
"Hei lihatlah! Lars sudah datang!" Aku menunjuk ke arah Lars yang berjalan ke arah kami di ikuti Baraza di belakangnya.
Lars terus melangkahlan kakinya sampai di hadapan kami. Ia terlihat membawa sebuah alat panah yang gagah.
Sungguh panah yang indah, aku dulu selalu bermimpi menjadi seorang atlet panah yang hebat. Tapi kemampuan membidikku agak payah.
"Hai, Lars," Maggie menyapanya dengan senyuman.
"Oh, hai ,semua," jawab Lars. "Ngomong-ngomong apa yang ada di balik jaketmu tadi?" Tanya Lars sambil menunjuk ke arah perut Rian.
"Oh, ini bukan apa-apa, ini ... hanya sebuah buku ... ." Suaranya terbata-bata, aku tahu dia tengah di rundung kebingungan dan rasa was-was.
"Baiklah, letakkan buku itu dulu, kita akan latihan membidik sekarang," ucap Lars sambil menunjukkan busur panahnya. "Jika tidak nanti malah mengganggu latihanmu."
" Oh, tentu ... ya tentu," Rian semakin bingung.
Lars melihat Rian yang ragu untuk meletakkan buku itu. Dari perasaanku, aku menduga jika Lars tahu jika buku itu bukanlah sembarang buku.
"Baiklah, percayalah padaku, berikan buku itu padaku, tidak perlu merasa ragu," ucap Lars pada Rian.
Hembusan nafas Rian sampai ke telingaku. "Baiklah." Rian menyetujui permintaan Lars. Karena kami yakin Lars adalah orang yang baik.
"Kalian berlatihlah dengan Baraza Dan Meggie, aku akan menjaganya," ucap Lars setelah menerima buku itu dari tangan Rian.
"Tapi, bukannya aku membantahmu Lars, kau lebih pandai dan berpengalaman dalam hal memanah, apa tak sebaiknya kau saja yang mengajari mereka dan aku yang menjaga buku itu?" ujar Baraza pada Lars.
"Sudah lakukan saja apa yang aku katakan!" perintah Lars.
"Baiklah," ucap Baraza. Saat itu aku bisa melihat perubahan wajahnya, sedikit kekesalan ada di matanya. Tapi itu tidak cukup untuk membuktikan kebenaran.
"Ayo! Mulailah berlatih!"
Kamipun berlatih membidik sasaran dengan anak panah. Sungguh itu adalah sesuatu yang sulit. Apalagi untuk mengenai bagian paling tengah.
"Aku rasa sekarang giliranmu untuk mencoba, gadis!" ucap Baraza padaku.
Aku benar-benar tak pandai memanah, namun saat diuji oleh Baraza aku sekuat kemampuanku mencoba mencapai yang terbaik.
Percobaan pertamaku aku hanya dapat di area keempat.
"Ohh ayolah, fokus! cobalah untuk fokus!" ucap Baraza padaku.
Percobaan kedua, aku tak menyangka aku mencapai area kedua. Menurutku itu sudah lumayan.
__ADS_1
"Huh! Lumayan, tingkatkan terus!" ucap Baraza padaku setelah aku menyelesaikan percobaan keduaku.
"Selanjutnya kau, ayo, Nak." Baraza menepuk pundak Rama yang berdiri di sampingku.
"Fokus ... dan ... Yap!" ucap Rama lirih pada dirinya sendiri. Bagusnya ia dapat mencapai area ke-dua. Aku memang mengakui jika dia adalah oemanah handal,.aku pernah satu kelas memanah dengannya dan dia selalu menjadi sorotan karena kemahirannya.
Kami terus mencoba untuk mendapatkan yang utama, tetapi itu selalu gagal. Namun dalam kegagalan kami kami tak menyerah, justru kami menjadi semakin bermangat.
Kami berempat sudah bersiap dengan busur dan anak panah kami. Kami semua sudah berfokus pada satu titik, sambil menunggu aba-aba Baraza, aku sempatkan untuk melirik ke arah Lars. Kulihat disana Lars mengangguk padaku, tanda balasan dari lirikanku. Itu membuatku tersenyum dan kembali berfokus.
" Tiga ... dua ... satu ... sekarang!" teriak Baraza memberi kami aba-aba.
Kami secara bersamaan kami melepas anak panah dari busurnya. Dengan wajah serius kami semua melihat arah target.
"Yap! tepat sekali," ucapku setelah melihat anak panahku telah mengenai pusat target.
Kami saling melihat ke target satu sama lain. Ternyata kami semua mendapatkan apa yang kami harapkan.
"Yes! kita berhasil!" ucap Rama kegirangan.
Kulihat Baraza yang hanya tersenyum dan membalikkan badannya. Lars dan Maggie kemudian menghampiri kami dan mengucap pujian bagi kami.
