LITTLELAND

LITTLELAND
Bagian 8


__ADS_3

Aku dan Clara sekarang sudah berada di kamar yang besar dan sangat lengkap. Kami bebas meminta apapun yang kami inginkan. Ini dunia magic!


Tapi di sisi lain, aku benar-benar tak nyaman. Entah apa yang membuatku merasa seperti itu.


"Clara, aku benar-benar tidak nyaman disini," ucapku pada Clara yang sudah terbaring di kasur yang empuk, aku rasa perasaannya berbanding terbalik denganku.


"Kurang nyaman apa sih? Kita dapat semua yang kita inginkan di sini, bahkan banya tiduran di sini terasa sangat nyaman," ujar Clara yang masih menikmati kasur itu.


"Aku tidak nyaman berjauhan dengan Rama dan kakakmu, apalagi di tempat asing seperti ini, aku takut terjadi sesuatu pada mereka," ucapku khawatir.


"Mereka itu sudah besar, lagi pula Ratu dan anggota yang lain juga sangat ramah dengan kedatangan kita," Clara memandang langit-langit kamar yang indah berkilauan bagai bintang di langit malam.


"Kau benar, Clara." Aku keluar menuju balkon kamar yang luar. Pemandangan di luar istana ternyata begitu megah. Rambutku dibuat acak-acakan oleh hembusan angin malam yang menerpa.


Aku memikirkan banyak hal tentang bagaimana cara agar aku dan yang lain bisa pulang. Tapi disisi lain, aku juga memikirkan apa yang ada dalam buku itu, bahwa adik Sang Ratu sedang dalam masalah. Namun Ratu belum membicarakan tentang itu.


"Ramalan masa lalu, buku itu hanya ramalan masa lalu."


"Ya Tuhan, berikan jalan terbaik untuk kami," Aku menatap langit yang tak seindah biasanya.


Aku melihat ke bawah, halaman istana tampak lebih luas malam itu. Tak ada satu orang pun di bawah, mungkin karena mereka sudah beristirahat semua. Penjaga pun tidak dilihat oleh matanya.


Sampai tiba-tiba aku melihat seseorang keluar dari pintu belakang istana. Sepertinya aku pernah melihatnya. Orang itu berlari ke sebelah semak-semak tinggi di luar istana, dan sekarang aku baru sadar jika ada ofang lain di balik semak. Rasa curigaku muncul begitu saja, sebenarnya aku sudah berusaha agar melepaskan rasa itu, tapi tidak bisa.


Entah kenapa jiwa penasaranku menggebu-gebu. Aku yang merasa penasaran, segera masuk ke dalam kamar mengambil jaket dan aku lihat Clara sudah terlelap. Diam-diam aku keluar dari istana.


Lorong-lorong istana yang sepi membuatku bebas berjalan secepatnya. Akhirnya sampai juga di pintu masuk, namun aku melihat ada empat orang penjaga di depan pintu utama. Aku mengurungkan niat untuk melewati pintu itu, dan segera menuju pintu belakang.


Pintu belakang yang aman membuatku mudah melancarkan aksiku. Setelah aku sampai diluar, aku melihat ke sekeliling. Aku mendongak ke atas agar aku bisa melihat balkon kamarku, menentukan titik dimana tadi aku melihat orang itu, sehingga aku dapat dengan mudah menemukannya.


"Ya! Aku yakin sekali tadi dia pergi ke arah sana," gumamku setelah mendapat arah. Aku langsung berjalan menuju arah yang aku kira. Namun aku dapat masalah baru, cuaca semakin dingin, angin yang tadinya bertiup halus kini bertiup lebih kencang. Kondisi itu membuatku merasa kedinginan. Dan ketika aku melihat ke belakang semak-semak, akuntak menemukan siapapun di sana.


"Kemana dia pergi?" gumamku celingukan kanan kiri.


Jujur saja, aku sudah tidak tahan dengan dinginnya atmosfer malam itu. Mau tak mau aku memutuskan untuk kembali melewati pintu belakang.


Dan hap ... ! Aku kira tak ada seorangpun di sana seperti tadi saat aku menyelinap keluar. Tapi ternyata penjaga sudah mulai berkeliaran di sekitar dapur.


"Oh astaga! Sialan! Kenapa juga mereka ada disini?" lirihku kesal karena hampir ketahuan.


Aku bersembunyi di balik tiang yang berdiri tegak di tengah dapur yang lumayan untuk menutupi tubuhku. Aku mengintip sedikit mencari kesempatan untuk kembali ke kamar.


"Sekarang!" aku langsung pergi menaiki tangga dan menyelinap masuk ke kamar dengan hati-hati ketika melihat para penjaga yang lengah.


Tapi ...

__ADS_1


"Hei!" Salah satu penjaga melihatku, aku mengumpat dalam hati dengan perasaan gelisah.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku, merasa haus tadi, jadi aku pikir aku pvisa mendapat air di sini. Aku tidak tahu jika di kamar ada galon air,"


Akhirnya mereka melepaskan diriku. Aku bergegas naik dan masuk ke kamarku


Kulihat Clara yang masih terlelap. Aku pun merasa diriku sudah sangat lelah, kemudian aku rentangkan badanku di kasurku. Nyaman sekali ....


