
Langkah Nur terhenti karena ada yang menghalanginya, kepala yang awalnya menunduk, mulai terangkat untuk melihat siapa orang yang menghalangi langkahnya.
"Eh van, kamu jadi sekolah disini juga? " tanya Nur kepada Evan teman pertamanya sewaktu mendaftar sekolah.
"Dijawab dulu salamnya Nur" ucap Evan.
Nur cengengesan karena kaget setelah langkahnya dihadang, "iya, Wa'alaikumussalam" ucapnya kemudian.
Evan tersenyum, "Iya, aku lulus disini. Yaudah yuk kita langsung ke lapangan, kita kumpul dulu bersama anak baru yang lainnya" ucap Evan. Nur mengangguk dan berjalan sejajar dengan Evan tapi tetap menjaga jaraknya.
Hari pun berlalu hingga sudah 2 hari mereka menjalani masa MOS, dan hari ini adalah hari pertama Nur masuk sekolah dengan kelas yang sudah dibagi. Mobil Lio berhenti di depan gerbang SMP Pertiwi, sebelum Nur membuka pintu Lio terlebih dahulu menahannya.
"Kamu deket sama dia? " tanya Lio.
Nur mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang ditanyakan Lio, "Dia siapa kak? " tanya nya.
"Yang bareng kamu keluar gerbang kemaren" jelasnya kesal.
"Oo.Evan?? kita temenan doang kak, itu juga kan kemaren aku ngak berdua aja sama dia, ada teman cewek ku juga" ujar Nur menjelaskan.
"Iya, tapi jangan terlalu deket, kayaknya dia suka sama kamu" titah Lio.
"Mmmm" Nur hanya bergumam. "Yaudah aku masuk dulu ya kak, Assalamu'alaikum" ucapnya sambil membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Wa'alaikumussalam" jawab Lio, mobilnya masih disana dan dia memperhatikan Nur sampai tak terlihat lagi. Lio menjalankan mobilnya memasuki SMA nya, dia memarkirkan mobilnya. Saat dia turun dari mobilnya, ada seseorang menggandeng tangannya langsung.
"Sayang, kok baru dateng sih, kan aku udah nunggu dari tadi" ucap seseorang yang ternyata adalah salah satu kekasih Lio yaitu Pretty.
"Iya sayang, ini juga udah cepet kok, yuk ke kelas" ajak Lio menggandeng kekasih nya. Di sepanjang koridor mereka berjalan bergandengan tangan, tak lama mereka berpapasan dengan Miss Alya, Lio memberikan senyuman menggoda dan mengedipkan sebelah matanya kepada guru mudanya itu. Alya membalasnya dengan senyuman manisnya dan itu tanpa sepengetahuan Pretty. Kekasih Lio itu sibuk menggandeng tangan Lio dan menyandarkan kepalanya di lengan Lio. Mereka terus berjalan dan sampai di kelasnya. Lio duduk di bangku paling belakang bersebelahan dengan Pretty. Tak lama bell berbunyi, pelajaran pertama dimulai.
Sepulang sekolah Lio menjalankan mobilnya bersama kekasih satu satunya Pretty. Ya, sejak mengenal Nur, Lio mencoba berubah dengan memutuskan satu persatu pacarnya, dan sekarang tinggallah Pretty satu-satunya yang jadi pacarnya.
"Kita mau kemana? " tanya Lio tanpa menoleh.
"Kita ke tempat biasa aja yah" ajak Pretty. Tapi Lio hanya diam saja tak menjawab tak memberi isyarat apalagi menoleh. "Kamu kenapa sih yank, diem aja dari tadi? " tanya Pretty heran.
__ADS_1
"Gak kenapa-napa" jawab Lio acuh yang membuat Pretty menjadi geram.
"STOP! " teriak Pretty, sontak saja Lio terkejut dan tiba-tiba menginjak rem. Keduanya diam beberapa saat, Pretty menoleh ke arah Lio. "Kalau sikap kamu kayak gini, kamu tau kan akibatnya? " ancam Pretty.
