
" Aku yakin sekali!" ucap Rian dengan penuh keyakinan.
" Maaf kan aku, aku hanya disuruh!" ucap anak itu sambil menangis.
" Siapa yang menyuruhmu?!" ucap Rian tegas.
" Aku...aku disuruh oleh temanku," ucap bocah itu memandang kami.
" Siapa nama temanmu?!" Rian kembali bertanya dengan nada tegasnya.
" Niku," jawab anak itu dengan nada takut diiringi oleh air mata ketakutan.
" Apa! jangan bercanda kau!" dengan nada marahnya Rama terkejut mendengar nama Niku.
" Jangan bohong kamu! Niku orang yang baik!" lanjut Clara membela Niku.
" Aku tidak berbohong, hiks hiks," ucap anak itu sambil menangis.
" Lalu dimana sekarang kalungnya?!" tanya Rama kesal.
" Sudah ku berikan padanya," ucap anak itu polos.
" Kenapa Niku melakukan itu?" ucapku tak percaya.
" Sialan, ternyata orang itu pengkhianat!" Rian sangat marah. " Kenapa kau mau disuruh melakukan hal menjijikkan itu?!" lanjut Rian pada bocah itu.
" Dia bilang, kalung itu miliknya dan dia ( Rama ) mencuri itu dari Niku," jelas anak itu dengan menunjuk ke arah Rama.
" Kau tahu? pencurinya itu bukan dia tapi kau!" Rian sangat marah pada anak itu.
" Sudahlah Rian jangan seperti itu, lepaskan saja dia," ucapku menenangkan Rian.
" Erika benar Rian, lagi pula kita sudah tahu siapa pencurinya bukan, jadi lepaskan saja anak bodoh itu," ucap Rama yang sedikit kesal dengan bocah yang dipegang oleh Rian itu.
" Awas kau!! pergi sana!!" ucap Rian sambil melepaskan genggamannya dari lengan anak itu. Anak itu pun langsung berlari menjauh dari kami.
" Aku tahu kalung itu sangat penting bagi kalian, maafkan aku tak bisa menjaga kalian," ucap Megi menyesal dengan dirinya.
" Ini bukan salahmu Megi," ucap Rama merangkul Megi.
" Baiklah, sekarang kita kembali saja ke istana, siapa tahu kita akan menemukan Niku dan mendapatkan kembali kalungnya," ucapku pada semuanya.
Kamipun menuntun Daku kami sampai pada tugu desa. Setelah itu kami naiki daku kami dan melesat secepat mungkin agar cepat sampai di istana.
Kami sudah sampai didepan gerbang istana. Beberapa penjaga membukakan gerbang yang begitu megah untuk kami masuk. Kami sudah dalam lingkungan istana dan langsung turun dari daku kami.
" Teman-teman, kumohon jangan bicarakan ini dengan ratu," ucap Rama memohon pada kami.
" Tapi kenapa? sebaiknya kita bilang pada ratu agar ratu menghukum pengkhianat itu," ucap Clara tak setuju dengan Rama.
" Kalian tahu kondisi ratu sekarangkan?" tanya Rama dengan nada memelas.
" Rama benar teman, kita atasi sendiri masalah ini," ucap Rian.
" Baiklah jika begitu, aku setuju," ucap Clara yang berubah pikiran.
__ADS_1
" Baiklah kita cari Niku sekarang!" ucap Rian bersemangat.
" Ayoo!" jawab kami kompak.
Kami mulai mencari keberadaan Niku di seluruh sudut istana. Kami bertanya pada semua orang yang kami temui. Tak ada satu pun yang melihatnya.
" Baiklah, bagaimana jika kita coba bertanya pada penjaga didepan," ucapku setelah kami mencarinya.
" Kau benar, ayo!" ucap Rama.
Tak lama kami sudah sampai di depan gerbang yang dijaga oleh empat orang itu.
" Hallo, boleh temanku bertanya?" ucap Megi.
" Hai, silakan dengan senang hati kami akan menjawab pertanyaannya," ucap salah satu penjaga itu.
" Baiklah terimakasih, apa ada seseorang yang masuk sebelum atau sesudah kami tadi?" tanya Rama sambil memainkan tangannya.
" Kurasa tidak, bagaimana dengan kalian? apa mungkin aku lupa?" ucap penjaga itu yang kemudian bertanya pada rekan lainnya.
" Kurasa juga tak ada, hanya kalian yang masuk istana, kecuali keluar, kalau keluar tadi ada seorang berjubah hitam yang keluar setelah kalian keluar," jawab salah satu dari mereka.
" Baiklah, apa kau mengenal siapa itu?" tanya Rian.
" Tidak," jawabnya.
" Kurasa dia belum kembali," ucapku lirih pada teman-teman.
