LITTLELAND

LITTLELAND
Bagian 5


__ADS_3

Rian menuntun Rama menuju seberang sungai yang mengalir deras. Sungai itu airnya sangat jernih, pantulan cahaya matahari membuatnya berkilauan.


Aku dan Clara mengikutinya dari belakang. Aku sungguh tak tega melihat kaki Rama yang terluka dengan darah segar yang mengalir, kurasa itu sangat sakit. Aku bahkan merasa nyeri dan pusing ketika darah itu terus-terusan mengalir dan membekas di tanah.


Rian lalu membantu Rama untuk duduk di batuan halus pinggir sungai.


"Sialan! Kita hampir saja mati," ucapku sambil bergerak duduk disamping Rian untuk melihat keadaan kaki Rama.


"Kau benar! Dasar tikus sialan!" ucap Rama setuju dengan apa yang ku katakan.


"Tikus macam apa itu? Itu bukan tikus! Tapi monster! Ternyata dunia fantasi tak selamanya indah ya?" ujar Clara yang memandang dunia fantasi itu selalu menyenangkan.


"Iya, kau benar." Rama menghela nafasnya.


"Eh, ngomong-ngomong terima kasih pada kalian berdua, kalau saja kalian tidak mengambil keputusan tepat dan cepat, mungkin tadi kita sudah menjadi pengganjal perut monster itu," ucapku menepuk pundak Rian dan adiknya.


"Aku sudah berjanji akan menjaga kalian, kan," jawab Rian.


"Iya, lagi pula kita itu kan sahabat, jadi sudah kewajiban kita saling membantu," lanjut Clara merangkulku. Aku tersenyum lebar ke arahnya.


"Eh, mari kita bersihkan lukamu, Rama." Rian mengambil air sungai dengan tangannya, dan membasuhkannya pada luka Rama.


"Aduh perih! Biar aku saja," ujar Rama sambil memegang lengan Rian yang menyentuh kakinya.


"Maaf-maaf, iya baiklah." Rian mengangkat tangannya dari kaki Rama.


Rama membersihkan lukanya, namun darah tak henti-hentinya mengalir. Aku yang melihatnya meresap ngilu. Darah membuat garis merah di aliran sungai yang terlalu bersih.


"Kita istirahat di sini dulu mungkin?" ucap Clara seraya menata beberapa batu untuk alas duduk.


"Iya, aku setuju, sambil menunggu kaki Rama pulih," ucapku mendekati Rama. Aku pun duduk berjongkok di samping Rama.


"Erika, kurasa lukanya cukup dalam," ucap Rian padaku sambil melihat darah yang masih tetap mengucur keluar. "Kau punya sapu tangan, kan?"


"Iya, sini biar aku balut dengan sapu tangan." Aku mengeluarkan selembar kain dari saku celanaku.


"Ide bagus! itu akan menghentikan darah yang keluar, Rama coba kau bilas sekali lagi lukamu dengan air," ujar Rian menyetujuiku.


"Baiklah," Rama menurut dan membilas kakinya sekali lagi, walaupun itu menambah rasa perih di lukanya.


Aku langsung membalut lukanya dengan saputanganku agar darah tak keluar lagi. Rama sedikit meringis karena perih. Aku agak tak kuat saat membalut lukanya. Aku memang ikut di keanggotaan palang merah di sekolah, tapi itu bukan berarti aku tidak ngeri dengan darah.


"Sudah merasa lebih baik, Rama?" tanya Rian yang melihat raut wajah Rama.


"Aku tidak apa-apa," jawab Rama menepuk pundak dan tersenyum pada Rian.

__ADS_1


"Sudah selesai." Aku sudah selesai mengikat saputangan itu ke luka Rama. "Bagaimana? sudah lebih baik," tanyaku.


"Iya ini lebih baik, terimakasih ya," jawab Rama.


"Syukurlah jika begitu. Sebaiknya kamu istirahat saja." Aku pun beranjak menemui Clara anggota masih sibuk menata batu.


"Ku lihat kau sangat sibuk, butuh bantuan?" Tawarku sambil nyengir melihat Clara.


"Oh, terima kasih, tapi aku sudah selesai," ucapnya sambil menata batu terakhir yang ditumpuk diatas batu lainnya.


"Ngomong-ngomong untuk apa kamu menata batu-batu itu?" tanyaku sedikit heran.


"Untuk kita duduk, memangnya untuk apa lagi?" jawabnya.


"Tapi di sana kan ada rumput yang sangat empuk. Tak perlu susah-susah menumpuk batu yang berat begitu." ucapku menunjuk rerumputan yang mengembang.


"Astaga, sial! kenapa kamu tidak bilang dari tadi, tanganku pegal karena mengangkat batu ini," ucap Clara kesal dan memukuli tumpukan batu itu.


"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai olahraga," ucapku meninggalkan Clara dan menuju pinggir sungai. Melihat jernihnya air rasanya sangat menyegarkan. Aku menyentuh air itu dan cessss... rasanya sangat nyaman. Aku merasakan kesegaran itu mengalir di setiap pembuluh darahku. Kemudian aku mulai membasuh muka dan tanganku dengan air itu.


