Levi X Reader! OUT?!

Levi X Reader! OUT?!
5. Yuu atau Levi


__ADS_3

Reader pov


Aku melihat seseorang di depan pintu. Orang itu menunduk dan menumpukan tangannya di atas lutut. Berusaha bernafas dengan teratur sambil terengah-engah.


Tunggu dulu, itu bukannya Yuu. Masa sih?


Aku sangat heran kenapa Yuu kembali lagi ke sini. Apalagi dengan membawa tas ransel besar dan penuh di punggungnya.


Ketika aku hendak mengomelinya karena seenaknya membuka pintu rumahku secara tiba-tiba, dia mengeluarkan suaranya.


"H-hei. A-aku akan menginap di sini. Mana milkshake bagianku?"


"Yuu??!"


Aku terkejut. Ternyata orang yang membuka pintuku dengan cara tidak sopan itu adalah benar-benar Yuu.


Tapi yang membuatku lebih terkejut adalah, kenapa dia mau menginap di rumahku? Padahal rumah Yuu hanya beberapa blok dari rumahku. Bahkan kepleset pun aku bisa sampai ke rumahnya.


Perasaanku tidak enak.


"K-kenapa kau mau menginap di sini, Yuu?" tanyaku yang mulai penasaran.


Yuu mulai berjalan ke arah aku dan Levi. Lalu Yuu meletakkan tasnya di lantai dan duduk di sebelahku.


Yuu meraih gelas berisi milkshake pesanannya sebelum pergi tadi dan segera meminumnya.


"Haa ... Milkshake buatanmu memang yang terbaik, (Y/n)."


"Yuu!!"


Menyebalkan. Yuu tidak menjawab pertanyaanku.


Yuu tertawa. "Iya ... iya. Aku menginap di sini karena jelas saja aku tidak mau kau berduaan dengan 'makhluk' ini," jelas Yuu sambil menunjuk ke arah Levi.


"Hei, siapa yang kau panggil 'makhluk', bocah?" protes Levi sambil memberikan tatapan kematiannya kepada Yuu.


"Kau, lah. Siapa lagi?" balas Yuu kalem.


"Tch. Dasar bocah merepotkan."


"Hei! Aku bukan bocah!"


"Bocah, tuh kelihatannya?"


"Ck! Dasar om-om! Bahkan kau saja tidak lebih tinggi dariku."


Sumpah serapah melayang keluar dengan indahnya dari mulut Levi karena dirinya di panggil 'om-om' dan dibilang pendek oleh Yuu. Yuu yang mendapat sumpah serapah dari Levi hanya menghiraukannya dan tetap mengejek Levi dengan sebutan 'om-om'.


Melihat kelakuan Yuu dan Levi, aku tertawa gemas melihat mereka berdua. Aku tertawa sangat puas sampai aku mendapat tatapan sinis dari mereka berdua.


"Hei, kenapa kau tertawa, (Y/n)?" tanya Yuu.


"Dan aku tidak sependek itu," protes Levi.


"Hahaha! Maafkan aku," balasku sambil membentuk dua jariku menjadi 'peace'.


Dan mereka pun saling mengalihkan pandangannya cukup lama. Tidak mau pandangan mereka saling bertemu.


"Haah ... Kalian ini. Sudahlah, aku mau nonton tv dulu." Akhirnya aku memecah aura tak mengenakkan antara Yuu dan Levi.


Aku pun meraih remot tv dan segera menekan tombol power untuk menyalakan tv.


"(Y/n), sekarang anime itu sudah mulai," kata Yuu.


Oh iya! Aku baru ingat kalau sekarang ada anime Kuroko no basuke di channel itu. Kyaa!!!


"Iya, Yuu. Aku hampir saja lupa."


Aku pun segera mengganti channel yang dimaksud dan segera menonton dengan tenang.


Aku mau melihat (YourFavChara)!! Hm .... Tapi bukannya aku suka dia juga, aku tetap menyukai Levi, sih. Aku hanya bilang (YourFavChara) itu keren. Tapi yang paling nomor 1 di hatiku tentu saja Levi!.


