
Imbasnya adalah sore yang cerah berujung pada malam yang indah. Ribuan bintang bertaburan di gelapnya langit malam. Aku sungguh menikmatinya dari jendela kamarku, sambil berkhayal andai ku dapat meraih mereka.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk besok," gumamku yang masih terus memandangi kemegahan malam.
Malam menjadi semakin larut, begitu pula semakin bersinar cahaya bintang. Tidak terasa aku sudah mulai menguap.
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Sengaja tidak ku tutup jendela kamarku agar bintang menemani tidurku. Lama kelamaan mataku terasa berat dan terpejam.
***
"Kau bukan hanya manusia biasa." Suara seseorang yang tidak ku kenal menggema di telinga.
Aku terperanjat ketika suara itu terus-menerus menggema di telingaku.
"Astaga, ternyata hanya mimpi." Aku mengucek mata yang baru saja terbuka.
"Apa!! sudah sepagi ini ternyata, kenapa ibu tidak membangunkanku," Aku bergegas pergi ke kamar mandi dan langsung berganti pakaian.
Betapa terkejutnya saat aku melihat keramaian di meja makan ketika aku pergi ke dapur. Bukan hanya ramai makanan tapi sahabatku yang sudah datang untuk pergi jalan-jalan.
"Wah! Erika kita sudah bangun. Bagiamana mimpimu? Apa kau menyukainya?" Ledek Rian kepadaku yang masih tertegun di depan meja.
"Tentu saja mimpi yang sempurna, itu sebabnya dia baru bangun." Clara terkekeh meledek Erika.
"Apa yang kamu bicarakan!" ucapku sambil menggaruk leher menyembunyikan malu.
Rama tiba-tiba muncul, "Eh Erika, sudah bangun? maaf ya, aku baru dari kamar mandi hehe,"
Aku hanya tersenyum dan protes pada Ibuku. "Bagaimana bisa ibu tidak membangunkan aku? Ketika mereka datang seharusnya ibu bangunkan aku."
"Ya, lagi pula kamu sepertinya sangat pulas tidurnya. Ibu tidak tega membangunkanmu,"
Rama menambahkan jawaban ibuku. "Sebenernya bibi sudah ingin membangunkan kamu, tapi kita yang melarangnya," jelas Rama.
"Kenapa?" Tanyaku, tapi aku tidak benar-benar ingin bertanya. Aku terus mencari sosok ayahku yang tidak terlihat di meja makan. "Ibu, ngomong-ngomong ayah di mana?"
"Ayah kamu sudah berangkat lebih dulu tadi. Dia bilang ada penelitian yang harus segera diselesaikan," jawab ibu.
Ayahku memang sibuk, pekerjaannya sebagai seorang peneliti memang mengharuskan ayah siap siaga dan harus selalu konsentrasi saat bekerja. Namun hal yang paling aku suka adalah saat ayahku dirumah dan sempat membacakan cerita dongeng untukku.
"Ya sudahlah." Aku sedikit kecewa karena awalnya aku berharap bisa sarapan dengan ayahku. Aku lalu mengalihkan perhatian pada aroma yang mengocok perut. "Bagaimana jika kita langsung sarapan saja. Perutku sudah tidak tahan jika harus menahan makanan enak ini lagi."
Mereka menjawabnya dengan kompak. "Setuju!"
__ADS_1
"Wow! Masakan bibi lezat sekali, aku jadi ingin menambah porsi ku." Rian memuji makanan ibuku dan menambahkan beberapa makanan ke dalam piringnya.
"Bilang saja kamu lapar, Kak," Goda Clara pada Rian.
"Jangan mempermalukan kakakmu seperti itu, Clara. Nanti mereka mengira ibu kita tidak memberi makan, padahal karena masakan Ibu Clara lebih enak dari masakan ibu kita," lirih Rian sambil menyikut lengan Clara.
Semua tertawa mendengar ucapan Rian.
"Kamu yang membuat kita malu, Kak!," Balas Clara berbisik di telinga Rian. "Makanmu banyak sekali."
"Ada apa bisik-bisik?" Tanya ibuku yang melihat sepasang kakak adik itu saling berbisik.
"Tidak, Bi. Tidak apa-apa," balas mereka kompak, sekompak saudara kembar.
"Tapi ngomong-ngomong, pagi-pagi begini kalian sudah rapi sekali. Mau kemana si?" Ibuku bertanya heran.
Aku menelan makanan yang ada di mulutku. "Em, Ibu, kami berencana untuk pergi ke perpustakaan kuno. Sudah lama tidak pergi ke sana."
"Wah! Bagus sekali itu." Ibu memberi jempol pada kami. "Sekarang kalian terima ini, ya." Ibu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari kantongnya.
"Aduh, Bi, tidak usah repot-repot. Lagi pula kami hanya ingin pergi ke perpustakaan kok." Rian menolaknya dengan halus. "Kami sangat berterima kasih karena bibi sudah membuat sarapan yang lezat untuk kami pagi ini. Jadi bibi tidak perlu memberi kami uang jajan pula."
