
" Siapa mereka?!" Tanya Rama yang penasaran.
" Aku juga tak tahu," ucapku bergeleng.
" Ayo kita kejar mereka!" ucap Clara menunjuk ke arah dua orang itu.
" Aooowww, aooowww," Tiba-tiba saja kepalaku kembali sakit dan melihat hal yang biasanya datang dalam diriku.
" Kamu kenapa Rik?" tanya Clara yang melihatku memegang kepala.
" Argghhh, tidak jangan!" aku mengucapkan kata yang membuat teman-temanku bingung.
" Jangan kenapa? kau tak apa-apa kan?" tanya Rian khawatir.
Aku kembali tersadar. " Kalian kenapa gak kejar mereka?" ucapku yang melihat mereka dihadapan diriku.
" Kami tak bisa meninggalkanmu, saat kau seperti itu!" jawab Rama sambil berjongkok.
" Kenapa? apa yang terjadi?" ucap Clara merangkul pundak ku.
" Mereka kembali dalam pikiranku," jawabku.
" Sudahlah, kau mungkin butuh istirahat, lagi pula ini juga sudah malam," ucap Rian mengacak rambutku.
" Kau ini apa-apaan, kepalaku masih pusing!" teriakku pada Rian yang tertawa.
" Baiklah aku minta maaf, haha," ucap Rian yang kemudian mengelus rambutku.
" Ya sudah, ayo tidur semuanya!" Ucap Rama yang berjalan menuju kasurnya.
Kamipun menuju masing-masing kasur milk kami. Tak lama aku mendengar suara dengkuran dari Rama.
" Huh, dasar Rama tukang dengkur!" ucapku sambil menarik selimut dan kemudian terlelap.
' kau akan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membela kebenaran!'
Suara berat itu kembali berdengung didalam mimpiku. Aku mulai membuka mata dan silaunya surya membuatku sulit untuk membuka mata.
Ku bangunkan diriku dan mengucek mata. Kulihat Rama yang sudah bersiap dengan baju barunya.
" Rama kau sudah bangun?" tanyaku yang masih duduk di kasur.
" Tentu saja, kita kan akan pergi ke desa," jawab Rama semangat.
" Kau pakai baju siapa itu?" tanyaku pada Rama yang sudah berganti.
" Aku tak tahu, tapi baju ini sudah ada dikamar saat aku bangun, kurasa ini memang untuk kita," Jawab Rama menunjuk baju yang masih tertumpuk rapi diatas meja.
Rama melempar sesuatu pada ku dan ternyata itu adalah seekor ulat. Sialnya aku berteriak saat melihat ulat mainan itu.Aku memang sedikit trauma dengan ulat bulu.
" Aaaargghhh!!" Aku berteriak dengan sangat keras.
__ADS_1
" Hahaha, kena kau!" Rama menertawakan diriku yang ketakutan. Rama memang anak yang iseng, Ia bahkan sengaja mengisengi aku sepagi ini.
Ternyata teriakanku membangunkan Rian dan Clara yang tertidur. Aku yang sedang melempar bantal pada Rama pun kaget dengan suara Clara.
" Ada apa sihhhh! pagi-pagi begini udah ribut!" ucap Clara kesal.
" Rama tuh yang cari gara-gara! lagi pula ini sudah pagi, bagusnya kalian bangun!" jawabku tak mau kalah.
" Hei, baju siapa itu?" tanya Rian pada Rama.
" Tadi ada empat pasang baju disini, jadi kupikir ini untuk kita," jawab Rama.
" Baiklah mari kita ganti baju!" ucap Rian yang turun dari kasurnya dan mengambil sepasang pakaian dari meja. Rian langsung menuju ke ruang ganti yang ada didalam kamar kami.
Setelah kami semua berganti pakaian, seperti biasa kami menuju sungai di belakang istana. Setelah itu kami sarapan, kami dipanggil oleh Niku.
" Hai Niku ada apa," tanya kami pada Niku.
" Apa agenda kalian nanti?" tanya Niku.
" Kami akan pergi ke desa hari ini," jawab Rama pada Niku.
" Wow, boleh aku ikut?" pinta Niku yang berharap.
" Kami sangat ingin kau dan yang lain ikut Niku tapi maaf, kami hanya akan pergi dengan Megi saja," ucapku sedikit kecewa.
" Kenapa?" tanya Niku dengan wajah kecewanya.
" Ohh baiklah jika ini perintah ratu, kuharap kalian berhati-hati dan bersenang-senang ya," ucap Niku yang kemudian pergi meninggalkan kami.
