
"Kau serahkan saja padaku." Ia tersenyum jahil. "Akan aku bangunkan mereka dengan mudah." Lalu Maggie menarik nafasnya dalam-dalam dan .... "Waaa ... pagi ... pagi ... !" Megi membangunkan mereka dengan berteriak menggema dalam ruangan itu. Teriakannya membuat gendang telinga kami serasa ingin pecah.
"Astaga ... !" Rama dan Clara terkejut dan bangun berteriak.
"Haha, maaf ya," ucap Megi tertawa. "Ya sudah, berhubung semuanya sudah bangun. Kalian langsung saja menemui Ratu," lanjut Megi mengajak kami.
"Baiklah ayo." Rama langsung pergi menuju pintu.
"Eh ... eh ... eh ... sebetar! Masa kalian mau pakai baju itu terus." Maggie membuat kami melihat lihat pakaian kami. Pakaianku sudah robek di lengannya, sedang celana Rama sudah robek saat ia tergigit monster di hutan.
"Lalu bagaimana? Kita kan tak punya baju di sini," ucap Clara.
"Masalah itu, serahkan saja padaku!" ucap Megi.
Megi memainkan tangannya dan ...
Boom!
Sihir itu mengubah penampilan kami semua.
"Wow! Pakaiannya sangat nyaman," ucap Clara memuji pakaiannya.
"Wow, terimakasih Megi," ucapku dan Rian bersamaan.
"Wah, aku sangat ingin mempunyai kemampuan seperti itu," ucap Rama.
"Nanti kalian juga pasti akan memiliki kemampuan kalian masing-masing," ucap Megi tersenyum.
"Baiklah sekarang kita sudah siap bertemu Ratu Zefa," ucapku pada Megi.
"Baiklah, ayo semuanya." Megi memimpin keluar dari kamar.
Kami bersama Megi berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi cahaya matahari. Tak lama, kami sampai di sebuah ruang yang pernah kami masuki.
Di ruang pertemuan kami duduk dengan rapi dan menunduk pada Ratu sebagai tanda hormat kami. Kemudian kami membicarakan tentang permintaan Ratu ratu yang kemarin.
"Baiklah, Yang Mulia, kami sudah memutuskan untuk tidak akan kembali sebelum berhasil membantu kalian para Little," ucap Rian dengan meletakkan tangannya di atas meja.
" Oh benarkah? Aku sangat senang dengan keputusan kalian, kalian memang memiliki hati yang baik dan tulus," ucap ratu memuji kami.
Kemudian Ratu Zefanya pergi mengambil sesuatu dari laci yang penjagaannya sangat ketat. Beberapa gembok mengikat benda kotak itu. Ia datang kembali ke meja dengan meletakkan peti tua itu.
Ia membukanya dengan menempelkan kalung permata merah pada gemboknya. Kulihat ada empat kotak dalam peti itu, dan masing-masing memiliki nama. Ratu kemudian memberikan sesuatu untuk kami.
__ADS_1
"Orva, kemari lah sayang" ucap Ratu sambil memegang sesuatu seperti gelang dalam genggamannya. Aku pun langsung mengerti ucapannya bahwa ia memanggilku.
Memang biasanya aku tidak suka dia memanggilku Orva. Tapi kali ini berbeda. Aku beranjak dari dudukku dan menghampiri ratu di meja utama. "Ada apa, Yang Mulia,"
"Kemarikan tanganmu," perintahnya kepadaku. Aku pun mengikutinya dan memberikan tanganku. Ia memakaikan gelang itu ke tangan kananku. Setelah itu, aku hanya terdiam dan berdiri agak ke samping karena dia terdengar memanggil nama seseorang.
"Devan kemarilah,"
"Siapa Devan?" tanya Clara dan Rama saling berpandangan.
"Siapa lagi jika bukan aku, dengan nama kakakmu saja kau lupa, dasar!" Rian menjitak ringan kepala adiknya. Kemudian ia langsung berdiri dan melangkah menuju ke sampingku.
"Maaf, Yang Mulia Zefa, tolong panggil saja aku dengan nama Rian, aku tak nyaman dengan itu," ucap Rian protes kepada Ratu.
"Berani sekali dia protes kepada seorang ratu," Di meja Clara dan Rama berbisik.
"Baiklah Rian, kemarilah maju sedikit lagi agar aku bisa meraihmu," Zefanya meraih lengan Rian agar Rian lebih dekat dengannya. Entah kenapa hatiku merasa kesal. Mungkin karena kita sudah lama bersahabat dan sekarang malah ada orang yang mencoba dekat dengannya.
Ratu Zefanya kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Rian untuk memakaikannya sebuah kalung. Aku sekarang benar-benar merasa tidak nyaman, dan membuang pandanganku.
Rian berjalan mendekatiku dan berdiri di sampingku. Aku pun segera mengembalikan raut wajahku.
"Putri Dayana, giliranmu sekarang," Ratu Zefa memandang ke arah Clara.
