
Gerbang istana terbuka dengan sendirinya. Kami segera memasuki halaman istana yang dan luas nan megah. Benar-benar fantastis! Belum pernah aku membayangkan yang seindah ini. Terlihat penjaga yang berbaris memberikan hormat pada kami.
"Rama, bertahanlah! Ayu yakin kau pasti akan sembuh dan kita akan segera pulang, itu janjiku padamu." Rian berkata seperti itu sambil menggendong Rama.
"Cepat! Obati dia dulu!" Tuntutku pada Maggie setelah kami masuk dalam istana.
"Baiklah, mari ikut aku." Megi menuntun kami ke arah sebuah kamar. Rian membaringkan tubuh Rama di kasur yang disediakan.
Megi kemudian mengambil sebuah tabung kecil berisi ramuan. Entah cairan apa yang ada di dalamnya. Megi menyiramkannya pada permukaan luka di kaki Rama, dan mengusapkan sebagiannya ke wajah Rama.
Tak lama sebuah keajaiban terjadi di depan mata kami. Luka parah yang ada di kaki Rama sedikit demi sedikit menghilang dan Rama mulai sadar kembali.
"Rama!" Kami memanggil Rama dengan wajah gembira karena melihat Rama mulai tersadar lagi.
"Astaga, aduh! teman-teman ada di mana aku?" Rama sedikit kebingungan saat mulai tersadar.
"Kita sudah berada di istana!" jawab Clara girang. "Kau bisa bayangkan itu?"
"Wah benarkah ini istana? Kalau begitu aku pasti melewatkan banyak hal," ucap Rama yang turun dari kasur dan berlompatan.
"Kakimu sudah tak sakit lagi, Rama?" tanya Rian pada Rama yang sedang melompat-lompat.
"Wah iya, kaki ku sudah sembuh, bagaimana ini bisa terjadi?" Rama baru saja sadar jika kakinya sudah sembuh. Dengan mengelus-elus kakinya Rama merasa sangat senang.
"Terimakasih, teman-teman," ucap Rama dengan wajah gembira.
"Maggie yang telah menyembuhkanmu," ucap Rian seraya melempar pandangan Maggie.
"Oh begitu? Terima kasih, Maggie, ternyata kau sangat baik." Rama memeluk tubuh Megi yang bulat.
"Ya, sama-sama. Kalian bagiku adalah teman sekaligus penyelamat," ucap Megi.
Aku sungguh bingung dengan perkataannya. "Maksudmu kami ini penyelamat itu bagaimana?" tanyaku.
"Oh ya, aku hampir lupa kalau kalian belum bertemu ratu. Mari aku perkenalkan kalian dengan ratu kami." Megi menuntun kami ke sebuah balairung yang sangat luas dan megah dengan nuansa putih merah.
Terlihat seorang wanita yang duduk di singgasana istana dengan tongkatnya yang terlihat berwibawa. Dugaanku, dia adalah ratu yang di maksud Maggie.
Saat ratu melihat kami berjalan menuju hadapannya, Ia berdiri dari singgasana dan tersenyum lebar menandakan keramahannya.
"Hormat yang mulia." Maggie menundukkan setengah tubuhnya di hadapan wanita itu.
Kami pun mengikuti apa yang Megi lakukan. "Hormat yang mulia," ucap kami mengikuti cara Megi mengucap hormat padanya. Ia mengangkat tangannya tanda menerima ucapan hormat kami.
"Selamat datang untuk kalian. Perlu kalian ketahui bahwa kami sangat bahagia dengan kedatangan kalian." Jelas-jelas ratu itu tidak berbohong atau terpaksa mengatakannya. Aku melihat raut wajah gembira tanpa cacat di dalam wanita itu.
"Wah! Cantik sekali dia." Begitulah, Clara mengagumi kecantikan wanita itu. Dirinya belum sadar jika wanita itu adalah wanita yang pernah ia ejek gambarnya.
__ADS_1
"Putri Orva telah datang membawa jiwa yang sejati," ucap Ratu memandangku. Dia melankah mendekati aku dan menyentuh wajahku dengan lembut. Sentuhan itu membuatku geli.
"Putri Orva? Siapa dia, Yang Mulia?" tanyaku pada ratu.
"Kau. Kau adalah jiwa putri Orva yang nantinya akan dapat menyelamatkan dunia kami," jawabnya yang masih fokus memandangku. "Bukankah kau itu Orva?" lanjutnya.
Orva? Aku merasa tak asing dengan nama itu. Ya! Tentu saja karena itu adalah nama belakangku. "Ya, aku memiliki nama Orva tapi namaku Erika," jawabku cepat untuk mengoreksi. "Dan aku bukanlah pahlawan yangakan menyelamatkan kalian, aku— maksudku kami ini hanya sekelompok remaja tak berdaya yang tersesat entah di mana."
Kemudian Maggie mengalihkan pembicaraan agar tak terlalu tegang. "Kalian bisa perkenalkan diri kalian di depan Ratu." Maggie menyuruh kami untuk memperkenalkan diri.