" Dia sangat baik," ucap Rian sambil melihat Niku.
" Hei teman!" suara Megi tiba-tiba mengagetkan kami dari belakang.
" Ohh Megi kau membuat kami terkejut," ucapku pada Megi.
" Sudah siapkah kalian?" tanya Megi.
" Tentu," Jawab kami kompak.
Kami diajak oleh Megi untuk melihat dan memilih kendaraan kami sendiri. Semacam kuda namun bukan kuda karena memiliki tanduk, juga bukan sapi atau kerbau, kami pun tak tahu hewan apa itu.
" Ini namanya Daku, hewan yang sering digunakan untuk kendaraan," ucap Megi memperkenalkan kendaraan pada kami.
" Aku mau yang itu saja!" Clara menunjuk seekor Daku berwarna putih berkilau yang cantik.
Aku kemudian mendekati Daku yang ada disampingku. " Kau mau kan bersama ku kawan?" ucapku mengelus kepala Daku itu.
Kami mulai keluar dari wilayah istana dan memulai perjalanan menuju desa Little.
" Sudah sampai," ucap Megi saat kami berada di sebuah tugu besar dari kayu.
__ADS_1
" Akhirnya, setelah perjalanan yang lumayan panjang," ucap Rama mengembuskan napasnya panjang.
Kami turun dari Daku kami dan berjalan menuntun Daku. Hal itu karena kami menghormati orang desa itu. Setiap jalan yang kami lewati pasti para Little langsung hormat dan mengikuti kami dibelakang.
" Kenapa mereka mengikuti kita?" ucapku berbisik pada Megi.
" Karena mereka sudah tahu kita akan mengumumkan sesuatu di pusat desa," jawab Megi.
" Kok mereka bisa tahu?" tanyaku kembali.
" Aku sudah biasa menjadi utusan istana untuk memberikan amanat pada mereka," jawab Megi.
" Jadi kau sudah seperti kepercayaan istana?" tanyaku lagi.
" Ya begitulah hehe," jawab Megi singkat.
Kami sudah sampai di pusat desa. Sekarang kami sudah menaiki batu seperti panggung yang biasanya digunakan untuk pengumuman. Kami berdiri dihadapan orang banyak. Megi mengumumkan bahwa akan terjadi pertempuran sebentar lagi.
" Akan terjadi pertempuran sebentar lagi, pertempuran memperebutkan kekuasaan, dan kita sebagi unsur kebaikan harus siap menghadapi itu, bekalilah diri kalian dengan apapun senjatanya, terutama persatuan!!" ucap Megi dengan suara agak keras.
Saat sudah selesai memberi pengumuman pada warga desa, kami berjalan-jalan sebentar mengelilingi desa. Kami juga sedikit mencontohkan beberapa jurus yang telah kami pelajari pada warga.
Tanpa kami ketahui ternyata Niku mengikuti kami. Dia ada dibelakang kami saat kami sedang berbincang dengan seorang warga.
Tiba-tiba saja seorang anak berlari dan menabrak Rama. Ia juga dengan sengaja menarik kalung Rama dan lari secepatnya.
" Astaga!" kaget Clara.
" Kau tak apa Rama?" tanyaku pada Rama yang masih terjatuh.
" Argghhh sialan, dia mengambil kalungku!" Rama masih menunjuk ke arah anak itu.
" Apa! biar ku kejar dia!" Rian langsung berlari mengejar anak itu, namun ia tak berhasil menangkapnya.
" Sial, kemana bocah itu!" ucap Rian yang sudah kehilangan anak itu. Rian pun kembali ke teman-temannya.
" Lihatlah kakakku sudah kembali," ucap Clara melihat Rian berjalan kearah kami.
" Maaf aku tak dapat anak itu, tapi aku sangat paham dengan wajahnya, tadi sempat aku tangkap namun ia berhasil lolos," ucap Rian kecewa.
" Tak apa-apa Rian, kita akan mencari barangmu sampai kau dapatkan kembali," ucap Megi.
Kami kembali mengelilingi desa dan mencari anak tadi. Tak sengaja saat kami tiba diujung jalan, Rian langsung berlari tanpa memberi aba-aba.
" Kena kau! mana kalung temanku yang kau curi!" ucap Rian sambil memegang erat tangan bocah itu.
HAPPY READING
IKUTI TERUS KISAH KAMI SAMPAI AKHIR YAA
Jangan lupa like/ comment/ vote cerita ini yaa😊😊😊
__ADS_1
Semoga kita bahagia dan sehat selalu 😘😘😘