Lio menghembuskan nafasnya kasar kemudian menoleh dan menatap tajam ke arah Pretty. "Sebenarnya mau kamu itu apa Pretty? " tanya Lio. "Jangan libatkan orang lain dalam masalah kita" ucapnya lagi. Lio berusaha menahan amarahnya karena sikap kekasihnya itu, tak tau lagi apa yang akan dilakukannya, dia bingung.
Flashback On.
"Nur" panggil Lio. Mereka tengah berada di cafe, sepulang sekolah mereka mampir untuk sekedar mengobrol leluasa, karena di rumah akan selalu ada gangguan siapa lagi kalau bukan Lia.
Nur mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk mengaduk aduk juz alpokat nya. "Kenapa kak? " tanya nya.
Lio menatapnya dalam, "Mau nggak kamu ngajarin aku tentang islam lebih dalam lagi? Selama ini aku hanya ber KTP Islam saja, tapi perbuatan ku ya kayak gini, dari kecil orang tuaku sibuk dan kak Lia pun nggak pernah ngajarin tentang Islam" Terang Lio dengan mata sendu menyiratkan penyesalan tentang perbuatannya selama ini. "Tolong aku Nur, aku ingin berubah, dari manakah aku bisa memulainya Nur? " tanya Lio.
Nur tertegun, ada orang yang lebih tua usianya dari nya dan meminta diajarkan tentang Islam, ada kelegaan di dalam hatinya karena orang-orang terdekatnya mau untuk berubah. Nur tersenyum setelah lama terdiam mendengar penjelasan Lio. "Alhamdulillah, aku bersyukur karena kak Lio mau berubah dan mempelajari tentang Islam" sahut Nur. "Kakak bisa memulainya dari memperbarui Syahadat dulu, nanti kita ke mesjid dan temui ustadz disana, dan yang paling penting sekarang tidak ada kata pacaran dalam Islam kak. " jelas Nur lagi.
Lio terdiam, apakah dia akan bisa menjalani kedepannya jika tidak memiliki kekasih. Tapi demi Nur, Lio mau melakukan apapun. "Baiklah, aku bakal putusin pacar pacar aku Nur, demi kamu" ucapnya mantap.
Nur mengernyitkan dahinya. "Demi aku? maksudnya gimana kak? " tanya Nur selidik.
Nur hanya menganggukkan kepalanya dan membulatkan bibirnya membentuk huruf O. "Yaudah pulang yuk kak, udah hampir sore ini" ajak Nur. Kemudian mereka berjalan keluar cafe. Tanpa sadar ada sepasang mata yang menyimak diskusi mereka sedari tadi.
"Aku udah curiga dari awal dia bukan sepupu kamu Lio, liat aja kalo sampe kamu putusin aku dan beralih ke Nur, aku nggak bakal tinggal diam, nggak ada yang boleh milikin kamu kecuali aku Lio" ucap seseorang yang sedari tadi mendengar percakapan Lio dan Nur. Kemudian dia pergi dari kafe dan pulang kerumahnya.
Setengah perjalanan, Nur dan Lio mampir ke masjid dan menemui ustadz untuk memperbarui Syahadat Lio sekaligus melaksanakan sholat asar. Setelah selesai mereka pulang dan beristirahat sejenak. Lio pergi ke kamar dan membaca buku-buku Islam yang di belinya di toko buku tadi setelah pulang dari masjid. Sedangkan Nur setelah beraih-bersih pergi ke dapur dan membantu bi Ani memasak untuk makan malam. Herman dan Lia masih bekerja, dan akan pulang pas waktu magrib.
Keesokan harinya.
Lio dan Nur tengah bersiap akan berangkat ke sekolah, mereka sama-sama keluar dari kamar dan menuruti anak tangga menuju meja makan untuk sarapan. Setelah selesai sarapan mereka berangkat ke sekolah menggunakan mobil seperti biasa. lio mengantar Nur sampai gerbang sekolah dan masuk ke sekolahnya setelahnya. Nur berjalan memasuki gerbang, Tiba-tiba ada yang menarik tangannya kasar dan membawanya ke belakang sekolah yang sepi. Dia mendorong Nur ke tembok dan mencengkram dagu Nur.
