Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
16. Jelas


__ADS_3

Author pov


Hening. Ya. Hening melanda mereka semua.


(Y/n) tak paham (lagi) apa yang sebenarnya terjadi di sini.


"Aku tak paham, Nii-chan. Apa maksudmu?" akhirnya (Y/n) angkat bicara, memecah keheningan.


Ichiro tersenyum simpul. "Hm? Bukankah ini maumu? Aku sudah mengembalikan Levi mu."


"Tapi, Nii-chan.. Kenapa Levi yang sekarang lebih muda jika dibandingkan dengan saat pertama kali ke sini?"


"Yah. Ada kemungkinan di saat aku mengembalikan wujudnya yang dulu pernah bersamamu." jelas Ichiro. "Pertama, Levi yang dulu akan hilang ingatan. Kedua, Levi akan berpindah ke dimensi lain. Dalam artian, bisa saja Levi tidak akan pernah sampai kesini lagi. Selamanya."


Dahi (Y/n) berkerut. Tak paham.


"Hah.. Maksudnya, jika aku tetap mengembalikan Levi yang dulu pernah ke sini, Levi akan hilang ingatan. Buruknya, sosok Levi akan hilang."


Sepertinya ada sesuatu di otak (Y/n). Sesuatu yang membuatnya tak mengerti apa yang terjadi.


"Aku masih tak paham..."


Frustasi. Itulah yang dirasakan oleh Ichiro.


"Intinya. Levi yang berdiri di depanmu sekarang adalah Levi dari masa lalu. Levi yang masih remaja, seumuran denganmu. Begitulah." jelas Nii-chan. Sekali lagi, dengan sabar dan tabah.


(Y/n) akhirnya paham. Perasaan campur aduk dirasakannya sekarang. Antara senang karena Levi kembali lagi, dan juga sedih karena (Y/n) harus memulai lagi dengan Levi dari awal.


"Kali ini Levi muncul dari mana?" tanya (Y/n).


Ichiro tampak panik.


"Jangan-jangan..."


(Y/n) menyadari sesuatu. Kini dirinya berlari ke lantai atas dengan secepat kilat. Memeriksa barang berharganya yang baru dibeli beberapa bulan yang lalu.


Komputer berharganya...


Hancur.


Seluruh tubuh (Y/n) langsung lemas ketika melihat komputernya hancur. Dengan gontai dirinya kembali ke lantai bawah untuk menemui Levi dan Ichiro.


"Maaf," kata Nii-chan ketika (Y/n) kembali dengan wajah kusutnya.


"Tapi berita baiknya Levi ku kembalikan, kan? Tolong jangan benci lagi padaku." lanjut Nii-chan sembari memelas.


(Y/n) menghela napas. "Ya..ya.. Aku tak benci padamu, Nii-chan. Terimakasih.." (Y/n) memeluk tubuh Ichiro.


"Ekhem. Setelah ini apa? Aku harus apa?" Levi angkat suara.


"Kurasa, Levi harus menjalani kehidupan di dunia ini dan menjadi orang biasa. Aku tak akan mengembalikan Levi lagi, (Y/n). Tak akan."


...***...


Reader pov


"Kau, sarapan dulu."


Aku masih fokus dengan rambutku. Aku susah payah mengepangnya.


"Mau diapakan rambutmu? Biarkan saja terurai." kulihat pantulan Levi menghampiri meja riasku. "kau lebih cocok seperti ini." kata Levi sambil melepas ikatan di rambutku.


"Hei! Kenapa ikatannya di lepas?!"


"Sudah kubilang kau lebih cocok seperti ini." jawab Levi datar.


"Ah.. Benarkah?"


"Hm."


Aku menarik laci dan mencari bando berpita warna hitam. Dan memakaikannya di kepalaku.


Aku menatap Levi. "Bagaimana? Bagus?"


Levi memandangiku sesaat. Kemudian dirinya berbalik. "Cantik. Dan sekarang cepatlah turun. Sarapan."


Oh my... Tadi apa katanya? Aku cantik? Kurasa... Aku bisa mendapatkan Levi kembali...


Setelah bersiap, aku melangkahkan kaki menuju ruang makan untuk sarapan.


"Aku buat roti. Makanlah."


Aku terkejut. Levi belum bersiap juga daritadi. Ya ampun.


