
Nafasku yang memburu mulai mereda. "Rasakan kau! Dasar sombong!" Aku menoleh pada teman-temanku dan menghampiri mereka.
Sesekali aku melihat kedua wanita yang tergantung dalam sangkar itu. Kulihat Putri Zoey yang masih belum tersadar, dan wanita yang melihat ke arah Rama dengan meneteskan air mata. Hal itu semakin membuatku yakin jika dia adalah ibu Rama yang hilang tiga tahun lalu.
"Rama! Kau tidak apa-apa kan?" ucapku mendekati mereka.
"Aku tidak apa-apa, ada apa denganku?" jawab Rama yang mulai sadar.
"Mari aku bantu bangun!" kata Rian.
"Bulan hampir terlihat bulat, ini kesempatan kita untuk mencari jalan kembali." ucap Clara.
"Tapi kita harus menyelamatkan mereka dulu!" Ucap Rian.
"Baiklah, kita coba naik ke atas," kata Megi menuntun kami melewati tangga batu yang terlihat ditumbuhi lumut.
"Lihatlah! Apinya mulai mereda!" girang Rama menunjuk ke arah telaga api.
"Ya kau benar! Sekarang bagaimana cara kita menurunkan mereka!" Ucapku.
"Kurasa pasti ada sesuatu yang mengaitkan sangkar itu." Usul Rian.
Rama menengok kepada dua sangkar. Ia melihat sosok seorang manusia yang mirip dengan ibunya. "Ibu!" Rintih Rama. "Aku yakin sekali itu ibu! Selama ini aku sangat yakin kalau ibu masih hidup!" Lanjutnya. Orang itu melihat Rama dengan meneteskan air mata seraya berkata lirih, "bayi kecilku!".
"Baiklah! Ayo kita cari bagaimana menurunkannya!" ucap Rian semangat.
"Ayo!" Kompak kami.
Kami kembali menaiki tangga agar lebih dekat dengan sangkar itu. Lorong gelap yang hanya dihiasi dengan tembusan cahaya bulan menjadi jalan kami. Kami kembali melihat pada sangkar itu.
"Lihat! Ada rantai yang mengait. Tapi dari mana asal rantai itu?" ucapku pemasaran.
__ADS_1
"Coba kita lihat! Rantai itu berakhir di langit-langit atas itu. Mungkin saja ada sebuah ruang atau alat disana!" Ucap Megi.
"Kau benar Megi! Bagaimana jika kita ikuti saja?" Ucap Rama.
"Ayo ikut aku!" Megi menuntun kami melewati kastil tua itu. Namun saat kami merasa hampir sampai pada ruang yang kami tuju. Kami dihadapkan dengan sebuah pintu besar yang terkunci dengan gembok kayu yang kuat.
"Sialan! Bagaimana Ini." Rian mencoba memangkasnya dengan pedang namun tentu saja hal itu sulit. Tak sangaja aku melihat kapak yang tergantung di dinding batu. Ku ambil kapak itu dan langsung ku perangkan pada gembaok kayu itu.
"Hiak!" Hanya dengan dua kali pukulan kapak gembok itu sudah patah. Kami mencoba membuka pintu itu namun sangat sulit. "Ohh sial, percuma saja aku mengeluarkan tenaga untuk mengapak gembok itu." ucapku sambil menggantungkan kembali kapak pada tempat semulanya. Namun hal baik terjadi seketika setelah ku kembalikan kapak itu. Suara gemuruh geseran batu terdengar menakutkan, tapi juga membuat kami melongo saat dinding yang tergantung kapak bergeser dan terpampanglah sebuah buku tua. "Buku apa ini?" tanyaku mengabil buku itu.
Kami muali membuka-buka buku itu, namun tak ada satupun bahasa yang kami mengerti. "Megi! Bisakah kamu membantu kami?" Ucap Rian.
"Ya disini tertulis jalan kembali ke dunia asal kalian. Terdapat sebuah puzzle di dasar telaga hitam yang dapat kalian ambil saat bulan bulat sempurna dan membuat sebuah cahaya memancar dari telaga hitam itu. Jadi kalian harus menyelam." jelas Megi.
"Aku bisa menyelam!" ucapku.
"Ya! itu bagus!" Balas Megi.
"Coba aku pinjam bukunya!" Clara kemudian meletakkan buku itu pada sebuah lubang kotak pada pintu itu. Dan sesuatu terjadi. Suara gemuruh disertai sedikit reruntuhan batu membuat kami sedikit mundur dan melindungi kepala kami.
"Wow!" Kagum kami.