"Wah! Dia keren sekalii!!!" seruku karena melihat (YourFavChara) memasukkan bola ke ring basket seperti biasanya.


"Apanya yang keren? Aku juga bisa melakukannya," jawab Yuu sambil menguap.


"Aku juga bisa," sahut Levi.


Eh?


"Apa sih om-om ini? Ikut-ikut saja," ledek Yuu.


"Sialan kau, bocah."


Kapan sih mereka ini berhenti saling mengejek?


-SKIP-


Levi pov


Sudah sejak kemarin aku masih tinggal di rumah ini tanpa kenyataan yang jelas. Alasan kenapa aku ada di sini juga aku tidak tau.

__ADS_1


Hari sudah malam, dan aku memilih merenung di halaman belakang (Y/n). Aku tidak bisa meninggalkan tugas di duniaku begitu saja. Bagaimana jika ada yang mencari dan membutuhkanku nanti?


Sebelum aku sampai ke sini, aku sedang mengejar si titan sialan itu. Dan apakah Mikasa berhasil merebut kembali Eren dari titan itu?


Sungguh merepotkan.


Untuk sekarang aku hanya bisa memikirkan mereka yang di sana sambil duduk di sini tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku hanya butuh penjelasan. Kenapa aku bisa sampai ke sini?


Aku merasakan angin berhembus, membuat rambutku menjadi sedikit berantakan. Mungkin pilihan untuk duduk di halaman belakang (Y/n) adalah ide yang bagus. Udara di sini sejuk walaupun sudah malam.


"Levi?"


Ada yang memanggilku. Suaranya lembut dan halus. Cocok dijadikan sebagai suara penghantar tidur.


"Hei, Levi?! Kau tidak dengar aku memanggilmu daritadi?" panggilnya lagi.


"Oh, kau bocah. Kenapa?" jawabku sambil sedikit menoleh kearahnya yang sedang berdiri tepat di belakangku.


Ternyata bocah ini yang memanggilku, aku kira siapa.


"Sedang apa kau di sini? Sudah malam, udaranya juga mulai dingin. Yuu sedang memasak makan malam di dalam, lebih baik kamu masuk, Levi."


Sepertinya dia mengkhawatirkan aku. Sebegitukah dia menyukaiku?


Dasar, bocah.


"Aku sedang memikirkan duniaku. Lebih baik kau masuk duluan saja, bocah. Aku akan menyusul nanti," jawabku sambil menoleh ke arah depan kembali.


(Y/n) menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku akan menemanimu."


"Baiklah kalau itu maumu, bocah."


(Y/n) pun duduk di sebelah kiriku, mulai menikmati udara yang semakin lama semakin sejuk.


Lalu kesunyian melanda kami, kini yang ada hanyalah suara angin berhembus pelan yang menerbangkan sedikit rambut kami.


"Kau tau, Levi?" tanya (Y/n) memecah kesunyian yang melanda sedaritadi.


Aku menoleh ke arahnya, menandakan aku akan mendengarkan apa yang ingin dia bicarakan.


"Semenjak orangtuaku meninggal, aku tidak merasa kesepian sama sekali." (Y/n) menoleh ke arahku berharap aku mengetahui apa yang dia maksud.


"Karena ada Yuu. Karena dia, aku tidak merasa kesepian sedikitpun. Dia selalu menghiburku, menemaniku, dan selalu menjagaku. Dia akan menghajar siapapun orang yang berani mendekati apalagi menyakitiku. Jadi, maafkan Yuu kalau dia tidak terlalu suka denganmu, Levi," lanjut (Y/n).


"Aku mengerti. Mungkin bocah itu menyukaimu."


"Eh? Tidak, tidak ... Kami hanya sahabat, mana mungkin dia menyukaiku, " bantah (Y/n) sambil mengibaskan tangannya.


"Iya!"


"Bagaimana kalau aku yang menyukaimu?" sahutku sambil menatapnya, berniat ingin menggodanya sedikit.


Tetapi reaksinya di luar dugaanku. Kini wajahnya sudah merah semerah tomat. Dia memalingkan sedikit wajahnya mengalihkan pandangannya dariku.


