
Nur mendengar ada suara yang dikenalnya, diapun menoleh ke belakang dan mendapati Lio berjalan ke arahnya. Nur segera turun dan berdiri di samping motor Evan.
"Kita pulang sekarang" ucap Lio dengan nada tegas, menarik tangan Nur untuk berjalan ke arah mobil.
Nur membulatkan matanya karena tangannya ditarik oleh yang bukan mahramnya. "Astagfirullah" ucap Nur menarik tangannya kembali. "Sabar kak" ucap Nur menatap heran Lio. Kemudian Nur beralih menatap Evan, "Van, aku udah dijemput, maaf yah gak bisa bareng kamu" ucap Nur menatap sendu ke arah Evan.
Evan tersenyum, "Iya gapapa kok Nur, kamu pulang aja, kamu hati-hati yah" ucap Evan lembut. Nur kembali tersenyum dan mengangguk kemudian melepaskan helmnya untuk diberikan pada Evan.
Evan menatap sendu punggung Nur yang telah berlalu dari hadapannya, "Huft, tunggu aku Nur" ucap Evan, kemudian melakukan motornya meninggalkan sekolah.
"Gimana? " tanya Lio.
Nur mengernyitkan dahinya, "Gimana apanya kak? " tanya Nur.
"Kamu mau gak tunangan dulu sama aku? " ucap Lio masih memfokuskan pandangannya pada jalannan karena sedang menyetir.
Nur terdiam, masih terukir nama seseorang di dalam hatinya, hatinya menolak untuk seseorang yang ada di sebelahnya sekarang ini. Nur menunduk tak menjawab ajakan Lio. Lio menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Melepaskan seatbelt nya, kemudian menghadap Nur. "Kamu tau kan kalo aku satu tahun lagi akan kuliah di Harvard? Aku pengennya kita tunangan Nur, karna aku gak mau kehilangan kamu" ucap Lio serius dan menatap Nur dalam.
Nur mengangkat kepalanya menatap Lio, "Maaf kak" ucap Nur kembali menunduk.
"Baiklah nanti kita bicarain lagi" ucap Lio kembali menjalankan mobilnya. Dia tak ingin memaksa Nur untuk sekarang ini, menurutnya masih ada waktu 1 tahun lagi untuk memperjuangkan kepercayaan Nur terhadap nya.
Pretty sudah seperti orang gila, di kamarnya penuh dengan foto Lio, Membawa minuman keras ke kamarnya, dan meminumnya sendiri karena orang tuanya sedang di luar kota. Dipandangi nya foto kemesraan nya dengan Lio yang tertempel di dinding kemudian tersenyum. "Kamu tenang aja yo, aku bakalan ambil lagi kamu dari dia, gak ada yang boleh milikin kamu kecuali aku, apapun akan aku lakuin buat kamu, tenang sayang" ucap Pretty tersenyum licik kemudian tak sadarkan diri setelahnya karena terlalu banyak minum.
Setelah sampai di rumah Nur dan Lio bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri, tak lama terdengar azan magrib, Nur melaksanakan sholat magrib di kamarnya, sedangkan Lio melaksanakan sholat magrib juga di kamarnya walaupun belum sempurna dan sering lupa gerakannya, namun dia tetap melaksanakan nya.
Pada saat makan malam, Nur hanya menunduk membuat Herman heran melihatnya, "Kamu gapapa Nur? kamu sakit? " tanya Herman setelah menghabiskan makan nya.
Nur mengangkat wajahnya menatap kakak sulungnya. "Aku gapapa kok kak" ucap Nur tersenyum.
"Tapi kenapa wajahnya ditekuk dari tadi" tanya Herman lagi.
"Lagi banyak tugas aja kak" ucap Nur melirik Lio.
"Yaudah, jangan terlalu dijadiin beban, nanti kamu sakit" ucap Herman lembut.
__ADS_1
"Iya kak" ucap Nur mengangguk dan tersenyum.
Setelah makan, mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Kak, aku mau ngomong sesuatu" ucap Lio menatap Herman.
"Mau ngomong apa yo? keliatannya serius banget" tanya Herman.
"Mmm,, Aku,, aku,,, aku mau tunangan sama Nur sebelum aku kuliah di harvard" ucap Lio gugup kemudian menundukkan kepalanya.
Herman terkejut dan terdiam, kemudian beralih menatap Lia yang disambut senyuman oleh istrinya, dan beralih menatap Nur yang menunduk sedari Lio berbicara serius. Kemudian Herman kembali menatap Lio yang dilanda kegugupan.
"Aku sudah menduganya" ucap Herman. "Tidak seharusnya aku membawa Nur kesini" ucapnya lagi. Herman menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian memijit pelipisnya.
"Nur, besok kakak akan mengirimmu ke London dan bersekolah disana, kamu akan tinggal bersama Raya"ucap Herman tegas.
Deg
Jantung Lio berpacu, kemudian mengangkat kepalanya menatap Herman, " Kak, aku__" ucapan Lio terputus oleh ucapan Herman.