"Kenapa kau belum pakai seragammu, Leviii?" tanyaku gemas.


"Hah? Memangnya aku sudah bisa masuk sekarang? Siapa yang akan mengurusnya?"


"Tenang saja. Nii-chan sudah mengurus semua. Katanya kau tinggal hidup sebagai orang biasa dan tak perlu cemas. Kau bisa tinggal di sini selamanya." jelasku sambil tersenyum. Ah senangnya~


"Aku pakai seragam apa?" tanyanya datar.


"Cari di kamarmu!!! Aku sudah menyiapkannya. Aduh, sudah berapa kali kubilang, hm?"


"Baiklah.."


Levi segera menuju kamarnya untuk mengganti bajunya.


Kalian tau? Karena Levi seumuran denganku sekarang, Levi bisa pergi sekolah! Nii-chan baik sekali!


Levi bukan om-om lagi sekarang!


"Bagaimana?" tanya Levi sambil merapikan seragamnya.


Omg. Dia tampan sekali.


"Ah... Ya... Kau tampan..."


"Hah?"


Dasar. "Lupakan~ karena kau terlalu mencolok, bagaimana ada yang mengenalimu nanti? Jadi aku membelikanmu kacamata agar yang lain tidak langsung mengira kau adalah Levi dari anime yang asli."

__ADS_1


Aku mengambil kacamata dari saku yang memang sudah kusiapkan untuknya. Dan memakaikannya langsung.


"Selesai."


Astaga. Levi tampan sekali. Aku boleh teriak gak?


"Hm? Apakah yang lain tidak akan mengenaliku? Namaku bagaimana?"


"Tenang saja. Yang namanya Levi bukan hanya satu orang. Tetapi, Nii-chan tidak menuliskan nama margamu di data identitasmu, kau tak perlu khawatir."


"Levi saja? Baiklah." jawabnya singkat.


"Oke! Lebih baik kita berangkat sebelum terlambat!!"


***


"Bahkan sekolahmu sangat besar. Keadaan kotamu juga bagus dan nyaman. Beda sekali dengan kota di bawah tanahku." ujar Levi sambil mengarahkan kedua matanya ke seluruh penjuru sekolah.


Aku sudah menceritakan kepada Levi bahwa kehidupan di duniaku lebih baik jika dibandingkan dengan dunianya. Pasti Levi akan betah tinggal di sini.


"Ya, begitulah." ucapku


Tak lama bel berbunyi saat kami berada di koridor. Dengan seribu langkah, kami berjalan menuju kelas kami.


Dan apa hal baiknya? Levi sekelas denganku!!! Jadi aku bisa bebas mengawasi keadaannya.


"Sini pegang tanganku."


Levi menatapku datar. "Untuk apa? Aku tidak mau."


Oh. Jadi ini rasanya ditolak? Sakit ya..


"Baiklah. Tapi kita harus berlari. Sudah waktunya masuk kelas."


Ketika hendak berlari tanganku ditahan seseorang dari arah belakang.


"Hei." panggilnya.


Aku menoleh.


"Hoshi? Kenapa?" tanyaku ketika tau bahwa yang menahan tanganku adalah Hoshi.


"Aku ikut denganmu."


"Oke! Kami baru saja akan ke kelas." jawabku sambil tersenyum ramah.


Hoshi melirik ke arah Levi sambil bertanya-tanya. "Dia siapa?" tunjuknya.


"Oh? Ini murid baru di kelas kita, Hoshi."


"Hm. Begitu.. Aku Hoshi. Murid baru juga." Hoshi memperkenalkan dirinya kepada Levi sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.


Levi menyambut uluran tangannya. "ya. Salam kenal, aku Levi."


Sebenarnya aku khawatir. Bagaimana jika Hoshi mengenali Levi? Gawat nih.


"Dia agak mirip.. Hm.. Kau tau? Anime apa ya? Aku lupa." tanyanya sambil meletakkan jarinya di dagu seraya berpikir.


"Ah itu? Levi Ackerman dari anime Shingeki no Kyojin?"


"Ya. Itu maksudku. Tapi kenapa sangat mirip? Aku tidak pernah menontonnya, tapi aku tau."


"Itu.. Karena namanya Levi, kupikir aku akan menata rambutnya sama juga hahaha..."


