
"Hei jangan melamun! Nanti kesambet kamu!" Suara Rian membangunkanku dari dunia penglamunan.
Aku bahkan tidak sadar jika aku melamun, entah apa yang aku pikirkan. "Siapa yang melamun? Aku tidak melamun," ucapku karena kaget.
"Dasar! Tidak mengaku. Ngomong-ngomong, apa kamu sudah dapat buku?" Rian melirik buku yang ada di bawah tanganku.
"Oh, ini buku dongeng kuno. Judulnya Littleland," jawabku sambil memperlihatkan buku yang ku temukan di rak perpustakaan.
Tiba-tiba Rama datang entah dari mana. "Wah, kelihatannya menarik,"
"Bagaimana denganmu, Rama? Kamu sudah dapat buku?" tanyaku pada Rama yang sedang menarik kursi di meja baca. Anak itu belum menggenggam satupun buku.
"Ku rasa belum. Aku bingung." Rama menggaruk kepalanya seperti orang tolol. "Semua terlihat menggoda."
"Huh— aku juga, tapi buku yang kau temukan sepertinya menarik deh, Erika," ucap Rian sambil mengambil buku dari dekapan tanganku. Aku tak ingin melepaskannya tapi tangan Rian lebih cepat dari reaksiku.
Clara datang dengan riang membawa buku di tangannya. 'Hallo, Aku sudah mendapatkan buku tentang sejarah kota kita. Aku rasa mungkin ini menarik. Mengingat kota kita yang penuh sejarah, kan?"
"Di mana kau temukan itu? Kok aku tidak melihatnya? Jika aku melihat pasti sudah ku ambil lebih dulu." Rama mengambil buku yang ada di tangan Clara.
Clara sambil merebut kembali bukunya dari tangan Rama. "Bilang saja kamu iri, kan?"
"Sudahlah, kalian. Bagaimana jika kita baca saja bersama, berbagi itu indah bukan?" usul Rian. Menurutku dia memang yang paling berpemikiran dewasa di antara kami. Dia yang selalu menemukan ide-ide dan solusi untuk setiap masalah.
"Baiklah, ide bagus," jawabku penuh keikhlasan.
Kami berempat duduk dalam satu formasi meja. Aku membuka halaman demi halaman buku tua itu, sampai akhirnya menemukan lembar yang begitu menarik perhatianku.
"Ze - fanya - Saman - tha ... ," Aku mengejanya dengan sedikit kesulitan ketika membaca lembaran yang sudah tulisannya sudah agak pudar itu.
"Zefanya Samantha, Ratu kerajaan yang adil dan pemberani." Rian sedikit membaca keras kalimat yang ada di lembaran itu.
Rama terlihat mulai tertarik dengan topik kami. "Ratu? Wah, sepertinya seru!" Dia ikut bergabung membaca buku tua bersamaku dan Rian. Clara yang merasa penasaran juga akhirnya bergabung dan sekarang kami sudah merapat.
"Disini tertulis bahwa dia akan membutuhkan jiwa yang setia dan tulus, untuk menyelamatkan adiknya Zoey Samantha," Lanjut Rian membaca.
Clara tertawa terbahak-bahak. "Yang benar saja! Ini Ratu?" ledek Clara pada gambar yang menandakan ratu. "Wajahnya lebih mirip dengan pengemis di kolong jembatan tua!"
"Inikan kan hanya sketsa, kita tidak tahu aslinya. Jadi jangan mengejek seperti itu, Clara." Rian memperingatkan adiknya untuk tak mencela. Aku juga terkejut ketika dia tertawa, tapi gadis itu ada benarnya juga, sketsa ratu itu mirip dengan pengemis di kolong jembatan.
Clara memutar bola matanya dengan malas. "Baiklah, Kak."
Aku membuka lembaran berikutnya dengan hati-hati, takut halamannya akan terlepas. Dan di sana ada cerita tentang raja kematian.