Kami segera pergi dari tempat itu dan tak sengaja bertemu dengan Lars dan Baraza.
" Kalung Rama dicuri oleh Niku," ucap Clara pada Lars. Kulihat Baraza Yang sedikit tersenyum. Aku melihat lebih dalam ke mata Baraza. Dan Aku rasa ada yang dia sembunyikan.
" Apa! maksudmu kalung persatuan itu?" ucap Lars kaget.
" Ya," jawab Rama singkat.
" Sialan ternyata dia pengkhianat, aku akan menghabisinya!" ucap Lars marah.
" Sudahlah Lars, lagi pula yang aku butuhkan itu kalian, aku yakin jiwa kita bersama," ucap Rama bijak.
" Sok bijak sekali kau," sindir Clara pada Rama.
Setelah kami sudah tak bersama Lars dan Baraza kami pergi ke sungai untuk menyejukkan hati dan body.
" Segar sekali, apa kau pikir kalung itu sepenting itu?" tanya Clara pada Rian.
" Tidak, tidak terlalu, bagiku yang terpenting adalah bagian bagaimana orang itu bisa mengendalikan hati, aku juga percaya pada sahabatku bahwa ia bisa tetap bersama kita," jelas Rian pada kami semua.
Kamipun kemudian saling merangkul satu sama lain dan melakukan pelukan hangat. Megi pun tak lepas dari pelukan kami.
" Megi aku baru ingat sesuatu," ucapku pada mereka.
" Ingat apa?" tanya Megi bingung.
" Sekarang aku ingin bertanya padamu, tentang simbol yang ada dibawah alas kaki kalian," ucapku pada Megi. Teman-temanku mulai menyimak sambil duduk di pinggir sungai itu.
__ADS_1
" Ohh ini, ada apa menangnya?" tanya Megi sambil menunjukkan alas kakinya.
" Iya, apakah semua little memiliki simbol yang berbeda?" aku lanjut bertanya pada Megi sambil mengingat simbol segitiga itu.
" Iya memang setiap Little itu berbeda, punyaku matahari, dan milik Lars bintang," jawab Megi dengan menunjukkan simbol mataharinya.
" Kau tahu tidak siapa yang punya simbol segitiga?" ucapku bertanya pada Megi.
" Aduhh, aku minta maaf karena aku tak tahu," jawab Megi menyesal.
Hari sudah semakin gelap, kami sudah berada di kamar kami. Kami masih menemukan cara agar kalung Rama kembali. Kami juga membahas tentang simbol segitiga pada alas kaki little yang hampir mencuri buku.
" Siapa ya yang punya simbol segitiga itu?" ucap Clara sambil menyangga dagunya.
" Apa jangan-jangan Niku," ucap Rama curiga.
" Kau ada benarnya juga," ucap Rian membenarkan.
" Lihat ke luar yuk," ucapku memandang langit malam yang cerah.
" Baik, ku rasa kita memang perlu hiburan haha," ucap Rama yang sudah mendahului ke balkon.
Kami semua merebahkan tubuh di balkon kamar yang luas seraya memandang langit yang bertabur bintang dan bulan yang hampir bulat sempurna.
" Lihat bulan itu ku rasa perang akan segera terjadi," Ucapku.
" Kau benar, kita harus siap untuk itu," ucap Rian yang disampingku.
Kami terlalu senang memandang langit sehingga kami tertidur di balkon kamar.
Baru terasa saat sinar matahari mulai muncul dan menumpahkan sinarnya pada wajah kami.
" Aduuhhh," aku terbangun karena mataku sudah mulai merasakan cahaya matahari.
" Sudah pagi ya?" Clara mengucek matanya.
Setelah kami bersih bersih dan sarapan, seperti biasa kami melakukan pelatihan untuk persiapan pertempuran. Terlihat Lars dan banyak prajurit lainnya sudah mulai mempersiapkan diri.
Kami berlatih dengan keras tanpa mengenal lelah. Sudah hampir setengah hari kami bersama prajurit and ksatria lainnya berlatih.
" Aduh akhirnya bisa istirahat juga," ucap Clara sambil melihat pertempuran Megi dan Baraza yang belum selesai berlatih.
" Wow, tak ku sangka Megi akan sekuat itu melawan Baraza," ucao Rian kagum.
Pertempuran terasa menegangkan, sampai akhirnya Megi berhasil menjatuhkan Baraza. Tak ku sangka saat Baraza jatuh terlihat simbol segitiga pada alas kakinya.
' Segitiga?!' batinku. ' ahhh, tak mungkin!' batinku sambil bergeleng.
HAPPY READING
IKUTI KISAH KAMI SAMPAI AKHIR YAA
Jangan lupa like/ comment/ vote cerita ini yaa 😃😃😃
Semoga kita bahagia dan sehat selalu 😘😘😘
__ADS_1