"Siapa kamu? " tanya Nur menahan sakit karna cengkraman di dagunya.
"Kamu gak perlu tau siapa aku, yang jelas jangan coba-coba kamu menghasut Lio untuk memutuskan pacarnya, kalau gak kamu akan tau akibatnya,, aku ngak main-main aku bisa menghancurkan perusahaan kakakmu kalau kamu berani macam-macam" jelas orang itu tersenyum licik masih mencengkram dagu Nur.
"Maaf, tapi kak Lio mau berubah dari dirinya sendiri dan kita harus mendukungnya" sahut Nur menahan sakit.
__ADS_1
"Heh, kamu gak denger ancaman ku tadi? jangan coba-coba meracuni Lio dengan teori-teori mu yang kuno itu" ucap nya.
"Tapi___"
Plakkk
Ucapan Nur terhenti karena menerima tamparan keras dari orang itu, "ingat itu, gadis kampung" ucapnya dan berlalu meninggalkan Nur yang terdiam dan meneteskan air matanya. Nur terduduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, setelah itu Nur berlari menuju toilet sekolah. Nur berdiri di depan cermin menatap wajahnya yang dibasahi air mata.
"Apa yang harus aku lakukan Ya Allah" seru Nur terus menangis. Setelah agak tenang Nur keluar dari toilet, berjalan tanpa melihat kiri kanan dan tiba-tiba ada yang menghalangi jalannya.
"Kamu kenapa Nur? " tanya orang itu tak lain ialah Evan.
Nur mengangkat kepalanya dan tatapan mereka bertemu, Nur mencoba untuk tenang. "Aku gapapa kok van, ke kelas yuk" ajak nya.
Evan melihat mata Nur merah seperti habis menangis dan ada jejak merah di pipinya seperti ditampar, Evan ingin bertanya namun ia urungkan karena melihat kondisi Nur dan mereka berjalan menuju kelas untuk mengikuti pelajaran.
Pretty berjalan menuju kelasnya, tapi di ujung koridor dia melihat Lio berjalan sambil membaca buku, Pretty berjalan cepat ke arah Lio dan menarik tangan Lio menuju ke belakang sekolah. Setelah sampai di belakang sekolah Pretty menghempaskan tangan Lio dan kemudian bersedekap menatap tajam Lio. "Awas aja kalo kamu berani putusin aku, aku gak akan jamin keselamatan Nur setelah itu,, jangan sesekali kamu bermain sama aku karna aku bisa berbuat lebih terhadap Nur bahkan kakak kamu sekalipun,, Ingat itu Lio" terang Pretty. ya, Pretty lah yang mendengar percakapan Nur dan Lio di kafe, dan Pretty juga yang mengancam Nur di belakang sekolah.
"Maksud kamu apa? " tanya Lio.
"Gak usah pura-pura kamu, aku udah tau Nur itu bukan sepupu kamu dan kamu suka kan sama dia.. dan denger baik-baik Lio aku gak akan tinggal diam kalo kamu berani mutusin aku dan beralih kepada Nur, karena gak ada yang boleh main-main sama aku. "
ancam nya.
Lio mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya mendengar ancaman Pretty. Lio berusaha mengendalikan emosinya. "Huft, oke fine kamu bener Nur bukan sepupu aku, dan ya aku suka sama dia" ucap Lio jujur.
"Hah, sudah kuduga Lio, tapi ingat bersikaplah seperti biasanya sama aku karna aku gak akan segan-segan untuk melukai Nur jika kamu dekat sama dia" ancam nya lagi.
"Baiklah jika itu mau kamu, tapi jangan pernah sentuh Nur walaupun seujung rambutnya" ujar Lio.
"Oke SAYANG, yaudah aku masuk dulu udah bell" ucapnya dan mencium pipi Lio dengan senyuman liciknya dan berlalu dari hadapan Lio. Lio hanya diam tanpa berkata apapun.
"Aarrhhhggg,, brengsek" teriak Lio memukul tembok.
Nur aku gak akan biarin siapapun nyakitin kamu. batin Lio.
__ADS_1
Flashback off.