
Nur menoleh melihat seseorang yang menyapanya, "Eh, Van kamu cari buku juga? " tanya Nur.
"Mmm,, iya nur" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ooo,, sudah dapatkah ? " tanya Nur.
"Belum,, ini mau nyari lagi,, Mau nyari buku bareng? " tanya Evan.
"Bolehdeh"jawab Nur.
Mereka berjalan berdampingan mencari buku yang mereka perlukan dan setelah dapat mereka membayarnya ke kasir bersama.
" Sholat dulu yuk Van, udah magrib nih" ajak Nur sesaat setelah mereka membayar buku.
"Boleh,, yuk" sahut Evan.
Mereka berjalan menuju mushalla kecil di dekat toko buku dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Setelah selesai mereka keluar dari masjid, " Kamu pulang naik apa Nur? " tanya Evan.
"Mmm,, tadi sih aku naik taksi,, jadi pulangnya ya naik taksi juga" jawab Nur dengan senyuman menawannya.
"Mmmm,, mau pulang bareng? " tanya Evan ragu.
"Eh? kita kan beda arah Van" jawab Nur.
"Gapapa sekalian aku mau lewat sana, aku mau ke rumah tanteku" jelas Evan. "Lagian malam-malam gini gak baik perempuan pulang sendirian pake angkutan umum, apalagi ini kota banyak tindak kejahatan" ucap Evan menguatkan ajakannya.
"Baiklah" jawab Nur setelah beberapa menit berfikir.
Mereka menaiki motor matic yang dibawa Evan, memakai helmnya kemudian Nur menaiki motor dan duduk miring karena memakai rok. Evan melakukan kendaraannya membelah keramaian kota yang dipenuhi para muda mudi yang berkeliaran di tengah kota.
Keheningan melanda sepanjang perjalanan mereka menuju rumah Nur, tak ada satupun yang mau mengeluarkan suara. Dinginnya malam dirasakan oleh kedua insan yang sedang berada di dalam kungkungan kesunyian. Tak lama mereka sampai di depan rumah Nur, kemudian dia turun membuka helm dan memberikan helm nya kepada Evan.
"Makasih ya Van" ucap Nur hendak berlalu.
"Aku gak diajakin masuk Nur? " tanya Evan.
"Eh,, maaf,,, masuk dulu yuk" ajak Nur.
Evan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, melepas helm dan mengekori Nur untuk masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum" ucap Nur melangkah memasuki rumah. Namun tak ada sahutan, Nur terus mengajak Evan ke ruang tamu dan memperailahkan Evan untuk duduk di sofa ruang tamu. "Mau minum apa Van? " tanya Nur sesaat setelah Evan menduduki sofa.
"Apa aja deh Nur" jawabnya dengan senyuman.
Nur mengangguk dan berjalan menuju dapur, meletakkan buku yang dibelinya di ruang makan dan memutar kepalanya melihat sekitar rumah namun tak seorangpun yg dilihatnya. Nur kemudian membuatkan teh hangat untuk Evan, setelah selesai dia kembali ke ruang tamu dan menghidangkan nya kepada Evan.
__ADS_1
"Minum dulu Van" ucap Nur sambil duduk di sofa berhadapan dengan Evan.
Evan mengangguk dan meraih cangkir teh, meniup sedikit dan meminumnya. "Orang di rumah pada kemana Nur? " tanya Evan setelah menyeruput tehnya.
"Gak tau, kak Lia mungkin lagi di kamar menidurkan Arham" jawab Nur.
Tak lama setelah itu Lia nampak keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur, namun langkahnya berbelok ke arah ruang tamu karena mendengar suara orang sedang berbicara.
"Eh, Nur kamu udah pulang? " tanya Lia sambil mendudukkan dirinya di sebelah Nur.
"Iya kak baru aja" jawab Nur menatap Lia.
Tatapan Lia beralih menatap seseorang di depannya, alisnya terangkat kemudian beralih menatap Nur.
"Ah iya, ini Evan kak, temen sekelas aku" jawab Nur.
"Malam kak" sapa Evan dan mencium punggung tangan Lia.
"Ah iya malam juga, " sapa Lia kembali. " O iya Nur, bi Ani tadi sore izin katanya mau pulang kampung, anaknya sakit katanya"ucap Lia memberitahu.
"Iya kak, kalo gitu aku mau masak dulu kak" ucap Nur sambil berdiri.
Tapi Lia kembali menarik tangan Nur dan mendudukkan Nur lagi di sofa. "Kamu disini aja, biar kakak yang siapkan makan malam" ucap Lia sambil beranjak dan berjalan ke arah dapur.
Nur terpaksa menuruti perkataan Lia dan duduk menemani Evan di ruang tamu.
"Ah, iya boleh juga tuh, mumpung ada kamu disini" sahut Nur.
"Mana bukunya? , " tanya Evan.
