Lika Liku Kehidupan NUR

Lika Liku Kehidupan NUR
Menunggu


__ADS_3

Lio menoleh ke arah suara, dia mendapati Herman berdiri di ujung tangga dengan melipat tangannya di dada. Lio menatap Herman dalam seakan masih menyimpan kekesalannya tadi malam bahwa Herman akan mengirim Nur ke London untuk disekolahkan. Sekarang mereka sudah berhadap-hadapan, "Kenapa kak? " tanya Lio tanpa menurunkan pandangannya, seakan menantang orang yang di tatapnya.


Herman mengerti itu, mengerti kekesalan adik iparnya yang telah dilarang bersama adiknya secara tak langsung. "Ikut kakak" ucapnya kemudian berlalu menuju ruang bacanya, mau tak mau Lio mengikuti langkah kakak iparnya itu.


Tiba di ruang baca Herman berdiri di depan mejanya, tanpa membalikkan badannya membelakangi Lio yang juga sudah berdiri tak jauh dari nya. "Sejak kapan kamu suka Nur? " tanya Herman tanpa membalikkan badannya.


Lio diam sejenak, "Sejak pertama aku melihatnya kak" jawab Lio tanpa ragu.


Herman terdiam, kemudian menghembuskan nafas nya dan membalikkan badannya menghadap Lio. "Seberapa dalam rasa kamu buat dia? " tanya Herman menatap Lio dengan tajam.


Lio menelan salivanya kasar melihat tatapan mata kakak iparnya, dia diam sebentar sebelum menjawab. "Aku senang melihatnya bahagia, aku sakit melihatnya terluka, dan aku rindu ketika jauh darinya" ucapnya mantap.


Tanpa sadar ada senyum kecil tercipta di bibir Herman. "Kalo kakak kirim dia ke London, apa kamu setuju? dan kalo kamu memang mencintainya, kakak rasa kamu tau apa pilihanmu" ucap Herman menyeringai.


"Apapun yang terbaik buat Nur, aku akan mendukungnya kak, dan aku akan menunggu Nur sampai kapanpun itu, karena aku benar2 mencintainya kak" jawab Lio balas menatap Herman, dia tak gentar dengan tatapan kakak iparnya itu, yang dia tau dia harus memperjuangkan cintanya.


"Baiklah, kamu boleh keluar" ucap Herman membalikkan badannya membelakangi Lio. Lio mengernyitkan dahinya, apakah kakak iparnya ini setuju dengan rasa cintanya atau tidak, dia menatap heran punggung kaka iparnya yang membelakanginya dan belum beranjak selangkahpun. "Kamu dengar? aku gak mengulangi untuk yang kedua kalinya" ucap Herman masih membelakangi Lio. Dengan langkah gontai Lio membalikkan badannya dan melangkah keluar, saat akan memegang handle pintu suara Herman menghentikannya. "Perjuangkanlah cintamu, tapi ingat kalian masih dibawah umur, tunggulah beberapa tahun lagi" ucap Herman dengan senyuman tipis nya dan membalikkan badannya.


Sontak saja Lio membelalakkan matanya, kemudian senyuman merekah terbit di bibirnya, tak menunggu waktu lama dia membalikkan badannya dan langsung memeluk kakak iparnya, "Terima kasih kak" ucapnya dengan senyuman tak memudar dari bibirnya.


Herman membalas pelukan adik iparnya itu, "Tapi ingat jika kamu menyakiti Nur, maka kakak membawa Nur jauh darimu dan tak akan kakak biarkan bertemu lagi dengan mu" ancam Herman.


"Aku janji kak, akan memperjuangkan cintaku dan akan selalu membahagiakan Nur" ucap Lio bersungguh-sungguh.


Herman melepaskan pelukannya dan mengusap bahu Lio, "Yaudah sana berangkat, nanti telat" ucap Herman.


"Iya kak aku berangkat dulu" ucap Lio menyalam tangan tangan Herman. "Sekali lagi terimakasih kesempatannya kak" ucap Lio kemudian langsung berjalan keluar dari ruang baca.


Herman menyandarkan dirinya di meja ruang baca melihat punggung adik iparnya yang berlalu keluar ruang baca, sedikit senyum nya terbit di bibirnya,


Semoga kamu bahagia mulai sekarang Nur, dan semoga Lio adalah calon yang terbaik buat kamu. batin Herman.


Kemudian berjalan menuju arah meja makan, dilihatnya Lio dan Lia sedang berpelukan, dia melihat Lia tersenyum kepadanya mengisyaratkan 'terimakasih', dan dia membalas senyuman istrinya itu. Nur yang melihat Lia dan Lio yang berpelukan hanya menatap mereka heran.

__ADS_1


Lio melepaskan pelukannya, "Yaudah aku berangkat dulu kak" ucap Lio menyalam tangan Lia.


"Loh, gak sarapan dulu? " tanya Lia, karena ketika Lio turun untuk sarapan tadi langsung dibawa Herman dan belum sempat memakan sarapannya.


"Gak usah kak, ini udah telat berangkatnya,, Yuk Nur" ajak Lio beralih menatap Nur yang sedang berdiri menatap kemesraan kakak beradik itu.


"Eh, kak gak sarapan dulu? " tanya Nur.


"Nanti aja di kantin sekolah" ucapnya. "Berangkat sekarang yuk" ajak Lio.


Nur menganggukkan kepalanya dan menyalam tangan Lia dan Herman. Mereka berjalan keluar rumah dan memasuki mobil Lio. Dalam mobil mereka hanya terdiam. Baik Lio maupun Nur tak ada yang membuka suara terlebih dahulu, sesekali Lio melirik Nur yang menatap pemandangan sepanjang jalan.


"Nur" panggil Lio.


