
Reader pov
Sendiri..
Lagi-lagi aku merasa sendiri..
Aku ingin sendiri..
Tapi bukan berarti aku ingin sendiri.
Aku bangkit dari kasur, berjalan menuju meja belajar dan mengambil gunting.
Aku tersenyum hampa.
...***...
Flashback
"KENAPA?!"
Aku refleks berteriak. Sekali lagi Nii-chan menghentikan langkahnya.
"Sudah kubilang, kau berbeda dengannya. Jangan membantahku."
"Aku tau. Tak bisakah Nii-chan mengembalikan Levi untukku? Siapa yang membuat Levi kemari awalnya?"
Nii-chan berbalik menghadapku. "Aku. Tapi itu hanya untuk sekedar hiburan untukmu."
Aku sudah mulai sangat kesal sekarang. "Salahmu! Kalau akhirnya akan seperti ini kenapa dilakukan?!" bentakku.
Nii-chan menghela nafas. "Secinta itukah kau dengan Levi?"
Aku mengangguk pelan.
"Kau tetap mencintainya walaupun kalian itu berbeda?"
"Ya."
"Yakin?"
"Ya."
"Jadi kau sudah berani berbicara kasar pada kakakmu ini? Jahatnya~" ucap Nii-chan yang mulai menghilangkan ketegasan dalam nada bicaranya.
"Aku tidak bercanda, Nii-chan."
Nii-chan terkekeh pelan. "Tidak. Lupakan saja Levi. Jalani kehidupanmu seperti biasa, hanya itu, apa itu sulit?"
"Tentu saja! Nii-chan pikir akan semudah itu melupakan orang yang sangat kucintai? Aku benci Nii-chan."
Wajah Nii-chan kembali serius. "Aku tak peduli. Jalani saja apa yang kukatakan padamu tadi. Kalau kau marah padaku, tak masalah. Sekali lagi aku tak peduli," tegas Nii-chan dengan segala penekanan di setiap kata yang diucapnya.
Aku menggeram. "Kau tau Nii-chan? Untuk yang kedua kalinya, aku benar-benar benci padamu."
"Ya. Dan aku membencimu juga. Lebih baik kau tidak usah lahir saja," bisik Nii-chan pelan tapi cukup untuk aku mendengarnya.
Aku menunduk. Tertawa pelan. Lama-lama tawaku semakin keras. Tatapanku mulai berubah seperti orang yang tidak waras.
"Hahahaha! Kau pikir aku harus mengikuti apa yang kau mau? Heh, yang benar saja!" Mataku mulai berkilat. Kini aku tak mampu mengendalikan diri.
Aku seperti orang gila sekarang.
Ya, orang gila.
"Memangnya apa salahku?! Kau hanya berpura-pura menyayangiku!!!?" teriakku histeris. "KAU MENYAYANGIKU HANYA INGIN DIPANDANG BAIK OLEH AYAH DAN IBU KAN?"
Nii-chan terdiam.
"Heh. Jawab."
Nii-chan tetap terdiam. Dan kesabaranku mulai habis.
"KUBILANG JAWAB! KAU HANYA BERPURA-PURA KAN?! LEBIH BAIK KAU PERGI SAJA!"
PLAK!
Nii-chan menamparku. Aku terkejut, dan aku kembali tersadar.
Aku memegang pipiku. Sakit. Tetapi saat ini hatikulah yang paling sakit.
"Sudah. Kubilang cukup! Aku tak membencimu. Aku bicara seperti itu karena menyayangimu."
"Hahaha. Omong kosong." Aku berbalik. "Mulai sekarang, jangan pernah mengunjungiku lagi. Aku tak mau melihat wajahmu. Pergi, sebelum aku sangat marah." Setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku.
Nii-chan terkejut melihatku yang seperti ini.
"Hei! Sadarlah! Jangan kembali seperti dulu lagi, (Y/n)!"
Aku mendecih pelan. "Aku tak peduli. Siapa yang membuatku seperti ini? Cepat pergi atau aku akan menghajarmu."