Mereka kemudian duduk di atas karpet dan membaca buku yang mereka beli tadi dan mendiskusikannya. Mereka berdiskusi dengan santai sesekali tertawa dengan berbagai candaan yang dilontarkan Evan.
Evan begitu terpana dengan wajah gadis di depannya yang sudah lama ia sukai, namun tak berani untuk mengungkapkannya. Hingga mereka telah selesai dengan buku bacaan merrka, tetapi masih duduk di atas karpet sambil ngobrol dan kadang tertawa.
Nur merasa beruntung punya teman yang mampu membuat ia bahagia dan tertawa dan juga keluarga yang menyayanginya. Pahitnya hidup nya waktu masih kecil tak dirasakannya lagi, kini hidupnya begitu bahagia dikelilingi orang yang menyayanginya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memandang mereka dengan raut wajah tak biasa. Ada rasa Marah bercampur kesal terlihat di matanya. Ternyata Lia sudah selesai memasak dan akan memanggilnya Nur dan Evan, namun melihat keakraban mereka, hati Lia menjadi tak tenang, Lia memikirkan adiknya karena Lio begitu mencintai Nur dan berharap ketika pulang dari studynya dia bisa memiliki Nur dengan cara yang halal.
Lia mencoba berfikiran positif, menjauhkan pikiran 2 negatif yang menghinggapi otaknya. Dia berjalan menghampiri 2 orang berbeda jenis yang tengah asik mengobrol. "Nur, Van yuk makan, makan malam sudah siap" ajak Lia dengan senyuman manisnya.
"Ah maaf kak, tapi sebaiknya saya pulang saja kak, gak enak lama-lama di sini kak" ucapnya mencoba menolak secara halus.
"Ets,,, tidak ada penolakan, kamu wajib makan malam disini oke" ucap Lia sedikit memaksa.
"Iya kamu makan dulu Van baru pulang" aja Nur juga.
"Baiklah" ucap Evan pasrah dan berjalan mengikuti Lia dan Nur yang sudah berjalan duluan menuju ruang makan.
__ADS_1
Mereka duduk di kursi masing-masing, "Kak Herman kemana kak? " tanya Lia yang sedari tadi celingukan mencari kakak nya tapi tidak juga keliatan.
"Dia belum pulang Nur, mungkin bentar lagi" ucap Lia menenangkan.
Nur hanya menganggukkan kepalanya dan mereka memulai makan dengan suasana hening. Setelah selesai makan Nur membantu Lia mencuci piring, sedangkan Evan langsung izin untuk pulang kerumahnya karena sudah kemalaman.
"Nur, kamu masih ingat janjimu sama Lio kan? " tanya Lia.
"Iya kak, Nur ingat, kenapa kak? " tanya Nur.
"Enggak,, kakak cuma ngingetin aja, jangan pernah kasih harapan ke orang lain karena kamu sudah ada yang menunggu" ucap Lia memperingatkan.
Kening Nur mengkerut, "Maksudnya gimana kak? Siapa yang aku kasih harapan? " tanya Nur heran.
"Mmm,, sepertinya Evan suka sama kamu" ucap Lia sambil berjalan menuju kursi ruang makan setelah selesai mencuci piring diikuti Nur juga duduk berhadapan dengannya.
"Nggak mungkin kak, kami temenan doang" sangkal Nur.
"Tapi kakak liat dari tatapannya ke kamu Nur, memancarkan rasa berbeda dari sekedar temen, seakan akan dia menatap orang yang dicintainya" jelas Lia.
"Tapi kami cuma temenan kak, aku gak ada perasaan sama dia kak" ucap Nur.
"Syukurlah,, kamu jaga diri ya, jaga hati kamu" ucap Lia lembut sambil menggenggam kedua tangan Nur.
Nur tersenyum, " Insya Allah kak" ucap Nur mantap agar tak ada kecemasan pada Lia.
Sementara itu.
"Sayang, kamu nginep disini kan? "tanya Dara yang berada dalam pelukan Herman setelah pergumulan panas mereka tanpa sehelai benang pun, tangan Herman memeluk erat tubuh Dara dan membelai lembut punggung Dara.
" Tentu saja honey" jawabnya mantap. Dara semakin mengeratkan pelukannya.
"O iya, gmana papa kamu? " tanya Herman.
"Dia menetap di London, dan aku mengurus perusahaan papa disini" jawab Dara lembut, tangannya bergerilya di dada Herman, membuat darah Herman kembali berdesir. Dengan sekali gerakan Herman sudah berada di atasnya.
"Kamu belum puas honey? " tanya nya dengan suara serak.
"Aku tak pernah puas bersamamu sayang" jawab Dara sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Herman.
Kemudian mereka kembali melakukan pergumulan panas untuk yang kesekian kali. Tak pernah puas mereka melakukannya, tak mempedulikan entah apa yang menunggu mereka kedepannya.
****************
Othor minta maaf karena lama sekali jarak othor up kembali,
Othor harap readher bersabar menunggu yeee🥰🥰
__ADS_1
Lope U😊😊