*****


"Tidak!!! tolong aku, tolong ... !" Terdengar suara seorang wanita. Aku melihat wanita itu terkunci tangannya dan berada di atas jurang api.


Lalu terdengar suara keras, berat, dan jahat. "Aku akan menghancurkanmu, dan begitu juga kakakmu akan musnah dan para Little akan aku kuasai dengan cahaya kegelapan!"


"Tidak! Tidak akan ku biarkan kegelapan mengalahkan kebaikan," ucapku dan langsung berlari menuju makhluk jahat itu, aku berniat menusuk punggungnya dengan pedang yang ada di tanganku. Namun justru malah pedangku yang patah.


"Siapa kau, beraninya menghalangi niat ku!" ucapnya sedikit kesal. "Huaaaaaaa," Ia menendang tubuhku dan hampir jatuh ke jurang.


"Aaa ... !" ku berteriak ketakutan sekaligus menahan sakit di dadaku.


*****


"Aaa ... !" Aku terbangun dari tidurku, jantungku naik turun tidak karuan, keringat mengucur deras dari pelipisku.


"Astaga, hanya mimpi, huh ... huh," kataku lega.


"Ada apa, Erika? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Clara yang kaget mendengarku berteriak seperti orang kesurupan.


"Tidak apa-apa, aku hanya bermimpi buruk," jawabku sambil mengucek mata yang baru saja terbuka dari mimpi.


"Oh begitu, kalau begitu ayo cepat ke bawah untuk sarapan," ajak Clara.


"Baiklah,"


***


Di kamar Rian and Rama.


"Whoah ... " Rian menguap bersamaan dengan gerakan mengulur badan.


Apakah mereka baik-baik saja? tanya Rian kepada dirinya sendiri. Wajahnya tegang dan serius.


"Tenang saja Rian kita akan segera bertemu, lagi pula Erika anak yang pemberani," ucap Rama mencoba menenangkan Rian.

__ADS_1


"Kau benar, tak ada yang perlu aku khawatirkan, huh." Rian menghela nafasnya panjang. Rian dan Rama kemudian bersiap keluar untuk sarapan.


...


Saat keluar dadi kamar, kami secara tidak sengaja bertemu di depan pintu kamar mereka.


"Oh syukurlah, itu dia mereka," ucapku sambil berlari ke arah mereka di ikuti oleh Clara. Clara segera memeluk kakaknya yang gagah itu.


"Aku sangat mengkhawatirkan kalian," Rian mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


"Kami pun juga begitu, Kak," ucap Clara.


"Rian, kurasa kita tidak bisa berjauhan terus seperti ini, kita akan kesulitan berdiskusi nanti!" ucapku pada Rian dan yang lain.


"Kau benar, Erika. Aku juga tidak tenang sepanjang malam." Rian menyilakan rambutnya, membuat dia semakin mempesona. "Akan aku coba bicarakan ini pada Maggie nanti, mari kita menuju ruang makan," ajak Rian pada kami.


Kami semua menuruni tangga dengan langkah kagum karena kemegahan tempat itu.


Tak sengaja kami bertemu dengan Niku, orang yang kemarin kulihat.


"Hai, Niku," panggilku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Niku mungkin masih merasa asing dengan kami, makannya ia diam saja.


"Oh astaga, Niku pasti masih merasa asing dengan kita." Aku berlari kecil ke arah Niku dan mengajaknya untuk bersama menuju ruang sarapan.


Awalnya aku mengira bahwa Niku adalah orang yang pendiam dan pemalu tetapi kenyataannya aku salah. Dia justru sangat mudah akrab ketika aku mendekatinya.


Dari arah luar, Maggie melangkah menuju kerumunan kami.


"Oh, hai, Maggie, ayo bergabung dengan kami," ajak Niku pada Megi yang baru datang. Megi dan Niku memang sudah akrab, mereka sudah lama bersama.


Kami makan sambil sesekali bercanda. Setelah selesai makan Ratu meminta agar kami berempat tetap berada di ruangan, sedang yang lain diperkenankan untuk pergi, termasuk Maggie dan Niku.


Setelah dirasa semuanya pergi, Ratu Zefanya mulai membuka pembicaraan. Kami pun memperhatikan dengan serius sehingga tidak sadar jika ada seseorang yang menguping pembicaraan kami.


"Aku sangat bersyukur kalian datang disaat yang tepat," Ucap Ratu Zefa.


"Terimakasih Yang Mulia, tapi kami harus segera pulang, apakah Yang Mulia dapat memberikan solusi bagi kami?" ucap Rian dengan nada sopan.


"Tentu saja, tapi ada syaratnya,"


"Harus pakai syarat segala ya?"


"Kalau begitu katakan saja pada kami, apa syaratnya,"


"Aku akan katakan pada kalian," ujarnya. "Tapi tidak di sini, mari ikut aku." Ratu Zefa mengajak kami ke sebuah ruang yang penuh dengan buku, aku langsung dapat menebak jika itu perpustakaan.

__ADS_1


Ratu kemudian mengambil sebuah buku kuno seperti yang ada di perpustakaan waktu itu, namun versi ini lebih lengkap.


"Kalian sudah ditakdirkan untuk ini." Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataannya. Ditakdirkan untuk apa maksudnya?


__ADS_2