembali karena melihat kami yang kalah, dan merubah dirinya menjadi titan. Dia tidak mendengarkanku! Aku sudah bilang padanya untuk percaya kepada kami. Tetapi dia pantas melakukannya, karena kami tidak dapat dipercaya dan berakhir seperti ini.
Aku ingin sekali berteriak. Tetapi, lidahku kelu. Seakan ada yang menahan tenggorokanku.
M-maaf, Heichou. Aku gagal.
Eren berhasil dikalahkan. Kini tubuhnya berada di dalam mulut titan itu dan dibawa pergi entah kemana olehnya.
Seseorang, tolong bawa kembali Eren.
Setelah lama aku berada disini, seseorang mengarahkan manuvernya ke pohon tempat aku berada sekarang.
Levi-heichou?
Dia mencariku?
Heichou. Aku belum mati. T-tolong!
Apakah Heichou sedih aku seperti ini? Apakah dia merasa kehilangan? Kulihat dia hanya menatapku, dan kemudian pergi, aku tidak tau isi hati dan pikirannya. Apakah aku ada di pikirannya? Entahlah.
Setidaknya, pergilah! Selamatkan Eren. Aku tidak pantas diselamatkan. Erenlah yang lebih pantas dilindungi.
Kini aku kembali sendiri, sampai akhirnya seorang pasukan pengintai membawa mayat-mayat yang bergeletakkan, termasuk aku.
Aku dibungkus kain putih olehnya. Oh! Aku masih bernapas!
Dan aku pun tetap diangkatnya ke kereta dan disatukan dengan mayat lainnya.
Ketika aku di kereta, aku dibuang untuk meringankan beban kereta agar tetap cepat dan tidak terkejar oleh titan.
Beginikah nasibku?
Aku menggelinding keluar dari kereta, membiarkan tubuhku terbentur keras dan menghilang ke sebuah lubang asap hitam.
Eh, tunggu? Lubang apa ini?
Aku berputar di dalamnya, dan berakhir di suatu tempat yang sempit. Dan sepertinya tempat ini akan meledak karena mengeluarkan asap.
Dan benar saja, benda ini meledak juga akhirnya. Tubuhku tergeletak lemah di antara puing-puing benda yang tadi.
Aku segera mengeluarkan tanganku agar bisa terhindar dari puing-puing.
Dimana ini?
Aku mencoba untuk berdiri dengan tubuh lemahku ini. Setelah bersusah payah aku berdiri, aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Aku pun terhuyung karena tidak kuat lagi menopang tubuhku.
BRUK.
Aku terjatuh ke lantai dan terkulai lemas, dan mataku hendak terpejam.
Namun ketika belum sepenuhnya aku terpejam, kulihat seseorang sedang mengulurkan sebelah tangannya.
"H-hah?!!"
Seseorang itu kini tepat di depanku, dia berlutut di depanku, sambil mengulurkan tangannya.
Aku sangat bingung. Aku ada di mana, siapa orang ini, dan kenapa aku bisa sampai ke sini?
"Hai. Namaku Ichiro. Kau sekarang ada di rumahku—kamarku— tepatnya," kata orang itu dengan suara yang amat sangat lembut. "Apa kau tau kenapa kau bisa ke sini lewat komputerku?" tanyanya.
Aku tak tau harus menjawab apa. Karena aku sendiri pun tidak tau kenapa aku bisa ada di sini.
"Aku tidak tau ...."
Raut wajahnya kini berubah menjadi cemas. Mungkin dirinya melihat lukaku yang bisa dibilang cukup parah.
__ADS_1
"Kau terluka .... Kau akan aku obati dulu. Lukamu cukup parah. Apa kau bisa bangun? Kalau tidak, biarkan aku menggendongmu dan memindahkanmu ke kasur."
Aku hanya mengangguk pelan dan berusaha untuk berdiri kembali. Namun aku benar-benar tidak sanggup berdiri. Aku akan jatuh lagi.
