
Sahabat sejati memang sudah seperti keluarga. Mereka selalu ada disaat situasi apapun, bahkan jika harus membahayakan diri mereka sendiri. Tak seperti teman, sahabat itu sulit didapat.
Kami adalah empat sahabat sejati yang telah berjanji tak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Kami akan selalu mendukung setiap hal baik yang masing-masing dari kami cita-citakan. Aku sangat bahagia karena memiliki mereka di dunia ini.
Aku dan sahabatku tinggal di kota kecil yang eksotis, menawarkan banyak coretan sejarah di dalamnya. Banyak kekayaan Tuhan yang tertanam di kota kecil ini.
"Wahh ... senang sekali rasanya. Liburan semester akhirnya datang," ujar seorang pemuda jangkung. Dia adalah Andryan Devanna, sahabat laki-laki tertua di diantara kami, biasa dipanggil Rian. Dia sekarang duduk di kelas tiga SMA, berarti satu semester lagi dia akan lulus. Tingginya sekitar 183 cm, memang lebih tinggi dari anak lainnya. Badannya yang sempurna membuat banyak gadis mengejarnya.
"Iya kau benar, lalu apa yang akan kita rencanakan untuk liburan kali ini?" tanya pemuda bertubuh gempal. Dia adalah Ramatha Alvaro, orang yang paling kocak diantara kami dan selalu membuat kami tertawa. Dia satu kelas denganku, yaitu kelas 2 SMA. Tingginya hampir sama dengan Andri, hanya selisih sekitar 5 cm saja. Wajahnya imut menggemaskan.
"Astaga kalian ini ya, yang kalian pikir hanya liburan saja, padahal selama ini liburannya tidak terlalu asik, pasti ada saja kejadian-kejadian yang bikin jantung copot." Clara terkekeh ketika mengingat liburan tahun kemarin, dia hampir saja hanyut di sungai karena mengejar ****** ******** yang terbawa arus.
Nah ini dia si primadona di kelasku, Clarasia Wandayana, dia sahabat yang memiliki paras cantik tak berbeda jauh dari kakaknya Rian yang juga memiliki paras tampan. Ia juga satu kelas denganku, dia anaknya manis, baik, dan suka menolong siapapun. Tingginya sekitar 159 cm. Ia selalu menginginkan liburan yang menyenangkan.
"Tapi kamu menikmatinya, kan? Haha," ucapku sambil menarik ransel Clara.
Sadang aku Erica Orvatilda, namaku memang yang paling aneh dan asing dari mereka. Mereka sering memanggilku Erika. Tinggiku sekitar 169 cm dan tertarik pada petualangan.
"Kamu benar, aku memang menikmati karena masa liburan merupakan hari spesial tanpa segudang rumus yang bisa meledakkan kepala," ujar Clara sambil membalas menarik ranselku.
"Apaan sih, boncel," ledekku pada Clara.
"Kak Rian, itu tuh dia nakal," Clara mengadu pada kakaknya.
Rian hanya tertawa kecil dan tetap berjalan ke depan dengan gaya kerennya.
"Haha, ada yang merasa tidak dipedulikan oleh kakaknya." Rama terkekeh mencoba menggoda Clara yang mudah kesal.
"Apaan sih kamu, Rama. Seharusnya kamu membelaku," kesal Clara.
Perjalanan pulang dari sekolah membuat kami merasa haus, apalagi kami berjalan kaki. Tak karena tidak punya uang, tapi karena pemandangan sekitar jalanan yang kami tempuh mampu melepas penat dengan keindahan pemandangan kota kecil yang menawan.
Namun cuaca sore itu benar-benar panas. Matahari masih terus saja membuat udara hangat. Keringat kami mulai bercucuran dari ujung dahi.
"Aduh, teman-teman, aku merasa sangat haus." Aku nyengir dan mengelus tenggorokan yang terasa sangat kering sedang botol airku sudah kosong.
"Aku juga," ucap Clara manja.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita mampir saja ke kafe di sana? Sepertinya terlihat menyegarkan," ajak Rian sambil menunjuk ke arah kafe yang berada di sisi jalan.
Kami masih diam saja tidak menanggapi ajakannya. Apalagi uang kami pas-pasan untuk minum di tempat seperti itu.
__ADS_1
"Ah kalian tenang saja, aku yang traktir!" Lanjut Rian.
"Wah! Sepertinya kau sedang banyak uang," ledekku pada Rian.
"Hei kamu jangan meremehkan kakakku. Karena diam-diam dia punya uang banyak," ucap Clara.
"Kalau begitu, ayo!" Rama terlalu bersemangat dengan ajakan Rian.
Kami melangkah menuju sebuah kafe di pojok jalan. Kafe itu berdesain kuno. Suara dering lonceng terdengar saat kami membuka pintunya yang unik. Kami memilih meja dekat dengan jendela. Kemudian kami memesan minuman dingin yang dapat melegakan tenggorokan.
Sambil menunggu pesanan tiba, kami memandang keluar dan sekeliling ruang itu. Meja dan kursi klasik yang sangat menyentuh gaya sejarah, ditambah dengan hiasan lentera jaman dulu yang memikat hati menghiasi ruang yang agak ramai itu.
"Silakan, Tuan. Silakan, Nona, selamat menikmati," ucap salah satu pelayan yang membawakan pesanan kami dengan ramah.
"Terimakasih, Mom." Jawab kami serentak.
"Siapa yang tadi memesan coklat?," Aku menanyakan pada mereka. Seketika meja kami ricuh dengan suara kami yang berisik.
