
"Stt ... , ada yang yang datang." Rian menyatukan bibir dan jari telunjuknya.
"Apa kau bercanda?" Clara sudah ketakutan dan menempel pada tubuhku.
Tiba-tiba semak-semak bergoyang lagi hingga mengagetkan kami. Kami mulai berjalan mundur dengan pelan sambil terus menatap was-was ke arah semak-semak. Goyangan dedaunan semakin kencang dan tiba-tiba sesuatu muncul dari sana.
"Wah, hallo teman!" Makhluk kecil muncul dengan melompati semak-semak dan menyapa kita.
"Siapa kau?!" Tanyaku pada makhluk itu dengan hati-hati dan waspada. Tasanyaaku pernah melihat makhluk itu, tapi dimana? Aku tidak ingat.
"Oh hai! Namaku Maggie." Dia mulai mendekati kami.
"Maggie?" Kompak kami berempat sambil bertatap-tatapan. Kami tahu siapa itu Megi, kami pun pernah melihat gambarnya. Namun malam itu begitu gelap sehingga menyamarkan penglihatan kami.
Saat kami sedang bingung, tiba-tiba matahari mulai muncul. Aneh sekali, rasanya baru saja malam dan sekarang sudah pagi lagi. Sedikit demi sedikit kami dapat melihat wujud Megi begitupun dia.
"Astaga!" Aku melongo sambil menutup mulutku.
"Wow, ternyata kalian bukan salah satu dari kami." ucapnya sambil mendekati kami. kami masih melongo melihat figur persis seperti yang kami lihat di buku tua dan lukisan di kafe itu.
"Kau Megi?" Tanya Rian pada Megi.
"Ya, tadi sudah aku katakan bukan?" Megi menjawab dengan mengangkat kedua tangannya.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" Tanyaku pada Megi yang sedang memainkan tangannya itu.
"Karena ini adalah duniaku. Oh ya, maksudku tidak. Aku tinggal di kerajaan para little." Dia menjelaskan dengan memainkan tangannya dan berjalan lebih dekat dengan kami.
"Oh aku belum mengenal kalian, siapa kalian?" Megi mengulurkan tangannya yang mungil kepada kami.
Aku langsung menyambut tangan Megi dengan baik. "Hai aku Erika," ucapku ramah. Entah kenapa ketakutan yang ada di dalam tubuhku lenyap seketika. Aku mulai merasa antusias dengan si Maggie ini.
"Aku Andrian, kamu bisa panggil aku Rian." Rian menjabat tangan Megi dan memperkenalkan diri.
"Aku Clara adiknya Rian," ucap Clara yang menurut pandanganku dia masih agak takut dengan Maggie.
"Aku Rama, senang bertemu denganmu," lanjut Rama.
"Senang bertemu kalian juga, ngomong-ngomong aku tahu jika kalian bukan dari bangsa little." Megi melihat kami dari atas ke bawah.
"Bangsa little? Kami ini manusia," ucap Clara menjelaskan.
"Lalu bagaimana bisa kalian datang ke sini?" Megi menanyakan cara kami bisa sampai di dunianya.
__ADS_1
Kami sudah dalam posisi duduk dan menceritakan bagaimana kami dapat sampai di sini.
"Oh, jadi seperti itu. Itu berarti kalian akan kalian akan mendapatkan jawaban yang terngiang-ngiang di kepala kalian di negeri ini," ucap Megi.
"Tapi kami harus segera kembali, orang tua kami pasti sangat khawatir tentang kami." Rian menjelaskan itu pada Megi.
"Kalian tenang saja, tidak akan ada yang mencari kalian," ucap Megi pada kami yang benar-benar membuat kami bingung.
"Apa kau bisa membantu kami keluar dari sini?" tanya Rama pada Megi dengan nada serius.
"Tentu saja bisa," balas Megi sambil menyilangkan tangannya.
"Lalu ada dimana jalan keluarnya?" tanya Clara penasaran.
"Apakah kalian mau ikut aku ke kerajaan? Mungkin disana kalian bakal mendapatkan jawaban dari banyaknya pertanyaan." Megi menawarkan pada kami.
Kami sempat berpandangan sejenak dan akhirnya menunjuk Rian untuk mengambil keputusan. Karena dia lebih tau apa yang harus dilakukan.
"Baiklah, kami akan mengikuti kamu ke kerajaan," ucap Rian mengambil keputusan.
"Baiklah, sekarang ayo berdiri dan mulai berangkat ke kerajaan." Megi mulai berdiri dan kami pun ikut berdiri. Ia berjalan didepan diikuti oleh kami.