Tak ada jawaban. Aku hanya mendengar langkah kaki Nii-chan yang semakin menjauh.
Ya. Bagus. Pergilah yang jauh. Aku membencimu.
Flashback end.
.
Author pov
"Aku pulang."
Seorang perempuan menyahut dari arah dapur, "Ichiro-kun, kau dari mana saja? Aku sudah menyiapkanmu makan siang, tetapi kau tidak ada."
Ichiro melangkahkan kakinya ke arah dapur. Kini dia bagaikan orang yang sedang kehilangan semangatnya.
"Ada apa? Ada masalah?" tanya Petra.
Ichiro mengangguk pelan, dirinya menarik kursi meja makan dan segera duduk.
"Duduklah," suruh Ichiro kepada Petra.
"Ada apa?" tanya Petra setelah dirinya duduk di sebelah Ichiro.
"Soal (Y/n) dan Levi."
"Hah... Sudah kubilang berkali-kali, Ichiro-kun." desah Petra. "(Y/n) dan Heichou itu saling mencintai. Kenapa kau tega memisahkan mereka?"
Ichiro terdiam.
"Dan lagi, alasan untuk kembali ke dunia Heichou yang sebenarnya, itu omong kosong."
Ichiro terkejut. "Omong kosong? Apa maksudmu?"
"Ya," tegas Petra. "Kalau sudah cinta, mana mungkin dirinya mau kembali begitu saja meninggalkan (Y/n)? Kau pasti berbuat sesuatu. Iya kan?"
"B-berbuat apa?"
"Yah, mana aku tau. Yang pasti kau dari awal sudah merencanakan ini sebelumnya. Betul?" selidik Petra
Ichiro terdiam. Kini dirinya tengah berusaha memutar otaknya untuk mencari kata demi kata untuk menyelamatkan dirinya dari penyelidikan Petra.
"A-aku tak merencanakan apapun.. K-k-kenapa kau berfikir seperti itu?" sanggah Ichiro.
"Bodoh."
"Eh, kok?"
Petra menghela nafas. Kemudian Petra meraih kerah baju Ichiro, dan sedikit menarik tubuh Ichiro ke hadapan wajahnya.
"Jujur. Atau kubunuh kau,"
Glek.
__ADS_1
Ichiro menelan ludah sendiri. Baru kali ini Petra mengancamnya seperti itu. "A-ampun! Iya-iya, aku akan jujur padamu. Tapi janji jangan marah, ya.."
Perlahan Petra melonggarkan cengkramannya dari kerah Ichiro.
"Baik. Jelaskan padaku."
Ichiro berdehem sebentar sebelum menjelaskan. Sementara Petra mulai tak sabar, seketika tanpa basa-basi lagi Ichiro langsung memulainya.
"Sebelum Levi kubawa ke sini, aku sudah mengatur semuanya--
"Mengatur apa maksudmu?" potong Petra.
"Sebentar, dong!" ketus Ichiro. "Ya, aku sudah mengatur kapan muncul, bagaimana caranya, dan batas waktu."
Ichiro terdiam sebentar. Ekspresinya kini memperlihatkan bahwa dirinya harus melanjutkan penjelasannya atau tidak.
"Lanjutkan, Ichiro-kun."
Akhirnya Ichiro menyerah, dirinya akan menjelaskan semua pada Petra.
"Aku sudah mengatur kapan Levi muncul. Bagaimana caranya dia muncul, lalu... Yah kau tau sendiri..."
"Batas waktu Levi di sini?"
Ichiro mengangguk.
"Aku tak mengerti. Jelaskan yang benar."
"Baiklah. Aku sudah mengatur batas waktu Levi di sini. Dan jika batas waktu itu telah tiba, sistem akan otomatis menyuruh otaknya untuk memutuskan dia harus kembali."
Setelah mendengar kebenarannya, Petra menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Tega sekali kau."
Ichiro hanya bisa nenunduk. Tega? Memang.
"Aku hampir dihajar oleh Yuu."
"Jadi daritadi kau ada di sana? Sudah bertemu dengan (Y/n) lagi?"