Tetapi sebelum tubuhku menyentuh lantai, orang yang bernama Ichiro-kun itu menangkapku di pelukannya.
Hangat ....
Aku pun segera diangkatnya dan dirinya menggendongku dan meletakkan tubuhku di kasur.
Lalu dirinya pergi keluar kamar untuk mengambil peralatan untuk mengobati lukaku.
Tak lama kemudian dirinya telah kembali sambil membawa alat yang dia maksud tadi.
Dengan cekatan, dia mengobati seluruh luka yang ada di tubuhku.
Aku meringis kesakitan.
Sakit sekali. Tetapi aku senang, aku tidak mati. Yah walaupun suatu keajaiban kalau aku masih hidup sekarang.
"Petra, ya. Kau tidak tau alasan kenapa bisa ke sini, ya?"
Dia? Tau namaku?
"Kau .... Tau namaku??"
Ichiro-kun pun tersenyum. "Aku tau. Kau adalah Petra Ral. Aku baru saja menonton anime Shingeki no Kyojin. Tadi kukira kau sudah mati. Dan ternyata kau muncul di sini, ya?"
Aku hanya mengangguk, dan aku mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi denganku. Dan Ichiro-kun memahami situasiku sekarang.
Sekitar beberapa bulan berlalu semenjak aku muncul pertama kali di sini. Ichiro-kun sangat baik. Dia bersedia menerimaku untuk tinggal di rumahnya. Ichiro-kun sepertinya tinggal sendiri, karena dia pernah bilang kalau orangtuanya sudah meninggal.
Dirinya selalu memahamiku, menghiburku, dan selalu menjagaku. Walaupun dirinya sedang sibuk bekerja, Ichiro-kun masih sempat meluangkan waktunya untuk menemaniku.
Di saat aku menceritakan kalau aku sedang mengagumi seseorang, yaitu Levi-heichou, dia sangat mendukungku. Aku senang sekali!
Dia tidak peduli jika diriku jatuh sesering mungkin, dia selalu ada di depanku, untuk berlutut dan mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri lagi.
"Tak peduli dirimu tidak bisa bangkit, aku akan selalu berlutut dan mengulurkan tanganku agar kau bisa berdiri lagi, Petra."
"Panggil aku sesukamu, Petra."
Ichiro-kun mempunyai sifat yang sangat lembut jika sedang berbicara denganku.
Tetapi, apakah Heichou juga akan seperti itu padaku? Apa itu tidak akan mungkin terjadi? Dan apakah hanya aku yang memendam perasaan ini?
Bagaimana jika aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya setelah kejadian ini? Aku tidak akan pernah mau membayangkannya.
Aku tidak peduli, Heichou. Aku tidak peduli jika memang dirimu tidak pernah memikirkanku, atau bahkan tidak mau mencari diriku.
Tetapi, yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya aku bisa bertemu denganmu lagi, dan bertarung bersama lagi.
Sebagai anggota squadmu, Heichou.
Aku akan berusaha untuk mencarimu lagi dan bertemu denganmu.
*
Author pov
Petra sedang asyik membaca buku di teras. Ketika sedang serius membaca, ada seseorang yang menutup matanya dari belakang mengacaukan acara membacanya.
"Ah! Siapa ini?" tanya Petra sambil memegang sang pemilik tangan yang menutupi kedua matanya.
"Siapa ya?"
Petra segera menarik tangan yang menutupi matanya. "Ichiro, aku tau itu kau," kata Petra sambil menoleh ke arah Ichiro yang ada di belakangnya. "kau sudah selesai bekerja?"
Ichiro tersenyum. "Iya aku baru saja selesai. Oh iya, kau mau pergi minggu depan bersamaku? Aku sudah mendapatkan ini." Ichiro menunjukkan dua lembar tiket berwarna biru.