"Selamat dan terus semangat ya, tadi itu bagus," ucap Lars sambil membawa buku di tangannya.
"Kalian sangat keren, aku yakin kalian juga akan berhasil menyelamatkan kami," ucap Maggie yang sangat berharap.
"Oh ... , baiklah ini aku kembalikan buku kalian, jika boleh aku sarankan, cepat-cepatlah untuk mempelajarinya," ucap Lars sambil mengembalikan buku itu pada kami.
"Baiklah, Lars. Terima kasih atas saranmu," ucap Rian sambil menerima buku itu.
"Oh ya, teman, pagi tadi Ratu mengamanatkan sesuatu, dia bilang setelah kalian setelah berlatih dia ingin bertemu dengan kalian," ucap Maggie.
"Oh, baiklah," ucap Rama seketika.
"Ayo!" ucap kami semua.
Kami pun segera masuk ke dalam istana dan menuju ruang peristirahatan ratu yang megah. Kami sudah hampir ada di depan pintu yang berlapis emas, dan banyak penjaganya.
"Kenapa ke sini?" ucap Clara yang masih penasaran.
"Sekarang ratu ada di kamarnya," jawab Maggie singkat yang tak memuaskan Clara.
Kami mulai masuk ke dalam ruangan itu. Kami lihat seseorang yang kami kenal terbaring di kasurnya.
__ADS_1
"Ratu?" ucap Rian kaget melihatnya tak berdaya. Kami sudah berdiri rapi di samping kasurnya
"Hallo, kalian," sapa ratu dengan nada lemasnya.
"Salam, Yang Mulia," kami memberikan hormat padanya.
"Aku ingin bicara pada kalian." Dia mencoba bangkit namun tak bisa. "Sekarang ini keadaanku sudah semakin lemah, aku ingin minta tolong pada kalian, bulan purnama akan muncul sebentar lagi, tolong selamatkan adikku dan kebaikan," ucap ratu lemas. "Ku rasa aku tak akan lama lagi," lanjutnya meneteskan air mata.
"Jangan bilang seperti itu ratu, kami semua sangat membutuhkanmu," aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku mulai merasa sesuatu mengalir di pipiku. Rian yang ada disampingku pun merangkul pundakku.
"Aku sangat menyayangimu, Orva, kau penyelamat kami, sudah dua kali kau menyelamatkan kami," ucap Zefanya sambil mengambil tanganku.
"Kami juga sangat menyayangimu, Yang Mulia Zefa," ucap Clara pada Zefanya.
"Oh iya, dengan buku itu kalian akan menemukan semuanya, kalian juga akan menemukan cara kembali ke dunia kalian," ucap Ratu.
"Aku ingin kalian pergi ke desa besok dengan ditemani olehmu Maggie," lanjut Ratu menunjuk buku yang di bawa Rian.
Setelah urusan kami selesai di ruang Ratu Zefanya kami keluar dan menuju ruang kami.
"Aku benar benar sangat empati padanya," ucap Rama kasihan.
" Iya, kita tidak boleh mengecewakan dia," ucap Rian kemudian.
Kami kembali membuka-buka buku itu. Kami menemukan bab tentang cara kami kembali ke dunia awal kami.
'Saat pertempuran sedang berjalan, nanti akan datang bulan purnama, ambilah kesempatan kalian saat sesuatu bercahaya dari dalam danau kegelapan. Dalam danau itu akan ada jalan bagi kalian untuk kembali. Jika sudah kau temukan itu, carilah jalan lain selain jalan kalian untuk masuk,'
"Aku kurang mengerti," ucap Clara bingung.
"Sebentar," Rian tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. " Kalian ingat tidak ratu pernah berkata, jika kalian kesini memakai sebuah benda, maka kalian juga akan menggunakan benda itu untuk kembali," lanjut Rian.
"Kapan dia bilang seperti itu?" tanya Rama yang sudah lupa.
"Itu, waktu pertama kita ada disini," ucap Rian mengingatkan.
"Iya aku ingat, jadi menurutmu, kita harus mendapatkan kertas yang sama berisi teka-teki itu?" ucapku.
"Iya tepat sekali, jadi di dalam danau akan ada kertas yang sama dan kita akan memecahkan untuk kembali," jelas Rian pada kami.
"Gapi apa maksud jalan yang berbeda?" tanya Clara bingung.
"Aku juga belum tahu soal itu," jawab Rian.
__ADS_1
Aku berdiri dan melihat ke arah jendela untuk merenggangkan tubuhku. Namun lagi-lagi aku melihat orang berjalan keluar istana, kali ini tak hanya satu tapi dua orang.
"Ada yang keluar dari istana diam-diam!" ucapku membuat teman-temanku berdiri dan melihat keluar dari balkon.