Kembali menyusuri jalanan sempit yang penuh dengan nuansa alami sangatlah menyenangkan. Tetapi kesenangan itu seakan hilang saat seekor hewan yang besar terbang, tapi memiliki taring yang sangat banyak dan tajam, hampir seperti kelelawar mendekati arah dan mengejar kami.
"Itu adalah Zoroa! dia memakan sesuatu, yah—seperti kita!" teriak Megi sambil berlari sekuat tenaga untuk mengimbangi kami.
"Sial! Kakiku sakit lagi!" Aku rasa Rama kembali merasakan luka di kakinya.
Tiba-tiba Megi berhenti dan membuka sesuatu dari tanah, ternyata itu adalah empat persembunyian atau semacam perlindungan dari makhluk seperti Zoroa.
"Tenanglah! Ayo cepat masuk! Kita akan berlindung dibawah sini," perintah Megi kepada kami.
Kami pun masuk satu persatu. Kemudian setelah semuanya masuk, Megi kembali menutup tingkap lubang itu.
Kami dapat melihat Zoroa dari lubang kecil yang ada dipenutup. Aku dapat merasakan bahwa makhluk itu tengah kebingungan mencari kami yang hilang bagai ditelan bumi. Zoroa pun tak lama kemudian menyerah dan membalik arahnya.
Kami kira keadaan sudah aman, Zoroa sudah pergi. Kami semua menghela nafas lega. Lalu kami mulai keluar dari lubang persembunyian kami.
Tapi baru saja berharap keadaan sudah aman dan Zoroa sudah pergi. Makhluk itu malah hanya bersembunyi di sisi yang tidak terlihat oleh kami. Cerdik sekali! Dia menoleh ke arah kami dan terbang menuju kami. Pintu penutup segera ditutup kembali. Namu Zoroa tahu keberadaan kami dan mematuk pintunya.
"Bagaimana ini! Apakah penutupnya akan kuat? sepertinya sudah mau jebol." Clara sangat khawatir melihat pintu penutup yang hampir jebol. Bukan hanya Clara, tapi aku juga khawatir akan hal itu.
"Tenang saja dia adalah makhluk yang mudah menyerah," ucap Megi.
__ADS_1
"Tentu saja, kau benar Maggie. Lihat! dia mulai terbang kembali," ucap Rian melihat Zoroa menjauh.
"Bagaimana kalau itu tipu muslihat lagi!"
"Astaga! Kakiku sakit sekali," Rama memegangi kakinya sambil meringis kesakitan.
Aku pun membuka balutan dan melihat luka di kaki Rama sepertinya infeksi. Aku tidak bisa berkata dengan keras, bagaimanapun aku tidak boleh membuat Rama shok.
"Rian, sepertinya lukanya infeksi." Aku berbisik lirih pada Rian.
"Kita harus segera pergi ke kerajaan, disana ia akan diobati, sedikit lagi kita akan berada di Desa Little," ucap Magi pada kami.
"Tapi bagaimana dengan kakinya? kami tidak bisa membiarkan dia kesakitan!" ucap Rian yang khawatir lukanya akan semakin parah jika digunakan untuk berjalan.
"Dia akan diobati di kerajaan, kalian tenang saja!" Ucap Megi.
"Baiklah kami akan ikut bersamamu, tapi kau harus janji untuk mengobati temanku." Rian telah mengambil keputusan. Lalu dia berpaling lagi pada Rama. "Rama kau tenang saja, aku akan membantumu berjalan," lanjutnya.
"Baiklah ayo keluar dari sini!" Ucap Megi,
"Rama kau duluan kami akan membantumu keluar." Kami mulai mengangkat Rama untuk keluar dari lubang itu.
Kami kembali berjalan menyusuri hutan yang lebat. Tak lama kemudian kami sampai di sebuah tempat yang luas. Ya itu adalah desa para Little. Setiap kami melewati jalanan disana setiap orang melihat kami dengan menunduk hormat. Aku tak mengerti mengapa mereka melakukan itu.
"Kenapa mereka melakukan itu?" tanyaku pada Megi.
"Kalian adalah seseorang yang berbeda," jawab Megi singkat.
"Kami tak mengerti apa maksudmu," ucap Clara menambahkan.
"Kalian akan paham nanti," jawabnya.
"Ah! terserah kau saja," Rian kesal.
Kami sampai di jalan yang lumayan lebar dan sudah mulai sepi penduduk.
"Kita sudah sampai," ucap Megi setelah kami sampai di depan gerbang besar yang di belakangnya terlihat bangunan megah.
"Wow, istana yang megah," Clara mengagumi kemegahan istana itu.
"Aduh Rama berat banget kamu," Rian merasakan tubuh Rama semakin berat.
Tak ada jawaban dari Rama. "Rama? Rama kamu tidak apa-apa kan? Rama!" Ternyata Rama pingsan karena menahan sakit.
__ADS_1