"Mop - tuza - Chap -, apa ini? Seorang iblis jahat pembunuh rakyat Littleland dan menculik mereka dan menghipnotisnya untuk memperkuat pasukannya?" Aku mencoba membaca bab yang menjelaskan iblis kematian. Semua dengan serius memperhatikan aku dan buku.
__ADS_1
"Apakah ini gambarnya? Tidak terlihat seperti iblis." Rama menunjuk pada gambar yang ada di lembar bawah.
"Ya, ini ada lagi. Ia hanya dapat dikalahkan oleh jiwa-jiwa setia dan pemberani," Rian menambahkan.
"Apa maksudnya ini?" Aku memicingkan mata. "Kalian percaya dengan cerita ini?" tanyakau pada Rian dan yang lainnya.
"Ayolah, ini hanya di dongeng, Erik," ucap Rama yang tak percaya sama sekali dengan dongeng.
"Tapi bisa jadi ini adalah cerita nyata, apalagi mengingat kota tua kita, ya kan?" Clara sedikit percaya dengan dongeng yang kami baca.
"Ayolah teman-teman, kita sudah SMA, jangan percaya pada cerita-cerita konyol untuk anak-anak!" Rama, aku rasa dia sudah terlalu tidak percaya pada hal-hal seperti itu.
"Yah—, mungkin saja sudah terjadi pada zaman dahulu atau tak akan pernah terjadi sama sekali." Rian sedikit bimbang dengan cerita ini.
"Menurutku itu belum terjadi Rian, karena disini masih ada kata 'nantinya', menurut guru bahasa berarti itu belum terjadi dan akan terjadidi masa depan," ucapku yang percaya bahwa dunia fantasi itu ada.
"Baiklah, kita lihat halaman selanjutnya." Clara memecahkan ketegangan pendapat dari kami.
"Hah! Apa!" Kami semua melongo ketika melihat sketsa manusia kerdil yang gambarnya mirip sekali dengan lukisan yang tergantung di dinding kafe yang kemarin kami datangi.
"Kalian ingat ini?" Rian memandangi kami satu persatu yang terdiam.
"Ya, tentu saja aku ingat Rian, lukisan itu ternyata adalah lukisan seorang di cerita dongeng," Aku tahu ini mustahil tapi— entahlah.
"Ternyata kita masih bisa bertemu dengannya, ya," ujar Rama sambil memandangi sketsa itu dengan bibir tersenyum.
"Iya, mirip sekali dengan lukisan itu," Clara menambahkan pendapat.
"Iya, mungkin saja pelukisnya adalah seseorang yang pernah membaca buku ini sebelumnya dan ia tertarik untuk melukis Mag - gie ... ," ucap Rama sambil mencoba mengeja kata yang tertera dalam lembaran itu.
Aku berucap, "Maggie, namanya Maggie,"
"Mari kita sapa Maggie," ajak Rian dengan nada bercanda.
"Haii Maggie ..." Sapa kami kompak pada sketsa yang ada pada lembaran itu.
"Kamu benar-benar gila Rian," ucap Clara sambil memukul bahu kakaknya.
"Kamu juga melakukannya, kan? Berarti kamu juga gila," jawab Rian tak mau kalah dengan adiknya. Kakak adik itu tidak pernah akur dalam satu hal.
"Apa kalian tidak sadar jika kita semua gila dari dulu." Rama menyela dan mengatakan kami semua gila dengan gaya tertawanya yang menular. Aku sungguh tidak suka jika mendengar tawanya karena mau tidak mau naluri dalam diriku juga memintaku untuk tertawa.
"Mungkin kamu saja yang gila, aku sih tidak," ucap Clara pada Rama sambil menepuk bahu Rama.
"Eh, tapi liat itu, di sana ada dua gambar Maggie, satunya biasa dan satunya lagi seperti memakai baju perang," Aku mengalihkan mereka.
"Iya benar sekali, atau mungkin nantinya dia yang akan mengalahkan iblis jahat itu?" Clara menuangkan pendapat nya dengan menunjuk ke arah Megi yang menggunakan pakaian perang.