"Aku hanya meminta Yuu agar menyuruh (Y/n) untuk tidak marah lagi padaku. Aku menceritakan kebenaran tentang Levi padanya, tetapi bukannya malah membantu Yuu malah ingin menghajarku. Dasar," keluh Ichiro sambil mengingat kejadian di rumah Yuu.
Petra melongo tak percaya mendengar keluh kesah Ichiro.
Dirinya merasa masa bodoh dengan Ichiro dan segera bangkit dari kursi menuju wastafel.
"Loh kok kau pergi? Kau tidak mau bantu aku?"
Petra mulai memutar keran wastafel dan mencuci piring yang kotor. "Aku malas."
"Kenapa?"
"Pikir saja sendiri."
"Hah?"
...***...
Reader pov
Aku lapar.
Dengan malas aku bangkit dari kasur dan melempar guntingku asal.
Aku melangkahkan kakiku menuruni tangga menuju ke dapur.
Sudah beberapa lama ya aku tidak membuat makanan yang sehat? Aku selalu memasak mie instan, selalu dan selalu.
Aku tidak mau keluar rumah. Keluar kamar kalau tidak ada urusan ke toilet, ya makanan, sama seperti sekarang.
"Apa stok mie instanku masih banyak? Apa aku harus memesan lagi?"
Aku membuka lemari makananku. Dan ternyata masih tersisa sekitar 5 cup mie instan.
Dengan segera aku mengambil mie tersebut dan membuka tutupnya. Aku meraih termos dan menuangkan air panas ke dalam cup.
Tok tok tok !
"(Y/n)? Buka pintunya, aku mau bicara."
Aku tak mau membukakan pintunya. Tetapi orang itu tetap saja mengetuk pintuku dengan keras. Suranya seperti suara Yuu. Karena terus-terusan mengetuk pintu, akhirnya aku menuju ke pintu depan.
"Ya ampun! Kau buat aku khawatir! Berapa lama kau di dalam?! Beberapa hari ini kau tidak sekolah, tidak ada kabar. Dan setiap aku mengetuk pintumu, selalu tak ada jawaban darimu. Kau kenapa?" Yuu menghujaniku dengan kalimat kekhawatirannya begitu aku membuka pintu.
Aku hanya menatap Yuu dengan tatapanku yang hampa. "Aku tidak apa-apa."
Yuu mendecih pelan. "Bohong. Ichiro kan penyebabnya? Aku baru mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kau mau tau?"
"Masuk dulu. Kau mau terus mengoceh di luar?" suruhku.
"Baiklah, ayo kita masuk."
Setelah masuk, aku dan Yuu duduk bersebelahan di sofa dan langsung memulai percakapan kami yang sempat terpotong.
"Apa? Apa yang mau kau katakan padaku?"
"Ichiro tak suka dengan Levi. Makanya dia menyuruh Levi kembali ke dunianya."
"Bukan itu. Dia tak sayang padaku."
Yuu padahal bermaksud untuk menghiburku pasti, tetapi tidak berhasil.
Aku tak butuh dihibur. Aku hanya ingin Levi di sini. Dan Nii-chan? Kuharap dia segera enyah.
"Kau tau, Yuu?" tanyaku. "Sebelum orangtuaku meninggal, Nii-chan sangat menyayangiku. Begitu orangtuaku meninggal, Nii-chan berubah menjadi orang lain. Dia sangat kasar padaku."
Yuu terdiam. "Aku tau. Aku selalu tau, karena aku yang berada di sampingmu waktu itu."
Aku menoleh. "Ya. Kalau kau tak ada waktu itu, Yuu, aku tak tau apakah aku bisa hidup dengan kasih sayang atau tidak."
"Karena aku menyayangimu, (Y/n). Aku yang membuatmu keluar dari penderitaanmu. Dan sekarang, kalau kau merasa seperti itu lagi, aku akan membantumu lagi."
Aku tersenyum. Benar. Yuu selalu membuat aku bersinar kembali.
