LITTLELAND

LITTLELAND
Bagian 12


__ADS_3

"Aku hanya ingin mengatakan padamu, bahwa tak semua orang dalam istana ini dapat dipercaya, jadi berhati-hatilah," kata Lars padaku. Namun pikiranku malah melesat pada seseorang yang keluar dari istana malam itu.


"Terimakasih atas saranmu, Lars," ucapku yang sudah mulai merasakan hal itu.


"Sekarang beristirahatlah, kita akan berlatih keras besok pagi," ucap Lars tanda mengakhiri ucapannya.


"Baiklah, sampai jumpa." Aku pun berbalik dan kembali ke ruang peristirahatan. Saat aku kembali teman-temanku sudah berada di kamar dan duduk melingkar sambil bercanda.


Saat Clara melihat kedatanganlu ia langsung menanyaiku. "Dari mana saja kau?"


Aku langsung bergabung dengan mereka. "Maaf tadi aku sempat berbicara sedikit dengan Lars," ucapku sambil duduk.


"Siapa Lars?" Tanya Rian yang belum tahu. Ia memicingkan matanya padaku.


"Dia pelatih kita yang agak tegas," ucapku sedikit berbisik.


"Oh dia, bicara tentang apa?" tanya Rama yang sedang mengambil cemilan.


"Dia berkata bahwa ... Aku harus berhati-hati karena tidak semua orang dalam istana dapat dipercaya," jawabku sesuai kenyataan.


"Aku juga berpendapat seperti itu," ucap Rian sambil memandang kami satu persatu.


"Oh iya teman-teman, aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian," ucapku pada mereka sambil mencari sesuatu dalam sakuku. Tapi ternyata aku lupa jika bajuku sudah diganti.


"Ohh sialan! aku lupa jika aku sudah ganti pakaian, aku harus cari Maggie sekarang juga," ucapku yang menyadari hal itu. Aku pun beranjak dan membuka pintu kamar.


"Ingin aku temani?" tawar Rian sambil melihat padaku.


"Kurasa tidak perlu." Aku pun langsung keluar dan mencari keberadaan Maggie. Aku mencari di semua sisi istana seperti anak yang tersesat di dalam kerumunan orang-orang di pasar dan mencoba mencari ibunya.


Tapi akhirnya aku bisa bernafas lega setelah aku menemukan Maggie yang sedang bersama dengan Niku dan Baraza di depan istana. Aku pun segera menghampiri mereka.


"Halo semua, maaf mengganggu," sapaku pada mereka.


"Oh hai, Erika," ucap Maggie dan Niku kompak.


"Maggie bisa aku bicara denganmu?" pintaku pada Maggie. Maggie kemudian memandang Niku dan Baraza, mereka pun mengangguk.


"Baiklah," ucap Maggie padaku.


"Terimakasih ayo ikut aku," Aku menggandeng tangan Maggie menuju ke sudut istana yang sepi.

__ADS_1


"Ada apa, Erika," heran Maggie padaku.


"Maggie, apa kau bisa mengembalikan bajuku? Baju yang semula aku pakai," ucapku sambil menunduk menatap Maggie.


"Hanya itu?" ucap Maggie sambil tersenyum lebar.


"Ya, ada hal penting dalam pakaian itu," ucapku serius.


"Baik, bersiaplah," ucap Maggie sambil mencoba berkonsentrasi dan mulai memainkan tangannya. Tak lama setelah itu, aku kembali memakai pakaianku sendiri.


"Terima kasih banyak, Maggie, aku harus segera kembali ke kamar," ucapku pada Maggie sambil berbalik dan berjalan kembali ke kamar.


Tanpa aku dan Maggie sadari ternyata Baraza dan Niku memperhatikan kami sejak tadi.


"Ada apa Maggie?" tanya Niku padanya.


"Aku tak tahu, hanya saja dia memintaku untuk mengembalikan pakaiannya, kayanya sih ada yang penting," jelas Maggie lugu.


"Begitu ya, aku ingin tanya padamu, apa yang kau ketahui tentang batu Orva?" tanya Niku pada Maggie.


"Aku tak tahu terlalu banyak, tapi yang aku tahu bahwa batu Orva itu adalah batu penyatu jiwa yang telah menyatu, jika salah satu hilang maka mungkin persatuan itu akan hancur, kenapa kau tanya seperti itu?" jawab Maggie pada Niku.


"Tidak aku hanya ingin tahu saja," balas Niku terbata.


"Baiklah sampai jumpa," jawab Maggie ramah sambil menatap kepergian Baraza.


