
Author pov
Yuu menatap dingin wajah lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Jika orang ini tidak lebih tua darinya, sudah dipastikan tinju Yuu sudah mengenai wajahnya.
Lelaki itu hanya menatap Yuu dengan mempertahankan keinginannya. Yaitu bertemu dengan (Y/n).
"Ck. Hanya karena kau lebih tua dariku, aku masih menahan diri agar tak menghajarmu," kata Yuu sambil tetap memperlihatkan tatapan dinginnya.
"Yuu, aku ingin bertemu dengan (Y/n). Kau bukan siapa-siapa (Y/n). Kau bukan kakaknya."
Setelah lelaki itu berkata demikian, mata Yuu berkilat-kilat penuh amarah. Dengan satu gerakan, Yuu melempar payungnya asal dan menarik kerah baju lelaki itu dan mendorongnya cukup keras ke arah pohon di sampingnya.
Kini air hujan membasahi tubuh Yuu. "Bisa kau katakan sekali lagi?" kata Yuu dengan suara yang pelan dan di balik kata-katanya, terdapat amarah yang luar biasa.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" balas lelaki itu sambil berusaha melepaskan cengkraman Yuu di kerah bajunya.
"Sangat salah. Aku bukan kakaknya. Tetapi setidaknya, aku berhak dipanggil kakak oleh (Y/n) daripada dirimu, Ichiro (L/n). Dan (Y/n) tak akan pernah mau bertemu denganmu."
Lelaki bernama Ichiro itu pun menyerah, dan dirinya terkekeh pelan. "souka..souka.. Sebenarnya, tujuanku untuk bertemu (Y/n) adalah meminta maaf padanya dan kembali menjadi kakak yang normal untuknya."
Yuu mengangkat sebelah alisnya. "Apakah hanya meminta maaf saja sudah cukup?"
"Hah... Aku tak tau harus apa lagi, Yuu. Aku juga mau membicarakan hal penting dengannya. Percayalah padaku."
Akhirnya Yuu melonggarkan cengkramannya dari kerah Ichiro.
"Baiklah. Tapi, kalau kau masih menyakitinya, aku akan menghajarmu-bukan, membunuhmu."
.
"Jadi, sejak kapan kau pindah kesini?" tanya Yuu yang sudah mulai kalem dengan Ichiro.
Ichiro mengelap wajahnya yang basah terkena air hujan dengan tangannya. "Sebelum itu, bisakah kita berteduh dulu? Bajuku semakin basah."
"Kau tak akan mati jika bajumu basah. Lagipula sudah terlanjur, aku malas bergerak. Jawab saja pertanyaanku," balas Yuu dengan malas.
"Ah, baik.. Kau masih sama, ya. Kau hanya berbicara dengan halus jika dengan (Y/n)," ujar Ichiro. "Aku jadi rindu pada adikku..." lanjut Ichiro sambil mengulurkan tangannya ke arah tetesan air hujan.
Bletak!
"Ittai.. Kenapa kau memukulku? Mana sopan santunmu kepada orang yang lebih tua??!" Ichiro meringis sambil mengelus kepalanya yang dipukul Yuu.
Yuu hanya berdehem pelan. "Kau terlalu banyak bicara, jawab pertanyaanku."
"Ah iya... Kira-kira beberapa bulan yang lalu aku pindah kesini. Aku tau (Y/n) masih ada di sini, tetapi aku tak berani menghampirinya. Jadi aku bersyukur bisa bertemu denganmu, aku bisa meminta tolong padamu."
"Ya, terserah sajalah. Ngomong-ngomong, bagaimana pekerjaanmu?"
Ichiro mendengus pelan. "Oh, Yuu. Kau tau kan, aku hanya mengurung diri di ruanganku hanya membuat barang-barang penemuanku?"
"Ah, iya. Aku lupa kalau kau adalah orang kurang kerjaan sedunia."
Ichiro meringis. Yuu benar, selama ini Ichiro hanya mementingkan hal yang tak berguna di banding adiknya sendiri, (Y/n).
Dan sekarang, disini, Ichiro akan berusaha meluruskan segalanya. Dan kembali menjadi kakak yang baik bagi (Y/n).
"YUU!!!"
Yuu dan Ichiro menoleh karena mendengar teriakan (Y/n) yang histeris.
Ternyata (Y/n) dan Levi berpas-pasan dengan Yuu dan Ichiro saat ingin pulang ke rumah.
(Y/n) berteriak histeris karena akhirnya dirinya berhasil bertemu dengan Yuu.
Saat (Y/n) hendak berlari ke arah Yuu, dengan segera Levi menahan tangan (Y/n). Sementara (Y/n) menatap Levi bingung.
