
Rian menoleh ke dalam kamar. "Ya tentu saja, telingaku masih sehat," jawabnya sambil memegang telinga.
Aku dan Rian memutuskan kembali masuk ke dalam kamar. Kulihat Rama dan Clara masih tertidur pulas di kasurnya masing-masing. Tak ada orang lain selain kami berempat di dalam ruangan ini.
"Aku rasa itu suara dari luar," ucapku pada Rian melihat Rama dan Clara masih tertidur.
"Tapi siapa di luar malam-malam begini?" heran Rian sambil mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah, ayo kita lihat, apa yang terjadi di sana," ucapku seraya membuka pintu.
Baru saja aku mendongakkan kepala dari balik pintu, aku melihat sekelebat bayangan berjalan meninggalkan bekas vas yang jatuh.
"Aku rasa tadi itu suara vas yang jatuh itu," ucap Rian yang belum melihat orang itu.
"Begitu ya? Aku tahu siapa yang menjatuhkannya Rian, ayo ikut aku." Aku menarik lengan Rian untuk mengikuti bayangan tadi.
"Siapa dia? kenapa malam-malam seperti ini dia keluar?" tanya Rian heran.
"Diam saja dulu, aku juga tidak tahu," jawabku dengan nada lirih.
Aku dan Rian mengikuti orang itu melewati lorong istana dan ternyata orang itu pergi menuju dapur. Kami terus mengikutinya sampai di dapur.
"Hei sedang apa kalian malam-malam kesini?" Orang itu menoleh pada kami dan ternyata tahu jika kami mengikutinya.
"Oh, Niku ternyata itu kau, aku ingin mengambil air, tenggorokanku terasa kering," ucapku sedikit kaget. "Kau sendiri apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanyaku balik pada Niku.
"Aku ingin mengambil cemilan, tiba-tiba saja perutku merasa kosong," jawabnya sambil membuka sebuah lemari besar.
"Kenapa kau tak menggunakan kekuatan sihir saja? Pasti akan lebih mudah bukan?" ucap Rian sambil memainkan tangannya seakan-akan ia sedang membuat sihir.
"Eum ... , iya sebenarnya aku juga ingin seperti itu, tapi ... sihir itu tidak bekerja saat perutku kosong," jawab Niku memegang perutnya.
"Oh iya, tadi kau mencari air kan? Ambil saja gelas itu, nanti airnya akan muncul sendiri," lanjut Niku sambil menunjuk ke arah gelas perak yang telah tertata rapi.
"Wow! itu sangat menakjubkan," Aku segera mengambil gelas perak itu. Dan benar saja gelas itu terisi air dengan sendirinya. Benar-benar ajaib!
"Ngomong-ngomong kau tak mengambil air?" Niku bertanya kepada Rian yang masih berdiri di tempat semula.
"Ah ... tidak terimakasih, aku hanya mengantarnya saja," jawab Rian tersenyum.
"Kenapa harus diantar?" tanya Niku sambil melirikku dan kemudian Rian.
"Dia sedikit takut, makannya dia memintaku untuk menemaninya, karena hanya aku yang masih terjaga," jelas Rian menata alasan.
"Baiklah kalau begitu, sebaiknya kalian kembali ke ruang kalian saja dan beristirahatlah," ucap Niku,
__ADS_1
"Kau sendiri mau kemana," tanyakuku pada Niku dengan sedikit curiga.
"Em ... aku masih harus menata ini lagi," jawab Niku sambil bersibuk menata lemari besar itu.
"Baiklah kami duluan ya," Rian melambaikan tangan pada Niku dan aku langsung berbalik dan berjalan menuju kamar. Diikuti Rian langsung menyusulku.
"Ayo Rian cepatlah!" Aku menarik tangannya dan berlari cepat menuju kamar.
"Ada apa?" Rian terheran dengan sikapku.
Kami sudah berada di dalam kamar lagi. Dan pemandangan dalam kamar masih sama. Aku langsung menyeret Rian menuju pintu balkon kamar yang masih terbuka.
"Kenapa kau membawaku ke sini lagi?" Rian bertanya padaku dengan seribu kebingungan.
"Aki yakin Niku berbohong pada kita," ucapku pada Rian dengan nada serius sambil melihat ke sekeliling halaman istana yang hanya ada dua penjaga malam itu.
"Apa maksudmu, Erika?" Rian sangat tak mengerti ucapanku.
Aku menatap wajahnya dengan serius. "Kemarin aku melihat seseorang keluar ke arah sana," aku menunjuk arah seperti yang aku lihat kemarin, "dari pintu belakang, tepatnya yang adalah dapur. Lalu ku lihat ia menemui seseorang disana dan saat aku ikuti ke luar ternyata mereka sudah tak ada," jelasku apa adanya pada Rian.
"Apa maksudmu Niku yang keluar?" ucap Rian menatap mataku.
