Lika Liku Kehidupan NUR

Lika Liku Kehidupan NUR
Cinta


__ADS_3

Nur tersentak kaget, Tiba-tiba lampu hidup dan suara orang bertanya. Nur menoleh ke arah asal suara, nampak lah Herman yang berdiri di dekat kontak lampu dengan tangan berlipat di dada dan menatap tajam adik nya itu.


"Jelaskan! " ucap Herman setelah mereka duduk di sofa, Nur dan Herman duduk berhadapan sedangkan Lio duduk di sofa single menatap Nur yang tertunduk meremas jemarinya.


Nur menghirup nafas dan menghembuskan nya perlahan, kepalanya terangkat menatap kakak sulung nya itu. "Tadi aku pulang sekolah nunggu kak Lio di depan sekolah kak, tapi udah 2 jam aku nunggu tapi kak Lio nggak juga datang, trus ada temen aku nawarin pulang bareng, ya aku ikut aja kak daripada aku sendiri disana nunggu sampe malem" jelas Nur dan kembali menunduk dan meremas jemarinya.


Herman mengernyitkan dahinya, kemudian beralih menatap Lio yang sedari tadi menatap Nur. "Ehem" Herman berdehem menyadarkan Lio dari lamunannya. Lio menatap ke arah Herman yang menatapnya tajam. "Jadi kamu pulang tadi nggak bareng Nur yo? " tanya Herman.


Lio gelagapan mendapat pertanyaan dari kakak iparnya, "Enggg,, itu kak,,, Mmm,, Aku tadi ada tambahan extra makanya aku nggak sempet jemput Nur kak" jawab Lio menelan salivanya kasar mendapat tatapan tajam dari Herman.


"Huft" Herman menghembuskan nafas kasar. "Lain kali kalo nggak bisa kamu jemput Nur, kabarin kakak biar kakak yang jemput, ngerti? " ucap Herman kepada Lio dengan nada tegas.


"Iya kak" jawab Lio, "Maafin aku ya kak" ucap Lio kepada Herman, kemudian beralih menatap Nur, "Aku minta maaf ya Nur" ucap Lio kemudian.


"Baiklah, sekarang kembali ke kamar kalian, sebentar lagi kita makan malam" ucap Herman.


Keduanya mengangguk dan berjalan menuju kamar masing-masing. Nur masuk ke kamarnya, membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat isya kemudian. Setelah selesai Nur duduk di atas kasurnya, sejenak Nur mengingat kata-kata Lio ketika mereka berada dalam mobil tadi.


Flashback on.


"Kamu kenapa masih deket sama dia? " tanya Lio memegang erat kemudinya.


"Dia temen ku kak, gimana gak deket kak" jawab Nur lembut.


"Tapi kemaren aku udah bilang jangan terlalu deket sama dia" ucap Lio dengan suara agak meninggi.


Nur terdiam mengalihkan pandangannya menatap keluar jendela, tak mau berdebat dengan Lio.


"Kamu denger aku nggak? " tanya Lio dengan suara yang masih tinggi.


"Memangnya kenapa kak? Apa salah aku memiliki teman disini? apa aku harus sendiri? " tanya Nur mengalihkan pandangannya menatap Lio dengan mata yang berkaca-kaca.


Lio merasakan sesak saat melihat Nur dengan wajah sedih nya, "Huft" dia menghembuskan nafas nya, dia terlalu terbawa emosi, Lio menepikan mobilnya. "Maafin aku Nur, Aku cinta sama kamu" ucap Lio menatap Nur dengan raut wajah serius.


Nur terdiam, lidahnya kelu untuk menyanggah apa yang diucapkan Lio, Nur menatap Lio mencari kebohongan tapi yang ada hanya ketulusan yang terpancar dari mata Lio.


Lio melepaskan seatbelt nya memiringkan tubuhnya menghadap Nur, "Aku ingin berubah karena kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu Nur" ucap Lio tulus.


Lagi-lagi Nur terdiam, dia tak menyangka Lio mencintai nya, "Nur" ucap Lio menyentuh pundak Nur karena Nur melamun sedari tadi. Nur kaget dan langsung menjauhkan tubuhnya.


"Astagfirullah" ucapnya. Nur mengalihkan tatapannya lurus ke depan dan memperbaiki duduknya, "Sebaiknya kita cepat pulang kak, nanti kemalaman" ucap Nur dengan pandangan tetap lurus kedepan, tangannya saling meremas.


"Huft" Lio menghembuskan nafas nya, dan melajukan mobilnya kembali setelah berhenti sejenak di pinggir jalan an pulangnya.


Flashback off.


Ketukan pintu menyadarkan Nur dari lamunannya.

__ADS_1


tok tok tok


"Non, waktunya makan malam non, semuanya sudah menunggu non di meja makan" ucap bia ani di balik pintu.


"Iya bi" ucap Nur kemudian berjalan keluar kamar menuju meja makan. Nur berjalan menuruni anak tangga, dari jauh nampak Herman, Lia dan Lio yang sudah duduk tenang di meja makan. "Assalamu'alaikum" ucap Nur setelah sampai di meja makan.


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka. Mereka kemudian makan dengan tenang, Lio sesekali melirik ke arah Nur sedangkan Nur hanya menunduk menghabiskan makannya, dan itu tak Luput dari perhatian Herman. Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga. Nur duduk berdampingan dengan Lia, sedangkan Herman di hadapannya, Lio duduk di sofa single. Mereka bercengkrana hangat sambil bercanda sampai obrolan mereka mendadak serius.


