
Reader pov
UWAAH!!! Kepalaku diusap sama Levi lagiii!!! Aku sangat senang. Ya ... Walaupun sebelumnya dia sangat kesal padaku karena aku terlalu ingin tau perasaannya.
Tapi wajar, kan? Aku kan sangat sangat sangat mencintainya sebagai husbandoku.
Ketika aku bilang aku akan lompat-lompat kegirangan karena Levi mengelus kepalaku lagi, tiba-tiba saja Levi tertawa kecil walau hanya sebentar.
WAAAH! MAKIN TAMPAN! AKU NGGAK KUAT ... Sering-sering, dong!
"Wah, wah ... siapa ini?"
S-sial ....
Aku terpaku, kini di depanku berdiri seorang laki-laki yang sedang melipat tangannya di depan dada, wajahnya terlihat tidak suka.
"G-gawat!"
Aku lupa. Aku lupa jika ada seorang pun laki-laki yang sedang dekat denganku harus melewati dirinya dulu.
"Bersenang-senang, (Y/n)?" selidiknya sambil sesekali melirik ke arah Levi yang ada di sebelahku.
Aku bingung harus menjawab apa. Berurusan dengannya soal masalah cowok, tidak akan pernah selesai. Aku tidak akan menang, jadi dia yang memutuskan apakah aku boleh dekat dengan cowok lain atau tidak.
Aku harus apa?
"Eh, anu .... Sebaiknya kita masuk dulu," usulku kepadanya.
Dia menaikkan sebelah alisnya. "Baiklah."
Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumahku. Aku mempersilahkan dia dan levi duduk bersebelahan di sofa ruang tamuku, dan aku merasakan aura aneh saat melihat mereka berdua. Dan aku segera duduk di tengah-tengah mereka.
Levi yang sedaritadi diam hanya memandangi orang yang ada di sebelah kananku ini dengan tatapan datarnya.
"(Y/n), Kenapa orang itu menatapku dengan tatapan anehnya?" tanya Yuu sambil menunjuk dengan telunjuknya ke arah Levi.
Oh iya, dia itu adalah sahabat cowok kecilku, Yuu Kazuhiko. Yuu mempunyai rambut berwarna merah yang dibuat agak sedikit berantakan, kulit putih, dan tubuhnya tinggi, Yuu sangat tampan kalau menurutku.
Saat orangtuaku meninggal, dialah yang selalu ada di sampingku, menghiburku, dan menemaniku setiap saat.
Yuu sangat perhatian denganku, tak salah jika tadi dia tidak suka kalau aku berdua saja dengan Levi.
"Mungkin Levi hanya ingin mengenalmu, Yuu," balasku sambil tertawa garing.
Eh, tunggu. Yuu tau jika aku sangat menyukai Levi. Tetapi sebagai karakter anime, bukan yang—
"Kok bisa ya, husbando tercintamu ada disini?"
—seperti sekarang ....
Baru saja aku memikirkan hal itu, Yuu sudah bertanya saja. Apa yang akan aku beritahu kepadanya? Masa sih aku beritahu dia kalau komputerku meledak, lalu husbandoku ini keluar?
Bisa-bisa aku dianggap aneh olehnya.
__ADS_1
Huh, pusing! Levi diam saja lagi daritadi. Bantu mikir, dong!
"Aku sedang mengejar Female titan, lalu ada lubang hitam di depanku. Dan singkatnya aku tertarik masuk ke dalamnya dan berakhir di komputernya. Dan yang terakhir, komputernya meledak lalu aku ada disini," jelas Levi yang akhirnya membuka mulutnya.
"Iya seperti itu, Yuu. Komputerku meledak karena Levi yang berusaha keluar dari komputerku," lanjutku.
Aku menahan nafas. Akankah Yuu percaya dengan apa yang dijelaskan Levi dan aku tadi?
Kulihat Yuu yang manggut-manggut mendengar penjelasan kami. Wajahnya terlihat berfikir dengan serius.
Oh, baguslah dia percaya.
"BWAHAHAHA, YANG BENAR SAJA! OI, (Y/N)? SERIUS?" tawa Yuu pecah juga akhirnya.
Yuu tertawa terbahak-bahak sampai sesekali memukul meja di depannya.
"Yuu, aku ini serius," balasku sambil memanyunkan bibirku.
Yuu akhirnya menghentikan tawanya sambil mengelap air mata yang sedikit keluar karena tertawa.
"Baiklah ... baiklah, aku percaya padamu, (Y/n)."
Akhirnya Yuu percaya dengan apa yang terjadi. Aku jadi sedikit lega karena sahabatku ini bisa percaya denganku.
"Lalu Levi mau tinggal dimana, (Y/n)?" tanya Yuu lagi.
"Di rumahku, lah," jawabku dengan polos.
