LITTLELAND

LITTLELAND
EPISODE 19


__ADS_3

"Teman-teman! Aku melihat simbol segitiga dialas kaki Baraza!" Ucapku tegas pada teman-teman.


"Apa!" Kaget mereka bertiga kompak.


"Iya, ini mungkin mustahil karena Baraza orang yang baik," ucap Clara yang terkejut.


"Kalau begitu, kita perlu berhati-hati dengannya," sahut Rian menyilangkan tangannya.


Kintongg...klintongg.. suara lonceng menglegarkan seisi istana. Semua orang berlarian keluar istana.


"Bunyi apa itu? Kenapa mereka berlarian?" Tanya Rama penasaran.


"Hei, para prajurit sudah berbaris!" Kataku yang menengok dari jendela istana.


"Sebaiknya kita cari tahu apa yang terjadi!" Ucap Rian yang kemudian berlari keluar diikuti oleh kami sahabatnya.


"Hei Lars!" Panggilku. "Sebenarnya ada apa ini?" Lanjutku bertanya penasaran.


"Ini sudah waktunya!" Jawab Lars. "Ikutlah denganku untuk menemui Ratu Zefa!" Lanjutnya, mereka kemudian mengikuti Lars untuk menghadap Ratu Zefa.


"Salam ratu," kami menundukkan kepala kami.


"Lars! Tolong kamu rapihkan suasana diluar ya!" Perintah ratu. "Kalian berempat! Ayo ikut aku!" lanjut Ratu. Ratu menuntun kami ke sebuah ruangan senjata, ruang yang pernah dua kali kami singgahi.


"Ruangan ini lagi?" ucap Rama yang terkesan sedikit bosan.


"Tutuplah mata kalian! pikirkan bahwa kalian akan menang!" ucapnya pada kami. Aku berpikir bahwa bagaimana kami bisa berpikir seperti itu, kami saja tak tahu bagaimana keadaan perang nanti. "Sekarang cobalah untuk mencabut pedang kalian masing-masing!" lanjut Zefa.


Kami pun bersiap mencabut pedang yang tertancap pada batu merah itu. Rasanya sangat berat. "Aaaahh" kami berusaha sekuat tenaga, hingga akhirnya pedang itu tercabut juga. Hal yang menarik terjadi setelah kami berhasil mencabut pedang itu. Penampilan kami seketika berubah menjadi seperti seorang ksatria.


"Wahh! ini hebat sekali!" ucap Rama kagum.


"Wawww!" Kompakku dan pasangan kakak beradik. Rian terlihat lebih tampan mengenakan pakaian itu.


"Kalian terlihat sangat gagah!" puji Ratu Zefa pada kami.


"Terimakasih Ratu!" balas kami kompak.


"Sekarang bergabunglah dengan yang lain!" perintah Zefa. Rian, Rama, dan Clara sudah keluar duluan, sedang aku masih di dalam ruangan itu. "Erika! semoga berhasil. Aku yakin sekali padamu!" ucap Ratu.


"Hemm, terimakasih atas kepercayaanmu!" balasku tersenyum dan kemudian menyusul yang lainnya.

__ADS_1


Kami semua sudah bergabung dengan prajurit lainnya.


"Hari ini! adalah hari dimana kita akan berjuang untuk membela kebenaran!" ucap Lars dengan keras didepan semua prajurit. "Kita yang disini tidak akan takut dengan yang namanya mati! Sekali lagi kita akan menang melawan kejahatan!" lanjut Lars. Aku sangat kagum dengan Lars yang begitu baik walaupun terlihat sangat keras. "Kita akan berangkat sekarang!"


Kami semua menyusuri hutan yang lebat, perjalanan itu sungguh panjang. "Kawan!" ucap Rian pada kami.


"Ada apa Rian?" balasku.


"Tujuan kita tidak hanya melawan kejahatan demi kebaikan, tapi kita juga harus bisa kembali ke dunia kita!" ucap Rian mengingatkan kami.


"Iya Rian kamu benar!"


Hutan yang gelap tanpa dedaunan, sangatlah menakutkan bagi kami. Bagaimana jika ada binatang buas? bagaimana jika ada hantu jahat? itulah yang kami pikirkan. Namun jauh lebih besar dari itu, kami akan perang. Itulah yang membuat kami tak memikirkan soal hantu.


"Argghh!" teriak Rama yang tiba-tiba terkait oleh sesuatu hingga ia tergantung pada pohon besar itu. "Sialan! apa lagi ini?" kesal Rama.


