
Evan, Miko, Nur dan Ega menoleh ke sumber suara yang tak lain adalah Haikal secara bersamaan. "Kenapa? gue nanya doang" tanya Haikal kepada sahabatnya. Lalu dia menatap Ega, dan menaikkan alisnya meminta jawaban atas pertanyaan nya tadi.
"Lo gak demam kan? " tanya Miko menempelkan punggung tangannya di dahi Haikal. Entah sejak kapan Miko sudah berada di samping Haikal dengan makanannya di hadapannya.
Haikal menepis tangan Miko, "Kenapa sih kalian? " tanya Haikal heran.
"Gak kenapa-napa kok kal, kamu nanya-nanya Ega udah punya pacar itu apa maksudnya coba" sahut Evan menjeda makan nya dan menatap Haikal.
"Gak ada maksud apa-apa kok" ucap Haikal.
"Udah deh, cepetan abisin makannya, bentar lagi bell" ucap Ega mengalihkan pembicaraan. Kemudian mereka menghabiskan makan dan kembali ke kelas masing-masing. Setelah jam pulang sekolah, Nur segera pulang karena harus ke rumah sakit menemani Lio, karena Herman sedang bekerja. Nur pulang kemudian mandi dan ganti baju, dan berpamitan pada Lia untuk pergi ke rumah sakit.
Setelah sampai di depan ruangan Lio, Nur membuka pintu karena berpikiran Lio pasti sendirian di dalam dan sedang istirahat.
Cklek
Pintu terbuka dan pemandangan pertama yang dilihat Nur adalah Lio yang tengah berpelukan dengan seorang wanita. Lio mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan tatapannya bertemu dengan Nur, Lio segera melepas pelukannya. Nur masih berdiri di ambang pintu menundukkan kepalanya.
"Aku mau istirahat" ucap Lio kepada wanita yang baru saja berpelukan dengannya.
"Oke sayang, aku balik dulu deh.,, kamu cepet sembuh yah" ucap Pretty kekasih Lio yang sudah beberapa hari lalu sadar dan terus mencari keberadaan Lio, setelah tau diapun bergegas menuju ruangan Lio dirawat. Pretty mengecup pipi Lio sekilas dan berlalu keluar, ketika berpapasan dengan Nur dia menyenggol bahu Nur hingga Nur terpundur sedikit ke belakang. "Ternyata lo gak denger anceman gue ya, tunggu aja gadis bodoh, gue gak akan biarin lo seneng-seneng" ucap Pretty berbisik yang hanya bisa didengar mereka berdua dan segera berlalu dari sana menuju ruangan perawatannya.
Nur melangkahkan kakinya menuju brankar Lio dengan wajah dibuat setegar mungkin dan mengembangkan senyuman nya setulus mungkin.
"Assalamu'alaikum kak lio? gimana keadaan kakak skrang? " tanya Nur setelah berada dekat brankar Lio dan berdiri di samping brankar Lio.
"Wa'alaikumussalam Nur, seperti yang kamu liat" ucap Lio dengan mengulas senyuman, dia duduk bersandar di lapisi bantal di punggungnya. "Mmm.. kamu bawa apa Nur? " tanya Lio lagi saat melihat Nur membawa kantong berwarna hitam.
"Ini Sate kak, kakak mau? " tanya Nur menawarkan.
"Mauuu" sahut Lio semangat. Nur tersenyum dan mengangguk, kemudian duduk di kursi samping brankar Lio dan membuka bungkus sate dan memberikannya pada Lio.
"Aku kan lagi sakit, suapin boleh? " tanya Lio ragu.
"Yaudah" jawab Nur dan mulai menyuapi Lio.
"O iya, kakak masih berhubungan sama cewek tadi? " tanya Nur ragu di tengah-tengah menyuapi Lio.
Lio terdiam tak bisa menjawab, entah apa yang akan dikatakannya pada Nur padahal dia sudah berjanji untuk berubah.
"Yaudah, gapapa,,, untuk berubah memang harus butuh perjuangan kak, perjuangan meninggalkan hal yang kita cintai, perjuangan untuk menjauhi maksiat dan perjuangan melaksanakan perintah Nya" jelas Nur.
Lio menganggukkan kepalanya, "Iya Nur, maaf yah, secepatnya akan kakak selesaikan urusan kakak sama dia" ucap Lio menatap Nur.
Nur tersenyum dan menganggukkan kepalanya, setelah selesai menyuapi Lio, Nur membereskan bungkus sate dan membuangnya ke tong sampah. "Yaudah kakak istirahat lagi ya" ucap Nur berjalan ke brankar Lio.
