
"Apa maksud Anda, Ratu Zefanya?" Dengan sopan Rama bertanya.
"Teman-teman, kami benar-benar membutuhkan bantuan kalian, untuk melindungi kebaikan." Ratu dengan raut wajah meminta. "Aku mohon ... ."
"Lalu bagaimana cara kami dapat kembali ke rumah kami," tanya Rian.
Zefanya membolak-balikkan halaman buku itu. Aku rasa ia tengah mencari sesuatu. Ratu berhenti di sebuah halaman dan mulai berbicara menjelaskan pada kami bagaimana cara kami menemukan jalan pulang.
"Kalian ingat bagaimana kalian masuk ke sini?" tanyanya balik pada kami.
"Ya tentu saja kami ingat," jawab Rama, teringat saat ia memainkan teka-teki itu.
"Bagus, kalian juga harus menemukan kertas yang sama dan seperti kertas yang kalian temukan," Ucapnya kepada kami.
"Tapi dimana kertas itu?" Aku bertanya kepada Ratu Zefanya.
"Lembah kegelapan Mortuza," jawab Ratu Zefanya. Aku merasakan hawa merinding di matanya.
Mendengar nama Mortuza, kepalaku kembali melihat hal aneh. Dalam pikiranku seorang dengan raut wajah jahat dan bertanduk menyandera seorang putri cantik dan menyiksanya. Terlihat juga beberapa wujud seperti Megi sedang disiksa oleh pasukannya. Sekelebat aku melihat seorang manusia yang dikurung dan disiksa.
Bayangan kegelapan dan siksaan terhadap wanita itu kembali merasuki kepalaku.
"Huh ... huh ... huh ... ." Aku benar-benar merasa lelah setelah melihat itu semua. Badanku terasa berat, dan aku mulai tersadar kembali.
"Ada apa, Erika?" Rian menegur aku yang sedang melamun.
"Maaf— apa?" Aku terkejut dengan pertanyaan Rian.
"Kau baik-baik saja kan, Erika?" Clara merangkul bahuku.
"Baiklah, Yang Mulia, katakan apa yang harus kita lakukan untuk membantu kalian?" tanyaku yang agak gugup kepada Ratu Zefanya. Aku bisa melihat teman-temanku yang merasa heran denganku.
"Adikku Zoey Samantha disandera oleh Mortuza." Wajah Ratu menjadi suram. "Makhluk jahat itu adalah pembunuh rakyat Littleland, dia juga menyandera beberapa dari kami untuk dijadikan pasukannya," jelas Zefanya sambil berdiri dan berjalan menuju dekat jendela.
"Tapi kenapa dijadikan pasukannya?" tanya Clara penasaran.
Aku sempat merasa ada yang mengawasi kami di belakang pintu berkaca itu. Namun saatku menoleh, tak ada siapapun disana.
"Perang hampir dimulai, dengan datangnya kalian dan diculiknya adikku, maka itu pertanda bahwa pertempuran antara kegelapan dan kebaikan akan terjadi," Aku melihat Ratu Zefanya hampir meneteskan air matanya.
"Tapi kenapa kau malah membutuhkan anak ingusan seperti kami? Bukannya kau lebih kuat?" tanya Rian pada Zefanya yang masih menghadap jendela. "Pasukan prajuritmu pasti juga lebih kuat."
"Andai kalian tahu. Aku menjadi semakin lemah jika jauh dari adikku, batu air mata ini, masing-masing dari kami mempunyai satu." Ratu Zefanya menunjukkan batu berwarna merah yang menggantung bersama kalung di lehernya.
"Apa istimewanya batu itu?" Tanyaku.
__ADS_1
"Batu ini adalah batu penguasa Negeri Littleland, jika ini jatuh ke tangan yang salah seperti Mortuza, itu akan sangat berbahaya, sekarang dia berhasil mendapatkan batu yang ada pada adikku," jelasnya pada kami.
"Dia sudah memegang batu penguasa, itu artinya dia dapat menguasai Littleland ini sekarang?" tanya Rian dengan memicingkan matanya.
"Masih belum." Ratu mengepalkan tangannya. "Dia perlu dua batu itu sekaligus untuk bisa menguasai negeri ini. Aku berjanji tidak akan membiarkan batu ini jatuh ke tangan Mortuza." Ratu mengelus batu berwarna merah itu dengan kasih sayang.
"Sebentar kami perlu berbicara," Izin Rian pada Ratu untuk membicarakan tentang hal itu dengan sahabatnya.
"Baiklah," balas Ratu.
Kami berunding sebentar membahas tentang permohonan Zefanya untuk membantunya. Namun kami belum bisa memastikan jawabannya sekarang.
Saat kami berunding Ratu menambahkan kata-katanya. "Aku sudah sangat lemah saat ini karena terlalu lama berpisah dengan Zoey dan batu lainnya. Dan hal itu membuat Mortuza lebih mudah jika ia ingin mencuri batu yang ada padaku."
"Sebentar, ada seseorang di luar." Aku kembali merasa ada yang mengawasi pembicaraan kami. Aku keluar dan melihat sekeliling, tak ada siapapun yang dapat aku lihat kecuali sebuah kertas yang mungkin tak sengaja dijatuhkan oleh orang yang tadi ada di sini.
"Milik siapa ini?" Aku pun mengambil kertas itu dan membukanya, namun tak ada yang ku mengerti sama sekali dari gaya tulisannya.