"Rasanya, kesegaran air ini belum terasa jika belum menempel tenggorokan," gumamku sambil menciduk air dengan tanganku dan meminumnya. "Wah! segar sekali rasanya!" Aku mengucapkan kata itu dengan keras sehingga teman-temanku mendatangiku.


"Ada apa?" tanya Clara.


"Hey cobalah rasakan air ini, sangat segar rasanya di tenggorokan!" Ucapku bersemangat dan mereka langsung meminum air itu.


" Wah! Segar!" Ucap Rian dan Clara bersamaan, kakak beradik itu memang kompak, walaupun percekcokan mereka lebih banyak.


Aku sampai terkekeh melihat momen itu. "Kalian sangat kompak." Ledekku pada kakak-beradik itu.


"Eh sepertinya hari makin gelap ya?" Rian memandangi langit yang tampaknya berubah menjadi semakin gelap.


"Iya benar, kenapa hari ini cepat sekali, padahal sepertinya kita baru saja sampaj," ucap Rama heran.


"Kalau begitu, kita bisa istirahat di sini saja, kita lanjutkan besok perjalanannya," ucap Rian pada kami.


Aku setuju dengan Rian, aku juga merasa aku butuh istirahat. "Kau benar Rian, bagaimana kalo kita istirahat di rerumputan itu," Aku menunjuk ke arah rerumputan yang sudah kuincar dari tadi.


"Ide bagus!"


Malam semakin gelap, namun cuaca malam itu sangat cerah. Kami berempat merebahkan diri di atas rumput empuk yang nyaman di badan kami.


"Wow, indah sekali langit itu!" Clara memuji pemandangan langit yang penuh dengan bintang.


"Angkasa memang sangat menarik untuk dipandang," lanjutku sambil mengingat ayah di pikiranku.

__ADS_1


"Eh semuanya, bagaimana jika nanti kita bertemu makhluk liar lagi?" tanya Clara khawatir karena tadi saja kita hampir mati.


"Ya, kau benar. Kalau begitu kalian tidur saja aku akan berjaga disini, nanti jika aku sudah merasa mengantuk, kita gantian berjaga," jelas Rian pada kami yang masih tiduran, dan dia mulai bangun dan duduk.


"Tapi janji ya, nanti jika kamu sudah merasa mengantuk bangunkan aku, biar kita bisa gantian menjaga," ucapku sambil tersenyum.


"Tentu saja, kau pikir aku tak akan mengantuk apa," ucap Rian menjitak kepalaku sambil terkekeh.


"Aduh, benar-benar kau ini ya! Sakit Rian! Awas kau ya!" Aku melotot ke arah Rian yang sudah berdiri untuk berjaga tapi dia hanya nyengir saja melihat aku yang jelas-jelas tengah kesal.


Sudah semakin gelap tapi aku sama sekali belum merasa ngantuk. Aku mendengar dengkuran Rama yang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka.


Aku membangunkan diriku, tiduran dan tidak tidur membuat badanku menjadi pegal-pegal. Dan kemudian aku berjalan menuju tempat Rian yang masih terjaga dan sedang duduk dibawah pohon.


"Hai, apa kau tidak merasa kantuk?" tanyaku pada Rian.


Rian terkejut dengan kedatanganku, jelas sekali dia terperanjat tadi. "Ohh sial! Aku kira siapa yang datang, kenapa kau bangun?" tanya Rian kepadaku.


"Ah Entahlah — aku masih belum mengantuk," jawabku sambil duduk disampingnya.


Tiba-tiba Rian mendesis seperti ular. "Stttt, kau dengar suara itu?"


Aku menjawab dengan menggeleng. "Tidak, Memangnya ada apa? Kau dengar sesuatu?"


"Ya aku dengar sesuatu. Coba perhatikan dulu!"


Rian, mungkin dia merasa mendengar suara aneh dari belakang semak-semak. Tapi aku tidak, sama sekali tidak mendengar apapun. Lalu ak mendengar samar-samar bunyi seperti dengkuran, kupikir mungkin suara itu yang Rian dengar.


"Aku rasa itu adalah dengkuran dari Rama," ucapku pada Rian menunjuk ke arah Rama yang sedang tidur disebelah Clara.


"Bukan itu, tapi dibelakang semak-semak!" Rian menunjuk ke arah semak-semak, wajahnya terlihat serius dan tegang.


"Ah masa sih, coba aku liat." Aki berdiri hendak melangkah. Namun tiba-tiba semak-semak itu bergerak, dan membuatku kaget tiada main. Aku mundur cepat ke arah Rian.


"Astaga! Apa itu!"


Tanpa pikir panjang aku dan Rian berlari ke arah Rama dan Clara dan membangunkan mereka.


"Rama! Ayo bangun Rama!" Rian menggoyangkan tubuh Rama sekencang-kencangnya.


"Clara! Ayo cepat bangun, Clara!" Aku juga menggoyangkan tubuh Clara.


"Aduh! Ada apa sih, aku masih ingin tidur! Rama saja dulu yang berjaga-jaga!" ucap Clara dengan sedikit mata terbuka.


Sedang disebelahnya, aku lihat Rama sudah bangun. Seperti orang hilang akal di diam dan bingung dengan sikap kami.

__ADS_1


"Ada apa? Giliran aku yang jaga, ya?" tanya Rama.


__ADS_2