Lika Liku Kehidupan NUR

Lika Liku Kehidupan NUR
Kembali


__ADS_3

Herman seketika menoleh ke samping, ada seorang wanita yang baru keluar dari satu ruangan dan memanggilnya. Herman berhenti dan terdiam menatap wanita itu, sedangkan yang ditatap menampakkan senyum sumringahnya.


"Kamu Herman kan? " tanya nya.


Herman tak bergerak, dia terus menatap wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu terus tersenyum, kemudian memeluk Herman, "Udah lama yah" ucapnya yang memeluk erat Herman yang masih tak bersuara dan juga tak membalas pelukan wanita itu. Karena tak ada balasan, wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah laki-laki di hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya kepada Herman, dia menempelkan bibirnya ke bibir Herman dan mengecupnya sekilas. Tiba-tiba Herman tersadar dan langsung mendorong wanita itu.


"Apa yang kau lakukan? " tanyanya berteriak.


"Aku merindukanmu" ucap wanita itu kembali memeluk Herman dengan erat. Herman mencoba melepaskan pelukan wanita itu namun tak bisa, pelukannya terlalu erat dan dia hanya bisa pasrah.


"Aku sudah menikah" ucap Herman.


"Aku tau" sahut wanita itu melepaskan pelukannya, "Kamu bisa datang kapanpun kamu mau" ucapnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Herman, "Aku menunggumu" ucapnya berbisik dan meniup telinga Herman menggoda. Herman memejamkan matanya, tak dipungkiri rasa yang masih ada untuk wanita yang berada di hadapannya yang telah meninggalkannya tanpa tau alasannya, Tiba-tiba kini kembali disaat dia tengah bahagia akan menyambut kehadiran sang buah hati.


Herman memegang pinggang wanita itu dan mendekatkan tubuhnya memandang lekat wajah wanita itu, tersirat rasa rindu mendalam di matanya. Perlahan Herman mendekatkan wajahnya meniup bibir wanita itu yang memejamkan matanya menikmati perlakuan Herman, dia tersenyum tipis mengecup bibir wanita itu sekilas kemudian memeluknya erat. "Kamu kemana aja? aku udah mencarimu ke mana-mana" ucap Herman mengeratkan pelukannya.


Wanita itu membalas pelukan Herman dan terisak, merindukan kekasihnya yang terpisah dari nya sejak lama karena ego orang tuanya. Wanita itu tak menjawab pertanyaan Herman, masih terisak di pelukan Herman.


Herman merenggangkan pelukannya, menghapus air mata wanita itu dan mereka berciuman mesra, melepaskan kerinduan yang mendalam. Setelah lama berciuman, Herman mengajak wanita itu ke taman belakang rumah sakit dan duduk di bangku yang ada disana. Suasana hening, mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Aku di LA" ucap wanita itu yang bernama Dara. Herman menoleh menatap wajah wanita yang pernah mengisi hari-harinya di masa lalu. Dara menatap lurus ke depan, "Papah ngancem aku" ucapnya menghela nafas. "Kalo aku nggak ikut, dia bakal nyakitin kamu, dan aku nggak mau itu terjadi" jelasnya.


Herman tercenung dengan perkataan Dara yang mulai terisak mengingat pahitnya masa lalu nya yang harus meninggalkan kekasihnya karena ayahnya. Perlahan Herman mendekap Dara dan menyandarkan kepala Dara di dadanya, mengusap lembut kepalanya. "Kenapa kamu nggak bilang? aku udah cari kamu kemana-mana, aku bingung, kamu nggak ngasih kabar,, Aku tau waktu itu aku bukanlah siapa-siapa hanya anak kampung yang bisa melanjutkan kuliah di kota,, Tapi seenggaknya kamu bilang" ucap Herman masih mendekap Dara di dadanya.


