Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
23. Hubungan


__ADS_3

Author pov


Semua murid yang berlibur di pantai telah kembali ke aktivitasnya masing-masing. Mereka sangat bersenang-senang selama liburan. Namun, mereka sekarang disibukkan dengan aktivitas seperti biasanya.


Begitu juga dengan (Y/n), gadis ini kembali ke rutinitasnya sehari-hari bersama dengan Levi. Ia tampak bahagia dengan semua hal kecil yang ia lakukan ketika sedang bersama dengan Levi.


Hari dan bulan pun berlalu. Kehidupan yang (Y/n) jalani terlihat sama seperti biasa, walaupun hubungannya dengan Sakura tampak merenggang karena gadis itu menyukai Levi. Sepertinya Sakura masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatian dari Levi.


Sakura kerap melakukan sesuatu hal yang membuat (Y/n) merasa jengkel. Terkadang, Sakura menuang lem di sepatu (Y/n), akibatnya (Y/n) harus pulang dengan menggunakan kaos kaki saja.


Tak sampai di situ, Sakura juga sering membicarakan hal yang tidak-tidak tentang (Y/n) kepada murid lain di kelas. Hal itu terkadang membuat (Y/n) sangat sedih. Hingga Levi geram dan mengancam siapa saja yang melakukan hal itu pada (Y/n)


Hari ini, tampaknya Sakura melakukan hal semacam itu lagi pada saat jam olahraga. Ia kembali mengguyur soda tepat di baju olahraga saat (Y/n) hendak membawanya ke ruang ganti.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja. Tanganku licin." Sakura berdalih, kemudian ia melangkah ke luar kelas dengan bersenandung ria.


Levi dan Yuu baru saja hendak memasuki kelas untuk meminum air dari botol minumnya sebelum pelajaran olahraga di mulai.


"Lho? Kau belum ganti baju, (Y/n)?" tanya Yuu.


Levi yang melihat ke arah meja pun terkejut karena baju olahraga milik (Y/n) sudah basah oleh soda. Ia pun geram dan berkata dengan dingin, "Siapa yang melakukannya? Sakura lagi?"


(Y/n) mengangguk. Kemudian ia hanya tersenyum getir. "Tidak apa-apa, Levi. Lagipula aku malas untuk mengikuti pelajaran olahraga!"


"Tidak bisa kubiarkan." Ketika Levi hendak keluar kelas dan berniat mencari si pelaku, cepat-cepat (Y/n) menarik lengannya.


"Sudah kubilang tidak apa-apa, Levi."


"Tch."


(Y/n) kemudian melirik ke arah luar kelas dan mendapati Aichi yang sedang berdiri di depan pintu yang terbuka.


"Yuu, aku membawakan air minum dingin untukmu." Aichi berjalan memasuki kelas. Ia tersenyum kikuk saat bertemu pandang dengan (Y/n).


"Chinatsu-san! Ah, terimakasih banyak minumannya!" seru Yuu senang. "Kenapa kau bisa keluar dari kelas? Apa sedang tidak ada pelajaran di kelasmu?"


Aichi menggeleng. "Guru di kelas kami sedang sakit. Jadi, kelas kami sedang kosong dan kami hanya akan menunggu hingga pelajaran olahraga tiba setelah kelas kalian selesai," ujar Aichi. Kemudian matanya melirik baju olahraga yang tampak basah itu di atas meja. "Ya ampun, siapa yang melakukan hal ini?"


"Sakura," timpal Levi, suaranya datar.


"(Y/n), kau bisa memakai baju olahragaku." Tiba-tiba Aichi menawarkan baju olahraganya untuk dipinjam. Setelah itu ia berkata sambil berlari menuju kelasnya, "Sebentar, ya! Aku mau ambil baju olahragaku dulu!"


Melihat perlakuan Aichi yang seperti itu, (Y/n) tersenyum.


"Kalian berdua sudah kembali seperti biasa, ya?" Yuu menyenggol lengan (Y/n) sambil tersenyum lebar.


"Mungkin," jawab (Y/n).


Beberapa saat kemudian, Aichi telah kembali lalu mengajak (Y/n) menuju ke ruang ganti.


"Apa tidak apa-apa?" tanya (Y/n) ragu saat ia hendak mengganti bajunya di ruang ganti. "Kalau nanti kupakai, bajumu kotor dan kau tidak bisa memakainya lagi."