"Apa itu?" tanya Petra yang tak tau untuk apa kertas yang dipegang Ichiro.
"Ini adalah tiket untuk masuk ke festival malam yang hanya di adakan satu bulan sekali. Kau mau datang kan bersamaku?"
"Apa kau tidak sibuk?" tanya Petra.
Ichiro mengacak pelan rambut Petra. "Tidak, tenang saja. Lagipula sesibuk apapun aku, aku pasti masih sempat untuk mengajakmu ke tempat itu. Jadi, sesudah aku bekerja aku akan membawamu kesana," kata Ichiro sambil tersenyum.
"Apakah tempat itu menyenangkan?"
"Tentu saja..."
Mata Petra melebar senang, tak di sangka dirinya akan di ajak ke tempat menyenangkan itu oleh Ichiro. Petra sangat bersemangat dan menanti-nantikan hari itu.
***
"Ya, murid-murid. Minggu depan kalian sudah liburan musim panas. Jadi sensei harap kalian memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin," kata Kurosawa-sensei sambil membereskan peralatannya.
Sorak demi sorakan mulai terdengar dari kelas (Y/n), yang kemudian dihentikan oleh gebrakan dari Kurosawa-sensei.
Dan akhirnya kelas kembali hening hingga bel pelajaran terakhir.
"BERI HORMAT!!!" komando sang ketua kelas yang kini sudah berdiri untuk membungkuk memberi hormat kepada sensei.
Murid lain pun mengikutinya untuk membungkuk seraya memberi hormat pada sensei. "Arigatou, sensei."
Sensei pun pergi meninggalkan kelas.
"Aaahh akhirnya libur juga!" keluh (Y/n) sambil melangkah keluar kelas. Matanya menjelajah setiap orang yang berlalu lalang demi mencari Yuu.
"(Y/n)!!"
(Y/n) menoleh ke sumber suara, mendapati yuu sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
"Yuk pulang!" ajak (Y/n).
Yuu menggaruk kepalanya. "Maaf (Y/n) aku ada latihan."
"Souka .... Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu, dimana Aichi?"
"Chinatsu-san sedang ada urusan, jadi dia langsung pergi tadi," sahut Yuu sambil membenarkan letak kacamatanya.
(Y/n) hanya ber-oh ria dan segera menuju ke lapangan untuk menunggu dan melihat Yuu latihan.
Yuu sudah mengganti bajunya menjadi baju olahraga dan segera melakukan pemanasan dan sparing dengan timnya. Lama kelamaan Yuu semakin bermain dengan sempurna, (Y/n) sampai terkagum melihatnya.
'Uwah! Yuu keren juga, ya!' batin (Y/n) dalam hati. Tetapi hal itu segera ditepisnya dan tangannya kini memukul-mukul pelan pipinya.
"Sadar, (y/n). Di hatimu cuma ada Levi!!!!"
Yuu yang melihat kelakuan (Y/n) dari jauh hanya bisa melihat keheranan.
"Halo~~~"
(Y/n) terloncat kaget. Dan segera menoleh ke arah sesuatu yang membuatnya kaget.
"S-siapa?" tanya (Y/n) waspada karena kini di samping tempatnya duduk, telah ada seseorang lelaki yang tak dikenalnya.
"Oh? kau gak kenal aku?" tanyanya sambil menunjuk ke arah dirinya.
(Y/n) hanya bisa menggeleng dan menunggu jawaban dari orang ini.
"Aku teman setimnya Yuu. Kau pacarnya, ya? Kau rela menunggunya sampai malam," tebaknya asal.
"Bukan kok!"
Orang itu menaikkan alisnya tidak percaya. Dan akhirnya orang itu mengeluarkan dua lembar kertas berwarna biru dari tasnya dan segera memberinya ke (Y/n).
"Nih, untukmu."
(Y/n) yang melihatnya pun terkagum-kagum. Dan dirinya segera meraih tiket tersebut.