"Aku udah mau ngasih tau kamu, tapi papa nggak bolehin, aku di kasih pengawal dan kalo sampe aku ketahuan nemuin kamu, mereka bakal gak biarin kamu hidup her, aku nggak mau" ucapnya terisak di pelukan Herman.


Setelah tangisannya reda, Dara mengangkat kepalanya melepaskan pelukannya dan meluruskan badannya duduk seperti awal. "Sekarang aku terlambat" ucapnya tersenyum getir. "kamu udah jadi milik orang lain" ucapnya menoleh ke arah Herman.


Herman terdiam tak tau apa yang akan diucapkannya, satu sisi masih terbersit rasa untuk kekasihnya yang telah lama hilang, disisi lain ada istri yang sebentar lagi akan melahirkan buah hati nya. Dara mengakhiri pertemuan mereka dan segera berlalu dari sana menuju tempat tinggalnya. Herman masih terdiam menyandarkan punggungnya, dia tak tau harus berbuat apa, mendadak otaknya tak bekerja untuk mencari solusi dari semua ini. Setelah lama terdiam dia berjalan menuju ruangan Lio untuk menjaga Lio malam ini.

__ADS_1


Keesokan harinya.


"Kak aku berangkat dulu ya" ucap Nur berpamitan pada Lia. Berjalan mendekati kakak iparnya yang tengah menghabiskan sarapannya. "Taksi udah nungguin" ucap lia lagi sambil menyalam tangan Lia,karena semenjak Lio masuk rumah sakit sejak itu pula Nur berangkat sekolah dengan taksi.


"Yaudah, kamu hati-hati ya" ucap Lia dengan seulas senyuman dan mengusap kepala Nur yang dilapisi hijab. Nur melangkahkan kakinya keluar rumah menuju taksi yang terparkir di depan rumahnya. "Maaf ya pak, agak lama" ucap Nur sambil membuka pintu dan mendudukkan dirinya di kursi belakang pengemudi.


"Gapapa neng, namanya juga nunggu penumpang mesti sabar neng, kalo nggak sabar rejekinya juga kehalang neng" ucap supir taksi sambil tersenyum dan mulai menjalankan taksinya. Nur hanya mengulas senyumnya menanggapi ucapan sang supir taksi. Setelah 30 menit perjalanan akhirnya sampailah Nur di depan sekolah kemudian turun dari taksi tak lupa membayar ongkosnya.


Nur berjalan memasuki gerbang sekolah, "Cantik! " goda seorang lelaki yang tak lain adalah teman Evan. Nur pun menoleh kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya tak abis pikir dengan teman-teman Evan yang seringkali menggodanya dan Nur tau itu hanya candaan mereka. Nur tak menghentikan langkahnya terus berjalan menuju kelasnya. Sedangkan Evan, Haikal, dan Miko berjalan di belakangnya, Haikal dan Miko merupakan teman satu geng nya Evan. Mereka sekelas dengan Nur, tak jarang mereka sering kali menggoda Nur karena Nur yang agak pendiam di kelasnya dan memiliki otak yang encer.


Nur terus berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan Evan and the geng. "Jami" panggil seorang gadis yang tengah mengobrol dengan teman sebelahnya si kursi tempat duduk nya. Di kelas teman-teman Nur lebih suka memanggil Nur dengan sebutan 'jami" karena menurut mereka itu lebih gaul.


Nur berjalan mendekati orang yang memanggilnya. "Udah berapa kali aku bilang jangan panggil aku gitu" ucapnya mengerucut kan bibir nya dan duduk di sebelah Ega yang memanggilnya tadi.


Ega hanya cengengesan karena sudah sering mendengar keluhan sahabatnya itu ketika dipanggil 'jami'. "Ya biar kedengerannya keren aja, lagian panggilannya 'Nur' apaan tuh, gak keren sama sekali kuno itu mah, mending 'jami' deh bisa dipanggil 'jem' kan" celoteh Ega terkekeh. Nur hanya menghembuskan nafas merasa jengah dengan sahabat satunya ini, kemudian guru masuk menghentikan perdebatan mereka dan pelajaran pun dimulai.