"Menurutmu apa ada kakak yang bicara kepada adiknya seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti, 'kau yang membunuh ayah dan ibu' atau 'kau yang membuat ayah dan ibu mati!', bagaimana menurutmu?"
"Itu yang kakakmu katakan? Sialan, aku harus menghajarnya."
"Haha, tak kusangka dia akan seperti itu lagi. Aku kira dia sudah berubah semenjak Nii-chan kembali lagi waktu itu."
"Tapi, (Y/n). Kukira dia punya alasan kenapa dia harus melakukan itu pada Levi," kata Yuu.
Aku tersentak.
"Kenapa? Dia yang membuat Levi ke sini, Yuu."
"Kenapa kau tidak bertanya padanya?" tanya Yuu.
"Dia tak mau mengatakannya padaku. Ah, sudahlah."
"Nah. Daripada kau sedih terus, lebih baik kau pergi ke sekolah besok. Kita sudah kelas 3, tidak baik terus-terusan bolos," ucap Yuu sambil mengusap kepalaku.
Aku tertawa pelan. "Baik, bos!"
Drrrttt!!!
Yuu merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya yang bergetar.
"Sebentar, ada telepon masuk."
__ADS_1
"Dari siapa?"
"Chinatsu-san."
Pip!
"Halo? Ya, ada apa, Chinatsu-san?"
"Kau dimana, bodoh!"
"Hah? aku ada di rumah (Y/n). Kenapa?"
"Kau ini bagaimana, sih! Aku sudah menunggu di halte selama satu jam, kenapa kau tidak datang? Apa (Y/n) lebih penting dari pacarmu sendiri? Aku ada di depan pintu (Y/n)."
"Apa? Ya sudah, aku tutup teleponnya."
Pip!
"Ada apa?"
"Chinatsu-san ada di depan rumahmu."
"Aichi? Kenapa dia tidak bilang padaku dulu? Aku akan bukakan pintunya."
Dengan segera aku menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Aku kangen sekali dengan Aichi!
"Halo, Aichi."
"Diam. Mana Yuu?" ketus Aichi dingin.
Ada apa? Kenapa Aichi dingin padaku?
"K-kenapa kau dingin sekali, Aichi?"
"Bukan urusanmu. Lihat! Aku sudah menunggu untuk kencan dengan Yuu, tetapi Yuu malah mementingkan kau daripada aku."
"A-ku tidak paham apa maksudmu, Aichi."
"Hei, hentikan. Kau kenapa Chinatsu-san?" tanya Yuu ketika sudah menghampiri kami.
Aichi terlihat kesal. "Kenapa apanya? Kau masih bertanya juga?! Aku sudah bersiap-siap seperti ini demi kencan denganmu! Dan kau malah membuatku menunggu lama! Sepenting itukah (Y/n) untukmu dari pacarmu sendiri?!"
"Baik, maafkan aku. Kita bisa pergi sekarang," balas Yuu.
"Hah? Semudah itu, Yuu? Aku pulang saja."
Setelah mengatakan itu, Aichi langsung pergi meninggalkan kami tanpa mengatakan apapun.
Dan bodohnya, Yuu tidak mengejar pacarnya itu. Gak peka atau bodoh sih?
"Hei! Kenapa kau tidak mengejarnya? Bodoh!"
Yuu menoleh ke arahku dengan bingung. "Memangnya harus dikejar, ya?"
Astaga.
Ya harus lah.
"Kejar dia, Yuu."
"Ah iya, " ucap Yuu. "eh, tunggu. Akhir-akhir ini Chinatsu-san agak sedikit sensitif padamu. Aku tak tau kenapa, tapi kalau seandainya Chinatsu-san melakukan hal aneh padamu, katakan padaku, ya!"
"Iya. Tenang saja, Yuu. Sekarang kau harus kejar Aichi."
"Oke! Bye! Kau harus sekolah besok!" balas Yuu sambil berlari untuk mengejar Aichi.
Ada apa dengan Aichi, ya? Kenapa dia seperti itu? Apa seperti itu ya orang yang baru pacaran?
Ah sudahlah. Aku harap Aichi baik-baik saja besok di sekolah.