"Mungkin saja— Ya!" jawabku ragu.
"Apakah kau melihat wajah Niku malam itu?" Tanya Rian yang sudah mengalihkan perhatian matanya ke halaman istana itu.
"Baiklah, kita tunggu apakah ada yang keluar atau tidak." Rian memandangi halaman itu.
Sudah lama aku dan Rian mengawasi tapi tak ada seorangpun yang keluar. Yang terlihat hanyalah penjaga yang senantiasa terjaga.
"Tak ada yang keluar kan? Mungkin saja Niku malah sudah kembali ke ruangannya," Rian memandangku dengan alis yang ia angkat.
"Baiklah, mungkin aku terlalu khawatir, aku juga tak tahu kenapa aku terlalu khawatir seperti ini," jawabku sambil menggelengkan kepalaku. "Hatiku merasa tidak tenang, Rian."
Rian merangkulku lagi. "Masuklah sana, sudah waktunya istirahat," Rian menyuruhku untuk istirahat.
"Baiklah, kau sendiri masih ingin di sini?" tanyaku pada Rian yang masih berdiri.
"Ya, aku tadi belum sempat mengucapkan harapanku pada bintang jatuh, itu sebabnya aku ingin mengatakannya sekarang."
Sekarang dia tertawa kecil, membuatku juga ikut terkekeh.
"Kau ini, apa kau butuh minum?" tawarku sambil memberikan gelas ke Rian.
"Oh Tentu, aku merasa haus berjalan dari dapur sampai kemari," jawab Rian nyleneh sambil mengambil gelas dari tanganku.
__ADS_1
"Aku masuk dulu, ya," ucapku sambil berbalik dan masuk ke dalam kamar.
" Terimakasih, nona." Aku tahu Rian hanya bercanda, tapi perlakuannya padaku membuatku benar-benar menyukainya. "Selamat istirahat, Erika," lanjut Rian yang masih memandangiku.
Aku melihat dari balik jendela, terlihat Rian yang meminum airnya. "Wah! segar sekali ternyata," ucap Rian setelah air itu masuk ke tenggorokannya.
Aku belum memejamkan mataku sampai Rian berbalik dan hampir masuk ke dalam kamar, namun sepertinya ada sesuatu yang membuatnya mengurungkan niat.
"Apa itu?" Rian bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. Lalu Rian menguap dengan lebarnya menandakan dia sudah mengantuk. Rian pun segera kembali masuk dan menutup pintu. Kemudian ia berbaring di kasurnya dan terlelap.
Melihatnya tidur dengan nyenyak membuatku juga ikut terlelap.
...
Matahari pagi mulai menembus jendela ruangan kami. Mataku sedikit demi sedikit mulai terbuka, kulihat Rian dan yang lain masih dengan pulas tertidur.
Aku kembali ke balkon kamar dan melihat sekeliling. Ternyata sudah banyak yang beraktivitas. termasuk juga aku dapat melihat desa Littleland. Aku lihat samar-samar mereka sedang asyik beraktivitas. Aku tersenyum melihat begitu harmonis kehidupan mereka.
Aku keluar menuju sungai yang mengalir di halaman belakang istana. Aku bersihkan wajahku di sana. Segar rasanya, lalu iseng-iseng aku cicipi air itu. Aku merasakan tubuhku bugar setelah air sungai itumengalir ke tubuhku.
Setelah itu aku kembali dan berpapasan dengan Maggie.
Maggie langsung menyapaku dengan gaya ramahnya yang khas. "Selamat pagi, Erika." Ia melambaikan tangannya dengan kocak, kocak sekali sampai aku hampir tertawa dibuatnya.
"Hai, Maggie," balasku.
"Dari mana saja kau? Lalu di mana teman-temanmu?" Tanya Maggie.
"Mereka masih istirahat," jawabku pada Megi.
"Baiklah, aku tadinya berniat memanggil kalian. Karena kau ada di sini jadi sebaiknya kau cepat bangunkan mereka, ratu ingin menemui kalian," ucap Maggie.
"Baiklah, apa kau mau ikut?" tawarku pada Maggie yang gempal itu.
"Boleh, ayo kita bangunkan mereka," jawabnya bersemangat.
Aku dan Maghie segera memasuki ruang istirahat kami. Kulihat mereka belum juga bangun. Mereka ini benar-benar kebo!
"Rian, Rian ayo bangun! Ini sudah pagi." Aku menggoyangkan tubuh Rian dan menepuk perutnya.
" Astaga, apa yang kau lakukan. Aku masih mengantuk sekali," ucap Rian yang tak kunjung bangun.
"Ayolah, Rian. Ratu ingin bicara dengan kita," ucapku.
"Ya ampun. Baiklah," ucap Rian dengan nada lemasnya.
__ADS_1
"Maggie, tolong kau bantu bangunkan mereka ya," ucapku meminta tolong pada makhluk lucu itu.