"Itu.. Biarkan aku tetap memayungimu. Kau akan kehujanan jika berlari," kata Levi.
(Y/n) mengangguk, dan kemudian (Y/n) dan Levi segera menghampiri Yuu yang sedang berdiri di bawah pohon.
Ketika (Y/n) sudah dekat dengan Yuu, (Y/n) segera berlari dan memeluk Yuu. Sedangkan Yuu menatap (Y/n) bingung.
"H-hei, (Y/n)! Kau kenapa?" tanya Yuu yang kebingungan melihat apa yang dilakukan (Y/n).
"Kenapa kau menghindariku? Aku sangat sedih, huweee.." kata (Y/n) sambil berpura-pura menangis di pelukan Yuu.
Yuu sadar bahwa seharian ini dirinya sedang mengikuti saran Shigeo untuk menghindari (Y/n). Dan Yuu akhirnya tertawa pelan mengingat tingkah kekanakan yang dilakukannya.
"Maaf, (Y/n). Aku tak berniat menghindarimu, itu semua karena si senpai yang kurang kerjaan yang memberiku saran yang bodoh," jawab Yuu sambil membalas pelukan (Y/n).
"Yuu tidak marah padaku, kan?" tanya (Y/n) sambil mendongakkan wajahnya menatap Yuu.
Yuu tersenyum. "Tentu saja tidak~"
"Astaga. Sudah acara peluk-pelukannya?" tanya Levi dengan nada yang sinis. Dan jangan lupa, dengan tatapan kematiannya, Levi menatap Yuu tajam.
Mendengar Levi berbicara seperti itu, Yuu sekejap langsung melepaskan pelukan (Y/n).
"Ah, maaf."
"Haha... Ternyata adikku ini sedang diperebutkan dua cowok, ya~~" akhirnya Ichiro mengeluarkan suaranya untuk menggoda (Y/n).
__ADS_1
(Y/n) menoleh ke arah Ichiro. Kini matanya melebar karena melihat sosok sang kakak yang sedang berdiri di samping Yuu.
(Y/n) tidak menyadari kalau ada Ichiro di samping Yuu.
"Nii-chan!!!!"
Tanpa Yuu dan Ichiro sadari, dengan mudahnya (Y/n) langsung bergerak memeluk kakaknya.
"Ah, Nii-chan!!! Kemana saja! Aku merindukanmu!!!!" teriak (Y/n) seperti anak kecil.
"Kau... Merindukanku, (Y/n)?" tanya Ichiro tak percaya.
(Y/n) mengangguk senang. "Tentu saja, Nii-chan!!"
Sementara itu, Yuu hanya mematung di tempatnya. Tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.
"S-semudah itu?" keluh Yuu sambil menepuk dahinya.
"Aku tidak mengerti apa yang terjadi disini. Hei, bocah. Siapa dia?" Levi bertanya pada Yuu tentang siapa yang sedang dipeluk oleh (Y/n).
"Apa kau tak mendengarnya? Aku yakin telingamu masih berfungsi, om. Dia kakak (Y/n)."
"Sialan. Kau mau mati, bocah?" balas Levi sambil memberikan tatapan kematiannya pada Yuu.
Disaat (Y/n) dan Ichiro sedang melepas kerinduan, disitulah juga terjadi perang mulut antara bocah kecil dan om-om...
***
Reader pov
Aku sangat lega karena Yuu tidak marah padaku. Yuu melakukan itu karena saran dari Shigeo-senpai. Dia menyebalkan.
Oh iya, aku juga senang karena Nii-chan sudah kembali lagi setelah sekian lama! Aku sangat merindukannya!!
Aku memang sudah lama tak bertemu dengan Nii-chan. Ya, aku sebenarnya masih punya keluarga. Tetapi, Nii-chan pergi dari rumah meninggalkanku dan memilih pindah ke luar kota demi pekerjaannya katanya.
Aku sangat sedih waktu itu, aku tak suka sendirian. Aku benci jika harus sendirian. Hingga beberapa minggu, aku terus mengurung diri di kamar. Dan Yuu sering sekali menghiburku agar membuatku tetap tersenyum.
Aku pernah bilang pada Yuu, kalau aku tak mempunyai siapa-siapa lagi. Aku ingin mencegah Nii-chan pergi waktu itu.
Tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika itu adalah keputusan kakakku, aku akan mendukungnya. Walaupun aku sempat berfikir bahwa dirinya sudah tak menyayangiku karena pergi meninggalkan aku sendiri, tapi aku tau bahwa sebenarnya Nii-chan sangat menyayangiku.
Karena Yuu yang terus menghiburku, perlahan aku mulai melupakan kesedihanku dan tetap melanjutkan kegiatanku dengan tersenyum. Dan aku pun mulai mencari kesenanganku sendiri dengan mulai menyukai hal-hal yang berbau anime.