Nur menolehkan kepalanya ke arah Lio, "Kamu mau kan menungguku? " tanya Lio gugup dan mengencangkan pegangannya di stir mobil.


Nur hanya diam, tatapannya tak teralihkan dari Lio yang sedang mengemudi. "Aku gak tau kak" jawab Nur setelah lama terdiam.


"Huft" helaan nafas Lio terdengar gusar. "Aku janji setelah aku lulus S1 ku, aku bakal pulang untuk menghalalkan mu" ucap Lio menatap Nur sekilas kemudian fokus kembali mengemudi.


Aku gak tau, apakah aku bisa menunggu kamu,, karena kita gak tau Yang Maha Membolak Balikkan Hati, dan tak bisa dipastikan itu. batinnya, dia meremas jemarinya gusar dengan apa yang akan diputuskannya.


"Gak perlu jawab sekarang, kamu masih punya banyak waktu untuk memutuskan" ucap Lio.


Tak lama sampailah mereka di depan sekolah Nur, "Terimakasih kak" ucap Nur tanpa menoleh ke arah Lio dan segera membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam sekolahnya.


Lio menghela nafasnya gusar, bagaimana lagi dia akan memperjuangkan Nur, dia menyandarkan kepalanya di kursi kemudi dan memejamkan matanya. Tiba-tiba terbersit ide dalam kepalanya dan seketika senyuman merekah memancar dari wajahnya. Lio menjalankan mobilnya menuju sekolah nya dengan hati yang tenang.


Nur melangkah gontai menuju kelasnya, dengan wajah menunduk dia menduduki kursi nya, Ega yang duduk di sebelahnya heran menatap Nur yang seperti banyak masalah yang terpendam dalam dirinya.


"Jem" sapa Ega menepuk pundak Nur,


"Astagfirullah" ucap Nur terkejut dan mengusap dadanya, kemudian menoleh ke arah Ega yang sedang cengengesan tanpa dosa. "Ngagetin aja sih" ucap Nur sambil mengatur detak jantungnya yang dikejutkan.

__ADS_1


"Lagian masuk kelas gak nyapa, abis itu nunduk lagi, lo ada masalah apa? cerita dong" cerocos Ega.


Nur menghembuskan nafasnya pelan, " Nanti aja pas jam istirahat aku ceritain" ucap Nur, tak lama guru masuk dan mulailah pelajaran pertama.


Saat jam istirahat mereka menuju kantin, tak lupa ada juga si rusuh Miko, si bijak Evan dan si Pendiam Haikal. Mereka duduk dalam satu meja, setelah memesan makannya mereka ngobrol-ngobrol ringan sampai mengolok-olok, siapa lagi kalo bukan Miko dan Ega yang tak pernah damai.


"Eh , katanya mau cerita, yuk cerita mumpung kumpul semua, mana tau ada dari kita-kita yang punya solusi buat masalah lo" ucap Ega yang duduk di samping Nur.


"Masalah apa nih? " tanya Miko antusias. "Kamu punya masalah apa beb? kok gak cerita sama aku" tanya Miko dengan menopang dagunya menatap Nur dan mengedip-ngedipkan matanya.


Ega yang geram dengan kelakuan temannya itu langsung memukul kepala Miko, "Biasa aja mata lo, mau gue congkel hah" ucap Ega melotot menatap Miko.


"Aarrgghhhh,, merusak suasana aja lo kutu badak" ucap Miko mengelus kepalanya yang dipukul Ega.


"Udah diem lo" ucap Ega ketus. "Mulai Jem" ucap Ega menatap Nur dengan serius.


Nur menghela nafasnya, kemudian menceritakan masalahnya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun, dia bercerita se detail-detail nya. Evan mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja, karena sudah ada orang yang mendahului nya. Setelah Nur selesai menceritakan semuanya ada rasa lega dalam hatinya karena tak lagi memendam itu.


"Udah kamu tenang aja, yang namanya jodoh gak akan kemana, siapa tau sekarang kamu gak ada perasaan tapi nanti kita gak tau gimana perasaan kita kan" ucap Ega menasehati sambil mengusap bahu Nur, "Kamu banyakin do'a aja agar diberikan yang terbaik, untuk sekarang mending fokus untuk belajar dan menggapai cita-cita kamu yah" ucap Ega lagi.


Nur mendengar kan dengan tenang, merasa lega dengan nasehat yang di sampaikan Ega. "Makasih ya" ucap Nur memeluk Ega kemudian.


"Aku juga mau dong" ucap Miko merentangkan tangannya, dia maju untuk ikut berpelukan tapi belum sempat mendekat Ega udah memukul kepala Miko. "Heh, setan lo enak aja mukul-mukul kepala gue, kalo gue geger otak gimana? trus gue lupa sama bebeb gue, lo mau tanggung jawab? " cerca Miko mengusap kepalanya yang sudah dua kali di pukul oleh Ega.


Ega melepaskan pelukannya dengan Nur, menatap Miko dengan tampang datarnya, tak abis pikir dengan temannya yang satu ini. " Gue bersyukur banget kalo gitu" ucap Ega acuh.


Tak lama makanan mereka datang dan mereka melahap makanan mereka karena waktu istirahat mereka telah berkurang karena curhatan sahabat mereka. Tanpa mereka sadari ada hati yang terluka disana setelah mendengar curhatan Nur, siapa lagi kalo bukan Evan yang sudah menaruh hati pada Nur.


Sepulang sekolah Nur berjalan keluar dari sekolahnya sendirian karena teman-temannya sudah pulang duluan meninggalkan nya yang ke bagian piket kelas.


"Ikut gue"


****************

__ADS_1


Kira-kira siapa tuh?


Hayo tebak😜


__ADS_2