Lika Liku Kehidupan NUR

Lika Liku Kehidupan NUR
Kecelakaan


__ADS_3

Lio menyandarkan punggungnya di kursi kemudi dan memejamkan matanya. Suasana hening, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Aku mau kita tunangan" ucap Pretty.


Lio terkejut dan mengeram tertahan, tapi sampai sekarang dia belum menemukan solusi yang tepat untuk semuanya.


"Tapi kan kita masih sekolah" sahut Lio tanpa menoleh dan masih bersandar di kursi kemudi.


"Gak masalah, nanti aku akan sampaikan ke orang tua aku" ucap Pretty santai. "Mereka pasti ngizinin, dan kamu gak boleh nolak apapun alasannya" ancam Pretty.


Lio hanya diam, kemudian menjalankan mobilnya. Lio tak fokus menyetir mobilnya, dia hanya memikirkan cara untuk tidak mengikuti semua keinginan Pretty. Lio melamun, Tiba-tiba ada truk melaju kencang dari arah sampingnya karena sedang berada di persimpangan.


Braakkkkk


"Astagfirullah, van itukan mobilnya kak Lio" ucap Nur yang sedang berboncengan dengan Evan karena Lio tak menjemput nya juga, jadi dia terpaksa ikut dengan Evan, itupun setelah lama Evan membujuknya.


Evan mengerem motornya dan berhenti, Nur segera berlari menuju mobil yang ditabrak truk, nampak lah Lio dan Pretty yang tak sadarkan diri di dalamnya, kemudian Nur meminta pertolongan orang sekitar dan membawa Lio dan Pretty ke rumah sakit. Nur menaiki ambulance yang membawa Lio, Nur menangis selama perjalanan dan terus berdoa untuk keselamatan Lio.


Sementara dirumah,


"Kok perasaan aku gak enak ya" ucap Lia pada dirinya sendiri.Lia keluar dari kamarnya untuk mengambil minum ke dapur. Ketika sedang minum, terdengar HP nya berdering tertera nama Lio di sana dan


dia langsung mengangkatnya.


"Iya yo? " ucap Lia setelah mengangkat telfon.


"Assalamu'alaikum kak" sahut Nur yang tengah menangis.


"Wa'alaikumussalam, Nur ada apa? kok nangis? Lio mana? " tanya Lia cemas.

__ADS_1


"Kak Lio kecelakaan kak, sekarang kami lagi dalam ambulance perjalanan ke rumah sakit kak" jelas Nur terisak.


Deg


Seketika HP Lia terjatuh dan dia terduduk di lantai berderaian air mata. Bi Ani yang mendengar ada orang menangis berjalan mendekati suara, dan didapatinya Lia sedang terduduk di lantai menangis se jadi-jadinya.


"Nyonya" Panggil Bi Ani berlari mendekati Lia. "Ada apa Nya? " tanya Bi Ani. Bukannya menjawab, tangisan Lia semakin kencang dan langsung memeluk Bi Ani.


"Lio bi" ucap Lia yang tengah terisak di pelukan Bi Ani. Bi Ani mengusap punggung Lia menenangkan sambil menunggu kelanjutan ucapan Lia. "Lio kecelakaan bi" ucap Lia lagi dengan tangisan yang semakin deras.


"Innalillahi, yaudah sekarang kita susul ke rumah sakit ya nya" ucap Bi Ani dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Mereka pun segera pergi ke rumah sakit, tak lupa Bi Ani menghubungi Herman. Herman langsung meninggalkan pekerjaannya dan segera pergi ke rumah sakit.


Lia dan Bi Ani berlari di Koridor rumah sakit, setelah tadi bertanya pada resepsionis. Lia berlari dan nampaklah Nur yang sedang temenung di bangku ruang tunggu.


"Nur" panggil Lia sambil berlari ke arah Nur, Nur menoleh dan langsung berdiri, Lia langsung memeluk Nur sambil terisak. "Kenapa bisa begini Nur? " tanya Lia.


Nur hanya menggelengkan kepalanya tak sanggup berkata apa-apa. Nur memeluk Lia erat, karena masih ketakutan. Evan yang berdiri di sampingnya hanya menatap keduanya dengan penuh kesedihan. Tak lama terdengar langkah kaki mendekati keduanya, ketika menoleh mereka mendapati Herman berjalan mendekati mereka. Lia langsung memeluk Herman erat sambil terisak, Herman membalasnya tak kalah erat. Herman mencoba menenangkan Lia, kemudian membawa Lia untuk duduk di bangku ruang tunggu, Nur pun juga segera duduk begitupun Evan.


"Saya kakak nya dok" sahut Lia. "Bagaimana keadaan adik saya dok? " tanya Lia .


"Kondisi pasien mulai stabil, namun saat ini pasien belum sadarkan diri karena obat bius,, Ada beberapa jahitan di bagian dahi dan juga tangannya" jelas dokter.


"Boleh saya masuk dok? " tanya Lia.


"Silahkan, tapi hanya satu orang yang boleh masuk, kalo begitu saya permisi" ucap dokter kemudian.


"Terimakasih dok" ucap Lia.