"Astaga Rama!" kaget kami melihat Rama seperti itu. "Megi bagimana ini?" tanyaku pada Megi yang berada disebelah.


"Tenang saja Rama! coba kau raih pedangmu dan putuskan saja!" teriak Megi memberi solusi.


"Tapi aku akan jatuh bodoh!" balas Rama.


"Baikalah! akan kucoba," Rama berusaha mengambil pedangnya, dan memutus akar yang melilitnya itu. "Woaaaaa!" BRUKKK! Rama sudah berada di tanah.


"Kau tak apa kan Rama?" tanya Clara mendekati.


"Aku tidak apa-apa, sedikit pusing saja karena tadi kepalaku dibawah." jawab Rama mengelus keningnya.


"Baiklah, ayo kita lanjutkan!" ucap Megi.


"Aku belum melihat Baraza dari tadi!" ucap Rian mengingatkan aku pada lambang segitiga itu. Namun aku memilih diam saja kali ini.


"Iya ya, aku juga belum lihat," lanjut Clara.


"Atau mungkin apa yang dikatakan Erika itu benar?" ucap Rama.


"Apa memangnya?" tanya Baraza penasaran.


"Bukan apa-apa, lupakan saja!" Aku mempercepat jalanku.


Tiba-tiba Lars yang berada didepan menghentikan jalan kami, ia mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Ada sesuatu," ucapnya. Serentak kami semua memasang perisai dan bersiap dengan pedang dan panah kami masing masing.


Jleb...sebuah anak panah yang melesat kemudian mengenai salah satu prajurit kami.


"Sialan!" ucapku. Anak panah yang lain mulai bermunculan, kami pun mulai membalas serangan mereka. "Dimana mereka?" tanyaku heran.


"Lupakan saja! kita akan membawa sebagian prajurit ke tempat Mortuza dan sebagian disini." ucap Lars yang menembakkan anak panahnya.


"Apa! kita tinggalkan mereka?" ucapku.


"Ya!" jawabnya singkat. "Lewat sini! ikuti aku!" Lars menuntun kami melewati sebuah sungai hitam yang di belakangnya terdapat sebuah kastil tua yang tak terawat.


" Sialan! itu mereka!" ucap Megi melirik arah halaman kastil yang luas.


"Hahaha! Selamt datang kawan! kali ini kami akan menang, dan kalian akan kalah!" ucap seorang pemimpin yang tak lain adalah Baraza.


"Dasar setan kau Baraza!" Ucap Lars yang terkejut.


"Itu yang Erika katakan Megi," ucap Rama lirih.


"Aku tak menyangka dia seperti itu," ucap Megi bergeleng. "Baiklah jika kau mau itu Baraza! Aku akan selalu siap bertempur dengan para penghianat!" guamamnya.


"Kita harus berusaha memasuki kastil itu!" ucap Lars. Seperti strategi Lars, Megi dan kami diikuti oleh sebagian prajurit menyela jalan untuk masuk ke kastil itu. Suara detingan pedang menjadi irama saat itu.


"Nikuu! dasar kau sialan!" ucap Rian yang melihat Niku berada diantara beberapa prajurit Mortuza.


"Jangan terkejut seperti itu, anak muda yang bodoh!" ucap Niku memancing emosi Rian.


"Sialan!" ucap Rian.


"Selamat datang kawan!" ucap Mortuza yang bersuara berat. "Perang akan segera berakhir jika kita kalian bersedia memberikan batu kekuasaan yang satu lagi padaku!" ucapnya licik.


"Kamu pikir kami lemah dan takut mati? tidak Mortuza!" tegas Rama.


"Lihat saja nanti! kau akan jadi milikku anak muda, lihatlah jimatmu yang sudah ku kuasai! hahaha!" ucap Mortuza.


"Aku tak akan pernah ada dalam pengaruhmu setan!" tentang Rama.


Aku melihat ke sekeliling ruang itu. kulihat sebuah danau hitam dan danau alai berdampingan. Pandanganku mulai naik ke atas kulihat seorang putri cantik yang digantung dengan sangkar tepat diatas danau api. Tak hanya itu, aku pun melihat seorang wanita yang pernah kulihat.


"Apakah itu Zoey adik ratu dan yang satunya adalah manusia yang juga pernah kesini?" tanyaku pada Megi.

__ADS_1


__ADS_2