"Tidak apa-apa, sekali-sekali ibu jajain kalian. Yah— walau cuma sedikit tapi bisa buat beli eskrim, kan?" Ibu tersenyum tetap ingin memberi kami uang jajan.
"Sudahlah, Rama. Anggap saja ibuku adalah ibumu juga, lagi pula kita juga udah kayak keluarga, kan?" ucapku untuk menghibur Rama.
"Erika benar, Rama. Agar lebih akrab kalian panggil saja aku ibu, jangan panggil dengan sebutan bibi." Ibuku memang orang yang baik dan rendah hati, dia selalu bersikap lembut terhadap siapapun.
"Terima kasih, Erika. Terima kasih juga bibi," ucap Rama.
"Ya sudah, teman-teman, terima saja. Ibuku memang baik, tidak beda jauh dengan anaknya ini." Aku tertawa terbahak-bahak sendirian.
"Aduh, terima kasih banyak ya bi, maksudku— ibu," ucap Rian pada Ibuku.
Ibu tersenyum senang. "Baiklah, jika sudah selesai kalian boleh berangkat. Mumpung masih pagi dan matahari belum terlalu terik," kata ibu.
"Ya sudah, Ibu. Aku pamit dulu, aku sayang Ibu." Aku memeluk tubuh ibu yang terasa hangat.
"Ibu juga sayang Erika." Ibu membalas ucapanku dan aku melepaskan pelukanku.
"Sampai jumpa, Ibu." Aku pergi melewati pintu dan mengambil sepedaku.
"Sampai jumpa, Bi, kami pamit dulu." Kawan-kawanku mengucap pamit pada ibuku sambil melambaikan tangan mengusulkan keluar dari dapur.
__ADS_1
Ibu membalas lambaian tangan kami dan menyaksikan kami berangkat "Sampai jumpa. Hati-hati ya, semoga hari kalian menyenangkan,"
Kami menikmati setiap putaran roda dengan pemandangan kota yang indah dan tenang. Terlihat pegunungan yang membentang di belakang bangunan-bangunan kota yang seperti berjalan di samping kami. Di temani dengan angin yang berhembus lembut menyejukkan.
"Wah, sudah hampir sampai nih. Ayo kita balapan! siapa tiba di depan perpustakaan lebih dulu maka dia jadi pemenang." Rian menantang kawan-kawannya balapan.
Aku tentu tidak keberatan dengan tantangannya. "Ayo! siapa takut." Aku tak mau kalah dengan Rian.
"Satu ... dua ... tiga ... ." Hitung Rian dan secepat mungkin dia mengayuh pedal sepedanya.
Secepat mungkin kami semua berusaha sekuat tenaga. Aku sangat yakin jika aku bakal menang, tapi tiba-tiba sekelebat bayangan menyalip sepedaku.
"Yey! aku menang!" Surak Rama setelah berhasil menyalipku. Itu artinya dia yang menjadi pemenang.
Satu persatu dari kami pun sampai di halaman perpustakaan dan memarkirkan sepeda kami dengan baik.
"Ya sudah, tunggu apa lagi? Mari masuk ke perpustakaan!" Clara terlihat sangat antusias untuk masuk ke perpustakaan, sama dengan diriku.
"Ayo!" jawab kami kompak.
Aku melihat sekeliling perpustakaan yang sepi hanya ada beberapa orang saja, penjaga, dan tukang bersih-bersih. "Ternyata masih sepi ya?"
"Sepertinya masih terlalu pagi," ujar Rama.
"Tapi aku lebih suka yang masih sepi karena lebih leluasa. Mau mencari apa pun bebas," ujar Rian dengan senang.
"Kamu ada benarnya juga, sekarang kalian mau mencari buku apa?" Tanya Clara.
"Sesukanya sih, tapi aku ingin mencari buku dongeng kuno yang penuh misteri haha," ucapku girang. Aku senang mengisi hari-hari kosongku dengan membaca buku yang mengajak otakku traveling ke dunia fantasi. Oleh karenanya aku sering meminjam banyak buku ketika liburan hampir tiba.
"Hati-hati! Nanti kamu terlalu banyak berhalusinasi," ujar Rian.
"Biar saja. Kamu juga begitu, bukan?"
Aku pergi menuju rak bernomor 0010404 Dongeng Kuno, disana banyak sekali buku yang telah usang dan jarang dibaca. Kemudian pandanganku tertuju pada buku kuno bertuliskan 'Littleland'.
"Littleland, aku penasaran dengan ini," Aku pun mengambil buku itu dan melangkah menuju meja baca.
Buku Dengan sampul kuno dan tebal membuatku tertarik dan bersemangat dalam membaca. Apalagi jika teringat ayah saat menceritakan dongeng padaku. Walaupun aku sudah besar tapi ayah masih sering membacakan dongeng untukku. Aku sangat menyayangi ayah.
"Hei jangan melamun! Nanti kesambet kamu!" Suara Rian membangunkanku dari dunia penglamunan.
Aku bahkan tidak sadar jika aku melamun, entah apa yang aku pikirkan.
__ADS_1