Hingga aku mengenal tokoh bernama Levi Ackerman. Nama itulah yang juga membuatku tetap terus tersenyum dan melupakan kesedihanku bahkan sampai saat ini.
Hingga akhirnya aku menjadi anak yang tegar dan kuat.
Aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan Nii-chan kembali. Di perjalanan pulang, aku hanya mengobrol dengan Nii-chan dan melupakan Levi dan Yuu.
Sesampainya di rumahku, Yuu dan Nii-chan segera mengganti bajunya yang basah dengan meminjam baju milik Levi, dan aku pun juga mengganti bajuku. Setelah itu, kami pun duduk di sofa ruang tamu bersama.
"Nii-chan! Kumohon jangan tinggalkan aku lagi!" kataku sambil memeluk Nii-chan lagi.
Nii-chan tersenyum dan tangannya bergerak mengelus kepalaku. "Tentu saja, aku tak akan meninggalkanmu lagi.."
Aku pun meneteskan air mataku dan menangis layaknya anak kecil, lalu melepaskan pelukanku. "Huwaaa!!! Nii-chaan~~~ aku menyayangimu.. "
"Eh? Sudah..sudah.. Aku kan sudah ada di sini... Jangan menangis, ya? Nii-chan sayang (Y/n)~~~"
"Kakak macam apa yang meninggalkan adiknya sendirian~" komentar Yuu sambil memutar bola matanya.
"Tch, urusai! Kau tak usah ikut campur, bocah kecil!" jawab Ichiro kesal.
"Hei! Kau meniru gaya bicaraku." omel Levi sambil melipat tangannya di depan dada.
"Benarkah? Maaf kalau begitu.."bjawab Ichiro sambil menggaruk kepalanya.
Aku pun mengelap air mataku dan tertawa karena mendengar Levi berkata seperti itu.
"Hei, Ichiro. Apa kau mau tinggal bersama (Y/n)?"btanya Yuu.
Ichiro berfikir sejenak. "Maunya sih begitu. Hanya saja, kalau aku tinggal di sini, apa tidak masalah jika aku membawa seseorang?"
"Seseorang? Siapa?" tanya Yuu yang penasaran.
"Apa kau tidak bosan bertanya terus padaku?"
Yuu mendecih pelan dan menyandarkan tubuhnya di sofa. "Berisik. Aku hanya ingin tau hal yang menyangkut (Y/n)."
"Aku juga ingin tau." Levi ikut-ikutan menyetujui perkataan Yuu barusan.
Hal ini membuat Yuu menatap aneh Levi. "Apa sih? Om sepertimu jangan ikut-ikutan."
"Ah--pip--(*kata-kata yang tak pantas diucapkan.)" sahut Levi. "Berisik kau, bocah. Aku tinggal bersama (Y/n). Jadi aku berhak menanyakan hal itu."
"Terserahlah."
"Hei, kalian.. Sudahlah..." leraiku.
"Seseorang itu adalah perempuan. Dia.. cantik... Kurasa aku menyukainya.." ujar Nii-chan sambil tersipu malu dan senyum-senyum. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu.
__ADS_1
Mendengar itu, Levi dan Yuu yang tadinya sedang adu mulut seperti biasa, langsung berhenti bicara dan menatap aneh ke arah Nii-chan.
"Oi, kita sedang bertanya padamu. Kenapa kau senyum-senyum seperti orang yang tidak waras?" tanya Levi dengan wajah yang geli melihat tingkah Nii-chan.
"Aku tak mau mengakuinya. Tapi, untuk pertama kalinya, aku setuju dengan om ini," sahut Yuu.
"Haha... Ya, intinya, sekarang aku tinggal bersama orang yang kusukai," kata Nii-chan.
Wuah.. Nii-chan hebat! Sama seperti aku yang tinggal bersama Levi dong!
"Kita sama Nii-chan! Aku juga tinggal bersama orang yang kucintai!" kataku bersemangat.
Sepertinya Levi tersipu mendengar ucapanku, Levi langsung membuang muka ke arah lain agar menetralkan wajahnya yang sedikit tersipu.
"Kau berlebihan, (Y/n)," timpal Yuu kesal.
Sementara itu, Nii-chan terlihat sedang berfikir keras. Aku yang melihat itu berniat menanyakannya.
"Ada apa, Nii-chan?" tanyaku sambil memegang tangannya.
"Tidak. Hanya saja, aku sedikit bingung."
"Ada masalah apa, Nii-chan?"
Terlihat Nii-chan sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat sangat serius. Sampai-sampai kepalanya terkadang mengangguk-angguk.