Aichi mengangguk. Matanya melirik ke segala arah. Ia tampak gugup. "Tidak masalah ... itu ... hal yang biasa dilakukan oleh sahabat, bukan?"


Sontak saja mata (Y/n) melebar. Ia tak percaya dengan apa yang Aichi katakan. Aichi kini sudah tidak menjaga jarak lagi dengannya.


"Kau sudah tidak marah padaku?" tanya (Y/n) dengan hati-hati.


"Ah, soal itu .... Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk bersikap seperti itu padamu." Aichi berbicara pelan sambil menunduk, "Aku hanya cemas, apakah aku pantas untuk Yuu atau tidak."


"Kenapa kau berpikir seperti itu, Aichi? Tentu saja kau pantas."


"Karena aku merasa seperti orang asing di antara kalian. Aku merasa kalau Yuu hanya peduli padamu ...."


Mendengar perkataan Aichi, (Y/n) tersenyum tipis. "Yuu peduli padamu. Jangan merasa cemas seperti itu. Kau tahu? Yuu hanya memperlakukanku seperti adiknya. Dia terlalu berlebihan, aku kadang merasa sebal padanya."

__ADS_1


"Begitu .... Baiklah, aku tidak akan seperti itu lagi." Aichi menghela napasnya pelan. Perasaan lega muncul di hatinya. "Aku juga salah. Aku tidak seharusnya bersikap seperti itu padamu. Kau adalah sahabatku. Maafkan aku, (Y/n)."


(Y/n) mengangguk pelan dan tersenyum senang. Setelah selesai berganti pakaian, (Y/n) dan Aichi segera menuju ke lapangan. Aichi Berniat untuk menonton pelajaran olahraga kelas (Y/n) untuk mengisi kekosongan jam pelajarannya.


Ketika Aichi duduk di pinggir lapangan, Yuu tiba-tiba datang menghampiri Aichi dan duduk di sampingnya sembari menunggu giliran tes olahraganya.


Hening melanda mereka berdua. Hingga Yuu memulai pembicaraan. Matanya memperhatikan Levi yang sedang bermain lempar bola bersama (Y/n). "Kau sudah makan?"


Aichi mengangguk. "Sudah. Aku makan roti tadi pagi. Kau?"


"Aku juga." Yuu merogoh saku celana olahraganya dan mengeluarkan sebungkus cokelat lalu menyerahkannya pada Aichi. "Aku membeli ini tadi pagi."


Pipi Aichi bersemu merah ketika Yuu menepuk pelan kepalanya. "Terimakasih, Yuu."


...***...


Reader pov


Tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung menarik tangan Levi ke luar gerbang sekolah. Levi hanya menurut ketika tubuhnya kuseret paksa.


"Kau mau apa?" tanya Levi ketika aku menatapnya dengan penuh harap.


"Hari ini, toko roti enak baru saja buka! Kita harus ke sana!"


"Kau tahu dari mana kalau roti milik mereka enak?" Levi mengangkat sebelah alisnya.


"P-pokoknya, kita harus ke sana sekarang!"


"Ya, terserah kau saja." Akhirnya Levi menurut dan membiarkan tubuhnya kembali diseret oleh (Y/n) menuju toko roti yang baru saja dibuka.


Aku tersenyum puas ketika berhasil membawa beberapa bungkus roti di tanganku. Hanya dengan menghirup aromanya saja membuat perutku berbunyi. Aku senang bisa mendapatkan roti ini dengan mudah ketika suasana di dalam cukup ramai oleh pembeli.


Ketika aku berjalan bersama Levi aku menyenggol lengannya dan menggodanya, "Untung saja tidak ada orang yang mengenalimu di sana, tempat itu cukup ramai. Sepertinya tidak ada orang yang tahu dan menyukaimu, Levi. Kau tidak populer."


"Mau aku populer atau tidak, aku tidak peduli. Tetapi memang, aku cukup populer ...."


Levi hanya memperhatikan wajahku lekat. "Sepertinya begitu. Dinding di kamarmu sudah memperjelas semuanya."


"Jangan seperti itu, Levi. Bisa saja mereka cuma menganggap kau hanya orang biasa dan juga tidak ada yang benar-benar mengira kalau seorang Levi Ackerman muncul secara nyata, kan?"


