LITTLELAND

LITTLELAND
EPISODE 20


__ADS_3

"Astaga! iya kau benar Erika, itu mereka!" balas Megi.


'sepertinya aku pernah melihat wanita itu,' batinku. Wanita itu kemudian menolehkan wajah lemasnya ke arah kami. Aku yang melihatnya pun sangat terkejut saat melihat wajah seorang wanita yang sangat mirip dengan wajah ibu Rama.


"Hah!" kagetku, "Rama! lihat pada wanita itu!" ucapku pada Rama.


"Ya Tuhan! Ibuuu!" teriak Rama.


"Ibu?" suara berat Mortuza di lengkapi dengan tatapannya kearah Rama.


"Itu adalah..ib.." sebelum Rama melanjutkan pembicaranya aku sudah menginjak kakinya agar ia tak mengatakan itu. Aku pikir jika Mortuza mengetahui bahwa ia adalah ibunya, maka makhluk jahat itu akan memanfaatkan keadaan untuk memojokkan kami.


"Ada apa Erika?" rintih Rama yang kesakitan.


"Belum tentu itu ibu kamu," ucapku membalas Rama. "Tapi kita akan berusaha membebaskan mereka, Okey!" lanjutku menenangkan Rama.


"Baiklah jika kalian tak akan menyelesaikan masalah ini dengan mudah, maka terpaksa kita akan dengan cara sulit!" ucap Mortuza sang makhluk besar nan kejam sombong.


"Sombong sekali kamu!" ketus Clara dengan tatapan dalamnya.


Erika menatap ke atas kastil tak beratap itu. Dilihatnya bulan yang hampir bulat. Ia mengingat semua cara dalam buku itu. Hanya ada satu yang tak ia mengerti, yaitu bagaimana cara mendapatkan puzzel yang sama itu kembali.


"Semuanya! bersiaplah!" ucap Mortuza. "Sekarang!" Mortuza mengawali perang dengan aba-abanya. Pasukannya yang tak lain adalah bangsa Little yang telah masuk dalam pengaruh buruk Mortuza.


"Ahh!" Lars menarik anak panahnya untuk melawan pasukan Mortuza. Sekarang Lars sudah berhadapan dengan Niku yang mahir memainkan pedangnya.


Kami juga mulai melawan kaki tangan Mortuza satu persatu dengan ilmu yang sudah kami dapat. Kami berusaha sekuat tenaga untuk merubuhkan lawan kami.


Megi yang bertempur dengan Niku dengan sangat mahir. Keduanya memiliki kekuatan yang baik. "Ku benar-benar tidak menyangka kawan!" ucap Megi.


"Rama hentikan!" kudengar suara Rian yang berteriak. Ternyata Rama menyerang Rian. Ada apa ini? Kenapa jadi seperti itu? aku benar-benar heran. Akuendekati Rian untuk membantunya.

__ADS_1


"Rama! ada apa denganmu!" tanyaku. "Rama hentikan!" teriakku pada Rama. Namun bukannya berhenti Rama malah menyerangku hingga aku jatuh tersungkur.


"Erika!" teriak Rian yang melihatku jatuh. "Rama kau ini kenapa?!" tegas Rian sambil menangkis pedang dari Rama.


Dalam keadaanku yang jatuh, kulihat Mortuza yang sedang tertawa kearahku. Aku baru menyadari bahwa kalung Rama berada pada Mortuza. Kulihat kalung Rama yang dicuri di ikatkan pada sebuah tongkat dan tak hanya kalung milik Rama tapi juga kalung permata kekuasaan milik Putri Zoey.


"Sialan! ternyata dia telah mengendalikan Rama dengan kalungnya, pantas saja Ratu Zefa bilang jangan sampai kalung itu jatuh ke tangan yang salah," lirihku berusaha berdiri. "Aku mengerti sekarang!" ucapku sambil berlari kearah Mortuza. Namun lawanku menghalangiku hingga aku harus mengatasinya dulu.


Kulihat Lars mulai berlari ke arah Mortuza, tapi saat ia mendekat dan menaiki tangga tiba-tiba ia terpental begitu saja. Ternyata Mortuza sudah membuat perisai dengan kekuatannya.


Saat itu juga entah dari mana Baraza datang dan menancapkan pedangnya pada Lars yang masih belum bangun dari jatuhnya setelah terpental tadi. Darah seketika mengalir dari tubuh Lars.


"Tidak! Lars!" teriakku setelah perhatianku teralihkan hingga pedang lawanku berhasil menyayat sedikit kulit bahuku. Namun ia sudah berhasil ku tumbangkan.


Kulihat Lars yang masih kuat untuk berdiri, ia masih mencoba untuk melawan Baraza walaupun sudah kesakitan.