"Hei, kau kenapa Yuu? Lepaskan!"
Author pov
(Y/n) bangkit dari duduknya dan berusaha menarik tangan Yuu yang sedang memegang kerah baju Levi.
"Berani sekali kau ingin tinggal bersama (Y/n)!" bentak Yuu kepada Levi dan menghiraukan tangan (Y/n) yang berusaha melepaskan tangannya dari Levi.
"Dia yang menyuruhku untuk tinggal di sini," balas Levi datar.
Perlahan Yuu melonggarkan tangannya dari kerah Levi dan kembali duduk. Terlihat Yuu sangat kesal karena mengetahui Levi akan tinggal di rumah (Y/n). Yuu hanya bisa diam sambil menahan kekesalannya.
"(Y/n), tolong buatkan aku milkshake, ya. Sudah lama aku tidak mencobanya," pinta Yuu untuk menetralkan kekesalannya.
Yuu sangat suka milkshake buatan (Y/n). Sejak kecil (Y/n) suka membuat milkshake sendiri untuknya dan Yuu. Karena itulah Yuu sangat menyukai milkshake buatan (Y/n).
(Y/n) tersenyum. "Baiklah, Yuu. Aku akan membuatkannya juga untukmu Levi," kata (Y/n) sambil menuju ke arah dapur.
"Cih." Yuu kesal karena (Y/n) juga membuatkannya untuk Levi. Padahal Yuu berfikir milkshake buatan (Y/n) hanya untuknya.
Melihat Yuu yang seperti itu, Levi angkat bicara. "kau, menyukainya?"
Yuu yang mendapat pertanyaan itu langsung menatap Levi dan hendak melakukan protes.
"T-tidak. Kami hanya sahabat," bantah Yuu. "Aku pulang dulu. Bilang ke (Y/n) kalau aku sedang ada urusan."
__ADS_1
"Kau terlihat kesal," jawab Levi.
"Argh! Sudahlah." Yuu bangkit dari sofa dan segera meninggalkan Levi sendiri di ruang tamu.
"Dasar bocah aneh."
Tak berapa lama setelah Yuu pergi, (Y/n) kembali sambil membawa nampan di tangannya yang berisi 3 gelas milkshake buatannya, dan segera meletakkannya di atas meja.
(Y/n) kebingungan karena matanya tidak melihat sosok Yuu yang tadi masih duduk di sofanya.
"Temanmu baru saja pergi."
(Y/n) yang mendengar itu dari Levi bertanya-tanya. "Kenapa? Padahal aku baru saja membuatkan ini untuknya," kata (Y/n) sambil menunjuk ke arah milkshake buatannya.
"Dia sibuk," jawab Levi sambil mengambil segelas milkshake yang terlihat sangat lezat itu dan segera meneguknya. "Enak."
"Benarkah?" (Y/n) sekejap melupakan pulangnya Yuu karena milkshake buatannya diminum Levi dan ternyata enak.
"Iya, enak. Aku belum pernah merasakannya di duniaku. Aku hanya selalu meminum teh hitam," balas Levi.
"Syukurlah kalau kau menyukainya. Aku sering membuat ini untuk Yuu. Jadi, kalau kamu mau juga aku buatkan, bilang saja padaku," kata (Y/n) sambil meneguk milkshakenya.
Levi mengangguk, dan segera melanjutkan aksi meminumnya.
"Ng .... Levi?" panggil (Y/n).
"Hn?" jawab Levi singkat sembari meletakkan gelas yang kini telah kosong di meja.
(Y/n) menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf , ya. Tadi aku membuatmu kesal."
Levi menatap (Y/n) dengan mata abu-abunya. "Aku yang salah. Aku yang membentakmu," kata Levi.
"Tidak ...tidak! Aku juga salah, aku memang tidak mau kalau kau benar-benar menyukai Petra, jadi—"
Belum sempat (Y/n) meneruskan kata-katanya, Levi sudah memotongnya lebih dulu.
"Kalau aku memang menyukainya?"
Mata (Y/n) melebar setelah Levi berbicara begitu, dan menundukkan kepalanya.
"Hei, aku tidak sungguh-sungguh."
Brak!
Pintu terbuka dengan keras, levi dan (Y/n) menengok ke arah pintu. Kini terlihat seseorang sedang berdiri di depan pintu dengan nafas terengah-engah.
Orang itu membawa tas ransel berwarna navy blue yang cukup besar dan terlihat penuh.
Orang itu menunduk dan menumpukan tangannya di atas lutut. Berusaha bernafas dengan teratur sambil terengah-engah.
"H-hei. A-aku akan menginap di sini. Mana milkshake bagianku?" Orang itu angkat bicara walaupun nafasnya masih tidak teratur.
"Yuu??!"
__ADS_1