"Mungkin. Aku juga tidak peduli."


Kemudian aku baru teringat kalau chapter terbaru shingeki no kyojin sudah tersedia dan dapat dibaca. "Aku harus bersiap untuk membaca lanjutan kisahmu nanti di rumah. Kau, jangan mengganggu dan kau tidak boleh lihat. Lagipula, kau juga tidak boleh melihat masa depanmu begitu saja ...."


Levi hanya menatapku bingung. "Kau mau membaca ceritaku?"


"Yah ... hanya ini yang dapat kulakukan .... Setidaknya, sejauh yang kubaca di manga, Levi yang dulu masih aman, dan tidak ada sesuatu hal yang terjadi padanya. Tapi, aku sedikit mencemaskannya yang sedang berdiam di tengah hutan sambil mengawasi seseorang ...."


"Tidak usah kau pedulikan." Levi berkata cuek.


"Ah ... kau benar. Kau kan orang yang kuat, aku tidak perlu cemas!"


Levi menepuk puncak kepalaku. "Kau sudah tahu itu. Jadi, tidak usah terlalu kau pikirkan."


Aku sangat senang. Walaupun aku tidak tahu persis bagaimana keadaan Levi di sana, tetapi Levi yang sekarang membuat kekhawatiranku sedikit berkurang. Namun, sebenarnya rasa cemas masih menggangguku setiap hari. Siapa yang tidak cemas jika nasib husbandoku yang tidak terjamin aman di tangan sang pemilik jalan cerita shingeki no kyojin?!


Tapi, aku bersyukur karena Nii-chan masih berusaha sebisanya untuk membuatku bahagia. Nii-chan berusaha untuk membuat Levi melaksanakan tugas sebagaimana seharusnya di dunia asalnya dan membuat Levi yang lain datang ke sisiku lagi sekarang. Walaupun berbeda, setidaknya aku senang.


Aku harap, Nii-chan tidak mengecewakanku lagi.


Ketika sampai di rumah, aku dan Levi mengganti seragam kami. Setelah itu, kami bersantai di sofa sambil menyantap roti yang kami beli tadi.


"Bagaimana?" tanya Levi ketika melihat ekspresi wajahku yang berubah ketika selesai membaca.


Aku seharusnya tidak melihat ini. Seharusnya aku berhenti membacanya. Seharusnya aku tidak melihat bagian ini. Seharusnya aku melewatinya saja.

__ADS_1


"Levi ... aku mau nangis!!!"


Aku langsung menghambur ke pelukan Levi dan melempar ponselku ke sofa hingga tak sengaja jatuh ke lantai. Aku menangis karena melihat hal yang tidak semestinya kulihat.


Dengan terisak, aku masih setia berada di dekapan Levi. Ia tampak diam dan tenang. Ia tidak membalas pelukanku, tetapi tangannya tidak berbohong saat Levi menepuk punggungku, berusaha menenangkan.


"Biarkan saja. Apa yang terjadi padanya tidak usah kau pikirkan." Levi mengangkat daguku hingga menatap matanya yang sendu. Ia berbicara dengan pelan, tetapi suaranya terdengar dingin, "Aku masih baik-baik saja di hadapanmu, bukan? Jangan menangis."


"T-tapi, Levi berjanji padaku kalau dia akan kembali dengan selamat!"


"Aku akan baik-baik saja di dekatmu."


Setelah itu, aku memeluknya lagi. Yang kuingat, aku tidak lagi bersuara dan aku hanya terdiam di pelukan hangatnya.


...***...


Aku terbangun di kamar setelah itu. Rupanya, aku tertidur di pelukan Levi. Mungkin, aku terlalu lelah karena tidak mendapat tidur yang cukup semalam.


Ketika aku menoleh ke arah nakas, secangkir teh ada di sana. Kurasakan cangkir yang masih hangat itu ketika aku menggapainya lalu segera meminumnya. Pasti Levi yang membuat ini.


Tak lama, aku telah menghabiskan setengah gelas teh itu bersamaan dengan Levi yang membawa beberapa bungkus makanan ringan kesukaanku.


"Kau yang membelinya?" tanyaku penasaran. Kutarik ingus yang mengalir bekas aku menangis tadi.


"Lap pakai ini." Levi menyerahkan sehelai tisu untuk aku pakai. "Aku baru membeli beberapa makanan untukmu."