"Ternyata kau kuat juga Lars. Aku akan membuatmu mati hari ini!" ucap Baraza.


"Rasakan ini!" Baraza sudah bersiap untuk menusuk dada Lars, namun ku lihat seseorang dari bangsa Little menyamatkan Lars. Ia mengalihkan perhatian Baraza, hingga Baraza menyerangnya. "Beraninya kau menghalangiku dasar lemah!" Baraza dengan mudah menewaskan orang itu dan kembali ke Lars. "Rasakan ini Lars! Hiaak!" pedang Baraza menembus jantung Lars.


"Tidaakkk!" teriakku yang langsung menemui Lars.


"Lars!" toleh Megi, Clara, dan Rian yang sedang melawan musuh sehingga lawan bergsil melukai mereka.


"Aww! sialan! Rama sadarlah jika ini bukan dirimu!" Rian kembali menangani Ramayang masih terpengaruh jahat.


"Hai gadis kecil," ucap Baraza tersenyum licik.


"Dasar sialan kamu!" aku langsung menyerang Baraza seolah tak terima dengan apa yang terjadi dengan Lars.


"Ayolah aku tak akan melukaimu! haha, kau bukan lawan sepadanku," ledek Baraza kepadaku. "Lihatlah temanmu itu." ucap Baraza menunjuk ke arah Rian dan Rama. "Dia sudah dikuasai kejahatan, setelah itu kalian semua akan menjadi milik kami." ucapnya sombong.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Rian yang sedang melawan Rama. Kulihat Rian yang tak menyerang ia hanya menangkis pedang Rama.


"Erika jangan dengarkan dia! selamatkan Rama, ambil kembali kalungnya!" teriak Clara dibelakangku. Namun tak ada respon dariku hingga Rama terlihat menggores pinggang Rian.


"Argghhh! sudah cukup!" teriakku dilingkari kemarahan. Saat itu darahku benar-benar dialiri dengan kemarahan.


Aku mulai merasakan energi kuat mengalir dalam tubuhku. Tiba-tiba saja aku mengeluarkan kekuatan besar dari tanganku menuju ke arah Mortuza, menghancurkan perisai, dan dengan tatapanku Mortuza berucap, "Orva.."


Teman-temanku sudah berhasil melumpuhkan semua musuh. Bangsa Little sekarang telah menang melawan kaki tangan Mortuza. Hanya Baraza, Niku, dan Mortuza sendiri, serta Rama yang sedang terpengaruh yang tersisa dari mereka.


"Erika!" mereka semua melongo melihatku yang seperti kesetanan.


"Hentikan semua ini Mortuza!" ucapku. "Hiakk!" Tanganku mengeluarkan kekuatan untuk menyambar kalung dan permata yang sedang dikelilingi oleh asap hitam. Seketika Rama seperti orang yang kehilangan kekuatannya, ia menjadi lemas dan ambruk tak sadar.


Kalung dan permata itu telah ada di tanganku. Baraza dan Niku mencoba untuk merebut kembali kalung itu. Namun kekuatanku sudah tak dapat dikontrol. Aku menjatuhkan mereka dan menyerap jiwa mereka dengan kekuatanku. Ini benar-benar bukan diriku.


"Argghh!" teriak Niku dan Baraza kesakitan. kemudian mereka tak tersadarkan diri.


"Clara! ambil ini, pakaikan pada Rama!" ucapku pada Clara yang diam mematung di belakangku.


Aku mulai mendekati Mortuza, kali ini perang kekuatan antar aku dan Mortuza terjadi. Namun kekuatanku tak sebesar kekuatan Mortuza sehingga aku terpental membentur dinding, "Argghh"


Clara dan Rian menghampiri Rama dan memakaikan kembali kalung Rama. Terpancarlah cahaya dari kalung Rama. Mata Rama mulai membuka. Clara yang merasa sangat senang menggenggam tangan Rama erat. Rian saat itu masih melihatku yang berusaha berdiri.


Terpancarlah cahaya dari telapak tanganku seiring dengan eratnya genggaman tangan Clara dan Rama. Rian yang menyadari hal itu ikut menggenggam tangan mereka.


"Ayo satukan tangan kita!" ucap Rian.


Kekuatan yang kurasakan semakin besar. Aku langsung melemparkan kekuatanku pada Mortuza dan berhasil melemahnya.


"Ini waktunya kau pergi Mortuza!" aku melakukan hal seperti apa yang aku lakukan pada Baraza dan Niku.

__ADS_1


"Argghhh! lepaskan! argghh!" teriaknya kesakitan. Akhirnya cahaya hitam terpancar dan ia berubah menjadi asap hitam.


__ADS_2