__ADS_1
"Ku rasa itu mungkin saja," ucap Rama mendukung Clara.
Aku membalik halaman untuk melihat halaman selanjutnya, tapi ada sesuatu yang janggal, garis sobekan kertas terlihat jelas, jelas-jelas ada yang pernah menyobek halaman itu, entah sengaja atau tidak sengaja. "Halaman terakhir sepertinya ada yang menyobek deh," ucapku melihat bekas sobekan dilembar terakhir.
"Yah— mungkin saja, lembar terakhir itu adalah jawaban dari banyaknya pertanyaan kita dari tadi?" Rama menyesal atas disobeknya lembar terakhir itu.
"Iya, benar-benar sangat disayangkan." Rian ikut menyayangkan lembar terakhir itu.
"Bagaimana bisa mereka menyobek halaman buku seenaknya," Aku kesal dengan perbuatan orang yang tak bertanggung jawab itu. Aku sangat menyukai buku dan selalu merawat mereka dengan baik, tapi malah ada sembarangan orang menyobek begitu saja lembar terakhir.
"Iya, kamu benar," ucap Clara setuju denganku.
"Lalu bagaimana cara kita untuk tahu bagaimana akhir dongeng ini?" Ucap Rama.
"Sudah lah tak usah dipikirkan lagi, lagi pula percuma saja kita berharap tanpa ada kenyataan," ujarku membuang cerita yang tak ada ujungnya.
"Ya ampun, sangat puitis," ucap Rian sambil meringis dan kemudian merangkul pundak ku.
"Ya sudahlah, kembalikan saja bukunya." Rama menyuruh aku untuk mengembalikan buku itu.
Aku pun menutup buku itu dan berdiri melangkah hendak mengembalikan buku itu pada raknya. Namun sesuatu tiba-tiba muncul dan mengintip dari sela-sela lembaran buku.
Rama tiba-tiba menghentikan langkahku. "Erik tunggu, apakah kau sudah menemukan ada lembaran yang terpisah tadi?" Ia bertanya padaku.
"Belum, memangnya kenapa?" tanyaku balik pada Rama,
"Ada sesuatu yang terselip di lembaran itu,"
Aku pun mengangkat bukunya dan melihat sekeliling, dan ternyata memang ada sesuatu yang hampir jatuh. Aku pun tak jadi mengembalikan buku itu, dan kembali menuju meja baca. Ku buka buku itu perlahan dan menemukan selembar kertas yang dilipat.
"Apa ini? jangan-jangan ini halaman yang sobek itu?" Aku bersemangat untuk membukanya. Dan ternyata setelah dibuka lipatan kertas itu hanyalah sebuah teka-teki labirin yang sering dimainkan anak-anak kecil.
"Apa ini, sebuah permainan anak-anak, kita tertipu lagi ternyata," kesal Rian.
"Ini mah anak-anak juga bisa, seperti ini, aku akan langsung bisa menemukan jalan keluar," Rama mulai menyentuh kertas itu dan menuntun jarinya melewati garis-garis labirin.
"Katanya langsung bisa, nyatanya tetap ketemu jalan buntu." Seperti biasa Clara selalu menemukan cara untuk meledek kakaknya itu.
Rama melakukannya sekali lagi dan kali ini Ia berhasil.
Tiba-tiba penar biru terang muncul dari pusat kertas itu. Semakin lama semakin melebar. "Astaga! Apa yang terjadi!" seru diriku.
Rama yang penasaran mencoba melihatebih dekat. Aku benar-benar melihat jika cahaya itu menelan kepala Rama, entah menelan atau tidak tapi Rama menghilang, dia berteiak keras sekali sebelum dirinya tersedot ke dalam cahaya itu.
"Rama ... !" teriak Clara panik dan menengok ke arah cahaya.
"Apa! toloonggg," Clara juga ikut tersedot.
__ADS_1
Astaga apa-apaan ini! Aku benar-benar tidak percaya, aku harap ini hanyalah mimpi burukku.