"K-kalau kau menyukaiku, aku sangat senang," katanya sambil tersipu.


Oh, ****!


Kenapa aku baru menyadari kalau dia itu imut? Apalagi kalau sedang tersipu seperti sekarang.


Hentikan, bodoh! Dia itu hanya bocah kecil yang polos.


Aku mengarahkan tanganku ke puncak kepalanya, lalu menepuknya perlahan.


"Kenapa tersipu? Aku kan hanya bertanya."


Kulihat dia mengerucutkan bibirnya. "Huh! Aku tau kau bertanya. Kukira kau benar-benar menyukaiku sama seperti aku menyukaimu," katanya sambil menunjukkan jarinya ke arah wajahku.


Karena gemas melihat kelakuannya, aku pun mengacak rambutnya dengan sedikit kasar, yang membuat rambutnya menjadi berantakan. Dan tak disangka aku tertawa kecil.


Setelah sekian lama, akhirnya aku tertawa. Kenapa aku merasa bahagia dengan hal kecil seperti ini?


Sekarang kau yang terlihat aneh, Levi!


"Senang sekali rasanya, ya?"


Aku dan (Y/n) menoleh ke arah sumber suara. Ternyata pemilik suara itu adalah Yuu, si bocah merepotkan.


Kulihat dia sedang bersandar di tembok sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya tertuju ke arah kami berdua yang sedang duduk bersama.


"Eh, Yuu! Apa kau sudah selesai memasaknya?" tanya (Y/n).


"Sudah, semenjak kalian bersenang-senang di sini sekitar 10 menit yang lalu," sahut Yuu sambil melirik jam tangan yang dipakai di tangan kirinya.


"E-eh ... Kukira kau tidak perlu bantuanku, Yuu. Jadi, aku ke sini saja menemani Levi," jawab (Y/n).


"Sudahlah. Makanan sudah siap, ayo kita makan bersama."


Author pov


Mereka pun segera menuju ke ruang makan. Kini di meja makan sudah dipenuhi dengan beberapa menu masakan buatan Yuu.

__ADS_1


Yuu pandai memasak. Bahkan (Y/n) saja tidak pandai memasak seperti Yuu. Jadi, kalau urusan masak-memasak, itu adalah urusan Yuu.


Yuu menarik salah satu kursi dan membiarkan (Y/n) duduk dengan nyaman di atasnya. Dan Levi memutuskan untuk duduk di sebelah (Y/n), disusul yuu yang duduk di depan (Y/n).


Mereka segera mengambil makanan sesuai selera dan langsung melahapnya.


"Waah~ masakanmu luar biasa, Yuu. Seperti biasanya!" puji (Y/n) dengan mulut yang masih dipenuhi oleh makanan.


"Hei, bocah. Telan dulu makanan di dalam mulutmu itu!" suruh Levi. "Dan tak kusangka bocah sepertimu bisa memasak," lanjut Levi sambil terus melahap makanannya.


"Pastinya! Kalau soal memasak serahkan saja padaku," balas Yuu sambil berbangga diri.


Tak berapa lama kemudian, makanan yang memenuhi piring pun telah habis. Yuu segera membereskan piring dan gelas dan membawanya ke wastafel untuk dicuci.


"Mau kubantu, Yuu?" kata (Y/n) untuk menawarkan bantuannya untuk mencuci piring yang kotor.


"Tidak usah, (Y/n). Biar aku saja."


"Baiklah."


Merasa Yuu tidak perlu bantuannya, (Y/n) berniat mengajak Levi untuk memperlihatkan kamar di mana Levi tidur nanti.


"Levi, Aku akan menunjukkan kamar untuk kau tidur. Ayo ikut aku!" ajak (Y/n) sambil meraih tangan Levi dan menariknya, dan Levi mengikutinya.


Setelah menaiki beberapa anak tangga, kini di ujung lorong terdapat sebuah kamar berukuran cukup besar untuk satu atau dua orang. Kamar ini terdapat satu buah kasur berukuran lumayan besar dan beberapa barang lainnya.


"Nah, Levi. Kau akan tidur di sini," kata (Y/n). "Aku keluar dulu. Jika kau butuh sesuatu, bilang saja padaku."