"U-UWAH!!!! SUGOIII!!!" jerit (Y/n) histeris karena mendapatkan benda itu.
"Iya, kan? Keren ya?" sahut orang itu bersemangat.
(Y/n) menganggukkan kepalanya bersemangat. "Darimana kau dapat ini? Aku saja tidak sempat mendapatkannya! Bagaimana bisa?"
Orang itu cekikikan, dan melipat tangannya di depan dada. "Mudah saja~ Nah sekarang, bersenang-senanglah, acaranya pekan depan. Pergilah bersamanya."
"Oi, Shigeo-senpai! Jam segini baru datang?! Mau latihan apa kau!" gerutu Yuu dari lapangan.
"Eh, matte. Senpai?"
"Hoho~ aku ini senpai mu lho," celotehnya sambil bangkit dari duduk.
"Etto .... Jadi ini tiketnya beneran buat aku?" tanya (Y/n) memastikan.
"Tentu saja," jawab Shigeo sambil mengacungkan jari jempolnya. "Aku tidak tertarik. Nee, aku latihan dulu."
"Terimakasih, senpai."
(Y/n) berteriak dan melompat-lompat senang karena dirinya mendapatkan sepasang tiket berwarna biru dari salah satu senpainya.
"Aku akan mengajak Levi minggu depan!"
(Y/n) pun sudah tidak sabar ingin memberitahukan hal ini kepada Levi. Jadi dia berniat untuk pulang duluan.
"Yuu! Aku pulang duluan, ya!" pamit (Y/n) sambil setengah berteriak.
Yuu menoleh ke arah (Y/n). "Hei! Hari sudah gelap, dan kau mau pulang sendiri? Tetap diam di situ!"
Tetapi (Y/n) tetap berlari untuk pulang. Ketika Yuu hendak mengejarnya, ia ditahan oleh temannya dan disuruh untuk melanjutkan latihan.
Dengan berat hati Yuu menurutinya dan berharap (Y/n) baik-baik saja jika pulang sendiri.
Sedangkan (Y/n) hanya bisa merutuki dirinya sendiri karena memutuskan untuk pulang sendiri. Jalanan yang gelap dan sepi membuat (Y/n) takut.
"Yuu baka! Kenapa dia tidak mengikutiku??!"
Taptaptap.
Sial, ada yang mengikutiku. Batinnya.
Perlahan (Y/n) mempercepat langkahnya demi memperbesar jarak dengan orang yang kini sedang mengikutinya.
Taptaptaptap.
Namun langkah kaki orang yang mengikutinya malah semakin cepat juga. Dengan sekuat tenaga (Y/n) berbalik sambil menutup matanya dan mengarahkan tinjunya ke wajah orang yang mengikutinya.
Namun tangannya kini ditahan olehnya.
"Hei, ini aku."
"Levi??! Maafkan akuuu!!! Aku kira kau orang jahat yang sedang mengikutiku, makanya aku—"
"Tidak apa-apa. Aku sengaja mengikutimu. Aku khawatir, bocah, " balas Levi. "ayo kita ke rumah sekarang. Bocah itu belum pulang?"
"Yuu masih latihan. Aku pulang duluan, malas nungguinnya."
(Y/n) dan Levi pun akhirnya mengarahkan tujuan ke rumah. Tak disangka udara musim panas sudah mulai terasa.
"Hehee, aku pulang duluan karena tidak sabar mau memberitahumu tentang ini," kata (Y/n) sambil menunjukkan dua tiketnya.
Levi menaikkan alisnya. "Apa itu?"
"Ini adalah tiket festival malam yang susah sekali didapatkan. Dan aku mendapatkannya dari senpaiku, " jelas (Y/n) sambil berbinar-binar.
__ADS_1
"Lalu?"
"Kita akan bermain di sana dan menghabiskan waktu berduaaa~~~"