"Ahh ... , Tenggorokanku terasa sangat segar, langsung licin," ucap Rama setelah ia menelan minuman yang ia pesan.
"Wah! Erika, milikmu sepertinya segar dan nikmat sekali ya," Clara memuji tampilan minumanku yang menggodanya.
"Kamu mau?" tawarku pada Clara.
"Belilah sendiri." Aku menarik gelasku. "Minta saja pada kakakmu, pasti dia akan membelikannya. Uangnya kan banyak." Aku tertawa melihat wajah Clara yang seperti bayi kehilangan dot mereka.
"Enak saja, aku kan janjinya cuma satu gelas. Kalau kamu mau beli, belilah sendiri!" Parahnya Rian ikut-ikutan menggoda adiknya.
Clara terlihat sangat kesal campur sedih. Bibirnya dimanyunkan membuatnya terlihat menggemaskan.
"Bercanda kok Clara, ini—" Aku menyodorkan gelasku pada Clara.
"Baiklah," Clara menyetujui tawaranku.
Kami saling menukar gelas kami dan berbagi rasa dari masing-masing gelas kami. Tiba-tiba sesuatu mengalihkan pandangan kami. Sebuah lukisan terpajang didinding bata merah kafe. Lukisan yang sangat perfeksionis.
"Teman-teman, lihat itu!" Rama membuat kami menghentikan minum dan menoleh ke arah lukisan yang tergantung di dinding sebelah jendela.
"Apa itu, Rama," ucap Clara seraya mengikuti pandangan Rama.
"Wow! fantastic!" ujarku melihat lukisan yang terpampang di dinding kafe.
__ADS_1
"Aku baru tahu ada lukisan secantik ini di sini," lanjut Rian menunjuk lukisannya.
"Apa yang kalian bicarakan, itu hanyalah pemandangan pegunungan yang ada di belakang perumahan kita." Clara ternyata salah melihat lukisan. "Jadi kurasa biasa saja."
"Bukan yang itu, tapi yang itu." Rian menunjuk lukisan itu sekali lagi.
"Jangan menunjukkan jari seperti itu, memalukan!" Aku berbisik ketika melihat Rian menunjuk ke arah lukisan dengan telunjuknya. Aku memandangi lukisan itu dengan rasa kagum, bagaimanapun itu adalah lukisan yang unik.
"Wah!, iya ya," ucap Clara terkagum.
"Lukisan makhluk asing penuh dengan gairah fantasi, Pohon dan dedaunan yang terlihat eksotis, alam yang benar-benar indah," puji Rama pada lukisan itu dengan wajah konyol
Saat kami tengah asyik menikmati lukisan yang mampu membuat kami berhalusinasi pergi ke dunia fantasi, tiba-tiba suara alarm dari jam tangan Rama mengacaukan segalanya.
Tiiitt....Tiiiiitt...titttttt...
"Sialan! Kau ini seperti anak kecil saja, membunyikan alarm seperti itu! mengacaukan halusinasiku!" kesal Rian pada Rama.
Rama tidak mempedulikan ucapan Rian. "Maaf, sekarang sudah jam 4. Ingin pulang atau masih ingin berhalusinasi?" tanya Rama setelah melihat jam tangannya.
"Benarkah? Ya sudah, aku rasa kita harus pulang." Aku mengajak mereka pulang agar tak terlalu sore sampai dirumah, mengingat kami akan pulang dengan jalan kaki.
"Kamu benar, Erica. Ayo kita pulang, karena kita harus jalan kaki." Rian kembali menggantungkan ranselnya pada salah satu bahunya.
"Ini, Mom." Rian meletakkan beberapa lembar uang kertas ke atas meja. "Sudah kita bayar ya."
"Iya, Nak. Terima kasih," jawab pelayan kafe dengan ramah yang kemudian dibalas oleh senyuman dari bibir kami.
"Jangan lupa mampir lagi."
Kami keluar dari kafe dan melanjutkan perjalanan pulang kami. Suasana kota yang tenang membuat kami merasa tenang. Kali ini matahari sudah tidak terlalu menyengat. Hamparan gedung kuno terjejer di pinggiran jalanan yang sudah mulai menipis. Aku sangat senang tinggal di kota ini.
"Teman-teman, bagaimana jika esok kita main ke perpustakaan kuno? di sana kan banyak koleksi tua, dan buku-buku dongeng kuno," ajakku pada mereka.
Rian terlihat berpikir sejenak, aku tahu ia juga tertarik pada benda-benda bersejarah. "Baiklah, kenapa tidak, besok kan hari Minggu, awal liburan kita. Lagi pula rasanya sudah lama kita tidak pergi ke sana." Aku tahu Rian pasti akan setuju dengan ide awal liburan kali ini.
****
Tidak terasa, ternyata aku sudah sampai di depan rumah. Jalanan gang kecil yang lenggang membuat kami santai dalam berjalan. Seperti biasa aku menawarkan mereka untuk mampir ke rumah.
"Terima kasih, tapi lain kali saja. Aku takut nanti malah betah dengan makanan ibu kamu." Rama terkekeh menjawabnya.
__ADS_1
Ibuku memang selalu membuat masakan yang enak setiap kali ada teman-teman. Dia adalah mantan koki di restoran terkenal sebelum ia menikah dengan ayahku, maka tak hayal jika masakan ibuku adalah masakan terbaik di dunia.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya." Aku melambaikan tangan pada mereka sambil berharap mereka akan selamat sampai tujuan.