"Tulisan apa ini, huh kusimpan saja dulu, mungkin nanti ada yang mencarinya,"
Aku segera masuk kembali ke ruang perpustakaan. Dengan wajah kosong.
"Ada siapa?" tanya Rama padaku.
"Tidak ada siapapun di sana, mungkin hanya perasaanku saja," jawabku. Aku sengaja tidak memberi tahu tentang kertas yang aku temukan tadi.
"Cepatlah," ucap Clara.
Rian segera menemui Ratu Zefa yang sedang duduk di meja perpustakaan.
"Baiklah kami akan mempertimbangkan itu, tapi kami tidak ingin kamar kami terpisah, karena kami harus saling menjaga," ucap Rian sambil meminta pada Zefanya agar menyetujui.
"Baiklah, jika kau ingin seperti itu." Zefanya menyetujui permintaan Rian.
...
Sekarang kami sudah berada dalam satu kamar yang sama, kamar yang digunakan olah aku dan Clara. Suasana berkumpul lah yang aku rindukan.
Hari cepat berganti malam. Dalam ruangan kamar yang luas itu kami sedang merundingkan tentang permintaan Ratu Zefanya.
"Bagaimana menurut kalian? Apakah kita harus membantunya?" tanya Rama yang masih bimbang.
"Aku tidak tahu," jawab Rian singkat.
"Tapi kita tidak bisa melakukan apapun, berkelahi saja kita tidak pernah, sekarang malah diminta untuk berperang?" Clara membuang nafasnya dengan tekanan. "Aku sendiri tidak tahu apa yang harus kita lakukan, tapi mau tak mau kita pasti akan bertemu dengan iblis jahat Mortuza, karena kita juga butuh pulang," ujar Clara panjang lebar.
__ADS_1
"Kau benar Clara." Kali ini aku setuju dengan perkataannya.
"Teman-teman, percayalah padaku ... selama ini aku merasa seperti sesuatu masuk ke dalam tubuhku." ucapku jujur pada sahabatku.
"Arwah? Jin? Maksudmu kau kerasukan?" ucap Clara asal ceplos.
"Astaga bukan! Bukan itu. Aku sering mengalami hal aneh, sesuatu tiba-tiba muncul dalam kepalaku memperlihatkan seorang iblis yang sedang menyandera seorang putri dan orang-orang kerdil lainnya, bahkan aku sempat melihat wujud manusia di sana," jelasku pada teman-temanku.
"Kau juga melihat manusia?" Tanya Rama.
"Ya, tapi aku tidak tau apakah bayangan itu nyata atau hanya sebagai pengacau pikiranku saja," jawabku mengiyakan dan merasa bingung.
"Apa itu yang membuatmu sering melamun?" Rian mengatakannya sambil memegang kepalaku dan mengacak rambutku. Astaga, hal itu sering sekali ia lakukan, membuat jantungku berdegup kencang.
"Ah ya, aku merasa sangat terganggu dengan itu, tapi aku rasa tanganmu lebih lihai membuatku cemas, Rian," ucapku mencoba melepaskan tangannya dari rambutku.
"Bagaimana jika kita coba untuk membantu. Lagi pulakan kita juga berada di pihak yang benar, apa salahnya mencoba." Rian memberikan pencerahan kepada kami.
"Aku setuju," ucap Rama sambil berdiri dari duduknya.
"Aku ikut denganmu, Kak," Clara juga setuju.
Aku mengulurkan tanganku kedepan disambut dengan tangan-tangan yang lain. "Baiklah mari kita bersatu membela kebaikan," ucapku.
"Mari ... !" ucap kami kompak.
"Hoam ... ," Clara sudah menguap dan bersiap untuk merebahkan diri di kasur.
Rian, Clara, dan Rama sudah merebahkan diri di kasur mereka. Aku merasa belum mengantuk, sehingga seperti biasa aku pergi ke balkon kamar untuk menikmati malam.
"Malam yang indah ya?" Rian tiba-tiba berada di sampingku.
Seketika ia membuat jantungku tak karuan lagi. "Kau belum tidur?" tanyaku.
"Aku belum mengantuk," jawab Rian mengembangkan matanya dan tersenyum lebar.
Aku ikut tersenyum lalu aku teringat dengan masalah kami. "Rian aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi," ucapku sambil memandang langit.
"Kau tenang saja, kita akan kembali dengan selamat, aku berjanji," kata-kata Rama membuatku tersenyum lebar, mungkin kata-katanya bisa membuat hatiku sedikit tenang, tapi ia tiba-tiba mendekat dan merapatkan tubuhnya ke bahuku, merangkulku dan menikmati indahnya malam. Aku hanya berharap detak jantungku tidak terdengar sampai ke telinganya.
"Lihatlah! Ada bintang jatuh." Rian menunjuk pada setitik cahaya yang sedang meluncur turun. "Mintalah satu permintaan,"
"Kau percaya hal seperti itu?" tanyaku, dan Rian hanya tersenyum. "Baiklah, kau juga buat permintaan yang bermanfaat, ya," ucapku menepuk bahu Rian.
Saat kami sedang diam mengucap permintaan masing-masing dalam hati, tiba-tiba ada sebuah suara janggal dari luar kamar kami.
__ADS_1
Klontang ... !
"Kau dengar itu?" tanya ku pada Rian.