"Aku udah istirahat dari tadi Nur, ini kan baru bangun aku" ucap Lio.
"Mmm.. yaudah deh" ucap Nur berjalan menuju sofa, " aku duduk disini ya kak"ucapnya lagi, Lio menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Nur mengeluarkan Al Qur'an dari dalam tas nya dan mulai mengaji, Lio terus menatap Nur damai merasakan ketenangan mendengarkan alunan suara tilawah Nur. Tanpa sadar Lio tertidur dalam duduknya, Nur yang merasa suasana nya hening menoleh ke arah Lio dan mendapati Lio sudah tertidur. Nur tersenyum dan menyudahi tilawahnya, kemudian berjalan ke arah Lio.
"Kak, kalo mau tidur ubah posisi nya kak, nanti leher nya sakit" ucap Nur membangunkan Lio, Lio terbangun dan segera membaringkan tubuh nya dan melanjutkan tidurnya. Nur kembali berjalan menuju sofa dan melanjutkan tilawahnya.
__ADS_1
Tiga hari kemudian, Lio diperbolehkan pulang dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Di sekolahnya Lio selalu menghindari pembicaraan dengan Pretty dengan berbagai alasan dan menolak ajakan nya dengan alasan kakak iparnya yang menyuruhnya mulai membiasakan diri di perusahaannya. Pretty geram dengan kelakuan Lio.
Sepulang sekolah, Nur sedang menunggu Lio di taman sekolahnya, Ega sudah pulang terlebih dahulu karena ada yang akan dikerjakannya dirumah. Lama Nur menunggu, Tiba-tiba ada sebuah motor berhenti di depannya, orang tersebut membuka helmnya dan ternyata itu adalah evan, "Kenapa belum pulang Nur? " tanya evan.
"Eh, kamu van,, belum nih lagi nunggu kak Lio, tapi belum datang juga" ucap Nur.
"Aku anter aja yuk, ini udah sore loh bentar lagi magrib"ucap Evan.
"Mmm.. nanti kalo kak Lio jemput gimana? " tanya Nur bingung.
"Mmm,, Ga bakalan, tadi aku liat dia pergi sama cewek gak tau siapa, pacarnya kali" ucap Evan.
Nur terdiam berfikir sejenak apakah dia akan pulang atau tetap menunggu Lio, kemudian menganggukkan kepalanya, berjalan menuju motor Evan memakai helm dan menaikinya kemudian. Evan mulai melajukan motornya membelah jalanan.Nur tetap menjaga jaraknya walaupun hanya dibatasi tas yang diletakkan diantara duduknya dan Evan.
Tiba-tiba ditengah jalan, motor Evan oleng dan terpaksa dia menghentikan laju motornya.
"Eh,, eh kenapa van? " tanya Nur cemas.
"Aduhhh, ban nya kempes Nur, padahal tadi ga kenapa-napa" jawab Evan sambil turun dari motornya begitupun Nur, dan memang benar saat Nur melihat ke arah ban motor Evan ternyata ban belakangnya bocor.
"Yaudah kita cari tukang tambal aja" ajak Nur.
Evan menganggukkan kepalanya dan mulai mendorong motornya diikuti Nur di belakangnya. Tiba-tiba terdengar azan magrib dari sebuah masjid yang mereka lewati.
"Kita sholat dulu yuk van" ajak Nur.
"Yuk" sahut Evan, dan mereka berjalan memasuki area masjid, Evan memarkirkan motornya dan memasuki masjid begitupun Nur.
"Kenapa nak? " tanya seorang bapak-bapak yang juga baru keluar dari masjid.
"Eh, ini bocor ban nya pak, Kira-kira sekitar sini dimana tukang tambal ban nya ya pak? " tanya tanya Evan sopan dengan seulas senyuman.
"O itu kamu nanti lurus aja, sekitar 50 meter ada tukang tambal ban" jelas bapak itu menunjukkan arah.
"O gitu, terimakasih banyak ya pak" ucap Evan tersenyum.
"Iya sama-sama, memangnya kamu dari mana? kenapa pulang nya sore sekali pakai seragam lagi" tanya bapak itu beruntun.
"Ini pak, saya dan temen saya baru pulang karena ada tambahan kegiatan di sekolah pak, makanya kami baru pulang pak" jawab Evan. Tak lama Nur keluar dari masjid berjalan menuju Evan dan bapak-bapak tadi.
"Udah? kata bapak ini deket sini ada tukang tambal ban sekitar 50 meter Nur, masih sanggup jalan?" tanya Evan setelah Nur berada di dekatnya.