"Ternyata begitu ya cara kerjanya!" ucap Rama memahami apa yang terjadi.
Kami masuk kedalam ruangan yang penuh dengan mesin itu. Sambil mengamati satu persatu dari mesin kami jaga mencari tahu dimana rantai yang mengait sangkar itu.
"Lihat ini! Aku yakin ini mereka!" ucap Rama yang menemukan dua buah rantai yang tenggelam begitu saja ke lantai.
"Coba kau minggir sedikit!" Rian menekan sebuah tombol yang membuka be erapa dari lantai itu. Terpampanglah sebuah lubang yang mengarah ke telaga hitam dan telaga api. Terlihat juga di buah sangkar yang terikat dari rantai itu. "Tepat sekali! Aku yakin ini yang dapat membuat mereka naik." Rian kemudian berjalan menuju gulungan rantai yang mirip seperti katrol. "Ayo kita gulung!" Rian mulai berusaha menggulung itu, namun sangat berat untuk tangannya. "Sial ayo bantu aku!" teriak Rian.
"Teman-teman bulan sudah bulat sempurna!" kataku yang melihat bulan dari jendela ruang itu. Kemudian aku menengok lubang yang mengarah pada telaga hitam. Cahaya mulai terpancar dari dalam telaga itu.
__ADS_1
"Cahaya mulai terpancar!" Teriak Clara.
"Erika! Kau bisa menyelamkan? Cepatlah kau pergi dan ambil puzzel itu dari dari dalam telaga!" Ucap Megi memeringatkan aku.
"Baiklah Megi. Teman-teman aku pergi dulu ya! Ingat kalian harus menyelamatkan Putri Zoy dan Bibi Gani (ibu Rama)!" Ucapku.
"Kau hati-hati ya Erika!" Ucap Rian.
Aku berlari sekencang mungkin untuk sampai ke telaga itu sebelum cahaya menghilang. Menuruni tangga dengan berlari bukanlah perkara mudah. Aku sempat terjatuh dan kakiku terkilir. Namu aku tetap melanjutkan perjalananku ke telaga itu.
Telaga sudah dihadapanku, Ku ambil nafas dalam-dalam dan lengsung menceburkan diri ke telaga itu. Sungguh telaga yang sangat gelap. Namun aku memilih untuk mengelap pada arah cahaya yang ada didalam telaga itu. Aku terus menyelam kedalam sampai hampir habis napasku. Namun ku tetap bertahan, dan mencoba mencari dimana puzzle itu.
Aku semakin dalam menyelam, akhirnya ku temukan juga sumber cahaya yang memancar. Ternyata aku dapat melihat sebuah kotak disertai sebuah kalung dengan bandul kunci. Ku ambil kotak dan kalung itu. Namun tiba-tiba cahaya menghilang. Tak ada yang dapat kulihat di dalam telaga hitam itu.
Sedang teman-temanku dengan sekuat tenaga berhasil mengankat dan mengeluarkan Bibi Gani dan Putri Zoey dari sangkar itu. "Ibu!" Rama langsung memeluk ibunya setelah lama tak bertemu.
"Sayang, bayi kecilku," balas Bibi Gani dengan pelukan hangatnya.
"Astaga! Cahayanya sudah menghilang! Erika belum juga sampai ke permukaan!" teriak Clara.
"Ayo cepat kita kesana!" Mereka berlari menuju telaga hitam bersama putri Zoey yang sudah tersadar.
Aku merasa sangat pusing dan sesak dalam air namun aku masih bertahan dan membiarkan diriku mengambang dengan sendirinya ke permukaan.
"Erika!" Teriak Rian dan Kawan-kawanku setelah mereka sampai di pinggir telaga.
Tak lama kemudian aku muncul di permukaan dengan mesih membawa kotak dan kalung. Aku sudah merasa lemas sekali, kepalaku pusing, dan aku langsung mengambil udara terburu-buru. Rian yang melihatku kesulitan langsung berenang kearahku dan menolongku.
Kami sudah sampai dipinggiran telaga yang mulai berubah bening itu. "Erika!" panggil Rian sambil menepuk pipiku. Aku merasakannya saat itu namun aku sangat lemas hingga sulit untuk membuka mata. Namun perlahan aku membukanya dan senyum mengembang terlihat dari wajah teman-temanku yang ada dihadapanku. "Maaf teman, aku tak dapat menemukan puzzle, namun aku menemukan kotak ini." Aku memberikan kotak itu dengan kuncinya.
"Tak apa Erika, yang penting kau selamat!" Ucap Rian, Rama, dan Clara kompak.
__ADS_1