"Lio" panggil Herman.


"Iya kak" jawab Lio.


"Kamu akan kuliah di harvard" ucap Herman dengan nada serius.


Lio terkejut mendengar apa yang dikatakan kakak iparnya. "Tapi aku mau kuliah di dalam negri saja kak, biar bisa sekalian jagain kak Lia" ucap Lio.


"Tak ada bantahan, tak ada penolakan" ucap herman tegas, kemudian berlalu menuju kamarnya.


Lia berjalan mendekati adiknya yang menunduk, " Kamu yang sabar yah, ini pasti yang terbaik untuk kamu" ucap Lia mengusap bahu adik satu-satunya itu.


"Tapi aku gak mau jauh-jauh kak" ucap Lio, namun pandangannya mengarah kelada Nur yang hanya mendengar pembicaraan mereka, dan Lia menyadari arah pembicaraan adiknya.


"Kakak akan menjaganya, dan kakak pastikan cuma kamu lah pemiliknya" ucap Lia agak berbisik. Lio beralih menatap kakaknya dan tersenyum kemudian memeluk Lia.


"Terimakasih kak" ucap Lio.


"Mmmm,,, itu,,, anu kak,, aku ada tambahan extra di sekolah" jawab Lio tergagap.


"Yaudah kalian istirahat gih udah malem, besok harus sekolah" ucap Lia, kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


Tinggal lah Nur dan Lio di ruang keluarga, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Nur__" ucap Lio terputus karena Nur memotongnya sebelum Lio selesai bicara.


"Nur istirahat dulu kak" ucap Nur sambil berlalu dari hadapan Lio.


Lio hanya bisa menatap punggung gadis yang sudah mengisi hati nya akhir-akhir ini, "Huft" Lio menghembuskan nafas, mengusap wajahnya.


Keesokan harinya.


"Jem, kenapa bengong aja dari tadi? " tanya Ega yang sedari tadi melihat Nur termenung mengaduk-asuk makanannya, karena mereka sedang berada di kantin. Namun tak ada sahutan dari Nur.


Ega beralih menatap Evan, Haikal, dan Miko yang satu meja dengan mereka. Ketiganya hanya mengedikkan bahunya tak tau apa yang terjadi kepada salah satu temannya itu.


"Jami" panggil Ega lagi menggoyang bahu Nur.


"Astagfirullah, kenapa sih ga ngagetin aja" ucap Nur mengusap dadanya.

__ADS_1


"Yeee, kamu aja dari tadi ngelamun, dipanggilin juga gak nyahut-nyahut, kamu kenapa sih? ada masalah? atau nilai kamu ada yang jelek? atau diputusin pacar? " tanya Ega tak sabaran.


Tak


"Aduh sakit tau van" ucap Ega mengusap keningnya karena disentil oleh Evan.


"Ya lo ada-ada aja, Nur mana ada pacaran ga, sentuhan aja gak pernah" ucap Evan.


Ega cengengesan, "Ya kali aja van" ucap Ega.


Miko menoyor kepala Ega, "otak gak dipake sih" ucap Miko.


"Eh, onta Arab jangan toyor-toyor kepala gue dong, walau otak gue gak encer, tapi masih bisa mikir ****" ucap Ega.


"Mikir apaan, ngomong aja gak pake rem tuh mulut, harusnya pikir dulu tuh omongan" ucap Miko lagi.


"Susah emang ya ngomong sama onta Arab" ucap Ega memijit pelipisnya.


"Dasar lo kutu badak" ucap Miko.


Nur hanya tersenyum melihat perdebatan sahabat nya itu, menjadi hiburan tersendiri bagi Nur. Sejenak dia melupakan masalah apa yang membuatnya melamun.


"Kalian ini dimana-mana brantem mulu, gue jodohin ntar" ucap Evan, yang membuat Haikal tersedak.


uhuk uhuk.


"Kalo makan pelan-pelan kal" ucap Ega menyodorkan air ke arah Haikal.


Evan menyipitkan matanya menatap Haikal, "kenapa lo kal? " tanya Evan.


"Gak kenapa-napa, cuman agak pedes aja nih soto gue" ucap Haikal menatap Evan, kemudian beralih menatap Ega. Semuanya tak lepas dari penglihatan Evan, kini Evan mengerti jika sahabatnya menyukai seseorang. Mereka melanjutkan makan mereka dengan diselingi obrolan receh dari Miko dan Ega. Tak lama bel berbunyi dan mereka memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Setelah bell pulang berbunyi mereka keluar dari kelas dan pulang menuju rumah masing-masing.


Nur masih setia menunggu Lio di depan kelasnya, namun lagi-lagi Lio tak nampak batang hidungnya.


"Gak dijemput lagi Nur? " tanya Evan yang baru keluar dari sekolah nya dan melihat Nur masih setia berdiri di depan sekolahnya. Nur hanya menggelengkan kepalanya. "Yaudah yuk gue anter" ucap Evan, Nur memperhatikan moto Evan yang tampak berbeda hari ini. "Tenang aja, ini motor sehat kok, dijamin gak akan mogok" ucap Evan mengerti tatapan Nur. Nur hanya tersenyum dan kemudian memakai helm yang diberikan oleh Evan, Nur segera menaiki motor Evan.


"Turun"


****************


Sorry yak, baru up lagi


sabar


sabar


sabar

__ADS_1


🥰🥰


__ADS_2