"Ku rasa aku juga harus istirahat," ucap Maggie pada Niku yang ada dalam hadapannya.


"Baiklah," jawab Niku mengangkat bahunya. "Aku juga."


Setelah melewati beberapa ruang dan tangga. Aku pun sampai di depan kamar, pintu aku buka perlahan-lahan. Aku memasukkan tanganku pada saku jaket dan mencari sesuatu di sana. Syukurlah apa yang aku cari ternyata masih ada.


"Dapat!" ucapku setelah meraih kertas yang kusimpan. Aku mengeluarkannya dari saku dan menunjukkan itu pada teman-teman.


"Apa itu?" tanya Rian, Rama dan Clara.


"Aku juga tak tahu, kalian ingat saat aku keluar untuk mengecek apakah ada yang mengintip atau tidak di perpustakaan waktu itu?" tanyaku mencoba mengingatkan mereka.


"Ya ... aku ingat," ucap Rama yang matanya memandangku serius.


"Saat itu aku tak menemukan seorang pun, tapi aku tak sengaja menemukan ini," aku membuka kertas yang berisi tulisan yang tak ku mengerti pada mereka yang masih duduk melingkar.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Rian yang juga tak mengerti tulisan itu. Aku hanya mengangkat kedua bahuku dengan raut tak mengerti.


"Kita tanya saja pada ratu," ucap Rama mengusulkan ide.


"Tidak, Rama, kita harus berusaha sendiri dulu," Clara dengan segala kata bijaknya.


"Clara benar, kita harus memecahkan itu sendiri," ucapku menyetujui. "Lagi pula aku tidak akan mempercayai siapapun."


"Baiklah kalau begitu, mari kita cari tahu," ucap Rama yang langsung setuju dengan ucapan Clara. Sedang Rian masih sibuk memandangi tulisan itu.


Beberapa menit kami hanya diam dan mengamati tulisan dalam kertas itu. Aku juga bingung dan tidak tahu apa isi kertas itu. Tulisannya asing bagi kami, seperti huruf rahasia atau semacamnya.


"Kurasa kita perlu pergi ke perpustakaan, aku yakin pasti ada semacam kamus di sana." Rian tiba-tiba mengusulkan pendapat yang sangat brilian.


"Ide bagus, ayo!" ucap kami setuju.


Hari itu sudah hampir gelap, kami beranjak pergi ke perpustakaan. Di sana kami mencari lembaran lembaran yang berisi tentang huruf-huruf itu.


"Teman-teman, aku rasa aku menemukan sesuatu yang hampir sama dengan ini," ucapku setelah menemukan selembar kertas seperti huruf abjad yang asing disandingkan dengan huruf modern.


"Baiklah, Tapi kurasa kita juga harus mencari kamus bahasa mungkin saja kita perlu," ucap Rama yang telah mengambil sebuah kamus.


"Ayo cepat kembali sebalum ada orang yang melihat kita! Bawa kamus dan lembaran itu!" Ucap Rian yang sudah sedia di depan pintu.


Kami pun keluar dari perpustakaan itu, dan menuju ke kamar kami. Kami langsung mencari tahu tentang tulisan itu. Dengan kerja sama dan semangat, kami akhirnya dapat memecahkan apa yang tertulis dalam kertas. Namun sayang sekali bahasanya masih tidak bisa kami pahami.


"Baiklah, kamusmu sekarang berguna, Rama," ucap Clara.


Kami segera mencocokkan kata yang tertera dengan kamus itu. Walaupun agak kesulitan namun kami tidak akan menyerah.


Langit semakin gelap, suasana semakin sepi. Akhirnya kami pun berhasil memecahkan kata itu. Kami benar-benar terkejut melihat arti tulisan itu.


" Apaa!! benar-benar keterlaluan," ucap Rian saat berhasil menemukan arti tulisan itu. Dalam kertas itu tertulis sebuah kalimat yang berartikan:


'Kau harus mendapatkan itu, untuk menghancurkan kebaikan'


"Kurasa seseorang memberikan ini pada orang dalam yang telah berkhianat itu," ujar Clara menyampaikan pendapat dalam kepalanya.


"Berarti benar apa yang dikatakan oleh Lars, bahwa tak semua orang dapat dipercaya," ucapku membenarkan Lars.


"Tapi siapa yang melakukan hal kotor ini?" heran Rian.

__ADS_1


"Aneh ... bagaimana Lars bisa tahu?" Clara semakin penasaran.


"Atau mungkin Lars sendiri yang melakukan itu," ucap Rama berburuk sangka.


__ADS_2