
Nur Jamilah harus melewati pahitnya hidup setelah ditinggal oleh orang tuanya untuk selamanya. Panggil saja Nur berusia 5 tahun harus menelan pahitnya kehidupan karena setelah orang tuanya meninggal, Nur dititipkan kepada tantenya yang tak lain adalah adik dari ibu kandungnya.
Nur memiliki 3 saudara kandung, 2 perempuan dan 1 laki laki. Kakak laki lakinya bernama Herman telah menikah dengan gadis desa tetangga bernama Beliastra. Kakak perempuan nya bernama Rayatul Aisyah, karna terbiasa hidup dalam kemewahan raya menjadi manja dan tidak ingin hidup susah. Akhirnya raya menikah dengan pemuda desa yang Kaya memiliki perkebunan luas dan area persawahan yang banyak bernama Bastian Putra. Sedangkan Nur dititipkan kepada tantenya, dan adiknya bernama Marsyidah di rawat oleh kakeknya.
Selama Nur dan Marsyi belum memasuki umur yang cukup untuk mengelola harta warisan, maka pembagian harta mereka dikelola oleh kakak laki laki nya Herman. Herman hidup bergelimangan harta dan kekayaan sehingga melupakan adiknya sendiri yang masih sangat kecil.
Herman berusia 25 tahun, Raya berusia 20 Tahun, Nur 5 tahun, sedangkan Marsyi berusia 3 tahun.
__ADS_1
usia mereka memang terpaut cukup jauh karena disaat raya masih sekolah dia menginginkan adik, dan dipenuhilah oleh orang tuanya, karena kasih sayang orang tuanya kepada Raya.
Raya hidup mewah bersama suami nya setelah menikah dan melupakan adik adiknya yang masih sangat kecil. Nur tinggal bersama tantenya, namun tantenya selalu memperbudak Nur untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan pekerjaan berat lainnya. Sedangkan Marsyi dirawat oleh kakeknya dan dibawa ke desa tempat tinggal asal kakeknya.
Tantenya yang bernama Fatimah selalu menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, membersihkan rumah, bahkan pernah menyuruh Nur untuk pergi setelah subuh ke area persawahan. Betapa teganya Fatimah melakukan itu kepada keponakannya sendiri.
Fatimah memiliki 2 orang anak perempuan yang sangat disayanginya dan dimanjakannya, yaitu Husna dan Husni. Husna berumur 13 tahun sedangkan Husni berumur 10 tahun. Fatimah bekerja mengelola kebun dan persawahan miliknya, sedangkan suaminya bernama Subraga bekerja di perusahaan permesinan di luar kota dan akan pulang sekali 1 tahun.
__ADS_1
Fatimah berusia 35 tahun, sedangkan suaminya 36 tahun masih gagah dan cool dan selalu dapat memikat hati para gadis di desanya. Husna bersekolah di SMP yang agak jauh dari rumahnya dan husna terhitung sebagai siswa baru di sana. sedangkan Husni bersekolah di SD kelas 4 di SD dekat rumahnya.
Nur memiliki perawakan berkulit kuning langsat, rambut hitam panjang dan lurus, mata bulat dengan netra coklat, hidung sedikit pesek, serta bibir mungilnya yang begitu menggemaskan.
Nur termasuk anak yang rajin dan pekerja keras, tapi karena kepahitan hidupnya, dia tak bisa melanjutkan sekolahnya ke bangku SMP, karena tak ada biaya untuk melanjutkannya. Saudara-saudara nya seperti telah melupakannya dan tak mau tau lagi dengan kehidupannya. Nur sendiri tak ingat kalau dia mempunyai kakak dan adik karena terlalu kecil. Di usia nya yang ke 6 tahun Nur sudah bisa membaca dan berhitung.
Di sela sela kesibukan nya bersekolah Nur berjualan kue dan gorengan buatannya yang dititipkan ke warung warung terdekat dari rumahnya, dari hasil itulah dia bisa jajan di sekolah dan membeli buku untuknya bersekolah.
__ADS_1