
"Tidak! Clara!" Aku dan Rian berteriak memanggil nama Clara dan hal itu membuat kami ikut tersedot ke dalam cahaya. Hanya ada buku kuno dan sobekan kertas itu yang tersisa.
Aku berteriak dengan keras begitu juga dengan Rian. Entah dimana aku berada, hanya ada cahaya putih di sekeliling kami. aku tak bisa mengatakan seberapa cepat cahaya itu menyedot kami, saking cepatnya sampai kaos yang di kenakan Rian terlepas dari tubuhnya. Benar-benar memalukan.
"Wa ... !!"
Brukk!
Tubuh kami terhantam ke tanah dengan keras. Badanku serasa dipatahkan oleh atlet sumo badannya 3 kali lipat badanku.
Kulihat Rama and Clara yang sudah berdiri memandangi cahaya terpancar dari langit yang membawa kami ke negeri yang tak kami kenal.
Hutan yang sangat indah, seperti berada di dalam negeri fantasi. Kicauan burung menenangkan kepalaku yang tak sengaja terbentur batu.
"Astaga!" Aku mengerang kesakitan. "Kepalaku sakit sekali." Aku memegangi dahi yang terbentur tanah. Kepalaku terasa berdenyut-denyut seketika aku bangkit.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rian pada ku sambil menyentuh dahi yang habis ku sentuh.
Aku tidak tahu mengapa, tapi sungguh saat dia menyentuh didahiku, jantungku berdegup kencang. Ketika aku melihat matanya yang penuh kepedulian terhadap diriku, aku merasakan hal benar-benar tidak aku mengerti.
"Bagaimana bisa kita disini?" Tanya Rama heran seraya melihat sekeliling.
"Kak, ingat tidak? Puzzle itu bersinar terang dan— boom! Kita sampai disini!" jelas Clara sambil memainkan tangannya.
Aku mencoba mengingat semua yang aku lihat. "Aku ingat persis, di atas kertas itu, kita menyatukan kunci dan gemboknya," Ucapku sambil mengingat gambar yang ada di kertas itu.
"Kak Rian, apa kakak tidak merasa dingin?" tanya Clara pada Rian yang kehilangan kaosnya.
"Tidak, justru aku merasa sangat panas," jawab Rian memegangi perutnya.
Plungg.
Baju Rian akhirnya datang juga dari langit.
"Ah ini kaosku, kan? aku kira tak akan kembali," Rian segera memakai kaosnya yang tadi tak sengaja terlepas. "Syukurlah."
"Teman-teman, apakah mungkin ini jawabannya?" tanya Clara yang mencoba menebak.
"Kalo dilihat-lihat ini bukan hutan biasa, ini seperti di dunia lain," ucapku. Aku benar-benar terobsesi dengan dunia yang penuh dengan fantasi.
"Kamu benar, Erik, mungkin ini adalah dunia fantasi," ujar Rama. "Benar-benar indah!"
"Tapi bagaimana kita bisa kembali?" tanya Rian bingung.
"Aku yakin jika ada jalan masuk pasti akan ada jalan keluar, kalaupun itu sangat sulit," ucapku melegakan mereka.
__ADS_1
"Kamu benar, mari kita bersatu memecahkan masalah ini, aku yakin kita bisa mendapatkan jalan keluar itu." Rian sangat setuju dengan pernyataan ku, Ia merentangkan kedua tangannya dibalas dengan pelukan dari kami bertiga.
"Baiklah, aku berjanji, sebagai seorang yang paling tua, aku akan selalu menjaga kalian," lanjut Rian yang sangat bertanggung jawab dan itu membuatku terpana.
"Terima kasih, Rian. Kita akan saling menjaga satu sama lain, aku menyangk kalian," ucapku membuat kami berempat berpelukan lagi.
"Ingin tetap disini atau mulai mencari jalan keluar?" Rama memecahkan suasana yang sedang syahdu.
"Baiklah, ayo kita mulai jalan," ajak Rian sambil memimpin jalan terlebih dahulu, diikuti oleh kami.
Aku dan sahabatku menyusuri jalanan hutan yang sempit dan penuh ranting pepohonan. Ini benar-benar dunia fantasi yang indah. Belum pernah aku membayangkan sampai seindah ini.
"Aduhh sialan, mengganggu sekali mereka," Tiba-tiba Rama tak sengaja menabrak sarang laba-laba yang tak terlihat olehnya. Dengan kesal Rama membersihkan wajahnya dari sisa jaring laba-laba.
"Wow! Dunia fantasi ini benar-benar indah, dedaunan, bunga, kayu, teksturnya benar-benar berbeda dari yang ada di dunia kita," kagum Clara sambil menyambar dedaunan dan bunga-bunga yang berada di sampingnya.
"Sekarang kalian percaya atau tidak dengan dunia fantasi?" tanyaku pada Kawan-kawanku.
"Ya, tapi entahlah ... ," jawab Rama.
"Tentu saja, aku percaya," ucap Clara sambil menikmati pemandangan yang indah.