"Baiklah, dimulai dari kamu, Rian," ucapku pada Rian yang tertua.
"Hallo, namaku Andryan Devanna, aku yang paling tua di antara mereka." Rian memperkenalkan dirinya.
"Selanjutnya aku, aku Clara Wandayana, adik kandung Rian." Clara memperkenalkan diri dengan ramah.
"Aku, namaku Ramatha Alvaro,"
Aku masih terdiam, Rama menyikut tanganku dan menyuruhku untuk memperkenalkan diriku.
"Panggil saja aku Erika," ucapku singkat.
"Baiklah, aku adalah Putri Zefanya Samantha dari Littleland," dengan anggunnya Ia memperkenalkan diri didepan kami.
Clara melongo saat ia baru sadar bahwa wanita yang ada di gambar itu adalah wanita yang sangat cantik dengan mahkota yang bertahtakan ribuan permata di kepalanya.
Tak sengaja aku melihat seseorang yang mirip dengan Maggie, mereka memandangi kami.
"Hei Maggie, siapa itu?" ucapku bertanya pada Megi sambil memandang orang yang memandangku.
"Itu Niku, salah satu dari kami, bentuknya sama kan dengan kami?" jawab Megi tersenyum.
"Kami? Jadi kau punya keluarga?"
Kami melanjutkan perjalanan menuju ruang pertemuan. Dan tak lama kemudian sudah sampai. Aku mulai memasuki ruang itu. Kulihat Ratu Zefanya yang sudah duduk di kursi utama. Kami pun mengikuti untuk duduk di kursi yang ditata meja bundar itu.
"Yang Mulia, bolehkah aku bertanya?" tanyaku.
"Silakan,"
"Bagaimana Anda tahu namaku tadi?" tanyaku pada Ratu Zefa.
"Aura yang kau miliki sudah sangat kuat, semenjak kau datang ke negeri ini," jelasnya memandangku.
"Aku tidak mengerti. Aura seperti apa yang Anda maksudkan?" tanyaku bingung.
"Kalian semua memiliki kekuatan kesetiaan yang baik, dan salah satu dari kalian juga mempunyai kekuatan Orva," Ratu itu menjelaskan kepada kami semua.
__ADS_1
"Orva? Apa itu?" tanya Rian penasaran.
"Orva adalah seorang kesatria yang sangat pemberani, Ia rela berkorban untuk kebaikan," jelasnya.
"Maksudmu kami memiliki kekuatan itu?" tanyaku melanjutkan Rian.
"Iya Orva, kalian mempunyai itu," balasnya.
" Tolong jangan panggil aku Orva, panggil saja aku Erik," ucapku agak kesal.
"Sebenarnya aku sudah mengetahui kedatangan kalian, itu sebabnya aku menyuruh Maggie untuk menjemput kalian, para ksatria," ucapnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Rama.
***
"Maggie, aku mencium kekuatan Orva di sekitar sini," ucap Ratu pada Megi.
"Orva terlahir kembali?" tanya Megi girang.
"Ya, keempat ksatria yang akan menentukan masa depan kita semua, mereka sudah datang," jawab Ratu. "Aku ingin kau menjemput mereka dan membawanya kesini dengan selamat, kurasakan mereka ada dalam bahaya," lanjutnya.
"Baiklah, Yang Mulia. Aku akan segera kembali membawa mereka." ucap Maggie.
***
Ratu Zefa menceritakan semuanya.
"Aku ingin kalian membantuku, kami semua sangat membutuhkan kalian untuk melawan Mortuza," ucap Ratu dengan raut muka berbeda.
Seolah aku ingat semua isi buku itu di kepalaku, semua kata-katanya dalam buku itu langsung memenuhi kepalaku.
"Erik kau tak apa-apa?" Suara Rian masih belum menyadarkan aku. Tiba-tiba dalam kepalaku tergambar wajah-wajah jahat dan sedang menyandra seorang putri.
"Huh!" Entah kenapa aku merasa ngos-ngosan setelah melihat semua bayangan itu.
"Kau tidak apa-apa?" Rian menanyaiku sekali lagi. Semua yang duduk disekeliling di meja itu memandangku.
"Ah, aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja tadi," jawabku berbohong.
"Ah Astaga, maafkan aku, seharusnya aku mengerti keadaan kalian. Kurasa kalian butuh istirahat. Maggie antarkan mereka ke kamar tamu," perintah Sang Ratu.
"Baiklah, Yang Mulia."
Kami keluar dari ruangan itu dan melangkah melewati lorong istana yang terasa tenang dengan nuansa klasik. Batu-batu safir yang melapisi dindingnya membuat kemegahan terasa hidup.
Maggie menunjuk sebuah pintu dan membukanya. Aku tidak tahu jika kamar kami akan dipisahkan. Tadinya aku berharap kami dapat dikumpulkan dalam satu kamar.
__ADS_1
Rian dan Rama berada dalam satu ruang, sedang aku dan Clara di pisahkan dari mereka dengan ruang yang cukup jauh jaraknya.