"Kak, gimana ini? " tanya Lio kepada Lia setelah Herman meninggalkan mereka.
"Udah gapapa, nanti kakak coba ngomong sama kak Herman" ucap Lia lembut dan mengusap bahu Lio untuk menenangkan. Kemudian beralih menatap Nur, "Nur, kamu mau kan tunangan sama Lio dulu? " tanya Lia lembut.
Nur mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, " Nur gak tau kak" ucap Nur dan kembali menunduk. Dia tak menyangka Lio akan mengatakan hal ini kepada kakak nya, dan dia juga bingung bagaimana dia akan meninggalkan sekolahnya padahal dia baru saja masuk ke sekolahnya itu. "Nur izin ke kamar ya kak " ucap Nur dan berlalu dari hadapan Lio.
Sedangkan Lio hanya bisa menatap punggung Nur yang telah berlalu dari hadapannya. "Kamu beneran mau tunangan sama Nur? dia masih 13 tahun loh yo, masih kecil" tanya Lia.
"Aku yakin kak, dan aku udah menetapkan hati aku, walaupun aku masih sekolah, tapi aku yakin kak" ucap Lio meyakinkan.
"Baiklah nanti akan kaka coba bicara sama kakak iparmu" ucap Lia menenangkan, "Mending sekarang kamu istirahat deh" ucap Lia lagi.
Lio menganggukkan kepalanya kemudian memeluk kakaknya kembali, "Makasih ya kak" ucap Lio. Kemudian melepaskan pelukannya"Aku ke kamar dulu kak" ucap Lio dan dibalas anggukan dan senyuman dari kakaknya. Lio berjalan menaiki tangga, ketika sampai di depan kamar nya, dia melihat sekilas ke arah kamar Nur yg tertutup rapat.
Lia memasuki kamarnya, dan mendapati suaminya berdiri di balkon kamar memandang langit, dia berjalan ke arah suaminya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, "Belum tidur? " tanya Lia sambil menyandarkan kepalanya ke punggung suaminya.
__ADS_1
"Belum" jawab Herman singkat, kemudian membalikkan badannya untuk berhadapan dengan istrinya.
"Boleh kita bicara sebentar? " tanya Lia lembut menatap suaminya. Herman balas menatap istrinya dan menganggukkan kepalanya kemudian, mereka berjalan ke arah ranjang dan duduk berdampingan di tepi ranjang. "Kenapa?" tanya Lia menggenggam tangan suaminya dan mengusap lengan nya.
"Huft, dia masih kecil sayang" jawab Lio yang tau kemana arah pertanyaan istrinya itu.
"Tapi ini kan masih tunangan mas, belum nikah" ucap Lia lembut. "Kalau mereka sudah menetapkan hatinya, kita mau melarang gimana lagi? kita gak tau apa yang ada dalam pikiran mereka mas, belum tentu buruk menurut kita itu gak baik buat mereka" jelas Lia.
"Aku tau sayang, tapi ada rasa gak rela di hati aku, adikku masih kecil tapi sudah ada yang menginginkannya" ucap Herman lagi. "Aku gak mau konsentrasi nya pecah saat belajar, aku mau dia sukses dulu baru mikirin ini" ucapnya kemudian.
"Iya, tapi setidaknya biarkan Nur berada disini dulu mas, dia masih terlalu kecil untuk kita suruh sekolah ke luar negri, dan juga nanti aku gak punya temen dirumah kalo kamu pergi ke luar kota" ucap Lia.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan Lio?, dirumah kita bisa memantaunya, tapi di luar kita gak bisa mantau mereka" tanya Herman.
"Kita bicarakan baik-baik dengan Lio yah, tenangkan fikiran kamu dulu, jangan kebawa emosi" ucap Lia lembut. "Yaudah sekarang kita tidur yuk" ajak Lia, dan mereka segera merebahkan tubuhnya si kasur dan terlelap karena kelelahan.
Sementara di kamar Nur, dia termenung memikirkan pembicaraan dengan kakaknya tadi.
Aku tau perasaan ku ini salah telah mengharapkan kak Rega selama ini, tapi aku gak bisa membohonginya. Bagaimana aku akan menjalani semua ini Ya Allah, telah lama ku pendam rasa ini untuk orang yang salah. Apa benar aku akan dikirim ke London besok? Baru saja aku merasakan kekeluargaan disini, tapi haruskah aku pergi? . batin Nur.
Banyak pertanyaan berkecamuk di dalam pemikirannya. Tak lama diapun tertidur karena lelah dengan pemikirannya.
Sedangkan Lio di dalam kamarnya tak bisa memejamkan matanya karena dirundung kecemasan atas keputusan kaka iparnya tadi, dia tak akan mampu jauh dari Nur karena hatinya sudah terpaut disana. Hingga pukul 03.00 barulah matanya terlelap.
Keesokan pagi.
Lio sudah bersiap dengan seragam sekolahnya, dia menuruni anak tangga menuju meja makan.
"Lio"
****************
Sabar
Sabar
__ADS_1
🥰🥰