"Ya, aku setuju denganmu," Rian masih tetap berjalan memimpin.
Kami masih meneruskan jalan kami, namun dari tadi hanya wilayah hutan saja yang kami dapatkan.
"Stttt, tunggu, Rian!" lirihku menghentikan langkah Rian dan yang lain. Aku merasakan sesuatu yang datang.
"Ada apa?" Rian menolehkan kepalanya ke belakang.
"Kau dengar suara itu?" Suara aneh itu muncul dengan jelas di telingaku.
Semuanya diam tanpa bersuara dan fokus pada telinga masing-masing. Kami saling berpandangan satu sama lain. Dan akhirnya suara itu terdengar kembali. Suara geraman yang semakin lama semakin keras ditelinga kami. Itu artinya, dari manapun suara itu berasal, itu juga semakin dekat dengan kami.
"Suara apa itu?" bisik Clara.
"Gerrghh..Gerrghh,..." Suara itu terdengar lebih keras lagi.
"Astaga aku ingin bersin." Rama hampir saja bersin namu ia dapat mengontrolnya. Aku melihat wajahnya yang konyol ketika ia mencoba menahan bersinnya, tapi ia harus melakukan itu.
Setelah suara itu semakin dekat perlahan kami dapat melihat makhluk yang memiliki sumber suara itu. Makhluk seperti tikus dengan ukuran hampir sedada kami terlihat mendekati kami.
"Haaacinnn ..." Rama akhirnya tak bisa membendungnya dan mengeluarkannya dengan keras.
" Ah sial! gawat teman-teman! Kita dapat masalah! lebih baik sekarang kita lari!" ucap Clara langsung lari dan kami mengikuti Clara lari.
__ADS_1
Tapi sayangnya makhluk itu sempat melihat kami berlari dan langsung mengejar kami. Kami berlari sekencang-kencangnya, menyingkirkan ranting-ranting dan dedaunan yang menghalanginya kami.
"Ayo cepat lari!!" Rian berteriak padaku dan Rama.
Aku dan Rama agak sedikit tertinggal dari Clara and Rian. Apalagi kakiku malah keseleo yang membuatku kesulitan. Aku menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang dan melihat makhluk itu masih mengejar kami.
Brukk!
Tiba-tiba Rama tersandung oleh batu sedang yang ada di depannya. Aku melihatnya yang tanpa daya mencoba meraihkan tangannya padaku.
Aku dan teman-teman yang lain berhenti dan menoleh pada Rama. Makhluk itu masih agak jauh dari kami. tapi Rama kesulitan untuk bangun karena kakinya sedikit ada masalah.
"Rama! Ayo cepat bangun!" teriak ku pada Rama. Rama hendak berhasil bangun tetapi makhluk itu sudah berhasil meraih kakinya.
"Toloonggg!" teriak Rama. Aku melihat ketakutan sekaligus keputusasaan di wajahnya.
"Rama! Tidakk! Tenanglah aku akan menolongmu!" Tanpa berpikir panjang, aku pun segera berlari menuju makhluk keparat itu. Ku tendang wajahnya dan ku lempari batu, namun semua itu sia-sia. Aku ikut tertangkap oleh makhluk itu.
"Argh, sialan!" unekku pada makhluk itu. Aku memberontak sekuat-kuatnya, namun kekuatan seorang gadis tentu saja tidak cukup untuk merobohkan makhluk itu.
Makhluk itu menggeram dengan kerasnya dan membuka mulutnya lebar-lebar, seakan siap untuk memakan kami.
"Arghh" Geram makhluk aneh itu.
"Tidak!" teriakku dan Rama yang hampir saja disantap olehnya.
"Rian cepat lakukan sesuatu!" ujar Clara panik.
Tak pikir panjang Rian mengambil batang ranting kayu yang sedikit tajam. Melihat makhluk itu masih membuka mulutnya lebar-lebar, Ia langsung melemparkan lebih tepatnya menolak kan batang itu ke arak mulut mahluk aneh layaknya seorang atlet lempar lembing.
Jlebbb...
Sasaran Rian benar-benar tepat, entah karena beruntung atau memang ia ahli dalam hal itu. Batang masuk ke mulut Tikus besar itu dan menancap ke tenggorokannya. Aku dan Rama mundur sedikit demi sedikit menyaksikan tikus itu berguling-guling di tanah dan akhirnya mati.
"Apakah dia sudah mati?" tanya Rian padaku lirih.
"Mungkin," jawabku singkat sambil melongo.
"Kalian tak apa-apa?" Tanya Rian dan Clara padaku dan Rama.
"Aku tak apa apa, tapi Rama sepertinya terluka." Aku mengambil kaki Rama dan melihat luka karena terkaman tikus tadi.
"Aku tak apapa," ucap Rama.
"Kau terluka Rama, sekarang kita coba ke sungai di seberang sana, mari ku bantu berdiri." Rian mengangkat tubuh Rama dan membantunya untuk berjalan.
__ADS_1