Jam istirahat Nur pergi ke kantin bersama Ega. Mereka duduk di bangku pojok agar bisa makan dengan tenang, kemudian mereka memesan makanan, mereka mengobrol sambil menunggu makanannya datang.


"Aduhhh, biang rusuh datang deh" keluh Ega memijit pelipisnya dan melirik Miko.


"Heh, gue gak ngomong sama lo, gue ngomong sama jami, ya gak beb" ucap Miko melihat ke arah Nur disampingnya dan melirik sekilas ke arah Evan memberikan senyum liciknya.


"Halaahh gaya lo bab beb bab beb, jajan aja masih minta bonyok lo" ucap Ega tertawa keras mengundang pendangan semua siswa di kantin, dia menutup mulutnya dan meredakan tawanya.


"Hah, biarin bukan urusan lo kutu badak" ucap Miko menjulurkan lidah nya ke Ega.


Ega akan membuka suaranya namun terhenti karena makan mereka datang. "Eh kita juga dong mang, samain aja yah" ucap Evan yang paling sopan di antara sahabat-sahabat nya.


"Makan aja beb, jangan tungguin aku ya" ucap Miko kepada Nur. Nur tergelak menghadapi temannya yang satu ini. Miko terkenal Playboy tapi baik hati, sedangkan Haikal orangnya kalem, baik hati, suka memendam, Evan adalah yang paling pintar diantara mereka bertiga dan juga alim, Ega memiliki kepribadian mudah akrab, sosialis, baik dan tak mandang derajat seseorang.

__ADS_1


Ega mendelik mendengar ucapan Miko kepada Nur, telinganya mulai risih. "Eh, jangan pede an deh lo" ucap Ega ketus.


"Kenapa dari tadi elo yang risih sih, gue gak gangguin lo tuh, makan ya makan aja,, liat noh sebelah lo" ucap Miko tak kalah ketus.


Haikal dan Evan hanya menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan sahabat nya itu, hal yang sudah biasa bagi mereka melihat ini saat mereka berkumpul. "Udah-udah kalian brantem aja dari tadi, liat Nur jadi keganggu gara-gara kalian" ucap Evan bijak.


"Tau tuh onta Arab" ucap Ega dengan mulutnya dipenuhi makanan.


"Abisin dulu makannya ga baru ngomong" ucap Nur lembut.


"Tuh dengerin nasehat calon istri gue" ucap Miko dengan bangga.


"Jangan ngarep deh, jami udah ada calon tau" ucap Ega asal.


"Siapa? " tanya Evan spontan. Miko melihat ke arah Evan dan tersenyum tipis. Nur, Haikal dan Ega menatap Evan meminta penjelasan atas pertanyaan spontannya barusan.


"Ma-maksud gue siapa yang akan jadi calon suami Nur, kan kita masih SMP, jadi ngapain mikirin itu, ya kan" ucapnya gelagapan. Nur, Ega dan Evan menganggukkan kepalanya, sedangkan Miko tersenyum licik kepada Evan.


"Bilang aja lo suka sama jami, udaahh ungkapin aja mumpung suasana lagi adem ayem gini" ucap Miko menyudutkan Evan.


Evan terdiam menatap Nur, sedangkan Nur menunduk menghabiskan makanannya. Evan akan membalas ucapan Miko namun terhenti saat makanan mereka datang. Mereka pun makan tanpa suara serta kecanggungan Evan dan Nur.


"Kalo kamu udah ada calon belum ga? "


****************


Tebak siapa yang nanya tuh!!


Terimakasih yang udah setia nungguin up dari author, karena kesibukan author jadinya yaa susah membagi waktu, siang kerja malem nulis, laahh istirahat nya kapan?

__ADS_1


ya begitulah author😀😁


Demi kepuasan readers🥰🥰


__ADS_2