Dibuka nya pintu ruangan Lio, dilihatnya Lio belum sadarkan diri, Lia mendekat dan duduk di samping Lio, air matanya sudah tak terbendung lagi melihat adik satu-satunya sedang terbaring lemah. Digenggam nya tangan Lio yang tidak terpasang infus. "Kenapa jadi seperti ini Lio? cepatlah sadar, kakak janji akan turutin semua kemauan kamu" ucap Lia namun tak mendapat balasan karena Lio belum juga sadar. "Kamu mau Nur? Oke akan kakak turutin, tapi please Lio bangun, cuman kamu satu-satunya keluarga kakak yang tersisa" ujar Lia masih terisak.

__ADS_1


Setelah lama di dalam ruangan Lio, Lia pun keluar. Melihat istrinya keluar, Herman langsung berdiri begitupun dengan Nur dan Evan. "Kamu yang sabar ya sayang" ucap Herman menenangkan dan memeluk Lia. Nur hanya terdiam di samping Herman. Evan masih setia menemani Nur dan mencoba menenangkan dengan kata-kata nya.


Mereka pun duduk di bangku ruang tunggu. "Belum pada makan kan? " tanya Herman menatap Nur dan Evan bergantian dan dijawab gelengan kepala oleh keduanya. "Yaudah kakak beli makanan dulu, kalian pasti laper" ucapnya kepada keduanya dan dijawab anggukan oleh keduanya. Herman beralih menatap Lia, "Aku beli makanan sebentar ya sayang" ucap nya pada Lia sambil mencium kening Lia dan berlalu pergi setelahnya.


Sementara di ruangan lain, Pretty terbaring lemah tak sadarkan diri karena benturan keras si kepalanya. Tak ada siapapun yang menemaninya, Kekayaan yang dia banggakan selama ini ternyata tak bisa mengobati kesepian hatinya, kekosongan hidupnya karena orang tua yang selalu disibukkan dengan pekerjaan tanpa memperhatikan anak mereka. Keadaan inilah yang membuat Pretty tak mau melepaskan Lio, karena hanya Lio yang selalu perhatian padanya sebagai kekasihnya, menemani kemanapun pergi.


Tak terasa sudah dua minggu Lio dirawat dan belum sadarkan diri, dokter menyatakan bahwa Lio koma karena benturan keras di kepalanya. Lia terus merawat nya dan tak mau pulang. Nur akan ke rumah sakit sepulang sekolah dan akan pulang kerumah setelah malam tiba. Herman akan membawa pakaian ganti untuk istrinya. Nur tinggal di rumah dengan Bi Ani, Herman tentu saja menemani istrinya di rumah sakit.


Pagi ini, wajah Lia terlihat pucat dan kondisinya melemah hingga dia pingsan di samping brankar Lio, Herman yang baru masuk ke dalam ruang perawatan langsung berlari dan mengangkat Lia ke sofa dan berusaha menyadarkan namun tak kunjung sadar. Dengan wajah penuh kekhawatiran Akhirnya Herman memanggil dokter untuk memeriksa istrinya, dokter menyatakan bahwa Lia hamil. Herman begitu bahagia mendengarnya, setelah sekian lama menunggu akhirnya mereka diberi kepercayaan untuk memiliki anak.


Tak lama Lia tersadar dari pingsannya. "Mas" panggil Lia ketika membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah wajah binar bahagia suaminya yang berjongkok di depan istrinya dan terus mengusap perut Lia. "Kamu ngapain dibawah? aku kenapa? " tanyanya.


Herman tersenyum dan masih terus mengelus perut Lia kemudian menciumnya. "Kamu sehat-sehat ya sayang" ucap Herman yang masih terus mengusap perut Lia, menatap perut Lia dan tak pernah memudarkan senyumnya.


"Kamu kenapa sih mas? " tanya Lia lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. "Aku kenapa? kenapa perutku? apa aku sakit parah? " tanya Lia beruntun.


Herman menuntun Lia untuk duduk dan dia duduk di sebelah istrinya, digenggamnya kedua tangan Lia tak lupa mengecupi punggung tangan Lia bergantian. "Dia akan segera hadir sayang" ucapnya masih tersenyum menatap Lia.


Lia mengernyitkan dahinya, "Dia siapa mas? mas selingkuh? " tanyanya menatap tajam suaminya.


Herman masih tersenyum, kemudian menggerakkan tangannya mengusap perut Lia lagi, "Kita akan jadi orang tua sayang" ucap Herman lembut.


Seketika mata Lia berkaca-kaca, tak sanggup menahan kebahagiaan nya, Lia menghambur memeluk suaminya sambil menangis. Herman juga tak dapat membendung bahagianya, dia membalas pelukan Lia dengan erat dan meneteskan air mata. Setelah lama berpelukan mereka melepas pelukannya, "A.a.a aku akan jadi ibu" ungkap Lia. Herman menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Dan aku akan jadi ayah" ucap Herman kembali memeluk Lia.


"Kalian kenapa? "


****************

__ADS_1


Tunggu yang sabar ya🥰🥰


__ADS_2