"Kau sangat cantik," ucap Ratu memuji Clara.
"Terima kasih, Yang Mulia. Tapi Anda tentu lebih cantik." Clara tersenyum manis mendengar pujian itu.
Ratu pun memakaikan kalung pada leher Clara. Clara yang merasa heran langsung bergabung dengan aku dan kakaknya.
"Yang terakhir Rama, kemarilah." Zefanya memanggil nama Rama dengan nama yang biasanya digunakan.
"Baiklah," Rama bergerak menuju hadapan Sang Ratu. Dan Ratu Zefanya juga memakaikannya kalung. Dalam hatiku aku sangat heran kenapa hanya aku yang memiliki gelang.
Setelah semua selesai Ratu Zefa mengajak kami ke sebuah ruangan yang cukup sunyi, cahaya hanya remang-remang masuk melalui celah yang ada di pojok dinding.
"Berdirilah kalian sesuai nama yang terukir dalam pedang itu," Perintah Zefanya kepada kami.
Kami pun berdiri di hadapan pedang yang masih tertancap pada batu bulat itu dengan nama kami masing-masing.
"Sebelumnya aku sangat berterimakasih pada kalian, apa yang sudah aku berikan pada kalian itu akan menjaga ikatan kalian, dan itu juga akan melindungi kalian dari jiwa kegelapan. Itu semua sudah ada sejak Negeri Littleland ini terbentuk, jadi kalian memang sudah ditakdirkan untuk ini," jelas Ratu Zefanya yang berdiri di antara kami.
"Sekarang waktunya kalian untuk berlatih, mengasah kemampuan kalian untuk persiapan melawan Mortuza," lanjutnya.
__ADS_1
Kami pun keluar dari ruangan itu menuju tempat pelatihan para kesatria. Di sana ternyata banyak sekali peralatan untuk berlatih. Walaupun merasa tegang namun dunia fantasi memiliki keindahan tersendiri, terutama pada tanamannya. Pohon dan bunga mengelilingi tempat pelatihan yang luas itu, aliran sungai kecil yang alami juga menambahkan nuansa sempurna bagi para fantasian.
"Di sini kalian akan berlatih dengan para pemimpin yang hebat, dan tentu itu bukan merupakan hal yang mudah. Selamat berlatih," jelas ratu Zefanya singkat dan kemudian pergi meninggalkan kami.
"Selamat datang, Yang Mulia putra-putri Orva, salam hormat untuk kalian," ucap seorang yang tampaknya merupakan pemimpin pasukan. Tingginya lebih pendek dari kami, namun bentuk badannya sangatlah bagus dan kekar, tak seperti little yang lain.
"Panggil saja aku teman, jangan Yang Mulia," ucapku pada lelaki itu. Aku merasa tak enak padanya kerena ia terlihat lebih tua dari kami.
"Ya, dia benar. Ngomong-ngomong siapa namamu teman?" tanya Rian pada orang itu.
"Namaku Baraza," Ucapnya sambil mendongakkan kepala memandang kami.
"Oh Hai, Baraza," Rama tak mau kalah menyambutnya.
Tiba-tiba seseorang yang lebih tua mendatangi kami, "Hai teman, mari kita langsung berlatih saja, akan ada beberapa orang yang membantu kalian berlatih," ucap orang itu.
Kami semua terkejut dengan kedatangannya tanpa menyapa kami. Kami langsung mengikutinya dan dia menuntun kami menuju tempat pemanasan. Kamipun melakukan beberapa pemanasan yang berat.
"Aku tahu ini berat bagimu," aku mendengar orang itu berbicara pada Clara yang merasa kesulitan berlatih.
"Tidak, aku tidak merasa berat melakukan ini," jawab Clara sambil terus melakukan pemanasan.
"Bagus,"
Setelah selesai pemanasan kami diperkenankan untuk beristirahat sejenak. Baraza sangat baik kepada kami, ia bahkan memberi kami minuman.
"Terimakasih, Baraza," ucap kami pada Baraza.
Setelah itu kami melakukan pelatihan lanjutan. Ternyata hal itu lebih berat dari pemanasan tadi. Namun kami tak akan pernah menyerah, ataupun memperlihatkan bahwa kami lemah.
Kami berlatih sampai hari menjelang sore. Selesai berlatih kami semua boleh beristirahat.
"Beristirahatlah kita akan lanjut besok," ucap orang yang disamping Baraza.
Aku hendak memasuki gerbang belakang istana. Namun seseorang memanggil namaku dan membuatku menghentikan langkah.
"Erika Orva! Tunggu," Pelatih itu memanggilku. Aku pun berhenti dan menoleh padanya. Ia melangkah mendekatiku.
"Maaf, Pak, ada apa?" tanyaku padanya.
"Panggil saja aku Lars," ucap pelatih galak itu memperkenalkan dirinya.
"Em ... baiklah, ada keperluan apa, Lars?" tanyaku ulang.
__ADS_1