
Raga kaget mendengar suara dari arah pintu, dia menoleh dan mendapati anaknya sedang berdiri mematung melihat ke arahnya. "Husna" lirih nya. Raga kemudian berdiri dan berjalan menuju Husna, hingga sampai di depan Husna dia ingin memeluk anaknya, tapi tangan Husna terangkat mencegah papanya untuk memeluknya.
"Apa maksudnya pa? " tanya husna yang sebenarnya paham situasi papanya, namun dia ingin mendengar lebih jelas lagi dari papanya. Raga hanya terdiam tak mampu menjelaskan kepada anaknya tentang permasalahan nya. "Siapa dia? " tanya Husna lagi menatap tajam ke arah Desi, yang ditatap hanya bisa menunduk merasa bersalah. Desi bukan tak tau kalau Raga memiliki istri, tapi cintanya membuatnya egois dan ingin memiliki Raga. Husna kembali menatap Raga dalam, "Pah" panggilnya untuk meminta penjelasan. Raga membawa husna untuk duduk bersama di ruang tamu bersama Desi, dia duduk bersebelahan dengan papanya dan berhadapan dengan Desi.
"Dia adalah Desi, temen satu divisi papa" ucapnya menjeda sebentar. "Papa akan menikahi tante Desi na" ucapnya dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca tapi masih terdengar oleh Husna. Sebenarnya Raga tak sanggup menyakiti istrinya apalagi anaknya, tapi dia tak bisa memilih antara keduanya dan tak mau meninggalkan keduanya antara Keluarga dan kekasih nya. Husna terdiam tak bisa berkata kata, lidah nya kelu tak dapat mengungkapkan rasa marah, kecewa, sakit bahkan benci nya. Husna sudah beruraian air mata, menangis terisak merasakan sakit yang amat dalam yang belum pernah dirasakan sebelumnya, seketika dia ingat mamanya. Dia langsung beranjak berdiri tak mau menatap kepada papa dan kekasih papa nya itu, dia langsung berlari menuju kamar mamanya, tanpa mengetuk pintu dia masuk dan menemukan mamanya sedang terisak di ranjangnya. Perlahan dia mendekati mamanya dan memeluknya erat dan ikut menangis. Sementara di ruang tamu Raga terlihat kacau, bagaimana menghadapi masalahnya ini. Namun Desi tetap menenangkannya, mensuport Raga untuk tetap semangat agar bisa menenangkan keluarganya.
"Kamu pasti bisa Ga" ucapnya menenangkan sambil mengusap bahu Raga. Raga mengusap kasar wajahnya. Sebenarnya ia tak mampu dengan semua ini, tapi dia begitu egois ingin memiliki keduanya. Sampai malam tiba imah dan husna tak keluar dari kamarnya dan menahan lapar dari siang. Tak ingin bertemu dengan orang yang menyakiti mereka. Raga akhirnya pasrah tak mendapat izin dari istrinya, dia akan tetap menikahi Desi. Akhirnya mereka pergi ke kota dekat desanya berjarak 2 jam. Mereka menginap di hotel semalam, dan esoknya mereka akan kembali ke kota S.
Fatimah termenung memikirkan nasib pernikahannya yang begitu tragis, di tinggal pergi bekerja ke luar kota dan sekarang dia malah dikhianati. Imah tak mau makan, Husna berusaha membujuk mamanya untuk makan tapi imah tetap tak mau. Sudah seminggu imah termenung menangisi nasibnya, Husna menangis melihat kondisi mamanya yang hancur, dia bersumpah tak akan memaafkan papanya sampai matipun.
Flashback off.
"Masuk dulu bang" ajak imah kepada suaminya. Dia mencoba berlapang dada untuk menerima istri kedua dari suaminya tersebut, karena begitulah cinta, semua rela berkorban. Mereka berjalan menuju ruang tamu dan duduk saling berhadapan. "Desi mana mas? " tanyanya tercekat karena masih merasakan sedikit sesak, karena tak ada yang benar-benar merelakan.
"Dia tidak bisa pergi jauh karena Rey masih sangat kecil untuk dibawa dalam perjalanan jauh dan dia juga kan masih menyusui, jadi tak bisa pergi meninggalkan Rey" jawabnya santai. Rey adalah anak dari Raga dan Desi yang baru berusia 3 bulan. Raga sering bolak balik rumahnya dan rumah Desi mencoba membagi antara kedua istrinya. Imah hanya mengangguk. "O iya, Husni tidak pulang? " tanya nya. merindukan anak kedua nya dari imah.