Aku mengelap ingus setelahnya dengan perasaan senang ketika tahu kalau Levi membelikan makanan kesukaanku. "Kenapa kau membelikanku ini?"


Levi menjeda ucapannya, ia berjalan dari pintu dan segera duduk di pinggir kasurku. Ia membuka bungkus salah satu keripik dan menyerahkannya kepadaku.


"Karena kau terlihat sedih dan lelah. Kupikir kau akan suka. Kau tidak suka?" tanya Levi. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan di balik wajah dinginnya, tetapi Levi tampak khawatir.


Karena tak ingin membuatnya salah paham, cepat-cepat aku mengangguk. "Aku suka! Kau yang terbaik!"


"Baguslah, kau suka." Levi mengacak rambutku ketika aku sedang asyik mengunyah makanan.


Dengan tatapan matanya yang serius, Levi memperhatikanku yang sedang meraup keripik sebanyak-banyaknya ke mulut. Sesekali, aku memergokinya tersenyum kecil ketika aku tersedak keripik.


"Tidak ada yang lucu! Hei, aku bisa mati karena tersedak jika kau hanya tertawa di atas penderitaanku," protesku karena Levi tak memberikanku air minum saat aku tersedak potongan keripik yang lumayan besar.


Barulah setelah aku protes, Levi menyodoriku teh yang ada di meja. Lantas aku meminumnya sambil cemberut.


Semburat jingga menerobos masuk melalui celah jendela kamarku saat itu. Ekspresi datar Levi ditambah pantulan cahaya matahari yang hendak terbenam semakin membuatku gila karenanya. Aku jadi tidak mau mengalihkan tatapanku padanya.


"Masih sedih?" tanya Levi singkat. Matanya menatap ke lantai, risih karena kupandangi terus-terusan. Mungkin, aku membuat ekspresi yang aneh.


Aku menggeleng setelahnya. Dengan masih menatapnya, aku menjawab, "Jika aku sedih, aku akan malu padamu, Levi."


"Kenapa?" Levi menatap ke arahku untuk bertanya. Tangan kanannya bergerak untuk menyeka remahan keripik di sekitar bibirku.


Wajahku hampir saja meledak dan memerah seperti tomat jika aku tak ingat kalau aku harus menjawab pertanyaan Levi.


"Karena, kau sudah banyak kehilangan orang yang berharga bagimu. Tapi, kau masih saja terlihat kuat dan tidak ada yang melihat sisi lemahmu. Aku malu padamu, Levi. Apalagi, saat kau harus berbagi ingatan dengan dirimu yang lain, kau merasakan kesedihan yang lain juga. Bahkan, kau masih terlihat kuat hingga sekarang." Aku tersenyum dan mengelus pipi Levi. "Kau harus ingat ini, Levi. Tidak peduli seberapa banyak orang yang kau sayangi pergi meninggalkanmu, tapi aku akan selalu ada di sini."


Levi menatapku lama sekali. Barulah ketika aku menatap lekat matanya, semua kesedihan langsung menguar begitu saja dari sana. Aku ingin memeluknya sekali lagi untuk mengatakan bahwa masih ada orang yang akan menguatkan hatinya.


Lalu aku langsung memeluknya begitu saja dan Levi juga tidak menolak pelukanku.


Ketika dekapanku semakin erat, tubuhku seperti tersengat sesuatu. Kala itu, aku merasakan perasaan hangat memeluk hatiku. Perasaan yang tak asing. Aku pernah mendapatkan perasaan ini dulu. Aku pernah merasa sangat bahagia saat itu. Aku rindu perasaan ini.


Levi yang tadinya tidak membalas pelukanku, ia malah memelukku lebih erat sekarang dan menenggelamkan wajahnya di leherku. Tak hanya itu, aku merasakan air mata mengalir dari sana.


Levi menangis.


Lalu aku berangsur menenangkannya dan membiarkan tubuhku direngkuhnya selama yang ia mau. Awalnya aku tidak menyadarinya karena Levi menangis nyaris tanpa isakan. Namun, seiring Kudengar bisikan rendahnya mengalun di telingaku. Aku langsung membeku. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Itu adalah bisikan yang membuatku ingin berteriak untuk mengatakan bahwa aku sangat merindukannya.

__ADS_1


"Aku ... kembali, bocah."


__ADS_2