"Oi. Telingamu tuli atau bagaimana? (Y/n) bertanya padamu," ujar Levi.
"Eh? Bicaramu agak sedikit menyakitkan, ya.. Seperti seseorang..." balas Nii-chan. "aku ingin bertanya pada (Y/n). Apakah akhir-akhir ini kau mendapatkan sesuatu yang menurutmu agak...aneh?"
Aneh? Hm... Hal aneh akhir-akhir ini... Apa ada ya? Setauku sih tidak ada...
"Tidak ada, Nii-chan. Kenapa?"
Belum sempat Nii-chan menjawab perkataanku, Yuu sudah menyambarnya duluan.
"Jadi, husbandomu yang keluar dari komputer itu bukan kejadian aneh?" celetuk Yuu.
Ah! Iya!! Aku lupa... Ya..itu aneh. Sangat aneh. Sampai sekarang pun aku dan Levi tidak bisa memecahkan masalah ini.
"Ah iya Nii-chan! Beberapa waktu lalu, tiba-tiba saja komputerku meledak. Lalu, keluarlah Levi dari sana. Dan sampai sekarang aku tidak tau apa penyebab Levi bisa kesini."
Setelah menjawab pertanyaanku, tampaknya Nii-chan terkejut dan menyadari sesuatu. Apakah Nii-chan mengetahui sesuatu?
"Ah! Jadi yang kulihat ini adalah Levi? Levi Ackerman??!" kata Nii-chan dengan nada yang tidak santai..
Levi pun mengangguk. Sedangkan Yuu hanya menguap mendengarkan percakapan ini.
"J-jadi... Alat penemuanku itu... 100% berhasil lagi??!" jawab Nii-chan setengah berteriak.
Aku, Levi, dan Yuu menoleh bersamaan ke arah Nii-chan karena tidak paham apa yang dikatakannya barusan.
"Apa maksudmu?" tanya Levi dengan nada datarnya. Seperti biasa.
"Aku tak mengerti maksudmu." tanya Yuu juga.
Dengan dirinya yang masih terkejut sekaligus senang, Nii-chan berusaha menjelaskan. "Akulah yang membuat Levi menuju kesini, (Y/n)."
"Apa maksud, Nii-chan?" tanyaku yang masih sama bingungnya dengan Levi dan Yuu.
"Aku sudah cukup lama pindah kesini. Aku cukup memperhatikanmu, (Y/n). Dengan penemuanku, aku bisa mengetahui apa yang kau sukai. Dan dengan penemuanku itu, aku bisa memanggil siapapun dari dunia lain kesini, lalu aku berniat memanggil karakter kesukaanmu, Levi, kesini. Alasan aku melakukan itu adalah, aku ingin membuatmu tersenyum kembali dan tidak sedih mengingatku." jelas Nii-chan.
Aku terkejut. Jadi, selama ini Nii-chan membuat penemuan kerennya itu? Dan membuat Levi ada disini? Tunggu. Aku teringat kembali Petra. Kalau hanya Nii-chan yang bisa melakukan penemuannya, jadi, yang mengeluarkan Petra adalah dirinya?
Jadi.. Nii-chan menyukai Petra??!
"Jadi Nii-chan yang membuat Petra kesini juga?" tanyaku.
"Ya..begitulah... Dia yang tinggal di rumahku..." jawabnya sambil tersipu.
"Huh! Dia hampir menggangguku dengan Levi, tau!"
"Oh iya! Petra itu hanya kagum pada Levi. Jadi tenang saja, kemungkinan Petra menyukaiku juga.." ucap Nii-chan percaya diri.
"Baguslah," sahut Levi singkat. "jadi hubunganku denganmu tetap aman." lanjut Levi sambil tersenyum tipis ke arahku.
Sementara, aku hanya bisa tersipu melihat Levi tersenyum. Tampan tau gak sih!!! Aku gak kuat!!!
Setelah mengetahui kebenarannya, aku, Levi, dan Yuu terdiam sebentar. Sementara itu Nii-chan masih dengan wajahnya yang ceria. Sepertinya dia sangat senang.
"Orang bodoh. Kurang kerjaan seperti biasanya," komentar Yuu.
"Kau kurang kerjaan, dan kau mengingatkanku pada seseorang. Alatmu berguna, kau menemukanku dengan (Y/n)," ujar Levi sambil mengacak sedikit rambutnya. "Tetapi, dimana alat itu?"
Aku pun menoleh ke arah Levi. Perasaanku sedikit tak enak. Kenapa Levi menanyakan alat penemuan Nii-chan?
Jangan-jangan...
"Di rumahku. Kenapa?"
Levi berdehem pelan, aku tak akan sanggup mendengarnya,
__ADS_1
"Bisakah kau mengembalikanku ke dunia asalku?"