Levi pov
"Argh!"
"Apa sih, levi? Teriak terus daritadi, apa ada yang kau pikirkan, hm?" tanya Hanji sedikit geram.
Aku memijit keningku pelan. "Kenapa aku belum kembali juga ke dunianya?"
"Oh~ jadiY Levi merindukan kekasihmu di sana~? Sejak kapan ya kau menjadi seperti ini? Hohoho, ini sangat mengejutkan!"
"Diamlah."
"Bwahahaha! Baiklah! Orang yang sedang kangen bahaya, ya!" kata Hanji sambil memukuli pundakku.
Setelah puas dengan siksaannya di pundakku, dia melangkah keluar ruangan.
"Semangat ya Leviku sayang~ Jangan sampai kau mati karena kangen~ Kami masih butuh kekuatanmu. Bwahahaha!" Aku tak mempedulikan omongannya yang berisik itu. Dia memang menyebalkan seperti biasa.
Aku menyandarkan punggungku ke kursi. Memejamkan mata dan mulai berfikir.
Masalah di sini sudah hampir selesai kurasa. Mungkin belum sepenuhnya, masih banyak. Saat ini kami sedang mengurus tentang dinding-dinding ini.
Aku mau mencoba kembali. Tapi kenapa aku belum kembali juga ke dunia (Y/n)? Aku tau kalau tidak boleh kembali sekarang karena tugasku belum sepenuhnya selesai. Kami belum tau siapa musuh kami. Akan tetapi, mau bagaimana lagi? Aku merindukannya.
Apa karena orang itu? Ichiro?
Aku sudah mengirim sinyal dengan jam aneh yang ada di pergelangan tanganku ini untuk memberitau bahwa aku ini masih hidup.
Tapi tak ada jawaban. Apa alat itu sudah meledak?
Aku merindukannya.
...***...
Ichiro pov
Apa yang harus kulakukan?
Aku tak berniat untuk membencimu, (Y/n). Waktu itu aku hanya emosi, karena waktu ayah dan ibu kecelakaan. Mereka kecelakaan karena ingin memberimu kejutan di hari ulangtahunmu, (Y/n).
Karena itulah aku menjadi marah padamu. Tetapi di satu sisi aku masih sangat menyayangimu.
Aku kembali lagi ke sini untuk memperbaiki semuanya. Tetapi, aku menghancurkan semua.
Aku membuat Levi ke sini karena aku tau kamu menyukainya. Tetapi aku hanya meminjam Levi sebentar untuk menemanimu sementara aku tidak ada.
Makanya aku hanya mengatur waktu yang sementara untuk Levi. Lagipula Levi juga punya kewajiban di sana.
Apa aku harus mengembalikan Levi lagi Kalau Levi ku kembalikan ke sini, ada resikonya.
Aku duduk bersandar pada bangku kerjaku. Kusentuh alat penemuanku itu.
Kalau aku mengatur waktu Levi di sini untuk selamanya, akan ada dua pilihan di alat ini. Pilihan pertama, Levi akan menghilang dengan (Y/n). Pilihan kedua, Levi akan kehilangan ingatannya tentang (Y/n).
Aku harus apa?
Haruskah aku menghapus ingatan Levi? Tapi, (Y/n) akan sedih jika tau bahwa Levi kehilangan ingatannya.
Tapi (Y/n) sangat merindukan Levi. Kurasa tidak masalah kalau Levi kehilangan ingatan.
"Baiklah, aku akan mengembalikan Levi," ucapku sambil mengatur alat itu.
Terlihat beberapa sinyal di sana. Ternyata Levi memberi kabar kalau dia masih hidup.
Klik!
Aku menekan tombol setting-nya untuk mengatur semua. Batas waktu, di mana, bagaimana, dan lain-lain.
Setelah selesai, aku menekan tombol enter dan muncul sebuah kolom berisi konfirmasi.
'Apakah anda yakin ingin menghapus ingatan item?'
'Ya' / 'tidak'
__ADS_1
Klik!
Permintaan sedang di proses, harap tunggu.