"Baiklah, terimakasih."


(Y/n) pun segera meninggalkan kamar dan menuju ke tempat Yuu sedang mencuci piring.


"Yuu, sudah selesai?" tanya (Y/n) yang kini sudah berada di belakang Yuu.


"Ya, sudah. Kenapa kau tidak tidur, (Y/n)? Besok sudah sekolah." Yuu menoleh ke arah (Y/n) sambil meletakkan piring terakhir di rak piring.


"Aku menemanimu, Yuu. Masa kau sendirian di sini," jawab (Y/n).


Setelah aktivitas mencucinya selesai, Yuu berbalik menghadap (Y/n). "Aku sudah selesai. Sekarang, tidurlah di kamarmu," suruh Yuu sambil menepuk kepala (Y/n).


(Y/n) menatap ke arah kedua mata Yuu, lalu tangannya bergerak untuk melepas benda yang ada di depan mata Yuu, kacamata.


Wajah Yuu sedikit memerah. "Kenapa kau melepas kacamataku, (Y/n)?"


"Kacamatamu basah," jawab (Y/n) sambil mengelap lembut lensa kacamata Yuu yang terkena cipratan air saat Yuu sedang mencuci piring dengan menggunakan bajunya.


"Nah, sudah bersih." (Y/n) lalu memakaikan kembali kacamata Yuu yang telah dilapnya dengan baju tadi. "Kau tidur di mana Yuu?" tanya (Y/n).


"Aku akan tidur di kamar orangtuamu, (Y/n)," jawab Yuu sambil membetulkan letak kacamatanya.


"hmm ... Kamar itu sudah di tempati Levi. Apakah kau mau tidur dengannya?"


Mata Yuu melebar. "yang benar saja! Aku tidak akan pernah mau tidur dengan om-om itu!" protes Yuu. "Aku tidur di sofa saja!"


"Tidur di kamarku saja, Yuu! Kasurku kan cukup besar, lagipula kau dulu kalau menginap di sini juga tidur di kamarku, kan?" sahut (Y/n).


Setelah mendengar tawaran (Y/n), wajah Yuu memerah lagi. Yuu memalingkan sedikit wajahnya untuk menghilangan rona merah di wajahnya.


"Bagaimana, Yuu?" tanya (Y/n) sambil memiringkan kepalanya, menunggu jawaban dari sahabatnya ini.


"E-eh. B-baiklah," jawab Yuu dengan terbata. Debaran kini mulai terasa di dadanya.


"Oke! Aku masuk duluan ya, Yuu."


"I-iya ...."


Demi pakaian dalam titan, Yuu sangat gugup sekarang. Jika dulu dirinya tenang-tenang saja jika tidur di dalam satu kamar dengan (Y/n), sekarang Yuu merasa sangat gugup. Rona merah belum juga hilang di wajahnya.


Sial, umpat Yuu dalam hati karena debaran di jantungnya belum juga mereda.


Dan akhirnya Yuu hanya mengikuti (Y/n) dari belakang menuju kamarnya. (Y/n) tidak akan pernah tau jika Yuu sedang mati-matian menentralkan debarannya yang semakin menggila.


#di suatu tempat#


DUAR!


Sebuah ledakan yang begitu keras menghancurkan sebuah kotak elektronik tersebut.


Kini, benda yang tadinya menyala dan berbentuk kotak itu telah menjadi puing-puing yang berantakan.


Di sela-sela puing-puing benda tersebut, sebuah tangan menjulur keluar, berusaha menghindar keluar dari puing yang menindih badannya.


Sang pemilik tangan itu kini telah berdiri, kemudian terhuyung dan hendak jatuh dan mencium lantai.


BRUK!


Dan kini, dirinya telah tergeletak di atas lantai, membiarkan kain putih melingkari dan menutupi sebagian tubuhnya yang terbalut jubah berwarna hijau lumut yang sedikit ternoda oleh warna merah yang kini telah mengering.


"H-hah?!!"


Matanya melebar, dia mendapati seseorang yang kini sedang mengulurkan tangannya, untuk menolongnya ....

__ADS_1


__ADS_2