" Ah iya aku masih kuat kok, yaudah yuk"ajak Nur.
"Yaudah pak, kami permisi mau lanjut jalan ya pak, sekali lagi terimakasih infonya pak" ucap Evan lembut sambil mengulas senyumannya kemudian menjabat tangan bapak itu.
"Ah iya baiklah, tapi ingat jangan sering-sering pergi berdua seperti ini ya, takut nanti timbul fitnah" ucap bapak itu mengingatkan. "Kalau begitu saya pulang dulu ya, kalian hati-hatilah di jalan" ucap bapak itu kemudian berlalu dari hadapan Evan dan Nur.
"Yuk" ajak Evan mendorong motornya dengan Nur berjalan di belakang nya.
Mereka mulai berjalan keluar dari area masjid, setelah 50 meter mereka akhirnya sampai di tempat tukang tambal ban, mereka menunggu duduk di kursi yang ada di sana.
"Astagfirullah, Nur kamu kemana aja sih, aku nyariin kamu dari tadi, aku udah cari di sekolah gak ada, ternyata kamu asyik berdua-duaan sama cunguk ini" celoteh Lio yang baru saja menemukan Nur karena sejak dia pulang kerumah tak menemukan Nur, dan Lia langsung menyuruh Lio untuk mencari Nur,
__ADS_1
Nur terkejut dan langsung berdiri menghadap Lio yang baru saja datang dengan raut wajah khawatir bercampur amarah. Evan tersenyum sinis melirik Lio, "Udah lah, kalo gak sanggup anter jemput Nur, biar gue aja yang anter jemput" ucap Evan santai.
Lio mengepalkan tangannya, "Lo gak usah ikut campur, mending lo urusin aja motor butut lo itu" ucap Lio menunjuk wajah Evan dan tersenyum mengejek.
"Udah-udah kak, tadi aku nunggu kakak di depan sekolah sampe 3 jam, kalo gak ada Evan mungkin aku udah bermalam di sekolah" ucap Nur kesal terhadap Lio yang tak menjemput nya.
"Maaf Nur, tadi aku ada urusan mendadak, jadi telat jemput kamu" sesal lio.
"Halah, urusan mendadak apa lo sama cewe? sampe gak sempet jemput Nur? " tanya Evan mengejek.
"Eh lo diem ya, gak usah ikut campur" ucap Lio menahan emosi.
"Jelas gue ikut campur karena ini urusan nur" ucap Evan.
"Mending lo diem" ucap Lio menatap tajam Evan sambil menunjuk wajah Evan. "Kita pulang sekarang" perintah Lio menatap Nur dan berjalan mendahului Nur masuk ke dalam mobil.
"Van, maafin kak Lio ya, sebenernya kak Lio itu baik, cuman mungkin lagi banyak pikiran aja" ucap Nur tulus.
"Udah gapapa, aku udah biasa kok" ucap Evan tersenyum menatap Nur. "Yaudah kamu cepetan pulang, nanti ngamuk lagi dia" ucap nya lagi.
"Kamu gimana? " tanya Nur ragu.
"Aku gapapa, bentar lagi juga beres, udah kamu pulang aja deh" ucap Evan.
"Yaudah aku pulang duluan ya,, makasih ya van tumpangannya" ucap Nur memberikan seulas senyum.
"Iya cantik" ucap Evan tanpa sadar karena terpesona dengan senyuman Nur.
"Maaf, maksudnya van? " tanya Nur heran.
Evan tersadar, "Eh maksud aku, iya sama-sama Nur" ucapnya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kaku.
"Yaudah, aku pulang ya, Assalamu'alaikum" ucap Nur berlalu dari hadapan Evan.
"Wa'alaikumussalam" jawab Evan setelah Nur berlalu dari hadapannya, dia menghembuskan nafasnya.
Nur memasuki mobil duduk di kursi penumpang, tanpa berkata apapun Lio menjalankan mobilnya dengan agak kencang karena amarah nya belum juga reda. Nur takut-takut melihat ke arah Lio dan kembali menunduk, dia hanya berzikir karena takut Lio mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Tak lama mereka sampai, Lio memasuki halaman rumah, Nur keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju pintu rumah, sedangkan Lio memasukkan motornya ke garasi. Nur perlahan membuka pintu dan mengucap salam namun tak ada yang menjawabnya. Nur mengira tak ada orang di sana karena gelap dan sepi, Nur terus melangkah menuju kamarnya.
"Dari mana aja? "
****************
Rencana sih mau up tiap hari, cuman kadang gak sempet,
Sabar
Sabar
Sabar
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1