Hoshi tambah bingung, "kalian.. Tinggal bersama?" ceplosnya setengah kaget.


"Ah... Begini, orangtua Levi menitipkan Levi di rumahku. Karena orangtuanya sedang bekerja di luar negeri. Begitu.." keringat dingin mulai membasahi keningku. Semoga Hoshi akan percaya dengan omonganku yang 100% bohong ini.


"Oh. Yasudah, aku tak peduli. Ayo masuk kelas." akhirnya, kata itulah yang ingin kudengar. Haha, aku pandai berbohong rupanya.


Dengan diam seribu bahasa. Kami menuju kelas dengan canggung. Untunglah masalah ini kuselesaikan dengan baik.


Tapi tak sampai situ saja ujian kami. Ketika baru masuk kelas, guru Bahasa ku sudah mengetuk meja dengan jarinya, menandakan dirinya telah menunggu kedatangan murid yang terlambat, kami.


"(L/n), jam berapa ini?"


Astaga. Guru ini mulai marah.


"A-ano.. Baru jam 8.15, sensei..." bodoh! Aku malah semakin membuatnya marah.


Dengan tangan kanannya, guru itu menaikkan kacamatanya yang berkilat karena pantulan cahaya. Wah.


"Baru, ya?"


"Ampun, sensei. Saya terlambat."


"Oh, saya juga terlambat. Maaf." ucap Hoshi santai. Wah berani sekali dia.


Guru itu tersenyum, "ya. Tak masalah, yang penting kamu sekarang duduk."


Wah, guru ini tak marah?


Aku dan Hoshi memberi hormat pada sensei dan segera ambil langkah seribu untuk duduk di tempatku. Sedangkan Levi masih ditahan oleh sensei untuk mengisi data yang kurang.


Di sana Yuu telah menanti untuk menertawaiku.


"Bwahahahaha. Kau ini kenapa, (Y/n)??" tuh kan. Dia langsung menyemburku dengan tawanya ketika aku baru saja meletakkan pantatku.


"Diamlah, kau kenapa tak datang ke rumahku?"tanyaku sambil menaruh tas di kolong meja.


"Yak. (L/n)! Masih berani ngobrol?"


Sial.


"Gomen..."


"Hari ini, kalian kedatangan murid baru lagi." kata sensei sambil mengetuk meja, meminta perhatian, "Baiklah, perkenalkan dirimu."


"Saya Levi. Tidak terima pertanyaan. Sensei saya boleh duduk?"


Wah, bagus sekali Levi Ackerman..

__ADS_1


"Ya, silahkan, di pojok sana ada satu tempat duduk kosong."


Levi segera membungkuk memberi hormat dan segera duduk.


Murid di kelasku diam seribu bahasa melihat perkenalan yang tak manusiawi ini. Tak ada komentar satu pun...


Eh. Sebentar.


Yuu kan belum tau kalau Levi sudah kembali. Apakah dia akan terkejut? Aku menoleh ke belakang untuk melihat keadaan Yuu.


Dan benar saja. Dirinya sudah melongo keheranan. Ingin rasanya aku melemparkan kertas ke dalam mulutnya. Haha.


"(Y/n)? K-kenapa dia bisa kembali?"


Hah... Sepertinya aku harus menjelaskannya setelah istirahat nanti...


***


"Jadi, begitulah..." aku menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Yuu sembari menyeruput susu cokelat yang ku dapat dari kantin. Ku lirik Levi yang sedang memangku wajahnya memandang ke arah luar jendela.


Mau bagaimana juga dia tetap tampan.


"Yah. Baguslah dia sudah kembali. Kau tidak sendirian di rumah lagi." Yuu membenarkan letak kacamatanya sambil ikut memandang ke arah Levi sekilas. Kemudian dirinya menatapku. "Karena kau tau kan, aku sudah tidak bisa sesering itu menemuimu sekarang. Pacarku.. Hahaha..."


"Ah.. Aku paham, tidak apa-apa kok!"


Ya... Memang sejak Yuu pacaran dengan Aichi, Yuu jarang menemuiku hanya sekedar untuk menanyai bagaimana kabarku. Dia.. Sedikit berubah. Entahlah. Aichi juga seperti itu.


"Hei, kenapa melamun? Ada masalah? Cerita padaku."


"Tidak apa-apa. Hehehee."