"Dia mau ujian kelulusan bang, jadi ngak bisa pulang" jawab imah. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. "Abang mau makan malam apa? " tanya imah.
"Apa aja yang penting buatan kamu" jawabnya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah,, nanti aku buatkan makanan kesukaan abang untuk maka siang" ucapnya lembut.
"Yaudah, sekarang kita ke kamar aja, aku capek" ucapnya sambil berdiri mengulurkan tangan kepada istrinya dan disambut dengan baik oleh imah, mereka berjalan ke kamar mereka untuk istirahat. Sementara Husna berada di kamarnya ditemani Gatra yang mencoba menenangkannya yang dari tadi menangis memeluk Gatra.
Di Kediaman Lio Pramudya
"Nur, nanti kamu belanja kebutuhan untuk sekolah kamu ya, lusa kan kamu udah masuk" Ucap Lia kepada Nur yang sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. "Lio, kamu temani Nur besok yah" ucapnya menatap Lio gemas karena dari tadi asyik menatap Nur sambil tersenyum. Namun Lio tak kunjung bersuara karena fokusnya masih pada Nur.
Takk
"Ya kamu dari tadi mandangin Nur aja, naksir bilang bos" ucap Lia yang lagi-lagi mengundang tawa nya dan Herman. "Kamu denger ngak apa yang kakak bilang tadi? " tanya Lia.
"Emang apaan kak? " tanyanya yang membuat Lia gemas dengan adiknya. Lio kemudian menatap Nur mengharapkan penjelasan, namun Nur hanya mengedikkan bahunya mengacuhkan Lio. Lio kembali menatap Lia, "Apaan sih kak? " tanyanya lagi. Lia kembali menjelaskan apa yang dikatakannya tadi kepada Lio. Herman hanya menggelengkan kepalanya menatap adik iparnya.
"Oke, besok kita berangkat setelah zuhur ya Nur" ucap Lio semangat karena akan mendapat waktu berduaan dengan Nur. Kemudian mereka berbincang ringan sampai mereka mengantuk dan menuju kamar masing masing.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Nur bangun untuk sholat subuh, dia membersihkan diri nya dan melaksanakan sholat subuh, kemudian pergi ke dapur untuk membantu bi ani walaupun Lia sudah melarangnya namun Nur tetap kekeh mau membantu karena dia terbiasa melakukan nya sewaktu di rumah imah. Lio nampak berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga lengkap dengan pakaian olahraganya menuju dapur untuk minum.
"Hai Nur, ngapain di dapur, mending kita keluar yuk mumpung weekend" ucapnya sambil berjalan menuju kulkas mengambil minum dan meminumnya langsung di depan kulkas sambil berdiri. Nur yang melihatnya menggelengkan kepalanya dan menegur Lio.
"Kak, kalau minum itu di anjurkan untuk duduk kak, selain itu anjuran Nabi itu juga berpengaruh untuk kesehatan ginjal kita kak" tegur imah. Lio langsung menghentikan aksi minumnya dan cengengesan sambil berjalan menuju kursi meja makan untuk melanjutkan minumnya.
"Jadi gimana Nur? " tanya nya setelah menghabiskan air minum nya.
"Nanti siang aja sekalian kak, kan juga mau keluar" ucap imah sambil melanjutkan acara masak nya, bi ani hanya menjadi penyimak antara keduanya.
"Ayolah Nur, kalo nanti itu mah beda lagii, kita jalan keliling komplek aja yuk sekalian jogging" ajaknya lagi
"Mmm,, ngak deh kak, aku mau nyiapin sarapan dulu, bentar lagi aku juga mau ke taman belakang mau merawat bunga-bunga ku" ucapnya sambil tersenyum.
"Huft, iyadeh aku jogging dulu ya" ucapnya sambil berlalu menuju pintu keluar untuk pergi jogging. Sampai lah Lio di taman dan dia berlari kecil mengelilingi taman. Sampai rasanya lelah dan memilih duduk di bangku taman. Tak lama ada yang menepuk pundaknya. Seketika dia memutar kepalanya ke belakang dan terkejut siapa yang ada disana.
"Hay"
****************
__ADS_1
Segini dulu ya hari ini, author bener bener lelah banget