"Ekhem. Hei, teman-teman? Bisa tolong perhatiannya sebentar?"


Tiba-tiba Sakura menepuk tangannya sambil meminta perhatian teman sekelas. Ada beberapa dari kami yang memperhatikan, ada pula yang ribut sendiri atau asik sendiri.


"Oi, lihatlah ketua kelasmu."


Hening. Mata semua orang langsung tertuju pada Levi, sang pemilik suara yang kelewat datar tapi tegas itu. Sontak saja semuanya langsung duduk diam dan mulai memusatkan perhatiannya pada ketua kelas.


Sakura terkejut, tetapi kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Tersenyum. "Terimakasih."


"Wah lihat dia, (Y/n). Hebat sekali." cibir Yuu sambil memutar bola matanya. Aku hanya tertawa kecil dan mulai memperhatikan Sakura yang ingin bicara.


"Jadi, teman-teman.. Pekan depan kelas kita akan diberi izin untuk berlibur!"


Satu kelas hening. Setelah itu, ada satu orang murid yang bersorak sambil menggebrak mejanya. Dan hal itu langsung disambut dengan sorakan murid lain.


"Kita akan berlibur dimana?" tanya Hoshi.


"PANTAI!!!!"


"Ah, itu bagus, Sakura," sambutku dengan gembira. Jujur saja, pantai adalah salah satu tempat yang aku sukai. Dan aku bisa ke sana dengan Levi!


Sakura melanjutkan. "Dan kita akan menginap di villa selama 2 atau 3 hari. Jadi aku membuat kelompok untuk bermain-main di sana. Aku akan menulis di papan tulis."


Sakura mulai menuliskan beberapa nama kelompok. Hingga tiba giliran kelompokku.


Kelompok F



Sakura


(Y/n)


Yuu


Rei



Aku mengeluh. Aku tidak sekelompok dengan Levi. Tetapi sama Yuu juga tidak apa-apa.


"Kita sekelompok." Yuu menarik pelan helai rambutku. Aku mendengus pelan.


"Huh! Jangan menarik rambutku, bodoh!"


Semua murid telah mendapat kelompoknya. Hanya nama Levi yang belum tertera di sana. Mungkin karena namanya belum tertulis di absensi kelas.


Melihat itu, aku segera memanggil Sakura-san. "Sakura, tetapi Levi belum mendapat kelompoknya."


Sakura melirik ke arah Levi. Dan menepuk dahinya. "oh iya! Kau murid baru! Baiklah, aku memasukkannya di kelompok F bersamaku. Kau tidak keberatan kan, Levi?" ujarnya sambil tersenyum.


"Ya. Di mana pun aku tidak peduli." jawabnya singkat seperti biasa.


Sakura tertawa mendengar perkataan Levi. Kemudian berbicara lagi, "yah, sekian informasi dariku. Kita akan berangkat minggu depan. Jadi, bersiaplah teman-teman!"


Setelah memberikan informasi, murid lain kembali melakukan aktifitasnya yang sempat tertunda tadi. Ada yang keluar kelas, ada yang tetap di dalam kelas atau tetap mengobrol.


"(Y/n), aku ke kantin dengan Aichi dulu, ya! Apa kau mau ikut?"


"Tidak. Kalian pergi saja berdua." jawabku sambil mengayunkan tangan. "Aku tidak mau jadi nyamuk. Hahaha!"


"Hahaha, baiklah. Tapi kau sudah makan? Aku akan bawakan roti untukmu nanti. Bye!"


"Bye!"


Yuu melambaikan tangannya dan kemudian berjalan keluar kelas.


Sementara itu Sakura menuju ke mejanya. Dia menaruh beberapa buku di meja, lalu menarik bangku di dekat mejaku. "Hei, apa kau mengenal Levi? Tadi pagi kulihat kau datang bersamanya." tanyanya setelah duduk.


"Ya.... Dia temanku dari jauh. Begitulah. Kenapa?" jawabku seadanya. Aku takut Sakura bertanya lebih atau mengetahui identitas Levi.


"Kau tau? Tadi.. Eum..." Sakura terlihat menggaruk pipinya yang sedikit memerah. "Dia tampan.. Dan oh! Aku suka sifatnya yang dingin itu.."


Deg!


Apa Sakura menyukai Levi?


Jangan sampai.

__ADS_1


__ADS_2